
Sejak hari itu tidak ada lagi yang berani macam-macam pada Hasna, mereka takut pada Andri. Selain Andri terkenal cuek dan dingin, ditambah sikapnya waktu itu pada Ohim, semua orang tau bahwa mereka Andri dan pemilik restoran ini cukup dekat.
Suasana canggung itu membuat Hasna merasa tidak nyaman, mereka seolah segan pada Hasna bahkan untuk sekedar minta tolong. Tidak seperti sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat seperti menjauh dariku?" tanya Hasna saat mereka beristirahat. Riya, Iwan, Wartono dan yang lainnya hanya saling melirik.
"Jangan hanya karena sikap chef Andri waktu itu, kalian malah menjaga jarak denganku. Ayolah, bersikap seperti biasa saja."
"Sebenarnya ... sebenarnya kami memang ingin bersikap seperti biasa, tapi ...."
"Ada apa, Ri?"
Riya melirik yang lainnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Katakan saja ada apa?"
"Sebenarnya chef Andri bilang kalau kita-kita tidak boleh menyuruh Mba ini dan itu."
"Kenapa?"
Riya menggelengkan kepala.
Hasna mendengkus kesal, dia pergi menemui Andri. Riya dan yang lain ketakutan, mereka takut Andri akan memarahi mereka karena mengadu pada Hasna.
"Kenapa?" tanya Hasna pada Andri yang bersiap memasak.
"Apanya?" Andri balik bertanya tanpa menoleh Hasna sedikitpun.
"Kenapa chef melarang yang lainnya agar tidak meminta bantuan pada saya? Chef, bahkan mereka menolak saat saya menawarkan bantuan. Mereka terkesan menjaga jarak dari saya. Kenapa? Apa chef yang melarang mereka melakukan itu?"
"Rupanya mereka mengadu."
"Kenapa?"
"Haruskah ada alasan?"
"Maaf ya, chef. Saya tau chef dekat dengan Mas Raden, tapi bukan berarti chef ikut campur kehidupan saya. Bagaimana pun juga Chef sama-sama karyawan di sini, cuma kita beda posisi saja. Jadi, jangan mengatur kami di sini, kerjakan saja tugas masing-masing."
Andri tersenyum sinis.
"Mas Raden saja tidak ikut campur tentang pekerjaan saya, chef siapa? Tolong mengerti posisi ya chef."
Hasna yang kesal meninggalkan Andri begitu saja. Dia yang sedang siap-siap memasak, menghentikan kegiatannya. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengelap kuat.
Hasna berusaha mendekat pada teman-temannya yang berusaha menjauh. Mereka selalu menolak jika Hasna menawarkan atau hendak membantu. Bahkan, sebisa mungkin pekerjaan selalu diambil alih agar Hasna tidak mengerjakan pekerjaan apapun.
Tentu saja itu membuat Hasna tertekan. Dia merasa dikucilkan di tempat yang semula sudah dia anggap rumah sendiri.
__ADS_1
"Kalian bahkan tidak memberiku kesempurnaan untuk bekerja. Oke, kalian bilang saja kalau tidak ingin aku ada di sini."
Hasna pergi ke toilet, berganti pakaian lalu segera keluar. Di tempat parkir, dia bertemu dengan Ragil.
"Hasna!" Ragil memanggil Hasna yang berjalan tertunduk. Langkahnya sedikit cepat dengan hentakkan kuat ke tanah. Hasna berhenti. Melihat Ragil mendekat, Hasna berusaha untuk tersenyum.
"Gak usah maksain senyum, kamu lagi kesel? Tumben jam segini mau pulang, masih ada waktu kan?"
"Kehadiran saya sudah tidak diinginkan oleh semua orang di sini, Chef. Makanya saya pulang, tau deh kembali lagi apa enggak. Mungkin saya harus mencari pekerjaan lain."
"Maksudnya?"
"Bukan apa-apa, lupakan saja. Saya duluan chef."
"Eh, tunggu. Jelasin dulu ada apa?" Ragil sedikit berteriak karena Hasna terus saja berjalan menjauh.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Ragil pada dirinya sendiri. Karena penasaran, dia segera masuk ke dalam restoran.
"Ohim, sini." Ragil melambaikan tangan pada Ohim yang sedang memantau para karyawan membersihkan meja.
"Ya, ada apa, Chef?"
"Itu ... kenapa Hasna pergi? Dia tidak biasanya pulang sebelum waktunya. Ada apa?"
"Emmm, itu. Begini, chef." Ohim nampak ragu-ragu menceritakan kejadiannya.
"Katakan saja ada apa?"
"Woii, bengong!"?
Dengan rasa takut dan gugup, Ohim menceritakan apa yang terjadi.
"Di mana Andri sekarang?"
"Gue di sini."
Melihat Andri datang, Ohim semakin ketakutan. Dia mundur beberapa langkah, menjauhi keduanya. Sementara yang lain hanya diam melihat apa yang terjadi dari kejauhan.
"Masalah Lo apa sama Hasna?" tanya Ragil.
"Lo sendiri punya hubungan apa? Kenapa sampai belain dia kayak gini?"
"Gue nanya, jawab aja. Gak usah nanya balik."
Andri tertawa.
"Ragil, Ragil. Udah lah, kita tau Hasna itu milik siapa, jadi Lo gak usah susah payah nyari perhatian dia."
__ADS_1
"Setidaknya gue gak munafik kayak Lo! Lagi pula gue berusaha menjaga dia karena gue tau dia siapa. Buka karena gue punya tujuan sendiri."
"Yakin?" tanya Andri sambil menyeringai.
"Harusnya Lo tanya pada hati Lo sendiri kenapa Lo sampe intervensi pekerjaan dia di sini melebihi owner. Yakin Lo gak ada maksud lain?"
Senyum Andri menghilang seketika.
"Tau batasan dong Lo," ucap Ragil sambil berjalan melewati Andri. Namun, langkah Ragil terhenti saat Andri menarik tangannya.
Bughhh!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Ragil, hingga tubuhnya terhuyung. Dia menabrak meja sebelum jatuh ke lantai. Semua karyawati dan pengunjung yang kebetulan ada di sana menjerit histeris.
Sementara yang lain berusaha memegang tubuh Andri yang bersiap menghajar Ragil. Ohim dan Wartono membantu Ragil berdiri. Ujung bibirnya mengeluarkan darah.
Cuiiih! Ragil meludahkan cairan asin yang keluar dari bibirnya tepat di hadapan Andri.
"Apa yang sedang kalian lakukan!" Hasna berteriak. Dia yang semula hendak pergi, terpaksa kembali karena lupa membawa tasnya.
Semua orang menoleh. Hasna berjalan mendekat. Dia menatap Ragil dengan tatapan iba. Lalu menatap Andri dengan tatapan kemarahan.
"Kalian berdua itu dihormati dan disegani di sini, tidak bisakah kalian menjaga image kalian sendiri?"
"Ini semua gara-gara kamu, Hasna. Berani banget kamu menasehati mereka."
"Tutup mulut kamu!" Hasna berteriak pada Ohim. Semua orang semakin terkejut dibuatnya.
"Permisi, saya mau bayar." pengunjung yang dari semula menyaksikan, segera pergi meski belum menyelesaikan makannya.
"Maaf, ya, Bu atas kejadian tidak menyenangkan ini. Sebagai permintaan maaf kami, untuk hari ini ibu tidak perlu membayar. kami beri free." Hasna berucap dengan sopan dan tulus.
"Oh, tidak apa-apa. Kami tetap akan membayar."
"Tidak perlu, kalian pasti merasa tidak nyaman sampai harus meninggalkan makanan yang belum selesai di makan. Ini adalah permintaan maaf dari kami, mohon ibu memaklumi dan melupakan kejadian ini."
"Ah, iya. Terimakasih kalau begitu. Saya permisi."
Hasna mengangguk sopan.
"Heh, Hasna. Kamu mau gaji kamu dipotong buat ganti rugi?" Ohim berteriak saat pengunjung itu pergi.
"Ganti rugi? untuk apa aku ganti rugi pada perusahaan sendiri?"
"Apa? Ngaco kamu! Kamu pikir kamu itu siapa? Pemilik restoran ini? Ha ha ha. Ngayal!"
"Dia memang pemilik rumah makan ini, dia istri bos kalian, Pak Raden." Ragil menjelaskan.
__ADS_1
Tidak ada yang tidak menganga mendengar apa yang dikatakan Ragil. Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.