
"Mba, itu kalau lagi bikin kue pake baju yang bener, watir buku keteknya pada jatuh. Kan ngeri pas mau makan ada bulu baunya sedap gimana gitu."
Hasna tertawa. "Sialan. Ya enggak lah." Hasna kembali tertawa. Dia sedang membuat bolu untuk acara ulang tahun.
"Iya, dih. Masa pake daster gak ada tangannya gitu. Terus itu rambut juga, pake apa kek. Tukang kuenya ini mah jorok."
"Berisik tau, Dewa. Udah ah, tutup aja deh telponnya. Ganggu tau."
"Iya, iya, aku minta maaf. Gitu aja marah, canda doang juga."
Hasna melotot sambil memajukan bibir bagian bawahnya.
"Lucu tau, lagi ... lagi ...."
Hasna kembali tertawa, dia yang kesal malah dibuat geli oleh sikap dewa. Laki-laki yang satu ini sering membuat dia kesal, tapi Hasna lebih sering tertawa setelah mengenalnya.
"Mba, jangan lupa besok dandan yang cantik tapi make up nya jangan kayak ondel-ondel, ya. Bajunya yang bagus, simpel tapi manis lah pokoknya."
"Iya, bawel!"
"Kita juga harus bersikap seperti pasangan kekasih yang sesungguhnya. Mulai dari bahasa juga harus yang kayak pacar beneran. Coba deh latihan."
"Latihan apa? Udah kayak apa aja pake acara latihan."
"Ya mba ngomong sama aku harus lebih lembut lagi, jangan sangka kayak sekarang ini. Ngerti, Sayang?"
"Ih, geli banget dengernya."
"Atau baby aja?"
Hasna tertawa.
"Dih, kenapa malah ketawa, sih? Seriusan lah, Mba." Raden mulai kesal.
"Iya, iya. Sok kita latihan sekali lagi."
"Aaaah, bener. Aku panggil By aja. Lagi tren itu."
"By? Bibi maksudnya? Bi inem, Bi onah, Bi ... Bi siapa lagi ya."
"Lah, bukan Bibi-bibi yang itu, itu tuh singkatan dari Baby, Mba. Aduh, ampun deh kerja sama emak-emak, riweuh!"
Hasan kembali tertawa melihat kekesalan dewa padanya.
"Iya, maaf. Ya udah, ayo kita ulangi sekali lagi ya, Sayang." Hasna mencoba melembutkan suaranya.
"Nah, gitu dong."
"Besok, Nay sama Shaki dibawa juga ya. Kalau ditinggal, aku bingung mau dititip ke siapa."
"Ya bawalah, emangnya mereka motor pake dititip segala."
Kali ini Hasna tidak tertawa, dia tersenyum mendengar jawaban Dewa.
"Ya udah, Mba. Ini pacar aku nelpon. Nanti kita sambung lagi."
"Iiiih ... sayang kamu selingkuh?" Hana merengek.
__ADS_1
"Ish, apaan sih. Geli tau dengernya. Hiiiiy ..."
Hasna tertawa mendengar Dewa bergidig.
"Ya udah, aku tutup dulu ya, Mba."
Hasna mengangguk, sambil tersenyum. Dewa pun terlihat tersenyum sebelum dia menutup panggil videonya.
Hasna kembali fokus pada bolu yang sedang dia buat. Saat sedang memberi krim oada bolunya, hp Hasna kembali berbunyi. Sebuah chat masuk.
"Tante, sedang apa? Tia kangen."
Hasna mengernyit dahinya. Dia yang sudah lama dicuekin Akhtia, kini tiba-tiba saja dia mendapatkan wa.
Hasna menyimpan sendok krim, mulai mengetik membalas chat dari Akhtia.
"Kenapa, Sayang? Gimana kabar kamu?"
"*Kangen sama Puput, sama Nay, sama Shaki. Pengen main bareng lagi. Tante kapan main ke rumah?"
"Tante sibuk, Nak. Alhamdulillah udah tante udah maju."
"Aku ikut seneng dengernya. Tante kapan mau jenguk Puput? Aku ikut ya."
"Nanti bulan depan, Sayang. Iya, boleh. Nanti Tante jemput kamu, kita jenguk Puput sama-sama. Gimana kabar Abang?"
"Abang sibuk soalnya udah tingkat akhir. Aku di rumah sendiri dengan kesedihan dan beban yang begitu berat*."
Hasna mengernyitkan dahi, dia merasa heran dengan ucapan Akhtia. Kesedihan? Beban?
Lama Akhtia tidak membalas.
"Tante .... (emot sedih)"
Hasna penasaran, dia tidak membalas chat dari Akhtia, tapi langsung menelponnya. Satu kali, dua kali, tiga kali tetap tidak ada jawaban.
Hasna kembali menyimpan ponselnya, mengerjakan pesanan bolunya. Setelah selesai dia segera mandi, bersiap-siap untuk mengantar pesanan sekaligus menjemput Nay di sekolah.
"Kita mau ke mana, Bun? Kok ke sini?" tanya Nay saat mobil mereka berjalan ke arah berlawanan dari rumah.
"Nay kangen sama Kak Tia gak?"
"Kak Tia?" tanya Nay sumringah. Terlihat jelas di matanya jika anak kecil itu merindukan Akhtia.
"Heem. Nay mau ketemu?"
"Mauuuu ... kita mau ke sana sekarang, Bun?"
"Iya. Bunda mau ke rumah kak Tia."
"Ye ye ye. Ke rumah kakak tia, ke rumah kak Tia."
Hasna tersenyum sambil melirik Nay yang kegirangan.
Kamu kenapa, Tia? Kamu di rumah atau di sekolah?
Hasna sampai di halaman rumah Raden. Dia di sambut hangat oleh supir dan satpam rumah itu.
__ADS_1
Begitu masuk, dia bertemu dengan Bi Juriah.
"Ya Allah, ibu ...." Bi Juriah seperti begitu senang dan juga sedih melihat kedatangan Hasna. Dia segera menyimpan kemoceng, dan berjalan cepat mendekati Hasna.
"Bi ...." Hasna memeluk Bi juriah. Wanita paruh baya itu merasa canggung. Dia terlihat risih saat dipeluk Hasna, mengingat dia hanya seorang pembantu. Namun, di sisi lain dia juga merasa senang karena diperlakukan sebagai manusia oleh Hasna.
"Bibi apa kabar? Bagaimana dengan Tuti dan yang lainnya, kalian sehat semua kan?"
"Sehat, Bu. Alhamdulillah.
"Bi, Tia mana?"
"Loh, ibu kok bisa tau Nak Akhtia tidak sekolah."
Benar dugaanku.
"Insting, Bi." Hasna tertawa kecil. "Ya udah, saya ke kamar dulu, ya. Nay juga kangen sama kakaknya."
"Eh, non cantik kangen sama kakak Tia, ya? kangen sama bibi juga gak?"
Nay mengangguk malu-malu.
"Ayo, Nay. Kita ke kamar kakak. Bi, saya permisi dulu ya."
"Ibu mau minum apa?"
"Gak usah, Bi. Nanti saya ambil sendiri kalau haus."
"Iya, Bu."
Hasna berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamar Akhtia. Hasna kesulitan membuka pintu karena terkunci dari dalam.
"Tia, Sayang. Buka pintunya dong, ini Tante, Nak."
"Kakak ... ini aku." Nay ikut berbicara. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Akhtia muncul dari balik pintu dengan mata sembab, dan rambut yang acak-acakan.
"Ya Allah, Tia. Kamu kenapa, Sayang? kamu sakit? Huh?" Hasa memeriksa kepala Akhtia, merapikan rambutnya serta mengusap air mata yang masih tersisa di wajah cantiknya.
Mereka masuk dan duduk di atas ranjang.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu belakangan ini menjauh dari Tante? Kamu ada maslahah? Katakan, sayang."
"Tante kenapa jauh-jauh datang ke sini?"
"Ya kenapa lagi kalau bukan karena khawatir sama kamu."
"Aku gak bilang kalau aku di rumah, kenapa Tante datang?"
Hasna tersenyum. Dipeluknya Akhtia yang sedang sedih.
"Kamu memang bukan lahir dari rahim Tante, tapi Tante tetaplah seorang ibu, Nak. Tante bisa tau kamu tidak baik-baik saja. Gak mungkin seorang Akhtia mengirim pesan seperti itu jika sedang ada di sekolah."
Tiba-tiba Akhtia menangis kencang, memeluk Akhtia begitu erat.
"Menangislah, Nak. Jangan ditahan."
Hasna memeluk erat Akhtia, mengusap punggungnya dengan lembut.
__ADS_1