
Setelah mengantar orang tuanya untuk mengikat kejuaraan taekwondo di Thailand yang diikuti oleh Shaki, Airlangga mengajak Dewa, Akhtia, dan Puput nonton. Mereka pun pergi bersama.
Sebelum memasuki ruangan teater, mereka membeli camilan yaitu popcorn dan minuman. Sambil ngemil, mereka fokus menyaksikan cerita yang ada di dalam film. Dewa duduk di samping Akhtia, lalu di sebelahnya ada Puput, di samping Puput duduk lah Airlangga.
"Lama-lama kok dingin ya," gumam Puput. Tanpa diduga, dewa melepaskan jaketnya lalu diberikannya pada Puput.
Akhtia melirik. Dia hanya bisa tersenyum meski hatinya merasa terluka. Mengepalkan tangan bukan karena marah, tapi karena dia pun merasa kedinginan.
"Awas jaket dia ada virusnya," bisik Airlangga namun masih bisa didengar oleh Dewa. Airlangga mengambil jaket Dewa, lalu dikembalikannya.
"Pak ini saja." Airlangga membuka jas miliknya, lalu dipakaikan langsung pada Puput.
"Pake punyaku untuk nutupin kaki kamu. Dingin juga kan?" Dewa kembali memberikan jaketnya pada Puput.
Gadis itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Airlangga dan Dewa, bagi dirinya itu adalah lelucon yang sangat menghibur.
"Aku permisi ke toilet dulu, perutku gak enak."
"Oh, iya. Hati-hati. Hanya itu reaksi Dewa yang membuat Akhtia bersedih. Ditambah lagi Dewa dan Airlangga kembali berebut memberikan benda agar Puput menjadi hangat. Hati Akhtia semakin teriris.
Lama Akhtia tidak kembali, Puput menyadarinya. Dia pun berpamitan pada Airlangga dan Dewa.
Mencari ke toilet, tapi kosong. Puput mencoba mencari ke depan, dan ternyata Akhtia sedang duduk sambil mengaduk jus jambu yang dia pesan.
"Kak."
"Loh, kenapa kamu keluar?"
"Nyariin kakak lah. Masih sakit perutnya?"
"Lumayan," jawab Akhtia sambil berusaha pura-pura tersenyum dalam keadaan hatinya yang bersedih.
"Kak, mau cokelat gak? Aku sengaja bawa satu kotak ke sini, tadinya buat ngemil di mobil. Eh, aku lupa."
"Cokelat?"
Puput mengeluarkan kotak dari dalam tas nya.
"Ini Abang yang beliin, waktu itu kami pernah pergi ke toko cokelat, eh ternyata enak. Aku ketagihan deh jadi setiap hari Abang beliin ini buat aku."
"Ah? setiap hari?"
Puput mengangguk cepat dengan polosnya. Dia membuka kotak itu, lalu memberikannya pada Akhtia.
__ADS_1
"Coba deh, ini enak banget tau."
"Itu kan buat kamu, kamu aja yang makan," ucap Akhtia dengan suara yang datar. Dia berusaha menahan emosinya karena sadar akan situasi.
"Ya udah, aku makan semua aja." Puput pun menghabiskan semua cokelatnya tanpa mengerti arti tatapan Akhtia yang terlihat tidak suka dan kesal.
"Kalian ngapain malah di sini?" tanya Dewa yang ikut keluar bersama Airlangga.
"Nemenin kak Puput. Katanya perutnya masih sakit."
Dewa mendekati Akhtia.
"Sakit banget? Mau ke dokter aja apa beli obat?"
Akhtia menggelengkan kepala, emosinya sedikit mereda karena diperhatikan oleh Dewa yang mulai dicintainya.
"Ya ampuuun, kamu makan kenapa kayak anak kecil sih. Gemes banget." Dewa mengusap noda cokelat di dagu Puput dengan tangannya.
Puput tertawa khas seorang adik yang sedang manja pada Kakak laki-lakinya.
"Aku mau pulang," ucap Akhtia sambil menarik tas nya yang dia simpan di atas meja dengan kasar. Hampir saja Puput terkena tas milik kakaknya itu.
"Akhtia, tunggu." Dewa mengejar istrinya.
Mungkin Dewa tidak menyadari apa yang tejadi pada Akhtia, pun dengan Puput. Namun tidak dengan Airlangga. Dia tau adiknya sedang marah meski entah kepada siapa amarah itu ditujukan.
"Ngapain?"
"Gue mau bicara sama Akhtia. Bisa keluar dulu gak?"
"Oh, oke."
Dewa pun keluar dan Airlangga masuk. Ada Akhtia dia dalam yang sedang berbaring di atas ranjang sambil bermain ponsel. Dia melirik kakaknya sekilas lalu kembali mengarahkan matanya pada layar kecil itu.
"Dek." Airlangga duduk di atas kursi yang ada di samping kasur Akhtia. Gadis itu diam.
"Abang tau kamu marah, kenapa? Kamu marah sama Abang?"
"Hmmm."
"Tapi kenapa? Kamu juga terlihat marah sama Puput, ada apa? Abang sama Puput bikin kesalahan?"
"Enggak."
"Terus kamu marah kenapa? Sama Abang doang kan? Jangan tunjukkin emosi kamu sama Puput, takutnya dia tersinggung."
__ADS_1
"Tersinggung? Kenapa hanya dia yang harus diperhatikan? Kenapa aku enggak? Maksudnya aku boleh sakit hati tapi dia jangan, gitu?" suara Akhtia meninggi.
"Bukan gitu juga, Dek."
"Terus gimana kalau bukan? Jadi aku harus nerima kalau kini Abang lebih perhatian sama dia dan mengabaikan aku?"
"Kamu ngomong apa, sih?"
Akhtia menyimpan ponselnya.
"Dulu aku ini bagaikan dunianya Abang. Aku selalu menjadi pusat perhatian Abang, setiap Abang pergi akan selalu ingat untuk membelikan aku sesuatu. Abang akan ada untukku selama 24 jam. Aku sering diajak jalan-jalan setiap weekend. Beli ini dan itu. Lalu sekarang? Apa Karana mentang-mentang punya adik baru, yang lama dilupakan!"
"Ngawur kamu, Dek."
"Apanya yang ngawur? Buktinya Abang pergi jalan berduaan doang sama Puput. Abang ngajak dia ke toko cokelat yang baru sementara aku enggak. Tau aja enggak apalagi diajak. Abang dan Dewa perhatian banget sama Puput saat kedinginan di bioskop, berebut ngasih jaket. Kalian inget gak ada aku juga di sana, aku kedinginan tapi gak ada yang peduli."
"Kamu kan gak bilang kalau kamu kedinginan."
"Ya kalian harusnya peka lah."
"Kami ini bukan dukun yang tau semuanya tanpa ada pemberitahuan. Aneh, ah, kamu."
"Iya, semua salah aku. Yang bener cuma Puput."
"Masalah cokelat ... Abang selalu bawain buat kamu juga, emang Dewa gak ngasih tau?"
Akhtia yang sedang marah, mengerutkan kening.
"Wah, ini sih biang keroknya. Abang selalu bawain kamu juga, tapi kamu tau sendiri Abang itu kerja kadang nyampe malam. Jadi beli cokelatnya pun malam, nyampe rumah Abang gak bisa kasih ke kamu langsung, dan gak enak juga kalau setiap hari ngetuk kamar kamu yang udah jadi istri orang. Abang menghargai Dewa di sini, makanya Abang selalu titip ke dia."
"Dia gak bilang apa-apa sama aku."
"Ya makanya Abang bilang dia biang keroknya. Ya udah, Abang mau cari dia dulu. Jangan marah, Abang gak akan melupakan kamu, Kok. Hanya saja kamu udah punya suami, jadi Abang berusaha untuk menghargai itu meski pernikahan kalian karena kontrak."
"Ya udah iya. Tapi besok bawain aku cokelat yang banyak. Awas aja kalau enggak!"
"Janji kelingking."
"Janji."
"Nah gitu dong," ucap Airlangga sambil membelai kepala Akhtia lembut, tapi sedetik kemudian Airlangga menjambak rambut Akhtia.
"Awwww! Kurang ajaaaar." Akhtia melempar kakaknya dengan bantal saat dia mencoba berlari sehabis menjahili adiknya.
Airlangga keluar dari kamar mencoba untuk mencari Dewa. Dia ingin mempertahankan masalah cokelat itu. Langkah kaki Airlangga terhenti saat melihat Dewa sedang ngobrol dengan Puput. Entah apa yang mereka bicarakan tapi terlihat sangat asik.
__ADS_1
Kening Airlangga mengerut saat dia melihat Dewa membelai Puput.
Mungkin Puput merasa jika itu karena dia diperlakukan selayaknya adik. Tapi Airlangga adalah laki-laki, dia tau Dewa membelai dan menatap Puput sebagai lawan jenis.