Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Keputusan Raden


__ADS_3

Sesampainya di rumah orang tuanya Raden, Hasna dan Raden bergegas masuk. Suasana di dalam sana terasa begitu terik tegang. Wajah ibunya Raden terlihat begitu kesal, Airlangga duduk sambil menundukkan kepala.


Sementara wanita yang bernama Angela itu duduk diapit oleh kedua orang tuanya.


"Maaf kami datang terlambat," ucap Raden. "Saya ayahnya Airlangga dan ini ibunya." Raden menunjuk Hasna.


"Ibu tiri tepatnya," ucap Angela ketus.


"La ...." ibunya Angela menepuk pelan paha anaknya yang sebagian besarnya terekspos ke mana-mana.


"Kenapa harus datang ke rumah ibu saya, Pak, Bu? Bukankah saya ini orang tuanya Airlangga."


"Tadi di rumah om gak ada siapa-siapa, makanya kami datang kemari." Angela menjawab.


"Darimana kamu tahu harus datang kemari? Kamu tahu seluruh keluarga saya?"


"Iyalah."


"Kenapa kamu membiarkan Airlangga bertindak sejauh ini, Den? Kamu becus tidak mengurus anak? Memalukan!" Ibunya marah.


"Maaf, Bu."


"Nek, ini bukan salah papah. Ini murni kesalahan aku."


"Tutup mulut kamu! Sudah cukup kehadiran kamu membuat keluarga saya malu, sekarang kamu malah mengikuti jejak ibu kamu itu."


"Bu, cukup."


"Cukup apanya? Pokoknya saya tidak mau tau tentang masalah kalian ini, kalau perlu gugurkan saja kandungan itu."


"Enak aja, gak mau! Aku gak mau mengugurkan bayi ini. Airlangga harus tanggung jawab!" Angela marah.


"Atas dasar apa kamu begitu yakin itu anak Airlangga?" tanya Hasna.


"Ya jelas lah ini anak dia, Airlangga yang udah menghamili aku."


"Kamu yakin?" tanya Hasna lagi dengan tatapannya yang mengintimidasi. Angela sedikit gugup atas sikap Hasna.


"Jika memang itu anak Airlangga, maka saya sebagai ibunya akan memaksa dia untuk bertanggung jawab penuh, tapi harus dibuktikan dulu kalau itu benar-benar anak dia."


"Maksudnya?" tanya Ibunya Angela. "Kamu meragukan anak saya?"

__ADS_1


"Ya, saya ragu itu cucu saya."


"Anak saya bukan wanita murahan!" teriak ibunya Angela.


"Lalu kenapa dia bisa hamil di luar nikah?" Hasna tidak mau kalah.


"Anak saya bilang dia tidak sadarkan diri karena mabuk berat, ditambah itu pertama kalinya dia minum alkohol, bagaimana bisa saat dia sadar sudah ada di kamar hotel berdua dengan kamu? Apa kamu juga mabuk berat sampai kamu pun tidak sadar dan tiba-tiba ada di sana?"


"Itu ...." Angela gugup.


"Atau memang ada yang sengaja membawa kalian ke sana dalam keadaan tidak sadarkan diri?"


"Iya, mungkin saja begitu."


"Lalu bagaimana orang yang tidak sadarkan diri bisa melakukan hubungan intim?"


"Itu ... itu ...."


"Lihat, jika anak anda wanita baik-baik, menurut saya dia tidak akan pergi ke club malam lalu mabuk-mabukan. Bukankah wanita Solehah itu diam di rumah saat malam tiba?"


"Bagiamana pun juga, anak kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan anak saya."


"Tapi test DNA akan berisiko untuk janin."


"Benar. Makanya, kita tunggu sampai bayi itu lahir. Jika terbukti dia anak Airlangga, maka akan saya nikahkan mereka berdua."


"Kamu itu perempuan bukan sih? Ngerti gak keadaan Angela? Bagaimana dia harus menanggung malu dengan kehamilannya yang tanpa suami dan tanpa pernikahan."


"Kenapa harus malu? Dia sudah dewasa, harusnya dia tau resiko apa yang akan dia tanggung jika berani menyerahkan kehormatannya pada laki-laki. Kenapa perbuatan mereka harus selalu kita tutupi dengan menikahkan mereka dalam keadaan sudah mengandung? Biarkan mereka menerima konsekuensi dari apa yang mereka perbuat."


"Bu, maaf. Mungkin anda bisa berbicara seperti itu karena anak anda laki-laki, ya ibarat kata tidak ada bekasnya meski sudah melakukan hubungan berkali-kali, lalu bagaimana dengan anak kami?"


"Kata siapa? Anda semua tidak melihat bagaimana Airlangga mendapatkan hukuman dari neneknya. Dia bahkan dianggap aib di sini. Tapi tidak apa-apa, perbuatan zina memang dosa besar dan aib untuk keluarga, saya tidak akan membela dia kali ini."


"Jangan egois, Bu. Tolong pikirkan anak kami. Bagaimana pun juga, dia harus menikah dengan Airlangga agar orang tidak menghinanya." Ayah Angela terus memohon.


Hasna terdiam.


"Baik, saya akan menikahkan mereka."


"Mas." Hasna terkejut mendengar ucapan Raden.

__ADS_1


"Tapi ada konsekuensinya yang harus kalian tanggung. Jika anak itu lahir dan hasil test DNA menyatakan itu bukan anak Airlangga, maka saya akan menuntut kalian sebagai pencemaran nama baik dan perbuat tidak menyenangkan. Ingat itu!"


"Ta-tapi, Om."


"Kamu tidak perlu takut, jika itu benar anak Airlangga, maka kamu harusnya biasa saja," ucap Hasna kesal. Hasna sudah tidak percaya sejak awal pada wanita itu.


"Lalu bagaimana jika anak ini benar-benar anak Airlangga?" tanya Angela.


"Saya akan memperlakukan kamu dan anak kamu selayaknya keluarga." Raden menjawab.


"Lakukan pernikahan itu secara agama saja. Saya tidak ingin berita ini sampai tersebar ke mana-mana. Sekarang, kalian semua pergi dari rumah saya." Ibunya Raden meminta agar semua orang di sana pergi.


"Ayo, Airlangga." Raden meminta Airlangga keluar dari rumah itu.


"Ayo, Nak." Hasna meraih tangan Airlangga.


"Bunda ... Abang minta maaf." Airlangga tiba-tiba bersimpuh di kaki Hasna.


"Eh, Bang." Hasna ikut duduk, meminta Airlangga untuk bangun tapi Airlangga diam saja.


"Gak apa-apa, Abang. Jika Abang tidak salah, Allah akan bantu dengan caranya sendiri," ucap Hasna sambil memeluk Airlangga.


"Hasna, ke sini." Ibunya Raden melambaikan tangan.


"Tunggu sebentar, ya, Bang. Bunda ke sana dulu."


Hasna mengusap punggung Airlangga sebelum dia menghampiri calon mertuanya.


"Ada apa, Bu?"


"Kamu jangan terlalu fokus pada masalah ini, pikirkan saja dulu pernikahan kamu dan Raden."


"Iya, Bu."


"Ya sudah, pergi sana."


"Hasna permisi, Bu."


Hasna mencium punggung tangan ibunya Raden.


"Ayo, bang." Hasna meraih tangan Airlangga dan membawanya pulang.

__ADS_1


__ADS_2