
Detik berubah menjadi jam, hari menjadi Minggu lalu mencapai bulan. Pernikahan Akhtia dan Dewa pun sudah di depan mata.
Akad nikah dilaksanakan di sebuah mesjid agung di kota tersebut. Keluarga Dewa lah yang menyiapkan segalanya. Raden dan Hasna hanya mengikuti.
Mereka menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari mesjid itu berada. Itupun dibayar oleh keluarga Dewa. Mereka begitu antusias karena mendapatkan Akhtia sebagai menantunya.
Semua orang telah siap. Mereka menunggu pengantin wanitanya datang. Dewa, orang tuanya dan saksi sudah duduk manis di kursi akad.
Kini, Akhtia datang dari balik pintu yang begitu besar. Saat pintu terbuka, semua perhatian tertuju padanya. Akhtia begitu cantik mengenakan kebaya putih dengan siger sunda yang menawan.
Alunan musik tradisional sunda pun menggema, menyambut datangnya pengantin wanita yang menjelma cantik bak bidadari. Tidak hanya Akhtia, pendamping mempelai wanita pun menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang khusu menjadi tamu di acara akad nikah, yaitu Puput.
Puput terlihat begitu cantik sampai orang-orang berbisik menanyakan siapa Puput itu.
Tidak hanya para tamu undangan, ada dua pria yang sama-sama terpesona pada kecantikan Puput. Airlangga dan Dewa.
Ya, kedua laki-laki muda itu terpesona pada Puput.
Dewa segera memalingkan wajah, dia sadar jika dirinya melakukan kesalahan. Bagaimana pun juga ada wanita di dalam hatinya yang selama ini dia cinta.
Jangan Dewa. Hentikan! Bisik Dewa pada dirinya sendiri.
Angela menatap tidak suka, juga sekaligus sedih karena suaminya menatap wanita lain dengan tatapan yang tidak seharusnya.
Bukan begitu cara menatap seorang kakak pada adiknya. Airlangga, apa kamu memiliki perasaan spesial pada adik tirimu itu?
Angela menoleh pada Puput. Hatinya tidak memungkiri jika gadis itu memang cantik. Pesonanya yang memiliki vibe positif, juga wajahnya tidak bosan dipandang. Ya, Puput memang semanis itu.
Akhtia duduk di samping Dewa.
"Saya terima nikahnya Akhtia binti Raden dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian, juga uang tunai sebesar 205 juta 20 ribu 10 rupiah. Dibayar kontan."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Dalam satu kali tarikan nafas, Dewa berhasil mengucapkan ijab qobul. Semua orang berbahagia, mengucapkan sukur juga bertepuk tangan.
Rangkaian acara demi acara pun telah selesai dilaksanakan. Sesi pemotretan pun usai, kini para tamu dan keluarga dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.
"Mau makan? Abang ambil ya."
"Bisa sendiri kok." Puput segera menghindar saat Airlangga mendekatinya. Puput pergi sendiri mengambil makanan.
"Sampai kapan kamu begini, Put? Abang minta maaf karena Abang salah." Airlangga masih mengikuti Puput. Gadis itu tidak menggubris dan hanya fokus mengambil makanannya.
__ADS_1
"Put ...."
"Aku mau makan, Bang. Kalau lagi makan gak boleh ngomong. Ya terserah sih kalau Abang mau ngomong sendiri."
Puput kembali menjauhi Airlangga. Dia berjalan sambil membawa piring menuju meja. Di sana sudah ada Hasna yang sedang menyuapi Nay.
"Kenapa bete gitu sih?" tanya Hasna saat melihat anaknya cemberut selama makan.
"Kesel."
"Sama?"
"Abang."
"Kenapa? Dia iseng lagi?"
"Bukan."
"Terus?"
"Kesel aja. Tau deh, pokoknya kakak kesel banget sama dia, Bun. Bawaannya pengen marah aja."
"Ya masa tiba-tiba, pasti ada alasannya kan?"
"Gara-gara dia nikah. Aku kesel aja sama pernikahan mereka."
"Ya bunda dan yang lain juga kesel karena pernikahan Abang kan memang gak sesuai yang kita harapkan."
"Apa coba, hamil gak nikah dulu. Itu ceweknya juga gak punya harga diri banget."
"Sssst."
"Biarin, emang gitu kenyataannya."
Membiarkan orang yang sedang marah ada kalanya adalah pilihan yang tepat. Semakin mereka dikorek alasan kenapa mereka emosi, maka amarah itu akan semakin menjadi. Ibarat api yang terus diberi kayu, maka akan semakin membara.
Hasna hanya diam membiarkan anaknya dengan perasaan yang saat ini dia rasakan.
Setelah selesai, mereka kembali ke hotel untuk bersiap-siap. Acara resepsi yang akan dilakukan di hotel nanti digelar pukul 19.30 wib.
Masih ada waktu untuk beristirahat, Hasna memutuskan untuk tidur sejenak karena merasa ngantuk. Sementara Raden berbaring di sebelah Hasna sambil memainkan ponselnya.
Tok tok tok. Kamar Raden diketuk.
"Ada apa?" tanya Raden saat membuka pintu. Airlangga sudah berdiri di sana.
"Ke lobby sebentar, Pah."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ada mama di sana."
Raden sudah menduga mantan istrinya kan datang. Sudah menjadi keputusan ibunya dan keluarga Dewa jika ibu kandung Akhtia tidak diperkenankan hadir. Akhtia sendiri pun tidak menginginkan keberadaannya.
Wanita itu sudah berdiri dengan kaki bergerak-gerak. Menandakan dia sedang menahan amarah.
"Ada apa?" tanya Raden. Wanita itu langsung menoleh.
"Ada apa kamu bilang?" tanyanya sambil berteriak.
Sadar mantan istrinya akan membuat keributan, Raden menarik tangannya dan membawanya ke kamar. Hasna yang sedang tertidur pun kaget dibuatnya hingga dia terbangun.
"Ada apa ini? Loh ...." Hasna terkejut melihat siapa yang ada di kamarnya saat ini.
"Maaf, Sayang."
"Ada apa, Mas?"
"Kamu keterlaluan, Pah! Bagiamana pun juga aku ini ibu kandung Akhtia. Aku mengandung dan melahirkan dia sampai mempertaruhkan nyawa. Dan apa ini ... aku bahkan tidak diundang ke pernikahannya. Keterlaluan tau!"
"Pernikahan ini diluar kendaliku. Bukan aku yang mengurus dan mengatur pernikahan ini tapi ibu. Kamu protes sana sama ibu."
"Akhtia itu anak kamu, akan kita. Kenapa ibu ikut campur? Lagi pula bukan kah ibu menolak kehadiran Akhtia, kenapa tiba-tiba begitu otoriter?"
"Sudahlah, ini semua demi kebaikan Akhtia. Dengan dia menikahi Dewa, Akhtia akhirnya diakui oleh ibu. Itu yang terpenting."
"Terus aku gak penting gitu? aku ini ibunya, Pah. Aku ibunya, aku yang seharusnya memakai baju itu." Dia menunjuk baju yang dikenakan Hasna.
"Aku yang seharusnya ada di posisi itu, bukan dia. Kamu ...." Wanita itu menoleh dan menatap penuh emosi pada Hasna.
"Kamu tidak pantas ada di sini. Kamu siapa? Kamu itu hanya orang luar yang sama sekali tidak memiliki hak atas Akhtia ataupun Airlangga. Keluar ... keluar kamu dari sini!"
Lupa pada posisinya saat ini, wanita itu menarik tangan Hasna yang sejak tadi duduk diam mendengar perdebatan antara suami dan ibu dari anak sambungnya.
Hasna terjatuh ke lantai dengan tangan yang ditarik kuat oleh wanita itu.
"Heh! apa-apaan kamu?" Raden berusaha melepaskan cengkraman tangan mantan istrinya dari Hasna.
Orang bilang, wanita yang sedang cemburu adalah makhluk yang paling menakutkan. Kekuatannya bisa berlipat ganda entah datang dari mana.
"Awww, sakit. Aduuuh, Mas."
"Pergi kamu dari sini. Ini tempatku!" wanita itu terus menarik tangan Hasna, tidak peduli Raden mencengkeram erat tangannya agar menghentikan aksinya tersebut.
"Lepaskan dia!" Raden berusaha menarik tubuh mantan istrinya, namun itu berarti tangan Hasna pun ikut tertarik semakin kuat.
__ADS_1