Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Pecah ketuban


__ADS_3

"Kita gak sadar apa gimana ya? Bukannya Puput udah harus melahirkan? kok belum ada tanda-tanda?" tanya Akhtia saat mereka sedang duduk santai sambil ngeteh sore hari.


"Abang bilang mereka sudah periksa dan kondisi janinnya oke, jadi gak ada yang perlu ditakutkan meski melebihi usia kehamilan. Masih lebih seminggu ini," ucap Dewa.


"Kok kakak tau?"


"Abang yang cerita kemarin. Lebih baik kita gak usah terlalu khawatir masalah Puput, Airlangga lebih sigap dari kita semua. Tenang aja."


"Andai saja ya Abang itu suaminya Puput. Sayang sekali mereka itu adik kakak."


"Hanya sambung, masih bisa menikah jika direstui."


"Masa?"


"Iyalah. Cuma kamu yakin Papa sama bunda bakalan ngasih restu? Kakak sih gak yakin."


"Terutama papa, dia pasti melarang keras adanya pernikahan diantara mereka berdua."


"Padahal Abang cinta mati kayaknya sama Puput, sampai dia tidak bisa menikah dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk menjaga Puput dan anaknya. Salut sih, tulus banget."


"Kakak gitu gak sama aku?"


"Ya iyalah. Demi apapun papi akan jaga kalian bertiga, iya kan?" Dewa menggendong sambil mencium gemas anaknya.


Ya Allah, haruskah hamba membiarkan Puput dan. Airlangga menikah? Tanya Hasna dalam hati yang sejak tadi mendengarkan obrolan Dewa dan Akhtia.


"Duuuh, panas banget sih pinggang aku," keluh Puput saat tengah malam. Dia duduk sendiri di atas kasur karena sudah seminggu ini mereka kembali tidur di kamar masing-masing.


"Panas banget ya Allah." Puput mengusap-usap pinggangnya. Saat melihat jam, Puput merasa tidak mungkin jika dia memanggil orang untuk datang ke kamar karena sudah lewat tengah malam. Orang rumah pasti sedang tidur nyenyak.


"Dokter bilang ... jika mau melahirkan ada kontraksi yang bekala dan teratur. Juga ada lendir. Aku tunggu sampai tanda-tanda itu datang, jika tidak ada juga berarti ini kontraksi palsu. Tapi, kok ya sakit banget."


Puput hanya bisa diam sambil merasakan nikmatnya rasa sakit yang sedang dia rasakan saat ini.


Puput bangun, berjalan ke sana kemari. Duduk lagi, jongkok, berbaring lalu kembali bangun. Begitu seterusnya hingga azan subuh berkumandang.


Tenaga Puput sudah mulai habis karena kontraksi yang dia rasakan sepanjang malam, saat azan subuh tiba, matanya merasa lelah dan dia memejamkan mata.


"Put, bangun. Ini sudah waktunya subuh."


Puput yang baru saja tertidur merengek saat dibangunkan.


"Bangun, subuh dulu."


"Gak mauuu, aku ngantuk."

__ADS_1


"Subuh dulu."


"Gak mau, aku ngantuk karena semalam gak tidur."


"Gak tidur? Kenapa?" tanya Airlangga heran.


"Perut aku sakit," ucap Puput samar karena dia setengah tertidur.


"Kenapa gak bangunkan Abang? Harusnya kamu panggil atau telpon. Ponsel Abang selalu ada di samping kepala biar kalau kamu nelpon Abang langsung bangun."


Ucapan Airlangga yang kesal tidak mendapatkan tanggapan karena Puput tertidur.


Melihat wajahnya yang pucat dan terlihat sangat lelah, Airlangga tidak punya hati untuk membangunkan Puput.


Dengan penuh kasih sayang, Airlangga mengusap-usap punggung adiknya. Puput yang tertidur sesekali merintih saat kontraksi itu kembali muncul. Hanya sesekali dan itupun hanya sebentar. Saat perutnya tegang, Airlangga akan segera mengusapnya dengan lembut.


"Loh, bang?" Hanya terkejut melihat Airlangga ada di kamar putrinya.


"Bun."


"Kenapa?"


"Dia tidak tidur semalaman, katanya perutnya sakit. Abang baru tau pas tadi bangunin Puput untuk solat subuh. Sekarang kontraksinya datang sesekali tetapi sepertinya hanya kontraksi palsu."


"Kontraksi palsu?"


Hasna menghela nafas dalam. Dia naik ke atas ranjang dan duduk di samping tubuh anak yang sedang tertidur. Ditatapnya Puput dengan penuh kasih dan kesedihan. Hasna menggantikan Airlangga mengusap punggungnya.


"Bang ... terimakasih karena sudah begitu menyayangi Puput. Bunda tau apa yang kamu rasakan pada anak bunda, tapi tidak ada yang bisa bunda lakukan saat ini. Bunda tidak bisa menentang kehendak papa kamu."


"Abang ngerti, Bun."


"Bunda akan lebih tenang jika Puput menikah sama kamu. Setidaknya dia berada di tangan pria yang tepat, tapi bunda minta maaf, Bang."


"Bun ... Airlangga tidak berharap memiliki hubungan lebih dengan Puput. Toh gak harus menikah pun Abang akan tetap menjaga mereka berdua sampai kapanpun. Bunda jangan khawatir."


"Tapi kamu harus memiliki keluarga sendiri, bang."


"Puput juga keluarga Abang, Bun. Dia adik dan keponakan Abang. Kewajiban Abang untuk menjaga mereka bukan?"


Hasna mengangguk sedih sambil meneteskan air mata. Antara sedih dan bahagia bercampur dalam waktu yang sama.


"Bang, gak kerja?" tanya Hasna saat melihat Airlangga masih setia menemani Puput di kamarnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Abang ambil cuti, Bun. Takut Puput mau melahirkan. Repot kalau Abang gak ada di rumah."

__ADS_1


"Ada papa, Bang. Papa kan udah pensiun, jadi standby di rumah. Kamu gak apa-apa kerja aja, gak enak keseringan cuti."


"Tapi, Bun."


"Gak apa-apa, kalau misalnya mau lahiran pasti bunda segera nelpon. Kamu berangkat gih."


Meski berat hati meninggalkan Puput, akhirnya Airlangga pun pergi bekerja.


"Put, Sayang. Udah mau zuhur, bangun yuk." Hasna kembali ke kamar anaknya untuk membangunkan Puput setelah dia selesai masak dan mengurus keperluan Raden.


Perlahan Puput membuka matanya. Terlihat memerah.


"Bun ...." Puput memanggil dengan suara pelan dan serak.


Hasna mendekat, "ada apa, Nak?" tasnya hasna sambil tersenyum manis.


"Kenapa kasurnya basah ya? Masa aku pipis?"


Hasna terkejut mendengar ucapan anaknya, terlebih karena dia tidak mencium bau pesing. Hasna segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh Puput. Benar, basah.


"Papa!" Hasna berteriak memanggil Raden. Tidak lama kemudian Raden datang, disusul Bi Juriah dan dua orang lainnya yang sama-sama terkejut mendengar Hasna berteriak.


"Ada apa, Sayang?"


"Pah, keributan Puput pecah. Ayo bawa ke rumah sakit."


Raden segera mendekat, lalu dia mengangkat tubuh putrinya.


"Cepat siapkan mobil!" Raden berteriak sambil membawa putrinya.


"Bi, telpon Airlangga."


"Iya, Bu."


Semua orang panik. Raden berusaha kerasa berjalan secepat mungkin meski membawa beban yang sangat berat. Sementara supir segera menyalakan mobil.


"Cepat, Pak. Bawa anak saya ke rumah sakit. ayo!"


"Baik, Pak."


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, terlebih saat dalam perjalanan Hasna melihat rembesan warna merah dari balik daster Puput.


"Pah, cepet. itu kenapa ada darah segar?"


Raden menoleh ke belakang, dan dia pun sama paniknya saat melihat darah segar di tangan Hasna.

__ADS_1


"Papah ...." Hasna menjerit saat tiba-tiba Puput terkulai lemas tidak sadarkan diri.


__ADS_2