Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Dia yang kembali


__ADS_3

Membasuh badan dengan air hangat di pagi hari sungguh menyegarkan setelah tubuh istirahat panjang semalaman.


Raden masuk ke dalam walk in closet untuk memilih pakaian mana yang akan dia kenakan. Melihat kemeja satu persatu, mengambil jas untuk dia selaraskan dengan kemeja yang dia pilih. Mencocokkan dasi yang seusai, melihat jam tangan mana yang akan dia pakai, mencium parfum satu persatu agar tubuhnya bau harum segar yang lembut.


Hari ini setelah rapat di rumah sakit, Raden akan menemui pujaan hatinya. Dia tidak tahan untuk tidak minta maaf setelah kejadian pagi kemarin.


To tok tok


Raden menoleh ke arah pintu, dia bertanya siapa yang mengetuk pintu di pagi hari seperti ini.


"Masuk."


Raden kembali melanjutkan kegiatannya memakai kaos kaki tanpa menoleh sedikitpun ke arah pintu. Begitu pintu itu terbuka, tangan Raden langsung terhenti.


Bau ini?


Hanya dengan mencium aroma parfumnya saja Raden sudah tau siapa yang datang. Dia segera memakai kaos kaki dengan sempurna dan langsung berdiri.


Benar saja, Azalea datang. Untuk sesaat mereka saling menatap.


"Ada apa sepagi ini kamu kemari?" tanya Raden sinis.


Melihat kedatangan Azalea, ada gejolak yang membara di dalam dada Raden yang siap membakar seluruh tubuhnya. Marah, kesal, dan emosi yang besar membuat Raden merasakan nyeri yang luar biasa. Hanya saja, berbarengan dengan itu, ada sepercik rasa bahagia melihat wanita yang begitu dia cintai dulu, datang.


Mata Raden terhenti di bagian dada Azalea, tulangnya terlihat jelas. Ya, Azalea terlihat kurus.


Wanita itu berjalan mendekati.


"Apa kabar, Pah?"


"Pah? Haha. Lucu sekali kamu mengucapkan kata itu."


Azalea tersenyum tipis. Senyumannya masih manis seperti dulu. Tidak ada yang berubah, wajahnya masih cantik, sama saja saat mereka pertama bertemu. Harumnya masih sama, membuat nyaman orang yang ada di dekatnya.


"Aku datang ke sini karena merindukan anak-anak."


"Rindu kamu bilang? Memangnya bisa ya, rindu pada anak yang kamu buang sendiri hanya demi pria lain?"

__ADS_1


"Kita tahu dengan jelas kenapa hal itu terjadi bukan?"


Pikiran Raden seolah diputar ke masa lalu. Masa di mana Azalea memutuskan untuk pergi dari rumah karena ulah Paman dan bibinya.


Malam itu adalah puncak kemarahan Azalea setelah lama dia begitu sabar menahan serangan yang bertubi-tubi dari keluarganya. Handi memberikan bukti yang menyatakan jika Azalea tidak setia pada Raden bahkan sejak pertama mereka menikah.


Foto, bukti chating nya semua terpampang nyata. Mereka mengatakan jika Airlangga bukanlah anak kandung Raden.


Bukti test DNA pun mereka sematkan. Bu Asroh dan suaminya kesal, mereka mengusir Azalea dan juga Airlangga, serta anak yang ada di dalam kandungannya, Akhtia.


Azalea yang memiliki harga diri tinggi, tidak terima dan langsung pergi. Raden memohon tapi tidak diindahkannya.


Sepekan setelahnya, Raden kembali menemui Azalea di rumahnya, namun alangkah terkejutnya Raden saat melihat Azalea sedang berpelukan dengan laki-laki lain. Niat hati ingin kembali membawa wanita itu pulang, berubah menjadi amarah. Dalam benaknya terbayang bukti-bukti yang Handi berikan.


Saat itu Raden yang diselimuti emosi, langsung membawa Airlangga tanpa peduli larangan dari Azalea.


"Mulai saat ini saya talak tiga kamu. Ingat, jangan perlu repot-repot sidang memperebutkan hak asuh anak karena ibu yang berselingkuh tidak layak mengasuh seorang putra. Camkan itu!"


Begitu Azalea melahirkan, Raden tidak membiarkan Azalea menyusui anaknya. Dia langsung membawa putri mereka pergi dari ibunya.


Kasih sayang yang sudah telanjur dicurahkan untuk Airlangga, membuat dia menutup mata pada hasil test DNA yang ada.


Kebencian Raden bertambah pada sosok Azalea. Meski tahu mereka berdua bukan anak-anaknya, Raden bersikukuh ingin merawatnya, atau mungkin Raden sengaja ingin memisahkan ibu dari anaknya sebagai media balas dendam atas rasa sakit yang dia derita.


Kini, wanita itu berdiri di hadapannya setelah sekian lama tidak saling jumpa.


"Pah, ada yang ingin aku beritahukan sama kamu."


Raden bergeming.


Azalea mengeluarkan sebuah map putih. Dia memberikannya pada Raden. Map putih khas rumah sakit miliki keluarganya.


"Aku sengaja memeriksakan diri di rumah sakit yang kamu kelola agar aku tidak dikira menipumu."


Dengan enggan Raden mengambil map itu. Membuka dengan sembarangan dan ....


"A-apa ini? ke-kenapa denganmu, Lea?"

__ADS_1


Azalea menangis sesenggukan. Dia duduk dan bersimpuh di kaki Raden.


"Pah, aku minta maaf. Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas segala yang pernah aku lakukan sama kamu. Demi tuhan, Pah. Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah selingkuh. Ya, aku memang dekat dengan beberapa teman laki-laki, tapi tubuhku hanya kamu yang pernah menjamahnya. Aku masih suci dari tangan laki-laki lain waktu itu."


Raden terdiam.


"Ayo, kita lakukan tes DNA sekali lagi jika kamu tidak percaya? Kita buktikan jika Tia dan Airlangga memang benar-benar anak kita."


"Tidak peduli dia anakku atau bukan, bagiku mereka tetaplah anakku. Aku tidak akan melakukan test apapun lagi pada mereka. Aku sudah yakin jika mereka memang anak-anakku."


"Pah, aku sudah dicampakkan oleh suamiku begitu tahu aku mengidap kanker. Dia takut aku menghabiskan uangnya."


"Lalu apa yang membuatmu datang kemari? Kamu ingin aku membiayai perawatan kamu? Tidak masalah, kamu boleh berobat gratis di rumah sakit keluargaku. Tapi, pergilah dari sini."


Azalea berusaha bangun.


"Pah, aku tidak tahu sampai kapan aku memiliki waktu. Di sisa umurku yang sedikit ini, aku meminta izin sama kamu."


"Izin apa?"


"Izinkan aku tinggal di sini untuk beberapa waktu. Aku ingin menebus kesalahan pada anak-anak. Biarkan aku memberikan kasih sayangku untuk mereka. Aku ingin membuat sedikit kenangan yang indah sebelum ajal menjemput."


Raden hanya diam menatap Azalea yang terlihat sangat putus asa.


"Pah ... aku ikut bareng ya berangkat sekol--"


Suara Akhtia menghilang saat dia memasuki kamar Raden dan melihat seseorang sedang berdiri di sana bersama papahnya.


"Akhtia ...."


Wajah Akhtia seketika berubah. Wajah cantik itu berubah menjadi wajah seorang anak yang penuh dengan kebencian. Tanpa melanjutkan ucapannya, dia berbalik badan dan berjalan cepat karena sadar Azalea mengejarnya.


"Akhtia, tunggu, Nak. Dengerin mama dulu, Sayang. Akhtia ...."


Gadis itu tidak mempedulikan panggilan Azalea yang memohon agar dia mau mendengarkannya.


Saat membuka pintu utama, dengan sangat keras Akhtia menutup pintu itu kembali. Azalea takut melihat putrinya terlihat begitu marah.

__ADS_1


Dia hanya bisa diam berdiri sambil menangis sesenggukan.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini. Semua keputusan ada di tangan anak-anak. Jika mereka bersedia, maka aku akan mengizinkan kamu tinggal di sini," ucap Raden sambil berlalu pergi menyusul anaknya.


__ADS_2