Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Cerita lain


__ADS_3

"Teh."


Melihat adiknya, Inggit, Hasna seperti melihat setetes embun pagi di padang pasir. Ingin menangis, tapi sepertinya air matanya sudah kering.


Melihat wajah pucat kakaknya, Inggit bersedih. Dia merasa bersalah karena terlambat datang untuk menemani Kakak perempuan satu-satunya.


"Ini, aku bawa makan. Ibu yang masak."


Hasna tersenyum. Meski dia kehilangan nafsu makannya, tapi ini adalah masakan ibu. Rasa rindu ingin bertemu, setidaknya bisa sedikit terobati dengan memakan masakan tangannya, pikir Hasna.


Dalam benaknya, terbayang bagaimana wajah sang ibu menatapnya dengan mata yang teduh dan penuh kasih. Hasna makan sesuap demi sesuap. Sakit, sangat sakit jika kita makan dengan menahan air mata agar tidak jatuh.


"Ini."


Sebuah botol air mineral dingin ada di depan wajah Hasna, tapi bukan dari tangan Inggit.


"Terimakasih." Hasna mengambil botol itu, membukanya lalu meminumnya.


"Ini siapa?" tanya Raden.


"Dia adik kedua saya, Pak. Inggit namanya."


"Oh, hai. Kenalkan, saya Raden. Teman Hasna."


Inggit menyambut uluran tangan Raden dengan penuh kesopanan.


"Bagaimana keadaan Nay, teh?"


Hasna menggelengkan kepala lemah.


"Aku akan pastikan rumah sakit memberikan pelayanan terbaik untuk Nay. Kamu tenang saja."


Hasna tersenyum. "Ini juga Alhamdulillah, Pak. Saya belum menerima pelayanan yang kurang baik dari pihak rumah sakit."


"Syukurlah. Kalau ada apa-apa, kasih tau saya, atau ...." Raden melihat ke sana kemari mencari seseorang. Akhirnya dia melambaikan tangan pada seseorang untuk menghampirinya.


"Siap, Pak." Seorang security mendekat.


Hasna dan Inggit saling menatap heran.


"Kamu tugas apa hari ini?"


"Siang, Pak."


"Sebentar lagi kamu pulang, kan?"


"Iya, Pak."

__ADS_1


"Saya kasih kamu uang tambahan, tapi pastikan ibu ini tidak mendapatkan kesulitan selama anaknya dirawat di sini."


"Baik, Pak."


Hasna berdiri. Dia menatap Raden.


"Pak, semua ini benar-benar tidak perlu. Ini terlalu berlebihan menurut saya."


"Tidak semua orang di rumah sakit ini tahu kalau kamu teman saya. Makanya saya minta dia buat jagain kamu."


"Saya ngerti, Pak. Jujur, saya gak butuh ini."


"Bu, terima saja, ya. Lumayan nanti saya dapat uang tambahan. Seminggu lagi istri saya melahirkan. Jadi, saya butuh uang untuk persiapan nanti."


Hasna hanya menghela nafas panjang saat mendengar ucapan satpam tersebut.


Raden menaikkan kedua bahunya sambil berlalu. Dia tersenyum kecil saat melangkah pergi meninggalkan Hasna.


Satpam itu berdiri tegak menjaga Hasna. Seperti bodyguard yang sedang menjaga tuannya. Perhatian orang-orang disekitar membuat Hasna merasa benar-benar tidak nyaman.


"Pak, duduk saja di sini. Gak usah siap siaga seperti itu."


Berkali-kali Inggit meminta pada satpam itu untuk bersikap santai, tetap saja tidak digubris.


Ponsel satpam itu berbunyi, dia mengangkatnya dan berbicara begitu formal. Dia pergi begitu saja bahkan tanpa berbicara sepatah katapun pada Hasna dan Inggit.


Baru saja Hasna berucap syukur, satpam yang bernama Andi itu kembali datang. Kali ini dia datang tidak dengan tangan kosong. Entah apa isi kotak yang dia bawa di dalam keresek putih.


"Permisi, Bu. Ini ada kiriman dari Pak Raden."


"Ini apa?"


"Saya gak tau, Bu. Kan belum dibuka."


Hasna mendengkus kesal.


Inggit mengambil kotak itu, lalu membuka isinya. Ada ayam dan nasi di dalam tiga kotak yang sama. Ayam betutu khas Bali.


"Ini ada tiga, sepertinya memang untuk kita. Aku satu, teteh satu, dan bapak satu."


"Saya?" tanya Andi.


Inggit menoleh sekitar mereka. Memastikan tidak ada orang lain selain mereka bertiga di sana.


"Sepertinya sih iya. Gak ada orang lagi selain kita. Kecuali yang tidak kasat mata."


"Inggit!" Hasna memukul keras paha adiknya hingga Inggit meringis kesakitan.

__ADS_1


Malam itu, meski tidak menghilangkan kesedihan dan penderitaan Hasna, setidaknya dia tidak sendiri dan ada teman untuk diajak berbicara.


"Pak Andi, saya mau tanya. Memangnya Pak Raden itu siapa? Kok kayaknya bapak patuh banget sama dia," tanya Inggit.


"Oh, beliau? Pak Raden itu cucu pemilik rumah sakit ini. Dia kepala di bagian pengadaan. Kalau pemimpin rumah sakit sendiri dipegang pamannya, Pak Handi."


"Oooh, pantesan."


"Ibu ... kenal Pak Raden di mana? Kok kayaknya sepesial banget."


Hasna melirik Andi. Satpam itu terlihat tidak nyaman dan merasa tidak enak pada Hasna.


"Saya dulu ditabrak sama dia."


"Ditabrak? Wah, jangan-jangan ibu ya yang masuk rumah sakit terus dijaga sama Bi ... Bi ... Bi siapa ya itu namanya. Aaahh, pokoknya itu lah."


"Kenapa memangnya?" tanya Inggit.


"Itu si bibi pembantu kepercayaan bapak. Bapak paling dekat sama bibi itu setelah ibunya meninggal. Katanya tidak ada yang boleh mengganggu bibi itu. Intinya dia kasta tertinggi deh yang paling dekat dengan bapak. Makanya pas denger ada wanita sakit terus dijaga sama bibi itu, jadinya heboh."


"Heboh?" pertanyaan Inggit berbarengan dengan mata Hasna yang melirik penasaran.


"Iya, heboh. Katanya wanita itu spesial. Bahkan orang-orang di rumah sakit mengira kalau itu pacarnya bapak."


Uhuk!


Hasna tersedak bahkan saat dia sedang tidak makan apa-apa.


"Bapak itu ditinggal pergi sama istrinya. Katanya sih istrinya selingkuh. Sejak mereka bercerai, bapak tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Makanya keluarganya pada penasaran sama sosok wanita yang dirawat di bibi."


"Penasaran kenapa?"


"Penasaran siapa wanita yang bisa menarik perhatian Pak Raden."


"Selingkuh? Istrinya Pak Raden bukannya kecelakaan ya? Dia ditabrak lari," ucap Hasna.


"Masa sih? Perasaan orang-orang bilang kalau istrinya Pak Raden itu selingkuh."


"Hust! Jangan fitnah, Pak. Dosa."


"Bukan begitu, Mas. Kalau memang istrinya meninggal, masa orang-orang di sini gak pada tahu. Setidaknya ada pengumuman atau apa kan ya? Perasaan gak ada deh."


Mereka terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan makan. Sementara Hasna hanya diam. Matanya menatap jauh ke atas langit yang gelap. Tidak ada bintang satupun di sana, hanya hitam dan gelap.


Hasna memutuskan untuk masuk ke dalam dan menemani Nay di sana. Dia mengusap wajah anaknya, membacakan doa lalu ditiupkannya di ubun-ubun Nay.


"Kita bobo, ya, Nak. Udah malam. Jangan lupa baca doa, semoga besok kamu dan bunda terbangun dengan penuh kebahagiaan."

__ADS_1


Hasna tidur di samping Nay, memeluk tangan kecil itu dengan penuh kerinduan yang dibalut rasa sedih dan duka yang mendalam.


__ADS_2