Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Tidak adanya restu


__ADS_3

"Mau dibawakan apa?"


Pertanyaan yang selalu terlontar saat pekerjaan di kantor usai. Airlangga selalu menghubungi Puput sebelum dia beranjak dari tempat kerjanya.


"Aku mau yang manis dan lembut."


"Apa itu?"


"Semacam cake atau apapun."


"Siap, Abang bawakan ya."


Dengan suka hati Airlangga akan pergi membeli apapun yang diinginkan Puput. Baginya, keinginan Puput adalah sebuah kebahagiaan.


"Kamu itu, udah kayak suami siaga aja."


Pernah satu kali temannya mengucapkan kata seperti itu saat mereka udah meeting dan Puput menelpon agar pulangnya Airlangga membeli rujak. Tidak ada yang aneh memang, wajar seorang ibu hamil ingin rujak, hanya saja yang membuat sedikit aneh orang-orang karena saat itu sudah pukul sembilan malam.



"Banyak banget, Bang?" tanya Puput saat melihat cake slice di atas meja.


"Abang gak tau cake mana yang enak dan cocok di lidah kamu. Makanya dibeli aja yang kira-kira enak, kamu icip aja satu-satu."


"Waah, enak nih." Shaki datang, lalu dia mengambil satu cake.


"Shaki, itu buat kakak. Main ambil-ambil aja. Kalau itu enak gimana?"


"Ya udah sih, nih kakak cobain dulu. Gigit deh."


Shaki menyodorkan cake itu ke mulut kakaknya.


"Hmmm, B aja sih."


"Boleh nih aku ambil?"


"Bawa pergi gih."


"Ishhhh, bekasan deh." Shaki pergi sambil menggerutu.


Airlangga hanya tertawa melihat sikap kedua adiknya.


"Kayaknya ini enak, deh."


Pilihan Puput ternyata sesuai dengan seleranya, dia melahap cake itu hingga belepotan.

__ADS_1


"Pelan-pelan nanti keselek," ucap Airlangga sambil membersihkan sisa makan yang menempel di sudut bibir Puput dengan tangannya langsung,lalu dia menjilatnya.


"Bunda gak dibagi nih?" Hasna yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya menghampiri mereka.


"Bunda mau yang mana? Ambil aja. Tadi aku makan ini, enak loh."


"Masa?" Hasna mengambil cake dari tangan Puput, lalu memakannya.


"Mmmm, iya. Enak, manis dan seger ya karena ada buahnya."


"Bener kan?"


Hasna mengangguk.


"Bang, dipanggil papa ke kamarnya. Katanya mau bicara."


"Oh, ya udah. Put, Abang pergi dulu ya."


Puput mengangguk.


"Nak, sudah hampir 3 bulan setelah suami kamu pergi, masih sedih?" tanya Hasna setelah Airlangga pergi.


"Pasti lah, Bun. Kadang kalau malem aku kasih suka nangis pas inget anak aku lahir tanpa ayahnya. Meski Abang menggantikan peran Chooki, tapi tetep aja ada yang kurang. Interaksi kami terbatas, lain hal nya jika dengan Chooki. Ya, bunda pasti ngerti kan?"


Hasna mengangguk.


"Ada yang bisa aku bagi, tapi tetap saja hatiku merasakan sakit yang sama. Tapi setidaknya aku tidak kehilangan perhatian dan peran suami karena ada Abang yang selalu memberikan itu."


Hasna mengusap kepala anaknya.


Kamu sadar gak, Nak? Abang perhatian karena dia merasa bahwa dirinya suami kamu?


"Puput bisa cepat move on karena dia mendapatkan kasih sayang yang penuh dari kamu. Papa bersyukur dan berterimakasih untuk itu."


"Untuk apa berterimakasih, Pah? Kewajiban aku untuk melakukan hal itu. Aku hanya tidak ingin dia dan anaknya kenapa-kenapa."


"Bang, papa ini laki-laki. Mustahil papa gak ngerti."


"Tentang?"


"Perasaan kamu sama Puput ... beda dengan perasaan kamu pada Tia, bukan?"


Airlangga membeku.


"Bang, jujur saja. Papa tidak mengizinkan kamu untuk menikah dengan Puput. Hilangkan perasaan itu, papa tidak ingin kamu dan Puput menjadi menantu papa."

__ADS_1


Airlangga tertawa. "Aku tidak akan menikahinya, Pah. Tapi papa tidak punya hak untuk ikut campur tentang hatiku."


"Papa tidak ingin kamu hidup seperti ini, Nak. Menikahlah, bangun rumah tangga dengan perempuan lain, dan berbahagialah."


"Aku? Bahagia? Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika menikah dengan wanita yang tidak aku cintai?"


"Bang ...."


"Papa hanya tidak ingin aku menikah dengan Puput, kan? Oke, itu tidak akan pernah terjadi. Tapi, Pah ... jangan larang aku untuk mencintai dia, atau jangan meminta aku menikah dengan wanita lain karena itu tidak akan pernah terjadi. Hidupku akan aku habiskan untuk menjaga adik dan keponakanku yang kehilangan ayahnya bahkan sebelum dia lahir."


Airlangga segera meninggalkan Raden, dia menutup pintu dengan membantingnya begitu keras. Hasna hanya diam saat mendengar hal itu karena dia sudah menduganya, sementara Puput merasa sangat terkejut. Bukan karena suara pintunya, tapi saat melihat ekspresi Airlangga yang penuh amarah.


"Bang ...."


"Jangan, Nak. Abang sedang marah, biarkan dia sendiri."


Puput menepiskan tangan Hasna yang menahannya untuk tidak mengejar Airlangga. Puput berlari keluar mengejar Airlangga.


"Abang, tunggu!" Dengan perutnya yang besar, Puput berlari menghampiri Airlangga yang bersiap untuk pergi dengan roda duanya.


"Jangan lari!" Airlangga segera turun, lalu dia berlari lebih cepat ke arah Puput. dia tidak ingin adiknya mengalami hal yang tidak diinginkan.


"Kamu kenapa sih? Gak mikir ada nyawa lain dalam tubuh kamu? Kenapa lari? Kalau ada apa-apa, gimana?" tanya Airlangga kesal.


"Abang mau ke mana? Jangan naik motor kalau lagi gak enak hati, kalau kenapa-kenapa siapa yang jagain aku nanti?" tanya Puput dengan mata berkaca-kaca.


Kebaikan dan perhatian Airlangga selama ini membuat Puput sangat ketergantungan pada kakaknya, kehilangan Chooki membuat dia hampir putus asa, lalu bagaimana jika sesuatu terjadi juga pada Airlangga.


"Jangan pergi," ucap Puput dengan wajah sedih.


Airlangga menarik kepala Puput, lalu dia mendekap erat. Di dalam pelukan Airlangga, Puput menangis.


"Menangisnya jangan lama-lama, ya. Nanti anak kamu ikut sedih. Bayi itu perasaannya sesuai dengan perasaan ibunya."


"Abang, sih." Puput mendorong tubuh Airlangga.


"Abang? Loh, kenapa jadi Abang yang salah?"


"Keluar dari kamar Papa tiba-tiba marah, mana mau pergi naik motor. Kalau kenapa-kenapa gimana? Siapa yang jagain aku nanti?" Puput cemberut.


"Jadi Abang yang salah?"


"Iya, Abang yang salah bikin kami berdua sedih jadinya."


Airlangga tertawa.

__ADS_1


"Nak, kamu sedih gara-gara om, ya?" tanya Airlangga pada janin yang ada di dalam perut Puput sambil berlutut.


"Maaf ya. Om janji gak akan gitu lagi. Pokoknya, om akan menjaga kalian berdua apapun yang tejadi. Om janji," ucap Airlangga sambil mengusap perut Puput.


__ADS_2