Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Ketulusan hati


__ADS_3

"Loh, kok Nay sama Shaki ada di sini?" tanya Akhtia sambil celingukan mencari Hasna. Puput pun sama terkejutnya melihat kedua adiknya sedang sarapan.


"Ada bunda juga di sini, Om?"


"Iya, bunda ada di kamar tamu. Tadi malam Om bawa ke sini."


"Aku mau ke bunda dulu sebentar."


"Jangan."


Puput yang hendak melangkah, mengurangkan niatnya. Akhtia pun merasa heran dengan sikap Raden.


"Kenapa, Pah?" tanya Akhtia, mewakili perasaan Puput.


"Bunda kalian sedang kurang sehat. Jangan diganggu dulu, biarkan dia istirahat."


Mendengar Hasna sakit, Puput semakin ingin bertemu dengannya. Anak itu segera berlari menuju kamar tamu. Diikuti Akhtia.


Hasna masih berbaring di atas kasur di bawah selimut tebal.


"Bunda."


Hasna merespon dengan semakin menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bun, kenapa? Bunda sakit?" Puput mendekati tubuh Hasna, anak itu tau jika Hasna bukan sakit tapi sedang menangis.


"Ada apa, Bun? Kakak tau bunda sedang nangis kan? Kenapa? Bunda sedih kenapa?" tanya Puput dengan suaranya yang parau menahan tangis.


"Put, kita keluar aja yuk. Mungkin bunda ingin sendiri dulu."


Puput pun ikut ajakan Akhtia untuk kembali ke meja makan. Anak itu terlihat sedih, beda dengan sebelumnya saat dia berada di kamar Akhtia.


"Put, kenapa? Pagi-pagi udah mendung." Airlangga bertanya.


"Biasanya bunda hanya akan menangis di malam hari. Pas nenek atau uwa memarahinya. Jika bunda masih menangis di siang hari, itu artinya bunda sedih sekali." Air mata Puput menetes. Akhtia segera menyekanya.


"Mungkin bunda sedang ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, Put." Airlangga kembali berucap.


"Mungkin bunda tau sesuatu tentang ayah."


Raden yang hendak menyuapkan makanannya, terdiam. Dia kembali menaruh sendok itu di atas piring.


"Saat ayah meninggal, bunda gak sadar. Bunda pingsan. Bunda gak ikut ke makam, tapi aku ikut. Aku sedih dan gak mau pulang, makanya pulang terakhir sama Om Inggit dan Om sultan." Puput bercerita sambil sesenggukan. Yang lain hanya mendengarkan dengan perasaan yang sama-sama sedih.


"Pas itu tuh ada perempuan datang. Dua bawa anak segede Shaki. Perempuan itu menangis di atas kuburan ayah. Pas Om Inggit nanya dia siapa, dia bilang ... dia bilang ...." Puput menangis sejadinya dan tidak melanjutkan ucapannya. Airlangga segera menghampiri, menyeka air mata sambil memeluk tubuh Puput.


"Ssstttt, jangan nangis, ya. Ssstttt ...." Airlangga mengusap punggung Puput dengan lembut.


"Dia istri ayah, kan?" tanya Hasna yang sudah berdiri di belakang Puput. Puput berbalik dan segera memeluk ibunya. Mereka berdua menangis dalam kesedihan dan luka yang ditinggalkan oleh laki-laki yang selama ini mereka kagumi, oleh sosok ayah yang paling dia cintai, oleh suami yang paling dihormati.


Melihat ibu dan kakaknya menangis, Nay dan Shaki pun ikut menangis. Mereka saling berpelukan, duduk di atas lantai.

__ADS_1


Akhtia ikut menangis melihat kesedihan itu. Dia memeluk Airlangga karena tau bagaimana rasanya dikhianati orang yang mereka cintai.


"Ikut Abang jajan, yuk. Siapa yang mau cokelat sama es krim?" Airlangga berusaha membujuk Nay dan Shaki. Meski butuh waktu, tapi akhirnya mereka pun mau.


"Jangan duduk di sini, ayo kita ke sofa." Airlangga membantu Hasna dan Puput bangun. Mengajak mereka pindah ke sofa depan televisi.


Bi Juriah datang membawa air setelah mereka duduk.


"Minum dulu, Bu, biar tenang."


Hasna mengambil gelas, meminta Puput untuk minum. Setelah itu baru dia yang minum.


Hasna berusaha menyeka air mata putrinya, pun dengan Puput. Dia mengusap air mata ibunya.


"Kenapa kamu gak bilang sama bunda?"


Puput kembali menangis. Dia memeluk erat tubuh Hasna.


"Kakak gak mau bunda sedih."


Alasan yang sangat baik untuk seorang anak yang ingin menjaga hati ibunya. Meski dia harus menanggung beban kekecewaan yang besar sendirian.


Itulah alasan kenapa Puput kehilangan kebahagiaan setelah ditinggal oleh ayahnya. Bukan karena dia sedih kehilangan sang ayah, tapi karena dia kecewa atas sikap ayahnya. Dia benci karena sang ayah meninggal sebelum meminta maaf pada Hasna.


Dia juga tidak suka saat Raden mendekati ibunya, itu karena Puput takut Raden akan melakukan kesalahan yang sama seperti Azam.


"Kamu kenapa menyimpan ini sendirian, sih, Nak. Kenapa?"


"Ayah begitu karena bunda yang salah. Bunda tidak bisa memberikan apa yang ayah inginkan. Bunda yang salah karena tidak bisa menjadi istri yang baik. Kakak jangan benci sama ayah, meskipun ayah menyakiti bunda bukan berarti ayah gak sayang sama kakak. Ayah itu sangat mencintai kakak dan adik-adik. Kakak tau itu kan?"


Puput mengangguk.


Raden menatap Hasna yang sedang bersedih dengan tatapan kagum. Rasa sukanya pada wanita itu semakin bertambah. Jantungnya berdegup lebih kencang dan tidak beraturan.


Melihat Hasna, dia berkata dalam hati jika dia harus memiliki wanita itu. Wanita tangguh yang memiliki kelembutan hati luar biasa.


Aku harus menjadikan dia istri.


Tangisan mereka berangsur mereda. Baik Hasna maupun Puput, sudah semakin tenang. Mereka sudah tidak meneteskan air mata lagi.


"Kalian masuk lah dulu ke kamar. Istirahat."


"Put, kamu masuk ke kamar ya."


"Iya, Bun."


Puput berjalan perlahan menuju kamar Akhtia. Dia terlihat mengucek matanya, atau sedang menyeka air matanya yang kembali jatuh.


"Mas, saya minta maaf karena membuat keributan di rumah ini. Tidak seharusnya saya menangis di sini."


Raden hanya diam menatap Hasna. Menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengigit ujung ibu jari tangannya.

__ADS_1


"Maaf juga karena Mas sudah bersikap baik dan ...."


"Saya tidak suka mendengar kata maaf yang berulang-ulang."


"Ya?"


Raden merubah posisi duduknya. Membuka kedua kakinya, lalu menyimpan kedua sikutnya di atas paha.


"Sekali saja ucapakan terimakasih. Mungkin itu akan terdengar lebih baik. Jangan bicara seolah kamu itu beban untuk saya."


Hasna kebingungan.


"I-iya, Mas. Terimakasih untuk semua yang mas lakukan. Kebaikan--"


"Apa yang saya lakukan bukan karena saya baik. Saya dikenal tidak baik oleh keluarga karena saya memang bukan orang baik, meski saya tidak mengakui kalau saya ini orang jahat. Teman, sahabat, dan siapapun orang yang didekat saya tidak semua menerima kebaikan yang kamu dapatkan. Jadi, apa yang saya lakukan bukanlah bentuk kebaikan dari saya."


Hasna masih terdiam.


"Itu karena saya mencintai kamu, Hasna."


"Tapi, Mas--"


"Saya tidak memaksa dan tidak akan memintamu kamu menerima atau membalas perasaan saya. Saya hanya ingin kamu tahu kalau kamu itu berharga untuk saya." Lagi-lagi Raden memotong ucapan Hasna.


"Mas ...."


"Apa?"


Menatap mata Raden yang teduh dan penuh cinta membuat Hasna kehilangan kata-kata.


"Kenapa harus saya? Mas bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari saya. Saya ini hanya wanita yang tidak diinginkan banyak orang. Dikhianati suami yang saya cintai, dibenci mertua, dan diasingkan oleh keluarga. Kenapa Mas yang jauh lebih berharga, memiliki segalanya malah menginginkan saya yang hina ini. Saya hanya akan menjadi aib dan beban untuk Mas nantinya."


"Kata siapa? Saya tidak bisa mendapatkan wanita manapun yang saya inginkan."


"Mas pasti bisa, kok."


"Lalu kenapa saya tidak bisa mendapatkan kamu?"


Hasna tertegun.


"Ibarat harta, uang saya banyak, mobil merek apa saja bisa saya dapatkan. Tapi hanya mobil yang menurut saya spesial yang akan saya beli, dan itupun belum tentu bisa saya dapatkan karena yang istimewa itu biasanya limited edition. Hanya orang beruntung yang bisa mendapatkannya. Dan saya termasuk orang yang tidak mendapatkan anugerah itu."


"Mas ...."


"Jangan merasa bersalah. Saya mencintai kamu bukan membebani kamu. Saya hanya mengatakan apa yang saya rasa. Jika menurutmu itu menganggu, lupakan."


"Berisi saya waktu."


"Saya takut tidak mempunyai waktu tersebut."


Hasna mengerutkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2