
Oh iya, aku mau tanya dong. Sebenarnya kalian itu lebih suka kisah yang part-nya sampai ratusan atau cukup dengan kisah yang singkat padat tapi kalian bisa mengerti gitu, isi ceritanya?
Menurut kalian haruskah kisah ini memiliki kisah yang panjang atau selesaikan dengan cepat ringkas dan padat? Yuk berikan saran kalian ya.
Happy reading guys. π
...πΊπΊπΊ...
"Tante ...." Airlangga begitu terkejut melihat Hasna datang ke rumahnya.
"Lang, mana di kamu?"
"Ada di kamar tante."
Hasna pergi meninggalkan Airlangga. dengan terburu-buru Hasanah pergi menuju kamar Akhtia. Melihat hasilnya begitu terburu-buru Airlangga segera mengikutinya dari belakang.
"Tia."
"Tante?" Akhtia yang sedang rebahan sambil memainkan laptopnya segera bangun begitu melihat Hasna tiba-tiba muncul dalam kamarnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Tia? bagaimana bisa kamu akan menikahi Dewa?"
"Dewa? Dewa siapa Tante?" tanya Airlangga. "siapa yang akan menikah?"
"Oh, Dewa udah ngasih tahu Tante rupanya."
"Bukan. Pak Mahendra dan istrinya datang dan memberitahu semuanya."
"Pak Mahendra? maksud tante Pak Mahendra rekan bisnis papa?" tanya Airlangga lagi.
"Tia apa kamu sudah gila? kamu bahkan masih sekolah. Apa papa kamu tahu tentang hal ini? untuk apa kamu datang ke rumah mereka Tia?"
"karena aku mau Tante jadi ibuku."
"Tapi tidak dengan seperti ini juga Tia. Kamu mau menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai? apa kamu pikir kamu bisa hidup bahagia, huh?"
"Bahagia tante bilang? aku sudah terbiasa hidup tanpa kebahagiaan tante. ini bukan hal besar bagiku."
"Tiaaaa please! pernikahan itu bukan lelucon Tia."
"Lalu itu artinya Tante benar-benar mau menikahi Dewa?"
"Tentu saja tidak, kami hanya terikat pada kontrak."
"Itu pun yang anak yang akan aku lakukan tante... aku akan membuat kontrak dengan Pak Mahendra agar bisa menjadi menantunya, dan melepaskan tante dari kontrak Dewa."
"tolong apakah ada seseorang yang bisa menjelaskan ada apa sebenarnya?" tanya Airlangga.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Akhtia!"
"Aku sudah bilang berkali-kali kalau aku ingin tante menjadi ibuku apa itu salah? Mungkin kalian tidak akan pernah tahu dan mengerti kenapa aku melakukan ini, tapi Tante aku benar-benar ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu dan itu aku hanya dapatkan dari tante. Menikah dengan Dewa bukan hal yang buruk selama aku bisa mendapatkan Tante."
__ADS_1
"Astagfirullah Akhtia."
"Kenapa? apa ini terlalu berlebihan? apa aku salah? apa aku tidak berhak mendapatkan kasih sayang seorang ibu?" Akhtia duduk menangis di atas lantai.
"Aku ingin seperti teman-temanku, mereka sering bercerita bagaimana mereka dengan ibunya berbagi kisah, berbagi perasaan dan berbagi duka. Sementara aku? sejak kecil hingga saat ini aku tidak punya teman untuk berbagi perasaan, aku selalu memendam segalanya sendiri kesedihan penderitaan aku telan bulat-bulat."
Tangisan Akhtia pecah.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Raden membuka pintu kamarnya.
"Anu Pak, ada ibu di kamar nak Akhtia."
"Ibu?"
Raden bergegas pergi menuju kamar Putri bungsunya. Dia begitu kaget melihat Akhtia yang sedang duduk menangis. Sementara Hasanah berdiri saat sedang memarahi anaknya. Airlangga terlihat bingung duduk di atas ranjang memandangi adiknya yang sedang menangis.
"Ada apa ini?" tanya Raden.
"Aku juga bingung, Pah. Tante Hasna dan Akhtia sedang membicarakan masalah pernikahannya dengan keluarga Mahendra." Airlangga menjelaskan.
"Kenapa harus berdiskusi tentang pernikahan keluarga Mahendra di rumahku? kenapa kamu tidak mengirimkan saja undangan pernikahan kamu pada kami?" Raden Terlihat marah pada Hasna.
"Yang menikah bukan tante Hasna, Papa. tapi Akhtia." Airlangga kembali menjelaskan.
Sontak hal itu membuat Raden semakin terkejut.
"Kamu atau kamu sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Raden menunjuk Hasna dan Akhtia.
Hasna menjelaskan semuanya kepada Raden Airlangga dan achya setelah mereka duduk di ruang keluarga. dari mulai Hasna membuat kontrak dengan Dewa, hingga Akhtia datang membatalkannya.
"Tante Papa sudah lama tidak keluar kamar. Dia mengurung diri di sana tanpa melakukan aktivitas apapun, bahkan dia tidak berangkat bekerja. Hanya satu orang yang bisa membuat Papa keluar, dan itu adalah Tante. Lihat saja hari ini pun dia keluar karena tahu tante ada di sini."
"Kamu juga, Mas! Kenapa begitu senang melihat keluarga kamu cemas? kamu itu sudah tua, bisa tidak bersikap tidak kekanak-kanakan. Memangnya semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan semedi di dalam kamar? ngapain coba di sana nyari wangsit?"
"Kenapa aku yang dimarahi? bukankah kalian yang saat ini seharusnya aku marahi?"
"Lalu bagaimana sekarang, Pah? Papa memangnya mau mengizinkan Akhtia dinikahi Dewa. Aku dengar Dewa itu bukan laki-laki normal Pah, orientasi seksualnya melenceng dari kodrat."
"Jangan sembarangan bicara Airlangga. Kamu salah faham yang akhirnya bisa menimbulkan fitnah. Dewa tidak melenceng, dia pria normal." Hasna membela Dewa.
"Tapi rumor yang beredar memang begitu, Tante."
"Justru bagus dong. Aku menjadi istrinya hanya status doang. Dia tidak akan menyentuhku karena selera aku bukan dia."
"Akhtia!" Hasna dan Raden kompak.
Akhtia menundukkan kepalanya. Dia tersenyum bahagia meski sedang disidang, melihat bagaimana Raden dan Hasna kompak memarahinya, Akhtia merasa sedang dimarahi oleh kedua orangtuanya.
...***...
Aneh rasanya karena Hasna kali ini datang bersama Raden ke rumah Mahendra. Mereka membawa Akhtia dan Airlangga serta.
__ADS_1
"Mba, ngapain ke sini sama mereka?" tasnya Dewa sambil bergelayut manja pada tangan Hasna.
Eheeem!
Raden menunjukkan rasa tidak sukanya pada kontak fisik yang dilakukan Dewa dan Hasna.
Dewa segera melepaskan tangannya.
"Senang akhirnya kalian datang. Tadinya kami yang akan ke sana membawa lamaran."
"Maaf, Pak Mahendra tapi mungkin salah faham. Kami datang ke sini jutsru ingin meluruskan masalah."
"Meluruskan apa, Raden? Saya dan ibu kamu sudah sepakat akan menjodohkan putri kamu dan putra saya, Raden. Akhtia sendiri yang meminta, dan pastinya Dewa akan setuju. Bukan begitu, Dewa?"
"Iya, Pi."
"Dewa, apa yang kamu lakukan? Akhtia masih sekolah. Apa kalian saling mencintai? Bagaimana kalian bisa menikah begitu saja?"
"Mba, aku jelaskan nanti. Tapi intinya saat ini aku mau menerima perjodohan ini."
"Ish." Hasna mendorong Dewa pelan.
Hasna menjadi gugup saat melihat tatapan dari Raden yang seperti belati menusuk jantung.
"Ibu? kenapa ibu saya yang memutuskan hal sebesar ini?"
"Raden, saya mengajukan syarat pada ibu kamu kalau saya akan menjadikan Akhtia sebagai menantu asalkan dia masuk ke dalam kartu keluarga kalian. Apakah itu kurang menguntungkan?"
"Dan ibu setuju?"
"Tentu saja, beliau menerima dengan baik tawaran ini."
"Tuh, kan. Aku menikah dengan Kak Dewa malah membawa kebaikan yang lainnya. Papa kenapa masih gak terima."
"Tiaaa ..." Hasna memelototi Akhtia.
"Raden, apa ruginya jika anak kamu menjadi menantu kami? Anak kamu akan mendapatkan status, kamu pun akan mendapatkan wanita yang kamu cintai."
"Bener, Pah."
"Akhtia." Hasna kembali memelototi Akhtia.
"Baiklah tapi dengan satu syarat. Pernikahan mereka akan dilakukan setelah Akhtia lulus sekolah."
"Tentu saja. Kami tidak akan merusak masa depannya."
Dewa mengusap wajahnya kasar.
Hasna merangkul Dewa, memberikan dukungan pada apa yang akan dia hadapi saat ini.
Akhtia memainkan matanya. Dia memberi isyarat pada Hasna agar bersikap baik. Mengingat Raden seperti singa yang siap menerkam melihat kedekatan Hasna dan Dewa.
__ADS_1
Hasna melepaskan tangannya, dia menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Dewa.
Hasna dan Akhtia saling melempar senyuman yang mereka tahan.