
Dokter yang memeriksa Nay menyatakan bahwa Nay sudah bisa dibawa pulang. Dia sudah benar-benar sehat dan stabil.
"Alhamdulillah, terimakasih dokter."
"Makasih, dok." Raden berjabat tangan dengan dokter itu sebagai apreasiasi atas keberhasilannya menangani Nay.
"Asiiik, kita udah bisa pulang. Nay seneng? Sayangnya bunda seneng bisa pulang?"
Nay mengangguk.
"Bunda beres-beres dulu ya. Nay tunggu di sini."
"Nay sama om dulu, oke."
"Dongeng, Om."
"Dongen? Dongen apa maunya?"
"kodok dan jerapah, Om."
"Emmm, oke. Kita cerita tentang Kodok dan gajah ya."
"Bukan gajah, Ooom. Tapi je-ra-pah."
"Eh, iya. Maksudnya jerapah."
Nay tertawa.
Tawa Nay yang terdengar sangat bahagia, membuat Hasna pun merasa bahagia. Raden bercerita dengan atraktif, dan Nay mendengar dengan antusias. Terkadang mereka tertawa-tawa, cekikikan bersama.
"Udah selesai, deh. Bunda pesan taksi dulu ya, Nay."
"Hasnaaa, bisa gak kamu itu menghargai sedikit saja kebaikan saya? Apa susahnya kamu minta tolong saya buat anterin kalian?"
"Bukan apa-apa, Mas. Kamu itu terlalu banyak memberi, saya khawatir tidak bisa membalas kebaikan kamu."
"Nay, mau om anter gak?"
"Mauuuu."
"Ya udah, kita pulang berdua biarin bunda naik taksi. Suruh naik angkot aja sekalian, gimana?"
"Aaayo."
Raden tersenyum penuh kemenangan. Dia menggendong Nay dan pergi meninggalkan Hasna di ruangan.
"Maass, ih!"
Hasna segera menyusul Raden dan Hasna yang ternyata belum jauh. Pria itu sengaja melambatkan langkah kakinya agar Hasna bisa menyusul mereka tanpa susah payah berlari.
Hasna dan Raden yang menggendong Nay berjalan bersama, mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Beberapa pegawai rumah sakit menatap mereka, sesekali mereka berbisik-bisik, tersenyum dan terlihat malu-malu sendiri.
"Ini rumah kamu?" tanya Raden terkejut.
"Bukan. Saya sewa, Mas. Ini rumah Zahira yang kebetulan tidak mereka pakai."
Raden turun, dia mengambil Nay dan menggendongnya. Raden juga mengambil tas pakaian Nay dan Hasna saat wanita itu membuka gembok pagar rumahnya.
"Eh, Hasna. Na, gimana Nay? Aduh, maaf ya saya gak sempet nengok, soalnya jauh."
"Iya, Bu. Gak apa-apa. Alhamdulillah Nay sudah sehat."
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah. Eh, ini siapa, Nay?"
"Oh, ini. Dia--"
"Saya calon suaminya, Hasna. Nama saya Raden."
"Calon suami?" raut wajah tetangga Hasna yang bernama Yani seketika berubah. Dia mencoba tetap tersenyum meski ada gurat tidak suka di wajahnya.
"Ya. Ada apa, Bu? Ada masalah?"
"Eng-enggak. Gak ada apa-apa, kok. Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu, mari Hasna."
"Mari, Bu."
"Apa dia termasuk tetangga yang suka julid?"
"Ih, kamu apaan, sih, Mas. Laki-laki kok kepo urusan julid menjulid."
"Saya cuma memastikan lingkungan kamu bagus, biar pikiran kamu pun bagus."
Hasna tertawa.
"Silakan duduk, Mas. Mau minum apa?"
"Air dingin aja, Na. Panas banget di sini."
"Saya nyalakan kipas, ya."
"Jangan, nanti saya masuk angin kalau kena kipas."
"Oh, oke."
Hasna pergi ke dapur untuk mengambil air es.
"Iya, Bunda. Aku boleh mainan gak, Bun?"
"Di teras aja, ya. Jangan keluar pagar."
"Nay istirahat aja di kamar."
"Gimana sih, Mas. Dia itu sumpek di rumah sakit terus, pasti kangen pengen mainan. Biarin aja lah asal jangan keluar pagar, panas."
"Iya juga, sih."
Raden melihat sekeliling.
"Kenapa, Mas? Sempit ya."
"Banget. Anak-anak Betah di sini? Kasian mereka pasti jenuh."
"Ya begitulah. Mau bagaimana lagi, kami harus menyesuaikan kehidupan kami setelah suami saya meninggal. Semua berubah drastis. Mulai dari rumah, kendaraan, keuangan, kami harus benar-benar merangkak dari bawah."
"Orang tua kamu?"
"Saya hanya akan jadi beban mereka jika tahu kondisi sekarang. Mereka sudah tua dan capek ngurus adik-adik di sana. Ya udah lah, lagian saya masih sanggup kok."
"Itu ada banner di depan, kamu jualan kue?"
"Kecil-kecilan. Titip ke warung-warung, online, kadang ada pesanan untuk acara pengajian dan lain-lain."
"Nanti saya minta tester, ya. Jika rasanya bersaing, saya akan pesan untuk kebutuhan rumah sakit."
__ADS_1
"Oh, boleh, Mas. Tapi ... saya kok minder ya. Pasti kue yang lain enak-enak. Saya mah cuma iseng-iseng aja sih, Mas. Sebisa-bisa doang liat di internet."
"Ck, belum apa-apa kok menyerah. Coba aja dulu, siapa tahu rezekinya."
"Emmm, oke deh, boleh."
"Sebentar, ya. Ada telpon masuk."
Hasna mengangguk.
Menunggu Raden berbicara di telpon, Hasna pergi ke dapur. Dia memasak air untuk menyeduh kopi. Membuka kulkas dan melihat isi di dalamnya. Ada beberapa sayuran yang masih segar, mungkin Zahira mengisinya.
Hasna berniat membuat sop untuk Nay makan nanti.
"Masak apa?"
"Astaghfirullah!"
"Kenapa?"
"Kaget tau, Mas. Kenapa tiba-tiba ada di belakang coba. Kaget banget sumpah."
"Makanya jangan bengong. Masak kok sambil bengong. Mikirin apa?"
Hasna menggelengkan kepala.
"Na, kamu itu entah sadar atau tidak tapi sering banget bengong, ngelamun gak tau tempat. Kalau memang ada masalah, kamu cerita sama saya. Jika bisa bantu, saya akan bantu kamu semaksimal mungkin. Kalau gak bisa, akan saya usahakan."
"Bukan apa-apa, Mas. Kalau ada sesuatu, saya akan bilang kok."
Bagaimana aku bisa mengatakannya sama kamu, Mas. Kamu pasti akan sakit hati jika tahu aku begitu merindukan mendiang suamiku. Ya, aku sangat frustasi karena terlalu rindu padanya, Mas.
"Ya sudah kalau gak mau cerita, saya gak akan maksa. Emmm, tapi saya gak bisa lama-lama di sini, saya harus segera kembali ke rumah sakit."
"Ada masalah?"
"Sinta bikin ulah, dia benar-benar memasukan tagihan rumah sakit kamu dan Nay atas nama direktur. Kacau itu orang."
"Terus? Tuh kan, saya bilang juga apa, saya bisa bayar sendiri, Mas. Mas, sih, ngeyel!"
"Hahaha. Gak apa-apa, ini bukan masalah besar. Cuma keluarga pasti curiga tentang kita. Tapi gak apa-apa, semua baik-baik saja. Jangan jadi pikiran."
"Aku bayar aja, ya."
"Enggak, ah! Saya balik dulu, ya. Dahh."
"Mas."
"Nay, om pulang dulu ya. Nanti kapan-kapan om main ke sini lagi."
"Iya, Om."
Hasna mengantar Raden ke depan hingga dia tidak terlihat lagi. Saat hendak pulang, sebisanya Raden melihat Hasna dari kaca spion. Jika saja dia bisa memaksa, maka dia akan memaksa Hasna untuk menerima lamarannya kemarin. Sayang, Hasna menolak dengan alasan ingin fokus pada anak-anak dulu.
"Kau tahu, kamu tidak bisa menerimaku karena masih ada dia di hatimu, Hasna."
Raden kembali mengangkat telponnya.
"Ya, kenapa?"
"Pokoknya kasih penjelasan."
__ADS_1
"Iya, iya. Aku bentar lagi nyampe kok."
Raden yang kesal membanting ponselnya ke sembarang arah. Melajukan mobilnya dengan cepat.