
"Siapa laki-laki tadi? Kurang ajar, kaca mobil aku rusak, Mba. Dia itu monster apa ya, kuat banget tenaganya."
Hasna hanya menangis sambil memeluk Nay. Perasaannya tidak karuan. Entah dia sedih dan sakit hati mengetahui wanita itu tinggal bersama Raden, ataukah sedih karena Raden tidak ingin lagi mengenal dirinya.
"Mba, udah dong. Kenapa sih nangis aja? Dia pacar Mba kah?"
Hasna masih menangis.
"Hah, jangan-jangan dia emang pawang Mba lagi. Mungkin dia cemburu karena tadi kita berpelukan."
"Dasar telmi!"
"Apaan tuh?"
"Telat mikir."
"Oh, baru tau. Kirain tell me itu beritahu aku."
"Lagian kamu kenapa coba meluk segala. Ngambil kesempatan dalam kesempitan tau!"
"Lah, dia nyalahin aku. Ey, Mba. Tadi itu aku ngenes liat sampean. Nangis pinggir jalan kayak anak hilang."
"Emang harus meluk ya?"
"Ih, aku kan cuma mencoba menenangkan. Gak ada niatan lain, sumpah. Lagian pacar aku lebih kekar untuk dipeluk, lebih nyaman, lebih gimana gitu lah."
Tangisan Hasna semakin kencang. Membuat Dewa menggelengkan kepala..
"Ampun dah ini emak-emak satu. Liuerrr aing ah."
Sesampainya di sekolah, Hasna merapikan wajahnya yang kusut.Dia tidak ingin Shaki melihat ibunya nampak kacau.
"Aku anter sampai sini aja, nih? Yakin gak apa-apa gak dianter sampai rumah?"
"Aku sudah mendapat peringatan dari RT setempat karena masalah antar jemput."
"Kenapa orang-orang itu berpikir selalu buruk? Pantas saja hidupnya tidak maju, mikirin orang lain bukan dirinya sendiri."
"Makasih, ya, Dewa."
__ADS_1
"Tadi nyalahin, sekarang bilang makasih. Mba, mba itu udah emak-emak ya tolong itu mood nya jangan kayak remaja. Gak karuan naik turun."
Hasna tertawa.
"Tadi nangis sekarang tertawa. Jangan keseringan begitu, Mba. Saya takut mba diciduk petugas odgj."
Hasna semakin keras tertawa. Dia memukul dengan atas Dewa. Laki-laki itu pura-pura kesakitan. Mereka terlihat asik bercanda, ledakan antara Hasna dan Dewa membuat keduanya terlihat lebih akrab. Mereka tertawa bersama, sesekali Hasna memukul dada Dewa.
Tidiiiid.
Bunyi klakson dari mobil Dewa, membuat Dewa sadar. Dia segera menyudahi perbincangannya dengan Hasna dan buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Maaf," ucap Dewa.
Mobil sport merah itu melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan suaranya sengaja dikeraskan saat di hadapan Hasna.
"Dewa, hati-hati." Hasna sedikit khawatir melihat cara mobil itu pergi.
Malam harinya Hasna kedatangan tamu, Zahira. Mereka mengobrol ke sana ke mari menceritakan hari-hari mereka masing-masing. Berkeluh kesang tentang kehidupan yang mereka jalani.
"Na, dari tadi aku lihat kamu kok kayak lagi mikirin sesuatu, kenapa? Kamu juga kelihatan sedih. Ada masalah? Cerita sama aku."
"Aku gak habis pikir sama kamu, kok mau-maunya ngelakuin hal gak masuk akal kayak gitu. Aku pikir itu hanya ada di dunia dongeng dan sinteron. Ternyata sahabatku melakukan itu juga."
"Uangnya menggiurkan, Ra. Kebetulan aku butuh untuk biaya pendidikan Puput."
"Kamu gak mikirin dampak ke depannya nanti?"
"Jangankan nanti, sekarang aja udah terjadi."
"Apa?"
Hasna menceritakan kejadian hari ini, bagaimana dia pergi ke rumah Raden, hingga kejadian di pinggir jalan tadi.
"Terus yang bikin kamu sedih apa?"
"Entahlah, aku bingung. Saat di rumah Raden aku merasa tidak terima ada wanita lain tinggal bersamanya. Terlebih dia adalah mantan istrinya, ibu dari Akhtia dan Airlangga. Rasanya benar-benar sesak. Aku ingin marah tapi ... ya, kenapa aku harus marah?"
"Lah, kalau marah berarti kamu cemburu. Kamu gak suka ada wanita lain dekat sama Raden. Kamu gak mau kan Raden nantinya malah jatuh cinta dan rujuk sama istrinya. Iya 'kan?"
__ADS_1
Hasna hanya diam, berusaha memikirkan perkataan Zahira.
"Kalau memang benar aku cemburu, itu artinya aku mencintai Raden. Tapi apa itu boleh?"
"Gak bolehnya kenapa? Kamu janda, dia duda, terus?"
"Azam belum lama meninggal. Masa aku udah nikah lagi?"
"Heuhhh, ngapain mikirin itu? Noh, liat. Bahkan rumah yang kamu bangun berdua dikasih sama selingkuhannya. Keluarganya mendukung, berarti mereka udah tau sejak dulu iya kan? Kamu gak usah mikirin bangkai kurang ajar itu, pikirin aja kebahagiaan kamu sendiri."
"Entahlah, Ra. Tapi Raden udah gak mau ketemu aku lagi. Dia marah sama aku."
"Hasna ... Raden marah bukan berarti cintanya lenyap seketika. Dia hanya butuh waktu untuk menangkan diri. Asal kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi, serta mengatakan kalau kamu merasakan hal yang sama, apa iya dia menolak?"
"Maksudnya aku harus bilang kalau aku juga cinta sama dia gitu?"
"Nggak! Jangan! Gak usah ngomong apa-apa. Biarin aja dia nyari dukun buat tau isi hati kamu. Aaaah, kamu itu kenapa sih, Na? Uda ah, aku balik. Darah tinggi lama-lama di sini."
"Iiiih, Ra. Bantuin aku pilih baju dulu buat besok."
"Ogaaah."
"Ayolah, Ra. Nanti setelah ketemu orang tua Dewa, aku akan menemui Raden untuk mengatakan semuanya."
Zahira menghentikan langkahnya, akhirnya dia mau membantu sahabat memilih baju.
"Ya ampun, ini dari dewa? Hasna, ini sih barang-barang mahal. Aku aja cuma punya beberapa merk doang. Lah, kamu kok komplit banget. Jangan-jangan dia anak sultan."
"Mungkin. Makanya, kamu pilih baju yang bagus sekalian aku mau ketemu Raden."
"Ya udah iya."
Mereka pun memilih pakaian yang cocok untuk tas dan sepatu yang Raden pilih. Entah berapa baju yang Hasna coba, hingga mereka memilih baju yang dirasa benar-benar cocok
"Na, kamu cantik tau pake kerudung."
"Masa?"
Zahira mengangguk.
__ADS_1
Hasna menatap dirinya di cermin. Dia memutar tubuhnya, melihat dari atas hingga ke bawah. Hasna terlihat bahagia, dia membayangkan bagaimana dia akan bertemu dengan Raden besok.