Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Pilihan


__ADS_3

Penderitaan wanita hamil tidak berhenti sampai mual muntah mereka hilang. Semakin besar janin yang ada di dalam perutnya, semakin banyak juga kesulitan yang akan dihadapi.


Angela yang tidur di sofa terlihat kesusahan karena ukuran sofa yang kecil untuk wanita hamil dengan perut yang besar.


Sesekali dia memegang pinggangnya yang terasa panas. Posisi tidur yang serba salah. Miring susah, terlentang sesak, tengkurap pun sangat mustahil. Ruang gerak Angela sangat sempit karena ada di atas sofa.


"Pindah ke kasur sana."


Angela menatap Airlangga tidak percaya.


"Daripada kamu jatuh, malah akan merepotkan orang satu rumah nantinya. Pindah sana."


Meski tidak suka dengan cara Airlangga bicara, dan juga alasan kenapa dia meminta Angela pindah ke kasur, Angela akhirnya pindah juga karena dia memang membutuhkan tempat yang lebih besar dan nyaman.


Meski tidak serta merta membuat kesulitan Angela hilang, setidaknya dia merasa sedikit lebih nyaman.


"Mau ke mana?"


"Periksa kandungan."


Airlangga menoleh ke segala arah halaman rumahnya. Tidak ada mobil selain mobil dia yang akan dia bawa pergi untuk hang out bersama teman-temannya.


"Gak ada mobil, dipake semua."


"Aak bisa naik taksi," ucap Angela sambil berjalan sangat pelan. Tangannya mengusap-usap pinggang yang sakit juga perut yang terasa berat.


"Ya udah lah, ayo aku antar. Kalau mau apa-apa tuh bilang sebelumnya, jadi gak kaya gini kejadiannya. Merepotkan saja."


Tidak peduli Airlangga menggerutu kesal, Angela tetap merasa senang karena ini untuk pertama kalinya dia diantara oleh Airlangga untuk memeriksakan kehamilannya. Bahkan sampai di rumah sakit, Airlangga ikut masuk ke ruang pemeriksaan.


"Bayinya sehat ya, Bu, Pak. Nah, sekarang kita dengar detak jantung janinnya."


Dug! Dug! Dug!


Suara itu mungkin terdengar biasa oleh Angela apalagi dokter dan suster yang memeriksanya di sana. Namun, tidak bagi Airlangga.


Dia terpana untuk sesaat. Suara itu menggetarkan hatinya. Ada kehangatan yang mengalir di dalam aliran darahnya hingga bermuara di dala jantungnya.


"Ini resepnya, nanti rebus di apotik. Ini semua hanya vitamin ya, Bu. Karena ibu sehat, jadi tidak membutuhkan obat. Kalau kehamilan sudah besar seperti ini, ibu harus rajin memeriksakan kandungan ibu, minimal satu Minggu sekali."

__ADS_1


"Baik, Dok. Jadi, kapan jadwal kunjungan berikutnya?" tanya Airlangga. Pertanyaan yang membuat Angela tersentuh.


"Tepat satu Minggu, Pak."


Airlangga mengangguk.


"Kamu duduk saja di sini, aku yang ambil obatnya," ucap Airlangga pada istrinya setelah mereka keluar dari ruangan dokter.


Lagi, Angela terharu dibuatnya meski nada bicara Airlangga terdengar ketus.


"Ada apa? Belakangan ini Abang terlihat baik sama wanita itu. Abang mulai jatuh cinta ya?" tanya Akhtia saat mereka sedang nonton televisi berdua.


"Kamu cemburu kayak kemarin ke bunda?"


"Enggak, aku heran aja kenapa semua orang di rumah ini tiba-tiba menjadi baik, padahal awal kita semua benci sama dia."


"Hamil saja dulu, nanti kamu pun akan mendapatkan perhatian lebih dari kita semua."


Bukkkk!


Akhtia memukul wajah Airlangga dengan bantal sofa. Tidak terima dipukul, Airlangga pun membalas. Perang bantal pun tidak bisa dihindari.


Akhtia mengirimkan pesan email pada teman dunia mayanya, Dealova. Mereka mungkin memang hanya teman karena tidak ada ikatan yang jelas diantara keduanya. Namun, baik Akhtia maupun Dealova memiliki rasa yang sama. Tidak pernah bertemu tapi sudah terlanjur nyaman dan jatuh cinta satu sama lain. Hanya saja Akhtia lebih memilih diam, tidak seperti Dealova yang berani terus terang.


Mungkin karena keluarga kamu terlalu baik.


Mereka gampang tersentuh.


Kenapa kamu tidak?


Masa?


Buktinya hati kamu tidak bisa aku sentuh sejak lama. Ayo, kita bertemu dan ketem ok kkkkkku orang tuaku.


Gak bisa.


Gak bisa apa gak mau adalah dua hal yang berbeda. Jangan sampai aku berpaling pada wanita lain karena sudah ada seseorang yang mulai membuat aku goyah.


Kejarlah. Untuk apa bertahan pada wanita yang sama sekali tidak kamu ketahui wajahnya.

__ADS_1


Cinta itu bukan masalah wajah, tapi masalah hati dan feeling. Gila memang, aku bahkan merasa begitu mencintai kamu hingga tidak bisa mencintai wanita lain.


Sadarlah. Dunia maya itu tidak seindah kenyataan. Hanya tipu daya yang ada di dalam nya.


Apa kamu juga menipuku? Jangan-jangan kamu seorang pria?


Akhtia tertawa. Dia memutuskan untuk tidak membalas chat nya.


"Kenapa? Kayaknya seneng banget?" tanya Dewa yang asik dengan laptopnya.


"Gak apa-apa." Akhtia menjawab. Dia masih tertawa kecil, wajahnya tersipu-sipu. Akhtia selalu tertawa bebas saat berkomunikasi dengan Dealova. Dunia maya yang membuat dia merasa nyaman.


Baru saja Dewa duduk di samping Akhtia di atas kasur karena ingin bersiap untuk tidur, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan seseorang minta tolong. Akhtia dan Dewa saling menatap, lalu mereka segera berlari keluar.


Dengan kecepatan tinggi, Dewa mengendarai mobil. Dia merasa cemas melihat Angela yang mengeluarkan banyak darah, ditambah Hasna yang selalu minta agar Dewa lebih cepat lagi.


Begitu sampai di rumah sakit, Angela segera ditangani oleh tim medis. Di pasang oksigen, infus, dan berbagai pertolongan lainnya.


Hasna, Dewa, Raden dan Akhtia hanya bisa menunggu di luar. Mereka duduk berdekatan untuk saling menguatkan. Sementara Airlangga terus berdiri di depan pintu dengan harap-harap cemas.


"Suaminya mana?" tanya perawat yang keluar dari ruangan.


"Saya ... saya ... saya. ada apa, sus?"


"Pasien memerlukan tindakan operasi, kami harus menyelematkan satu diantara keduanya. Silakan bapak tanda tangan Hasna dulu surat keterangan siapa yang akan bapak selamatkan."


"Ada apa ini?" tanya Raden menghampiri.


"Pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat, dia eklamsi Pak. Kemungkinan selamat untuk ibunya sangat kecil, tapi bayinya memiliki harapan besar. Kami harus segera melakukan operasi agar bayinya bisa diselamatkan. Ibunya sudah tidak sadarkan diri. Silakan tanda tangan segera agar kami bisa melakukan operasi."


"Apa tidak ada opsi lain?"


"Pasien mengalami tekanan darah tinggi secara mendadak itu menyebabkan pasien pendarahan, sekarang penglihatannya pun sudah mulai kabur. Kesadarannya menurun. Pasien ingin bayinya dilahirkan meski belum cukup bulan, tapi kami butuh tanda tangan wali, bukan pasien."


Airlangga mengambil kertas itu lalu segera menandatanganinya.


"Selamatkan ibunya sus."


"Kami akan menyelamatkan salah satunya, dia yang memiliki kemungkinan hidup yang lebih besar, itu yang menjadi prioritas."

__ADS_1


Airlangga duduk lemas.


__ADS_2