
Sepanjang malam Raden menjaga Hasna, mengganti kompres, menyeka keringat dan siap siaga memberikan apa yang Hasna minta.
Pukul 04 pagi hari, Hasna terbangun. Dia ingin buang air kecil. Begitu melihat Raden tertidur di sofa single yang ada di samping tempat tidurnya, Hasna terkejut. Ditatapnya Raden yang tertidur lelap, hati Hasna menjadi hangat. Simpati itu mulai datang, kagum dan bangga karena merasa dicintai dengan tulus, dirasakannya.
Hasna mendekat. Mengelus wajah Raden yang dipenuhi oleh rambut-rambut kecil. Menatapnya dari dekat, membuat jantung Hasna berdebar tidak karuan.
"Apa sudah puas melihatnya?" tanya Raden yang tiba-tiba bangun. Hasna terhenyak.
"Ada apa? Kenapa harus diam-diam seperti itu? Katakan saja jika ingin melihat wajah saya. Dengan senang hati saya akan mempersilahkan."
Hasna berbalik, dia segera berjalan melanjutkan niat awalnya untuk buang air kecil.
Raden tersenyum tipis.
Azan subuh berkumandang. Hasna pergi ke kamar Akhtia untuk meminjam mukena, anak itu masih terlelap bersama Nay dan Shaki. Tidak ingin mengganggu, Hasna diam-diam mengambil mukena itu lalu kembali ke kamar Raden. Ternyata Raden sudah lebih dulu salat.
"Kenapa gak bareng aja, Mas?" tanya Hasna saat Raden selesai salat.
"Saya lupa ada kamu di sini."
Mereka tertawa kecil.
Setelah selesai salat, Hasna menuju dapur. Dia ingin membuat sarapan untuk anak-anaknya dan juga Raden.
Raden duduk sambil memperhatikan Hasna memasak.
"Mas mau sarapan apa?"
"Apa saja. Saya tidak rewel untuk soal makanan. Apa saja asal tidak beracun, akan saya makan."
Hasna mengangguk-angguk.
Raden masih memperhatikan wanita pujaannya. Suasana seperti ini sudah lama tidak dia rasakan. Menemani wanita yang dia cintai memasak, hanya saja kali ini Hasna bukanlah istrinya.
__ADS_1
"Saya masih menunggu jawaban kamu, Na. Masih berharap kamu membuka hati dan menerima saya."
Hasna melirik sekilas tanpa menoleh. Hasna masih tidak yakin tentang perasaannya. Dia bingung perasaan yang dia rasakan itu adalah sebuah rasa cinta, kagum, atau kasian.
"Anak-anak kenapa belum bangun, ya. Ini sudah siang. Apa Tia tidak akan terlambat ke sekolah?" Hasna mengalihkan pembicaraan.
Raden merasa kecewa.
"Saya juga mau mandi, dan siap-siap ke kerja."
Hasna menghentikan aktifitasnya memasak begitu Raden pamit. Hasna jelas mengerti jika Raden pergi karena kecewa.
Maaf, Mas.
Makanan sudah terhidang. Hasna pun sudah memandikan Nay dan Shaki. Anak-anak itu memakai baju baru yang Hasna tidak ketahui kapan mereka membeli pakaian itu.
"Nay, makannya pelan-pelan, ya. Itu jangan berantakan kayak gitu."
"Iya, Bun."
"Mungkin sore, Tante. Soalnya mau ada les tambahan."
"Oh, begitu. O, iya, Airlangga mana ya? Kok Tante gak liat dia dari pagi."
"Abang di luar kota, Tante."
"Ohhh."
Akhtia berkali-kali melirik Raden yang diam sejak tadi. Akhtia yang sudah remaja menuju dewasa, mengerti jika Raden sedang kesal meski dia tidak tahu karena apa.
"Pah, ada apa?" tanya Akhtia.
"Kamu pulang dianter supir, saya ada urusan penting di rumah sakit. Tia, Papa duluan ya. Nay, Shaki, makannya dihabiskan ya, Om berangkat kerja dulu."
__ADS_1
"Iya, Om. Hati-hati ya, Om." Shaki melambaikan tangan.
Akhtia menoleh pada Hasna, berusaha mencari sebuah jawaban dari sana.
Sadar sedang diperhatikan Akhtia, Hasna pun berbicara.
"Papa marah sama Tante, lebih tepatnya dia kecewa."
"Kenapa? Apa karena Tante masih mengabaikan perasaan papa?"
"Memutuskan untuk menerima atau tidak perasaan seseorang tidaklah mudah, Tia."
"Setidaknya jangan memberi harapan jika memang tidak memiliki perasaan yang sam. Katakan saja jika memang tidak mau biar papa tidak berharap banyak sama Tante."
Setelah berpamitan pada Nay dan Shaki, Akhtia pun pergi tanpa berpamitan pada Hasna. Akhtia pun sama kecewanya saat melihat Raden tadi pagi. Melihat kesedihan di wajah Raden, Akhtia merasa kesal pada Hasna.
Berada di rumah orang lain sementara tuan rumah marah padanya, membuat Hasna merasa tidak nyaman. Menunggu anak-anaknya menyelesaikan sarapan, setelahnya Hasna langsung pulang.
Pekerjaan yang membuat Raden mumet, serta perasaan bersalah karena bersikap dingin pada Hasna tadi pagi membuat Raden kesal pada dirinya sendiri.
Mobil melaju di jalan raya, membelah hiruk pikuk kota. Semua orang terlihat sibuk dengan aktifitas masing-masing. Pedagang gerobak keliling yang dagangannya masih terlihat banyak, ojeg online yang berkali-kali memeriksa ponsel siapa tau ada pelanggan, juga mereka yang ada di dalam mobil entah sedang memikirkan apa.
Sampailah Raden di rumahnya. Dia berpapasan dengan sopir pribadinya.
"Gimana, Pak? Ibu pulang dengan selamat sampai rumah kan?"
"Aduh, saya minta maaf, Pak. Tadi ibu pulang sendiri naik taksi online. Saya paksa buat dianter pun ibu nolak. Saya gak enak kalau terus maksa."
Raden menarik nafas dalam-dalam.
"Biarin aja, sih, Pah. Papah mau nelpon? Jangan. Mungkin Tante Hasna sedang bingung sama dirinya sendiri. Papa kasih waktu untuk Tante Hasna merenung. Biarin dulu dia memikirkan perasaannya sendiri," ucap Akhtia yang baru saja datang.
"Papa khawatir."
__ADS_1
"Sesekali biarkan Tante Hasna yang khawatir karena tidak mendapatkan kabar dari papa."
Akhtia melengos masuk ke rumah. Meninggalkan Raden yang ragu-ragu antara menghubungi Hasna atau tidak. Dia menatap layar ponsel cukup lama, hingga benda pipih kecil itu kembali masuk ke dalam saku baju Raden.