Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Rezeki tak terduga


__ADS_3

"Mba, ada yang mau ikut kerja lagi kalau bisa. Dia juga butuh pekerjaan buat nambahin uang dapur katanya."


"Kamu tahu sendiri kan, Da, kalau pekerjaan kita gak menentu. Hanya kalau sedang ada orderan banyak baru bisa kerja. Kalau enggak?"


"Iya, gak apa-apa katanya."


"Nanti ya, Da. Semoga saja banyak orderan yang datang. Jadi saya bisa bantu temen kamu. Oh, iya. Saya kemarin didatangi pak RT."


"Kenapa memangnya, Bu?"


"Saya ditegur masalah pulang malam."


"Jangan marah ya, Bu. Ida cuma mau ngasih tau ibu aja. Ini juga kalau bukan ibu yang memulai, Ida gak berani ngomong."


"Tentang apa, Da? Ngomong aja gak usah sungkan."


"Sebenarnya sebelum ibu datang, ada penjual kue juga di blok belakang. Cuma dia kecil-kecilan karena gak ada modal. Terus juga kue dia gak seenak buatan ibu. Mungkin dia gak suka liat ibu maju, jadinya dia menyebarkan fitnah di warga sini. Katanya ibu sering dianterin cowok gonta-ganti."


"Lah, kenapa mereka percaya? Emangnya gak pada bisa lihat sendiri kalau saya datang? Saya cuma dianterin sama satu orang, itu jga Raden. Baru tadi malem saya dianterin temen. Itupun untuk urusan kerjaan."


"Yah, Bu. Orang namanya udah iri, mau gimana juga tetep aja iri. Ibu baik aja dikatain jelek, gimana kalau jelek?"


"Iya, sih. Tapi ya sudah lah, saya gak mau ambil pusing. Biarin aja, toh saya gak ngapa-ngapain. Gak tiap malem juga saya pulang larut. Cuma beberapa kali doang."


"Permisi ...." Seseorang ada di depan rumah.


"Siapa, Da?"


"Gak tau, Bu. Ida kan di sini sama ibu."


"Saya ke depan dulu, deh. Kamu lanjutin ya."


"Beres, Bu."


Hasna mencuci tangan sebelum dia ke depan menemui orang yang datang ke rumahnya.


"Eh, Pak? Emmm, maaf saya lupa nama bapak. Hehe."


"Saya Aldi, Bu. Kedatangan saya ke sini mau ngasih ini."


Aldi memberikan bungkusan keresek hitam. Ada benda berbentuk bulat di dalamnya.


"Itu jambu kristal, Bu. Siapa tahu siang-siang begini ibu mau rujakan. Saya ngambil dari pohon sendiri loh."


"Waaah, makasih banyak loh, Pak. Kebetulan saya suka banget sama jambu ini. Enak gak ada bijinya, manis juga."


"Manis kayak ibu."


"Eh?"


Aldi tersipu.


Ih, ini orang kenapa aneh begini ya? Aku yang dipuji, kenapa dia yang salting?


"Saya permisi dulu, Bu."


"Iya, Pak. Terimakasih loh, ya."

__ADS_1


Aldi kembali tersipu.


Ini orang kenapa sih? Bikin ngeri aja.


"Al ... Aldi."


Seseorang berteriak dari kejauhan seperti sedang mencari Aldi.


"Di sini, Pak." Hasna ikut berteriak. Tidak lama kemudian seseorang datang.


"Aldi, ayo pulang. Ini panas banget loh, kamu bisa sakit."


"Iya, Aldi mau pulang."


"Kamu liat jambu Abang gak? Jambunya dicariin Syifa, mau dipake rujakan sama temen-temennya."


Seketika wajah Hasna memanas. Meski bukan salah dia, tapi rasa malu itu tidak bisa dia abaikan begitu saja.


"I-ini, Pak. Tadi Aldi ngasih ini ke saya."


"Oh." Orang itu pun tidak kalah malunya mengetahui jambu yang dia cari ada di tangan Hasna.


"Gak apa-apa kalau gitu, buat ibu saja. Nanti saya bisa beli lagi."


"Ih, jangan. Bawa aja, Pak. Saya juga kalau mau rujakan sama siapa, saya cuma sendiri di rumah. Barang kali siapa tadi ... mau rujakan."


"Syifa, dia adik saya."


"Nah, iya. Bawa aja lagi, Pak."


"Tapi ...."


"Maaf, ya, Bu."


"Iya, gak apa-apa."


"Dadah Bu ...." Aldi melambaikan tangan. Hasna membalasnya.


Pantesan ....


"Siapa, Bu?"


"Aldi, tadi dia datang ngasih saya jambu satu keresek. Taunya jambu Syifa yang mau dipake rujakan sama temen-temennya."


Mereka tertawa.


"Da, itu aldi kenapa, ya? Kok rada aneh gitu. Tapi kalau dilihat dari penampilannya sih kayak yang ... ya maaf sebelumnya, tapi ...."


"Aldi itu dulunya memang normal, Bu. Cuma setelah ditinggal anak sama istrinya, dia jadi agak gimana gitu. Emang, sih, penampilannya mah rapi, orang diurus sama Hamzah."


"Hamzah?"


"Iya, Kakaknya Aldi sama Syifa."


"Oh yang tadi jemput Aldi kali ya."


"Iya, itu pasti Hamzah. Kasian tau, Bu. Hamzah harusnya udah nikah, tapi gagal."

__ADS_1


"Gagal kenapa?"


"Dia itu dilangkahi sama Aldi. Istri Aldi hamil, tapi kecelakaan sampai meninggal, nah stress tuh Aldi. Mereka kan udah gak ada orang tua, jadi mau gak mau diurus Hamzah. Eh, ceweknya gak mau. Katanya dia gak mau serumah sama Aldi dan Syifa. Ya udah, Hamzah membatalkan pernikahan mereka."


"Ya Allah, miris banget sih. Tapi hebat, ya, Hamzah. Saya sih salut sama dia."


"Iya, hebat. Tapi kalau dia terus begitu, mana bisa nikah, Bu."


"Bisa. Hanya wanita yang sepadan yang bisa menjadi istri pria sebaik Hamzah."


Ida tertawa tidak percaya.


Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, Hasna kembali izin menitipkan Nay yang sedang tidur karena dia harus menjemput Shaki ke sekolah.


Dengan membawa kendaraan roda dua, Hasna pergi menjemput Shaki. Di perjalanan, dia melihat rumah no dua dari pojok dekat gerbang, di sana ada Aldi yang sedang memainkan pasir. Sementara Hamzah berdiri mengawasi.


Mereka tidak sengaja bertemu pandang. Hasna segera memalingkan wajahnya karena tidak ingin ketahuan sedang memperhatikan. Dia menjadi gugup karena takut Hamzah menyadarinya.


Sore hari, pesanan 20 bolu jadul dan pandan, sudah rapi di packing. Hanya tinggal antar saja. Pesanan bolu untuk acara hantaran pernikahan.


Sekali lagi Hasna harus melewati rumah Hamzah. Dia sudah berusaha menahan agar tidak menoleh, namun matanya seperti tertarik untuk melihat rumah itu. Sepi.


"Ini sudah semua, ya, Bu. Tolong di cek barang kali ada yang rusak pas di jalan."


"Enggak usah, Mba. Kayaknya gak ada yang rusak ini. Ini sisa pembayarannya ya."


"Iya, saya terima ya, Bu. Semoga cocok rasanya, dan semoga menjadi pelanggan tetap saya."


"Insya Allah, Mba. O, iya. Nanti setelah acara pernikahan anak saya selesai, saya mau ada acara pengajian juga di rumah. Ya, syukuran gitu lah. Mba bisa buatkan Snack box gak?"


"Wah, bisa banget, Bu. Mau berapa box?"


"150 bisa? Isinya sih terserah Mba aja. Yang penting ada yang manis dan ada yang lainnya juga."


"Alhamdulillah."


"Untuk tanggal dan harinya, nanti saya wa ya."


"Siap, Bu. Saya tunggu kabar baiknya ya. Kalau bisa tiga hari sebelumnya udah kasih kabar, takut bentrok sama yang lain."


"Iya, Mba. Nanti saya kabarin jauh-jauh hari."


"Iya, Bu. Terimakasih ya, uangnya saya terima. Saya permisi dulu."


"Iya, silakan ... silakan."


Senyum sumringah tidak pernah lepas dari wajah Hasna sampai dia kembali ke rumah.


"Idaaa ...."


"Ada apa, Bu? Girang bener."


"Tau gak, yang pesan bolu kita hari ini, dia pesan snack box 150 box. Isinya nyerahin ke kita semua. Nanti ajak temen kamu ke sini, ya."


"Yang bener, Bu?"


"Iyaaa. Masa saya bohong."

__ADS_1


Ida dan Hasna meloncat kegirangan, seperti anak kecil yang berhasil memenangkan lomba.


__ADS_2