
"Pernikahan kita sebentar lagi, kamu jangan pergi bekerja ke rumah makan."
"Oh, iya. Ngomong-ngomong tentang rumah makan, aku mau tanya sesuatu, Mas."
"Apa?"
"Data karyawan ada di mana ya? Aku butuh alamat salah satu karyawati di sana."
"Siapa?"
"Mira. Dia resign dari sana dan aku ada sedikit keperluan sama dia. Pasti alamatnya ada di data pribadi mereka, aku telpon tapi gak aktif."
"Resign? Gak ada yang mengundurkan diri pada saya perasaan."
"Masa? Tapi katanya dia mengundurkan diri waktu hari apa ya aku lupa."
"Kok bisa ada karyawan keluar tanpa sepengetahuan saya sih? Dia kabur kali."
Kabur?
"Ada di komputer saya di ruang kerja. Kamu buka file data karyawan. Password komputer nya tanggal lahir kamu."
"Hah?"
"Kenapa?"
"Emang tahu tanggal lahir aku kapan?"
"Saya tau semuanya tentang kamu."
Hasna tersenyum. Meski begitu pikiran dia tetap tertuju pada Mira. Jika memang dia keluar, kenapa tidak ada surat pengunduran diri yang sampai pada Raden, jika apa yang dikatakan Raden bahwa dia kabur, kenapa harus kabur? Dia sedang menghindari apa sebenarnya.
Pikiran Hasna penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Sudah sampai."
"Ah, iya."
"Kenapa? Kamu sedang memikirkan apa dari tadi?"
"Bukan apa-apa, Mas. Oh, iya. Besok aku mau mengurus surat pindah sekolah Shaki dan Nay."
"Hmm."
"Pernyataan pernikahan kita udah selesai kan, Mas?"
"Sudah."
"Ya udah, aku turun ya. Kamu hati-hati di jalan, dan jangan berani memarahi Airlangga di rumah."
"Iya, Nyonya. Laksanakan!"
Hasna tertawa melihat sikap hormat Raden.
cup!
"Sampai ketemu besok," ucap Raden setelah mengecup kening Hasna.
"Hati-hati, Mas."
"Iya."
__ADS_1
Hasna melambaikan tangan setelah dia turun, mengantar kepergian calon suaminya. Menyusuri gang kecil menuju rumah kontrakan, Hasna terus memikirkan tentang Mira. Hingga dia sadar orang sedang ramai berkerumun di salah satu rumah kecil.
"Maaf, Pak. Ada apa ya?" tanya Hasna pada Tukiman, salah satu tetangganya yang berjualan bakso di depan gang.
"Itu, Pak Mahmud. Dia mau dibawa oleh tim rescue ke rumah sakit."
"Pak Mahmud?"
"Bunda ...." Shaki dan Nay berlari menghampirinya.
"Walah, anak-anak bunda. Lama ya nunggu bunda pulang kerja?"
Mereka menggelengkan kepala.
"Makasih ya, ustadzah. Saya sering banget merepotkan."
"Gak apa-apa, Bu. Saya seneng mereka selalu menemani saya di rumah."
"Oh, iya. Pak Mahmud itu siapa ya?"
"Dia lansia yang lumpuh. Kakinya membusuk karena mengidap penyakit diabetes. Sekarang ada tim rescue yang suka ada di medsos mau membawa beliau. Katanya mau dibawa ke rumah sakit."
"Ya Allah, saya sibuk kerja sampai gak tau ada tetangga yang sakit."
"Gak apa-apa, Bu. Ibu kerja juga ibadah buat nafkah anak-anak."
"Saya mau lihat sebentar ke sana."
"Iya, boleh. Silakan."
Hasna mencoba menerobos kerumunan agar bisa lebih jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi. Hasna terkejut saat melihat keadaan yang sebenarnya. Rumah kumuh, bau, dan sempit. Seorang pria tua sedang duduk di sana. Orang-orang yang memakai seragam yang sama sedang mendandani Pak Mahmud yang telanjang tubuh bagian bawah.
"Maaf, anda tim rescue nya?" tanya Hasna pada salah satu orang yang berseragam.
"Rencananya mau dibawa ke mana bapak ini?"
"Kami mau membawa beliau ke rumah sakit umum daerah."
"Kebetulan saya punya rumah sakit juga, bagaimana kalau beliau dibawa ke rumah sakit milik saya saja. Saya akan memberikan fasilitas yang terbaik untuk beliau."
"Ibu punya rumah sakit kenapa baru bawa beliau sekarang?"
Pertanyaan yang membuat Hasna malu, malu karena selama ini dia tidak peka pada sekitar dan sibuk pada urusannya sendiri.
"Saya sibuk mengurus anak dan yang lainnya. Saya juga baru di sini, makanya saya baru tau ada pak Mahmud di sini."
"Ada apa?" tanya seseorang yang memakai pakaian putih dengan celana hitam, dia tidak memakai seragam seperti yang lainnya.
Pria yang tadi berbincang dengan Hasna menjelaskan apa yang terjadi.
"Terimakasih, Bu. Saya senang jika ibu mau terlibat dengan program kami."
"Ya, sama-sama. Nanti kita bawa beliau ke sana, tapi saya hanya bisa membantu sebatas itu, saya tidak bisa menjaga beliau selama perawatan."
"Tidak apa-apa, Bu. Nanti tim kami yang akan mengurus sisanya."
Hasna dan anak-anaknya ikut di dalam mobil pria berbaju putih yang bernama Ridwan. Sementara pak Mahmud dan yang lainnya berada di mobil ambulan.
Hasna dan Ridwan berbicara banyak hal tentang progam Ridwan selama ini. Bahwa dia memang sudah tidak punya tujuan hidup dengan uang yang mungkin saja sudah tidak terhitung jumlahnya.
Dalam perjalanan, Hasna mencoba menghubungi Raden, dia meminta izin pada Raden untuk membawa pak Mahmud ke rumah sakit miliknya.
__ADS_1
"Iya, tentu saja. Nanti supir akan menemui kamu untuk memberikan kartu debit milik saya."
"Iya, Mas. Terimakasih."
Saat sedang berbicara dengan Raden, Ridwan batuk.
"Itu siapa? Laki-laki? kamu sedang bersama laki-laki sekarang?" tanya Raden yang masih dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Oh, iya. Ini Pak Ridwan, beliau yang--"
Tut Tut Tut
"Kok mati?" tanya Hasna melihat ponselnya.
"Ada apa, Bu?"
"Ini lagi bicara kok dimatiin. Gak biasanya dia kayak gini."
"Baterainya habis mungkin."
"Iya, bisa jadi."
Tidak berapa lama mereka sampai di depan UGD. Hasna dan Ridwan turun dari mobil, diikuti anak-anak Hasna.
"Mas?" Hasna terkejut melihat Raden sudah berdiri di depan pintu UGD.
Raden menarik tangan Hasna dengan keras hingga Hasna menabrak tubuh Raden.
"Kenapa, sih?" tanya Hasna.
"Jangan deket-deket sama pria lain, ingat itu." Raden berbisik. Hasna tertawa.
"Apa? Kenapa?" tanya Raden dengan wajahnya yang kesal tapi terlihat sangat menggemaskan.
"Jangan marah, aku tidak akan berpaling kok, Sayang."
Wajah kesal itu berubah menjadi tersipu malu saat Hasna memanggilnya sayang. Hasna semakin gemas melihat calon suaminya itu. Untuk mengalihkan suasana, Raden menghampiri Nay dan Shaki. Dia menggendong keduanya dan membawa anak-anak itu ke kantin.
Hasna ikut masuk ke dalam UGD untuk melihat kondisi pak Mahmud. Rupanya dia sedang ditangani oleh tim medis. Hasna menunggu di luar gorden karena tidak ingin menganggu.
"Masa sih? Jadi pasien itu dibawa sama calon istrinya Pak Raden?"
"Iya, duh mana itu orang bau banget lagi."
"Mungkin mereka membawa gembel dari pinggir jalan. Itu kan tim yang suka ada di media sosial. Kayak menolong orang-orang terlantar gitu lah."
"Ih, apa mereka gak tau ini rumah sakit elit? Ngapain coba dibawa ke sini. Kenapa gak dibawa ke rumah sakit umum aja sih. Jijik tau."
Dada Hasna bergemuruh mendengar percakapan petugas yang sedang duduk di meja khusu petugas.
"Permisi." Hasna mendekat.
"Iya, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas itu dengan ramah.
"Maaf sebelumnya, apa kalian berdua mengenali saya? Saya sedari tadi berdiri di sini dan mendengar semua ucapan kalian."
"Maaf, tapi ... ibu siapa ya?"
Hasna melihat nama yang ada di pakaian petugas itu.
"Oh, kamu Ratna ya? Kenalkan Ratna, saya Hasna, calon istrinya Pak Raden. Terimakasih ya, berkat kamu saya tau bagaimana kinerja karyawan suami saya di sini."
__ADS_1
Ratna dan temannya nampak terkejut mengetahui siapa wanita yang sejak tadi berdiri di depan mereka.
Hasna tersenyum sinis sebelum dia pergi meninggalkan dua petugas medis yang sibuk bergibah.