Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Rasa yang pernah ada


__ADS_3

"Teh, aku mau pulang dulu."


"Hati-hati di jalan, ya. Ada ongkosnya gak?"


"Ada sedikit, tapi cukup lah."


Hasna tersenyum. Dia mengambil dompetnya dan memberi Inggit beberapa lembar uang berwarna biru.


"Beli buah atau makanan buat ibu."


"Ibu sedih banget gak bisa ke sini, Teh."


"Teteh tau, tapi doa dari ibu jauh lebih berharga dan lebih dari cukup. Sampaikan salam teteh buat ibu. Kamu juga jaga ibu di sana ya."


"Iya, teh. Assalamualaikum."


Hasna menjawab salam adiknya yang akan kembali pulang setelah menemaninya beberapa hari di rumah sakit.


Suasana yang ramai kini terasa sepi saat hanya ada Hasna dan Nay di ruangan yang terbilang cukup besar. Nay yang lelah pun tertidur dengan lelap.


"Mas, titip anak saya dulu ya. Saya mau ke kantin sebentar," ucap Hasna pada perawat yang berjaga.


"Iya, Bu."


"Mau ke mana?" tanya seseorang dari belakang Hasna. Hasna berbalik.


"Mas?"


"Kamu lapar?"


Hasna hanya tersenyum.


"Aku sudah bawakan makanan buat kamu. Ayo, kita makan bareng di dalam."


Hasna mengangguk.



"Banyak banget, Mas."


"Saya belum makan dari siang."


"Loh, kenapa? Sesibuk apapun, usahakan makan yang teratur. Buat apa kerja menghasilkan uang banyak kalau uangnya cuma buat dikasih ke dokter."


"Iya, maaf ... maaf."

__ADS_1


"Ya udah, ayo makan aja. Kayaknya ini enak deh. Ada almond juga, pasti gurih."


Raden tersenyum saat melihat Hasna mengendus makanan. Hasna manggut-manggut saat rasa makanan itu cocok di lidahnya.


"Ayo, Mas. Ini enak tau, coba deh." Hasna berbicara dengan makanan di mulutnya. Dia mengambil ayam, lalu menyuapkannya pada Raden.


"Gimana? Enak kan?"


"Enak karena kamu yang nyupain."


Hasna terdiam. Dia berhenti mengunyah. Lalu setelahnya kecanggungan itu terjadi. Mereka makan dengan saling diam. Hasna yang tadi aktif menjadi begitu pendiam.


Raden melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah malam ternyata, saya pamit dulu ya kalau gitu."


Hasna menoleh, lalu mengangguk pelan. Tentu saja, Raden hanya ingin menghindari kecanggungan yang terjadi, bukan karena benar-benar sudah malam.


Hasna mengantar sampai depan pintu. Dia kembali ke dalam, merapikan sisa makan, lalu duduk sambil menatap Nay yang masih terlelap.


Perlahan air matanya menetes cukup deras. Hasna sesenggukan sambil mencium tangan Nay.


"Aku minta maaf. Bunda minta maaf, Ayah."


Dua hari sejak kejadian itu, Raden tidak pernah berkunjung lagi. Dia sendiri pun merasa bingung jika nanti bertemu dengan Hasna. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, dan dia lakukan jika bertemu dengannya.


"Pa, gak ke rumah sakit?" tanya Akhtia.


"Papa ada kerjaan lain."


"Maksud aku jengukin Nay, bukan masalah kerjaan."


"Akhtia, kemarilah." Raden menepuk sofa tepat di sampingnya. Dia ingin anaknya duduk di sana.


"Ada apa?" tanya Akhtia sambil menyandarkan kepala di lengan Raden.


"Papa mau minta izin buat nikahin Tante Hasna? Gak perlu, Pah. Aku udah restui kok. Sok aja, tinggal papa yang action."


"Kenapa? Tumben banget. Biasanya kalau Tante Rani menjodohkan papa, kamu langsung ulti."


"Gak tau. Aku ngerasa suka aja sama Tante Hasna. Aku juga seneng punya adik yang udah tiba-tiba gede aja kayak Puput."


"Ya, papa faham karena kamu begitu kesepian dan ingin meminta adik sejak dulu. Papa tahu kamu akan sangat bahagia jika Puput dan adik-adiknya jadi sodara kamu," ucap Raden sambil mengelus kepala anaknya.


"Iya, Pa. Kata Abang, Puput terlihat tidak suka saat papa deketin bundanya. Menurutku dia bukan gak suka, hanya butuh penyesuaian. Ya, aku pun akan sama jika papa pergi terus ada yang deketin mama. Bagaimana pun juga, bagi anak perempuan ayah adalah cinta sejati mereka."

__ADS_1


"Begitu pun untuk seorang istri. Tidak semua istri bisa melupakan suaminya dengan mudah."


"Bagus dong, itu artinya dia setia kan?"


"Hmmm, kamu benar."


"Ya udah, aku ke kamar dulu mau siap-siap. O, iya, Pah. Aku bawa supir papa dulu boleh?"


"Mau ke mana? Ini udah sore."


"Aku ada janji sama temen mau beli buku."


"Jangan pulang di atas jam 7 malam."


"Sippp!"


"Saat orang dewasa menjalin hubungan, bukan cinta yang mereka utamakan. Ada lebih dari itu. Semisal karena saling membutuhkan, atau karena memang keharusan."


"Terimakasih teh nya, Bi."


"Sama-sama. Bagaimana keadaan anaknya Bu Hasna?"


"Sudah membaik. Mungkin akan segera pulang ke rumah."


Bi Juriah duduk di samping Raden. Dia menyimpan nampan di atas pangkuannya. Menatap lurus ke depan.


"Selain setia, dia sepertinya wanita yang sabar. Entah bisa marah atau tidak. Menerima saja apapun yang bahkan menyakiti hatinya. Apa yang diambil darinya tidak dia pikirkan dan lebih cenderung 'ya sudahlah'."


Meskipun Bi Juriah tidak menyebutkan namanya, tapi Raden mengerti apa dan siapa yang sedang pengasuhnya bicarakan.


"Ditinggal satu-satunya orang yang menjadi sandaran hidup, bukanlah hal yang mudah. Kita bisa melihat itu dari bagaimana nyonya saat ditinggal tuan pergi. Kita bahkan bersedih pada keadaan nyonya, bukan karena kepergian tuan."


Raden kembali menyeruput teh jahe hangatnya.


"Jika serius, usaha aja terus. Tapi jika tidak yakin, jangan mencoba menyakitinya. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi jika melukai hati yang sudah tidak berbentuk."


"Aku merasakan hal yang sama saat bertemu dengan ibunya Akhtia. Tidak cantik tapi benar-benar mengganggu siklus tidur malamku."


Bi juriah tersenyum.


"Hmm, mau dimasakin apa nanti malam?"


"Tanya anak-anak saja, aku makan di luar."


Bi juriah kembali tersenyum sebelum dia ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2