
"Ayo, Mas. Angkat."
Hasna begitu gelisah karena Raden tidak juga mengangkat telpon darinya. Sudah hampir 20 kali Hasna mencoba menghubungi, beberapa kali dia mengirim pesan tapi tidak juga mendapatkan balasan. Tidak ada respon sama sekali.
"Jangan nyetir." Dewa kembali menutup pintu mobil Hasna saat wanita hendak masuk.
"Mba itu selalu menyebabkan masalah jika nyetir sendiri. Aku aja yang anter."
"Kamu yang anter? Apa itu gak akan menyebabkan kesalahpahaman lebih jauh? Dia marah karena kita, kamu, keluarga kamu. Kamu lupa?" tanya Hasna sedikit membentak.
"Maaf, Mba." Dewa memelas.
"Tolong, sekarang kamu pergi. Biarkan kali ini aku menyelesaikan masalah sendiri. Kamu menjauh untuk beberapa hari ini. Aku kesel banget tau sama papih kamu. Kenapa mami kamu juga bilang cincin ini cincin lamaran kita. Apa yang Raden pikirkan coba? Aku gak peduli dia marah, aku hanya memikirkan bagaimana perasaan dia saat ini. Dia pasti kecewa." Suara Hasna terbata-bata. Tangisannya pecah.
"Aku harus gimana sekarang?"
"Mba, Mba. Aku minta maaf tapi tolong jangan nangis di sini. Mba kalau mau ke rumahnya, pergi saja."
"Aku pasti akan diusir bukan?"
"Setidaknya mba menunjukkan sama dia kalau mba ada niat buat minta maaf dan klarifikasi. Bahwa mba berjuang untuk hubungan kalian."
Mendengar ucapan Dewa, Hasna tidak berpikir lagi. Dia langsung pergi menuju rumah Raden.
Tidak butuh waktu lama, dia sampai di halaman rumah. Di sana ada mobil Raden yang terparkir.
"Bu, ibu. Maaf, tapi bapak bilang ibu tidak boleh masuk."
"Sekali ini saja, Pak. Saya mohon izinkan saya masuk. Saya jamin bapak tidak akan dimarahi. Saya mohon."
"Tapi, Bu. Ini perintah dari bapak. Saya gak bisa melanggar."
Hasna menendang perut satpam itu secepat kilat.
"Katakan kalau saya memaksa dan menganiaya bapak. Maaf, ya."
Raden yang melihat dari balik tirai pun segera pergi.
Hasna segera berlari saat satpam itu tergolek di tanah. Dia juga tidak berusaha bangun atau menghentikan Hasna karena dia tau mereka sedang tidak baik-baik saja, juga karena semua orang di rumah itu menyukai Hasna.
__ADS_1
Dengan langkah buru-buru, hingga dia terjatuh di atas tangga, tukang keringnya terasa begitu sakit saat terkena pinggiran anak tangga. Namun, semua itu dia abaikan, Hasna kembali bangun tertatih menuju kamar Raden.
Ragu dia membuka karena takut Raden semakin marah, tapi Hasna teringat pada ucapan Dewa jika dia harus menunjukkan niat nya untuk menjelaskan semuanya.
Namun .... Apa yang Hasna lihat di dalam kamar, membuat dia terkejut bukan kepalang. Hasna syok. Tubuhnya membeku dan matanya terus menatap pada hal yang hatinya tidak inginkan.
Perlahan kaki Hasna mundur. Dia berbalik badan dan kembali pergi dengan langkah gontai. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Ada apa?" tanya Raden yang tiba-tiba ada di belakang. Hasna yang masih syok tersadar.
"Pilihan kamu bagus untuk memilih keluarga Mahendra. Mereka memiliki segalanya. Status sosial dan ekonominya jauh di atas saya. Ya, tentu juga karena anaknya lebih muda dari saya."
Hasna berbalik.
"Setidaknya dengarkan dulu apa yang terjadi sebelum berkata kasar."
"Kasar? Saya bahkan lebih takut pada wanita lemah lembut, manis dan baik seperti kamu. Sikap mereka membunuh secara perlahan dengan topengnya yang busuk!"
Hasna mencoba sabar karena dia tau Raden sedang kecewa dan marah.
"Saya ragu tentang apa yang menimpa hidup kamu sekarang. Melihat bagaimana kamu lihai mempermainkan saya, mungkin saja wanita selingkuh suami kamu pun adalah korban. Mungkin saja kamu lah yang merusak kebahagiaan wanita itu. ck ck ck."
"Hinaan? apa yang membuat wanita licik semacam kamu menjadi berharga?"
Hasna tertegun mendengar ucapan Raden yang semakin keterlaluan. Hasna tau Raden kecewa tapi dia tidak menyangka pria itu akan bersikap seperti sekarang ini.
"Ha ha ha. Paman dan bibi benar, kami harus mencari pendamping yang satu level agar tidak lelah mengajari mereka cara hidup yang baik. Sayangnya saya telah berhasil ditipu wanita seperti kamu ini. Betapa bodohnya saya ya tuhaaan ...." Raden berteriak membuat orang-orang di rumah itu berdatangan.
"Mas, cukup. Aku datang untuk bicara baik-baik sama kamu. Tolong hentikan ucapan kamu karena itu menyakiti hatiku."
Raden mendekat. Mengambil tangan Hasna dengan kuat.
"Sakit hati, huh? Lalu apa yang kamu lakukan pada saya bukanlah sebuah luka? Begitu? Berapa yang mereka berikan sama kamu? Apa yang anaknya Mahendra berikan hingga kamu mampu mengkhianati saya! uang, atau ...." Raden mencium Hasna di depan orang-orang yang ada di sana. Hasna berontak tapi tenaga Raden begitu besar.
"Kamu mendapatkan ini dari dia? Apa kamu menyukai ini?"
Raden terus menyerang Hasna. Membuka kerudung yang dia pakai hingga ikat rambut Hasna terlepas. Rambutnya berantakan.
"Mas ...." Hasna berusaha mendorong, menghindari dari serangan Raden yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Papah!" Airlangga begitu terkejut saat dia baru saja masuk dan melihat apa yang terjadi. Airlangga menarik tangan Raden dan mendorongnya menjauhi Hasna.
Raden tertawa puas.
"Ya, saya tau. Kamu lama menjanda dan merindukan kehangatan, dan dia memberikan itu bukan?"
Plakkkk!
Sebuah tamparan membuat semua orang semakin terkejut. Raden tersenyum sinis, merasakan perih dan panas di wajahnya.
Hasna menatap dengan penuh amarah. Nafasnya tersengal-sengal. Perlahan air matanya menetes. Bibirnya bergetar. Ingin marah tapi dia tidak punya kekuatan bahkan hanya untuk mengatakan satu kata.
"Tante, tunggu." Airlangga berusaha menahan Hasna saat wanita itu pergi.
"Berhenti di sana. Jangan mengikuti Tante, Lang. Mulai saat ini, kita tidak saling mengenal. Katakan itu pada Akhtia."
"Tante ...." Airlangga tampak sedih melihat kepergian Hasna. Saat dia membalik badan, dia bertemu pandang dengan Raden.
"Ucapan papah menyakiti hatinya, dia yang menganggap papa obat dari segala duka, malah menjadi racun untuk memperburuk rasa sakitnya."
Airlangga pergi begitu saja meninggalkan Raden dengan segala perasaannya yang kacau.
Bibir Hasna bergetar hebat. Amarahnya menumpuk di dalam dada tanpa bisa dia keluarkan bahkan hanya berbentuk tetesan air mata.
Langkahnya terhenti saat melihat seseorang sedang berdiri di samping mobilnya. Dia tersenyum meski bukan senyuman bahagia. Hanya sedikit cara agar Hasna bisa lebih tenang.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Karena aku tau, Mba akan membuat kesalah jika menyetir dalam keadaan galau. Ada apa? Kenapa jilbab Mba terlepas?"
Hasna terdiam. Entah kenapa hatinya yang mengeras menjadi luruh begitu melihat Dewa tersenyum dengan lembut. Wajah polosnya berhasil membuat Hasna merasa nyaman hingga dia bisa mengeluarkan rasa sesak di dadanya.
Hasna menangis.
Dewa menghampiri, memeluknya dengan lembut.
"Kenapa dengan emak-emak satu ini? Hobi banget nangis. Padahal anak sudah tiga. Ck ck ck."
Hasna tidak mempedulikan ucapan Dewa, dia hanya bisa menangis dalam pelukan laki-laki yang tidak sengaja dia kenal.
__ADS_1