Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Benci dan Rindu


__ADS_3

"Loh, kenapa masuk kerja, Mba? Ini kan hari Mba libur." Riya heran melihat Hasna masuk kerja di hari liburnya.


"Aku suntuk di rumah, anak-anak lebih anteng main di rumah istrinya ustad. Ya udah lah masuk aja."


"Itu gak apa-apa anak-anak main terus di sana?"


"Malah mereka bisa ngaji sekarang. Aku justru tenang karena mereka Allah kirim orang baik untuk menjaganya."


"Salah satu rezeki ya, Mba."


"Bener. Susah tau dapet pengasuh yang baik kayak mereka itu."


"Halo, selamat pagi chef Andri ...." Riya menyapa chef Andri, kepala koki kedua setelah Ragil.


"Pagi, chef." Hasna ikut menyapa. Seperti biasa, Andri hanya menganggukkan kepala dan senyum sekilas.


"Dia mau gak kayak chef Ragil ya, judes." Riya berbisik-bisik.


"Husss."


Riya tertawa. Hasna pergi ke toilet untuk berganti pakaian, lalu ke belakang ke tempat di mana dia melakukan tugasnya sebagai karyawan baru, mencuci piring. Iwan pun sama herannya melihat kedatangan Hasna yang bekerja di hari libur.


"Katanya mulai hari ini akan ada karyawan baru yang khusus untuk mencuci piring. Jadi kita akan pindah ke bagian depan, membawa makanan ke meja pelanggan."


"Masa? Apa akan ada interview juga kayak kita dulu?"


"Katanya sih enggak. Mereka langsung masuk hari ini."


"Permisi ...."


Obrolan Hasna dan Iwan terhenti saat ada dua orang perempuan masuk. Mereka memakai seragam hitam putih.


"Kalian yang baru ya? Ayo sini, masuk." Iwan mempersilahkan mereka masuk. Kedua wanita itu terlihat malu-malu.


"Siapa nama kalian?"


"Saya ayu, Pak."


"Saya Dewi."


"Oh, oke. Saya Iwan, dan ini teman saya namanya Mba Hasna. Kalian gak usah panggil saya pak, mas aja. Pak itu cuma untuk Pak Ohim aja, manager di sini."


Mereka mengangguk pelan.


"Nanti kalian tugasnya mencuci piring di sini. Setelah piring dicuci pakai sabun, kalian bilas pakai air hangat di keran ini. Jangan bilas pakai air dingin ya. Setelah dibilas, simpan di sini, lalu kalian keringkan."


"Iya, Mas."


"Oke, kalau begitu kami tinggal ya. Ayo, Mba."


Hasna mengikuti Iwan menuju bagian depan. Mereka mengambil alat untuk membersihkan meja sebelum pelanggan datang.


"Yeaaay, akhirnya ada teman baru yang bantuin," ucap Wati.

__ADS_1


"Selamat datang di bagian bersihin meja." Ratna memberi ucapan selamat pada mereka. Sementara Yahya dan Anwar hanya melambaikan tangan pada Iwan dan Hasna. Sungguh sambutan yang ramah. Mulai hari ini mereka adalah tim.


Membersihkan meja, kursi, memastikan tidak ada debu atau sarang laba-laba di bawah meja. Memastikan bantal duduk tidak berbau apek dan tidak berdebu. Membersihkan bunga hiasan meja agar tidak berdebu. Itulah tugas Hasna yang baru. Kini, dia membawa kemoceng, semprotan pembersih dan lap di pundaknya. Tidak lupa juga vacum kecil untuk membersihkan debu di bantal, di tempat lesehan.


Menjelang jam makan siang, pelanggan mulai berdatangan. Tugas Hasna selanjutnya adalah mengantarkan makanan ke meja pelanggan.


Kesibukan semakin bertambah sesuai dengan jumlah pelanggan yang semakin banyak. Ditambah hari ini adalah weekend, banyak keluarga yang berdatangan untuk makan siang sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.


"Mau pesan apa, Neng?" tanya Anwar.


"Di sini ada karyawan yang bernama Hasna gak? Saya mau dia dong yang melayani."


"Oh, iya ada. Tapi sepertinya Mba Hasna lagi sibuk, itu lihat." Anwar menunjuk Hasna yang sedang membawa nampan makanan menuju pelanggan.


"Kalau gitu saya akan menunggu saja, Mas."


"Oh, begitu. Baik, nanti akan saya sampaikan."


"Makasih, ya, Mas."


Anwar menganggukkan kepala sambil berlalu.


"Dek, kamu apa-apaan sih?"


"Biarin, aku penasaran ada apa antara Tante Hasna sama papa. Kenapa papa bersikap aneh lagi belakang ini, pasti karena berantem lagi sama Tante Hasna."


Anwar menghampiri Hasna setelah wanita itu selesai melakukan tugasnya.


"Mba, itu di meja 35 ada dua pasang kekasih tapi minta dilayani sama Mba."


"Gak tau, dia kenal kali sama Mba."


"Mana sih, coba." Hasna mengambil dua buku menu dan kertas untuk mencatat. Hasna berjalan menuju meja yang dimaksud Anwar. Langkah Hasna semakin cepat saat tau siapa pelanggan yang ada di sana.


"Hey, kalian."


"Tante." Rasa rindu yang dipendam Akhtia tidak bisa disembunyikan lagi. Akhtia menghampiri Hasna lalu memeluknya dengan erat.


"Apa kabarnya kamu, Tia?" tanya Hasna sambil mengusap kepala Akhtia.


"Buruk."


"Loh, kenapa?" tanya Hasna sambil melepaskan pelukannya. Dia melihat wajah Akhtia yang cemberut.


"Ada apa, Sayang?"


"Papa bersikap aneh lagi. Apa kalian bertengkar?"


Hasna hanya diam mendengar pertanyaan Akhtia.


"Halo Tante. Apa kabar?" Airlangga menghampiri, memeluk Hasna sejenak.


"Anak bujang makin ganteng aja. Kamu apa kabar, Nak?"

__ADS_1


"Yaa, begini lah. Kami anak-anak tapi sikap papa lebih kekanak-kanakan daripada kita. Pusing tau, Tante."


"Ayo duduk, masa mau berdiri aja."


Mereka pun duduk bertiga.


"Kalian kenapa malah duduk di sini? Kenapa gak di kantor papa aja. Nanti pelayanannya lebih cepet."


"Di sini gak ada yang tau kalau kita anak papa."


"Bisa gitu?"


"Yaaa kami gak mau aja. Gak ada gunanya juga."


"Iya, sih. Kalian mau pesan apa?"


"Sebentar ya, Tante. Aku lihat dulu menunya."


"Mba Hasna, kalau udah tolong bantu di sana ya. Soalnya sibuk banget." Iwan menghampiri.


"Oh, iya. Tante tinggal dulu ya, nanti kalian bisa pesan ke yang lain aja. Di sini juga gak ada yang tau kalau Tante dekat sama papah kalian."


Airlangga dan Akhtia mengangguk.


"Hasna! Lain kali kamu harus lebih profesional dong. Meski kamu kenal sama pelanggan, bukan berarti kamu bisa seenaknya ngobrol sama mereka. Apalagi di sini sibuk!" Ohim memarahi Hasna di depan banyak orang. Banyak pelanggan dan karyawan lain yang menyaksikan. Termasuk Akhtia dan Airlangga.


"Sssst, kalian bertengkar nanti saja. Jangan di sini juga." Chef Andri menghampiri.


Ohim segera pergi dengan wajah penuh amarah, sementara Hasna harus diam menerima rasa malu karena dibentak di depan umum.


"jangan dipikirkan, kembalilah bekerja."


"Baik, chef."


Wati mengusap punggung Hasan, memberikan kekuatan agar Hasna tetap semangat dan tidak merasa sedih.


Kesibukan semakin bertambah hingga sore tiba, Hasna bahkan lupa jika dia shift pagi.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Ragil yang menggantikan Anwar.


"Entahlah, chef. Saya juga bingung. Sebenarnya apa yang saya tunggu di sini. Bahkan libur pun saya masih masuk."


"Oh hari ini kamu libur?"


Hasna mengangguk.


"Cepet pulang sebelum malam, saya gak bisa anter kamu hari ini soalnya."


Hasna tertawa. "Iya, deh. Saya pulang. Duluan ya, chef."


"Hati-hati."


Hasna melambaikan tangan sebelum dia ke toilet untuk berganti pakaian. Sudah berapa angkot yang melintas, tapi Hasna masih tetap diam di pinggir jalan. Matanya lurus menatap jalanan, namun bukan itu yang sedang dia lihat. Pikirnya melayang entah ke mana.

__ADS_1


Hasna mengambil ponselnya, menatap layar dengan wallpaper ketiga buah hatinya. Dia menunggu ada pesan atau telpon yang masuk. Namun, dia bingung siapa yang sedang dia tunggu. Bukankah dia membenci orang itu.


__ADS_2