Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Hilangnya rekaman cctv


__ADS_3

"Mau ngapain lagi ke rumah makan?" tanya Raden.


"Mau cek alamat karyawan."


"Penasaran banget sama yang namanya Mira?"


Hasna mengangguk. Setelah mendaftarkan Shaki dan Nay di sekolah barunya, Raden mengantar Hasna pergi ke restoran.


"Kita mau ke mana, Bun?" tanya Shaki. Sementara Nay asik melihat film kartun kesukaannya di ponsel.


"Ke restoran."


"Mau makan ya? Asiiik, makan di restoran."


"Bukan, Sayang. Restoran itu punya papa. Kita bukan mau makan tapi mau main ke tempat kerja papa yang lain."


"Wah, papa punya restoran juga? Ha ha ha. Kaya banget dong papa."


Raden tertawa mendengar betapa polosnya Shaki.


"Sssst, Shaki, ah." Hasna merasa malu atas ucapan anaknya.


"Iya, uang papa banyak. Jadi, Shaki mau apa aja akan papa kasih. Shaki tinggal bilang aja."


Shaki yang selama ini hidup sederhana, bahkan dia hidup sulit setelah ditinggal ayahnya terlihat begitu bahagia. Namun, gadis kecil itu pun merasa sedih entah karena apa.


"Ada apa, Nak?" tanya Hasna yang melihat mata anaknya berkaca-kaca.


"Gak apa-apa. Aku seneng karena bunda gak harus kerja lagi kan? Nanti bunda gak akan nangis kalau malam kan? Kan udah gak capek lagi kerja, uang papa banyak."


Hasna bertatapan sejenak dengan Raden.


"Tentu saja tidak. Bunda kalian tidak akan mengerjakan apa-apa nanti. Tugas bunda hanya menemani kalian saja, duduk manis di rumah, ngemil sambil nonton drakor. Pokoknya tugas bunda cuma diem aja."


"Kalau banyak ngemil sama duduk, nanti bunda gemuk dong."


Mereka tertawa.


Perjuangan seorang ibu, meski sangat sulit dan melelahkan tidak akan membuat mereka merasa sedih, tidak akan membuat mereka merasa sakit hati. Tangisan mereka hanya sebuah pelampiasan dari rasa lelah. Namun, hati mereka akan terasa sakit jika anak yang mereka. perjuangkan selama ini merasa sedih melihat ibunya yang bekerja keras.


Meski terbilang masih kecil, Shaki yang dipaksa dewasa karena keadaan, dia dipaksa mengerti tentang kerasnya hidup, memperhatikan Hasna diam-diam.


"Ini kan tempat bunda kerja waktu itu."


"Iya, Shaki. Dulu bunda kerja di sini, di restoran milik papa."


"Ooohh."


"Ayo turun."


Mereka pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


Kedatangan Hasna disambut oleh beberapa karyawan.


"Mba, ini anaknya? Lucu banget ya mereka." Riya menyapa.


"Iya. Gimana kabar kalian?"


"Baik, Mba." Iwan menjawab.


"Riya, masih belum ada kabar dari Mira?"


Riya menggelengkan kepala.


"Ya sudah, aku ke sana dulu ya." Hasna menunjuk ruang kerja Raden. Pria itu telah lebih dulu masuk ke sana.


"Shaki, Nay, ikut bunda apa mau main di sana." Hasna menunjuk tempat bermain yang disediakan khusus untuk anak-anak.


"Mau main." Mereka menjawab kompak.


"Kalau ada yang gak sibuk, tolong jaga mereka ya, Ri."


"Iya, Mba."


Hasna pergi menuju ruang kerja Raden.


"Gimana, Mas?"


Raden terlihat serius melihat layar komputer miliknya.


"File nya hilang, Sayang."


"Hilang?" Hasna yang terkejut langsung mendekati Raden, dia ikut melihat komputer yang sedang diotak-atik oleh Raden.


"Kok bisa ilang, sih?"


"Coba saya cari di berkas aja." Raden berdiri, dia mengambil map besar di lemarinya.


"Harusnya tidak lama karena karyawan di sini cuma sedikit," ucap Raden sambil membuka selembar demi selembar kertas putih di dalamnya.


"Siapa namanya?"


"Mira."


Raden kembali mencari, namun sepertinya dia tidak menemukan berkas atas nama mira.


"Ada apa, Mas? Jangan bilang itu hilang."


"Coba deh kamu cari sendiri, siapa tau mata saya emang sudah minus."


Hasna mengambil map itu, dia mulai mencari satu demi satu CV para karyawan.


"Gak ada, Mas." Hasna terlihat kecewa.

__ADS_1


"Oke, sekarang kamu duduk dan jelaskan pada saya apa yang sedang kamu cari dari si Mira ini? Kenapa kamu begitu ingin bertemu dengan dia?"


Hasna menarik nafas dalam-dalam.


"Mas ... di restoran ini ada orang yang melecehkan dia. Entah sejauh mana pelecehan tersebut, tapi mas ingat saat dia dibawa ke rumah sakit?"


"Ya, kenapa memangnya?"


"Dia mengalami keram dan sedikit pendarahan bukan karena dia haid, tapi ...."


Raden menatap Hasna penuh rasa penasaran.


"Tapi kenapa?"


Hasna hanya diam menatap Raden, berharap Raden mengerti apa yang Hasna maksud. Raden memang pintar, tanpa berkata apa-apa pun dia langsung memahami.


"Ta-tapi, siapa?"


"Hanya Mira yang tau. Mas, restoran ini tidak dipasang cctv kah?"


"Ada."


Hasna seperti mendapatkan hidayah, dia terlihat antusias mengetahui testosteron ini dipasang cctv.


"Ya udah, kita lihat rekamannya kalau begitu."


"Sayang, cctv itu dipasang di meja depan tempat pengunjung makan. Masa iya Mira diperkosa di sana?"


"Yaaaah."


"Tapi ruangan ini ada cctv nya. Kita bisa lihat apa yang terjadi di ruangan saya. Kalau ada yang sengaja menghapus file di komputer, maka kita bisa tau siapa orangnya."


"Kenapa gak bilang dari tadi, sih, Mas. Ya udah ayo periksa."


Raden memeriksa rekaman cctv di ruangannya. Sayang, rekaman terkahir yang mereka lihat hanya saat Hasna masuk untuk mencari file hari itu. Setelahnya hasil rekaman itu tidak ditemukan.


"Itu sih aku waktu nyari file. Sisanya kok gak ada?"


"Mungkin ada yang sengaja menghapusnya."


"Siapa?"


Raden menggelengkan kepala.


"Mas, kalau orang itu gak ditemukan, takutnya nanti malah akan ada korban lain. Ngeri gak sih ada penjahat seksual di tempat kerja. Untung aku udah gak kerja di sini, ihhh ngeri banget."


"Nanti saya yang urus. Kamu gak usah mikirin masalah ini lagi. Fokus saja pada pernikahan kita."


"Iya, Mas."


Mira, kamu ke mana sih? Kenapa pergi tanpa ada kabar sedikitpun. Hasna membatin.

__ADS_1


__ADS_2