Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Terungkapnya sang pemerkosa


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, papa tau gak ya kak Tia tinggal di rumah kak Dewa." tanya Puput saat mereka hendak menjemput orang tuanya di bandara.


"Tau mungkin, buktinya mereka gak nanyain kan kalau kita nelpon?"


"Iya, sih."


"Gimana kabar teman cowok kamu di sekolah? Abang sampai kamu abaikan waktu itu."


"Kamu udah jadian."


"What?" Airlangga terkejut.


"Hmm, aku dan Chooki resmi pacaran. He he he."


Airlangga merasa sesak nafas mendengar ucapan Puput. Dia berusaha tenang karena sedang menyetir. Meski begitu, Airlangga tetap saja merasa marah. Dia tidak lagi berbicara dengan Puput hingga mereka sampai di bandara.


"Papa, bunda." Puput melambaikan tangan. Dia segera berlari menghampiri orang tuanya.


"Kangen," ucap Puput sambil memeluk Raden.


"Oooh, jadi bunda sekarang diabaikan nih. No dua ya sekarang."


"Iya, harap mengerti ya nyonya Hasna."


"Eeeh, gak boleh gitu ah." Raden mengacak-acak kerudung Puput.


"Jadi ... mana mendalinya?" tanya Airlangga pada Shaki.


"Aku gagal." Shaki sedih. Airlangga menatap Hasna dan Raden bergantian. Dia merasa bersalah karena membuat Shaki sedih.


"Ya namanya juga masih pemula, ya gak apa-apa kan kalau gagal. Nanti kejuaraan berikutnya kamu pasti menang."


"Tapi bo'ong. Ha ha ha." Shaki mengeluarkan mendali perunggu. "Aku cuma juara ketiga."


"Yeeee ... selamat ya adik Abang yang jagoan. Mau hadiah apa dari Abang?" tanya Airlangga.


"Mmm apa ya? Aku mau sepeda aja deh. Sepeda aku udah rusak soalnya."


"Siaaaap."


"Aku juga mau."


"Oh, Nay juga mau sepeda? Oke, nanti Abang beliin ya."


"Kamu kan gak ikut kejuaraan, kenapa mau juga?"


"Ih, kakak mah." Nay hampir menangis mendengar ucapan Shaki.


"Cup cup cup. Semuanya akan Abang beliin kok, ya. Nay jangan sedih."


Puput dan Hasna tertawa, mereka saling berpelukan melepas kerinduan. Saat sedang berjalan menuju mobil, Hasna menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang tidak asing baginya.

__ADS_1


"Ada apa, Bun?" tanya Puput.


"Bang, Abang. Kejar orang itu, itu yang pakai baju merah." Hasna menunjuk seseorang.


"Mira!"


Perempuan berbaju merah itu menoleh, dia terkejut saat melihat siapa yang memanggil dirinya. Mira bersiap untuk pergi tapi tidak bisa mengalahkan kecepatan Airlangga. Airlangga berhasil memegang tangannya. Mira berusaha berontak.


"Mira ..." Hasna ngos-ngosan.


"Kenapa kamu menghindari saya? Ayo kita bicara."


"Maaf, Mba. Saya buru-buru."


"Tidak, Mira. Kali ini saya tidak akan melepaskan kamu. Susah payah saya berusaha menemukan kamu selama ini, kali ini kamu tidak boleh pergi."


"Mba, saya buru-buru. Saya harus bertemu seseorang."


"Siapa yang mau kamu temui?"


Mira menatap Hasna. Meski berusaha menghindar, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong bahwa dia sangat bahagia bertemu dengan Hasna. Ada harapan di dalam matanya.


"Saya sekarang bekerja menjadi wanita malam, Mba."


Setelah berusaha keras membujuk akhirnya merah mau berbicara pada Hasna.


"Mir ...." Hasna merasa sedih mendengar ucapan Mira. "kenapa harus sampai begini sih, Mir? kenapa kamu menghindar dari saya ke mana kamu pergi selama ini? Saya berusaha mencari kamu tapi tidak pernah berhasil."


"Diancam siapa?" tanya Raden.


Mira terlihat ragu-ragu. dia takut untuk mengungkapkan semuanya pada Hasna dan Raden.


"Jangan takut, Mir. katakan saja pada kami siapa tahu kami bisa bantu." Hasna menggenggam tangan merah memberikan keyakinan dan kekuatan pada wanita itu.


"Dulu ibuku sakit keras, aku butuh biaya banyak untuk melakukan operasi ibu lalu seseorang menawarkan bantuan tapi sebagai imbalannya aku harus mau menjadi budak **** baginya." Dengan berderai air mata merah menceritakan semuanya. Hasna tidak percaya mendengar apa yang mereka katakan, Hasna menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan.


"Aku pikir dia hanya melampiaskan hasratnya padaku Mbak. tapi ternyata aku salah, setiap kami melakukan hubungan dia selalu merekam adegan itu. Dia mengancam jika aku berbicara pada Mbak maka video itu akan dia sebar. aku tidak berdaya saat itu, Mbak. aku bingung berada di bawah tekanan dan juga kebutuhan." tangisan Mira semakin kencang.


Hasanah yang semula duduk berseberangan kini berpindah duduk di samping Mira, alasan memeluk wanita itu dengan erat.


"Di di mana sekarang kamu bekerja? saya akan mengeluarkan kamu dari sana jangan bekerja di luar aturan Tuhan. Biaya ibumu akan kami tanggung," ucap Raden.


"Tidak perlu, Pak. ibuku sudah lama pergi."


Hasna semakin terkejut mendengar ucapan Mira.


"Ya sudah kalau begitu kamu berhenti bekerja sebagai wanita malam, Mir. Toh tidak ada lagi yang membutuhkan biaya besar kan? kasihan ibumu di sana," ucap Hasna.


"Gak nggak semudah itu, Mbak. Aku tidak bisa keluar begitu saja. Harus ada tebusan yang cukup besar untuk bisa keluar dari sana karena kami memiliki perjanjian sebelum memulai bekerja."


"Saya akan mengeluarkan kamu dari sana. Dengan dengan syarat katakan siapa yang membuat kamu seperti ini? Siapa siapa yang memiliki video syur kalian?"

__ADS_1


"Chef ... Chef Andri, Mbak."


Kaki ini bukan Hasna yang terkejut melainkan Raden. Dia tidak percaya jika teman dekatnya melakukan hal kecil seperti itu.


"Sebenarnya chef Andri melakukan itu bukan karena dia ingin menikmati tubuhku, Mbak. Dia pernah bilang padaku, bahwa dia menyukaimu. Tidak jarang dia selalu menyebut namamu saat kami melakukan hubungan. dia menjamah tubuhku tapi yang dia pikirkan adalah kamu, Mbak "


"Kurang ajar!" Raden menggebrak meja.


Hasna begitu ketakutan mendengar apa yang baru saja Mira tuturkan. Dia merasa merinding sekaligus jijik pada Andri.


"Aku akan membuat perhitungan dengannya lihat saja!" Raden begitu kesal, rahang yang mengeras dan tangannya mengepal dengan kuat.


"Sekarang kita keluarkan kamu dulu dari tempat kerja, setelah itu kita pikirkan bagaimana menyeret Andri ke penjara."


Anak-anak sudah menunggu di mobil, Raden Hasna dan Mira pun segera menuju mobil. Mereka pun pergi menuju tempat kerja Mira.


"Kalian tunggu di sini dulu, ya," ucap Hasna pada anak-anak.


Mira membawa Raden Hasna dan Airlangga menuju mucikari tempat Mira bekerja.


"Loh, Mira? ngapain kamu masih ada di sini? bukannya Kamu mau menemui klien di luar kota?" tanya mucikari itu.


"Dia tidak akan bekerja lagi di sini. Saya saya akan menebusnya," ucap Raden.


"Siapa siapa mereka, Mir?" tanya mucikari itu.


"Berapa kompensasi agar anda melepaskan Mira?"


Mucikari itu berlaga sombong. "Mahal, sangat mahal! Mira ini primadona di tempat kerja saya. Makanya uang tebusannya pun tidak sedikit. Jadi, Saya tidak tahu apakah Anda sanggup memberikan kompensasi itu atau tidak?"


"Katakan katakan saja dengan jangan bertele-tele karena saya tidak suka."


Mucikari itu mengangguk-ngangguk, dia sepertinya akan mengambil kesempatan saat ini.


"Tidak, nominal penebusan sudah ada di dalam kontrak. Bayar saja sesuai perjanjian itu, Pak."


"Kalau memang ada surat perjanjian sebelumnya maka jika dilanggar bisa diseret ke ranah hukum," ucap Airlangga.


Sadar lawan bicaranya bukan orang sembarangan, maka mucikari itu menunjukkan surat perjanjiannya dengan Mira. Uang tebusan itu diberikan sesuai dengan yang tertera di surat perjanjian.


Satu masalah selesai. Mereka pun kembali menuju parkiran. Namun, hal lain yang tidak terduga datang. Raden dan keluarganya berpapasan dengan Dewa di rumah pelacuran itu.


"Dewa?" Hasna terkejut.


Tidak lama kemudian, Akhtia pun muncul dari luar. Dia datang seperti orang yang terburu-buru. Akhtia sama terkejutnya saat melihat Dewa ada di dalam sana.


"Tia?" Hasanah semakin heran melihat putrinya pun datang ke tempat itu.


"Dewa, tunggu dulu." Seseorang dari arah belakang Dewa muncul. Seorang laki-laki yang memiliki postur tubuh kekar menghampiri Dewa. Dia meraih tangan Dewa dengan gestur yang mencurigakan, ditambah pria itu hanya memakai pakaian bagian bawah. Tubuh atasnya telanjang.


Semua orang hanya diam seperti terhipnotis melihat apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2