
Kesabaran itu pasti akan membuahkan hasil, entah cepat atau lambat. Janji Allah tidak akan pernah bohong. Mereka yang mau sabar maka Allah akan membersamai.
Lika liku kehidupan Hasna yang hanya diam tanpa melakukan perlawanan, dibayar keindahan oleh sang pencipta. Diam bukan berarti kalah, tapi mengalah demi menghindari permusuhan dan perdebatan yang tiada guna.
Menahan rasa sakit karena dikhianati suami. Menerima dengan ikhlas saat hak anaknya direbut paksa oleh orang lain, juga menerima meski berat apapun yang Allah berikan.
Semua itu dibayar dengan sebuah hadiah pernikahan yang indah. Tidak perlu megah, tidak perlu mewah, yang penting adalah mendapatkan pasangan yang tulus dan bertanggung jawab pada kebahagiaan lahir dan batinnya.
Menerima segala sesuatu yang ada pada diri Hasna, menyandang ibu dari tiga anak, berasal dari keluarga sederhana dari sebuah desa. Bukankah semua itu adalah kekurangan yang tidak semua orang bisa terima. Apalagi sekelas keluarga Raden yang notabene keluarga terpandang dan kaya raya.
Dihadiri oleh kedua keluarga besar, anak-anak dan juga kerabat dekat. Para sahabat yang juga hadir memberikan doa.
Zahira, sahabat Hasna yang sejak awal acara dimulai terus saja menitikkan air mata. Puput yang terlihat terus saja menyeka air mata bahagianya. Shaki dan Nay yang sangat bahagia, senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Airlangga dan Akhtia pun saling merangkul begitu Hasna dan Raden sah menjadi suami istri.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih karena mau menerima anak kami sebagai menantu. Sebenarnya saya minder karena kamu berasal dari desa, kami juga berasal dari keluarga yang ... ya, bisa dikatakan sangat miskin."
"Pak, saya juga dulunya orang biasa. Mana mungkin saya bisa lupa dari mana saya berasal. Lagi pula Hasna anaknya baik, saya percaya dia bisa menjaga anak say. Bagi kita orang tua, bukankah kebahagiaan anak-anak lebih utama dari segalanya?"
Orang tua Hasna dan Raden tertawa. Mereka berbicara banyak hal setelah acara akad selesai.
Puput, Airlangga, Akhtia dan kedua anak Hasna yang lainnya sibuk berfoto ria. Sementara kedua mempelai sibuk menerima ucapan selamat dari pada tamu undangan.
"Kamu capek?" tanya Raden saat melihat Hasna meringis. Kakinya terasa sakit karena berdiri cukup lama.
"Kaki aku kram kayaknya, Mas."
"Manas sini saya lihat."
Hasna duduk di kursi, sementara Raden memeriksa kaki Hasna yang terasa sakit. Dengan sangat perlahan, Raden memijat kaki Hasna yang dia simpan di atas lututnya.
"Masih sakit?"
"Sedikit. Mas, udah gak apa-apa. Masa kaki aku kamu simpan di atas lutut kamu, gak sopan tau."
"Ini masih sakit?" tanya Raden mengabaikan ucapan Hasna.
"Iya, masih."
"Rupanya pengantin wanitanya kelelahan."
"Eh, Pak Mahendra. Maaf, pak. Ini saya--"
"Gak apa-apa, Raden. Lanjutkan saja, memang tugas seorang suami harus menjaga istrinya tidak peduli di mana pun mereka berada."
Hasna menarik kakinya dari tangan Raden. Dia segera berdiri untuk menyapa Mahendra dan keluarga.
"Sayang ...."
Hasna menggelengkan kepala pada Raden. Memintanya untuk ikut berdiri karena ada tamu yang datang.
__ADS_1
"So sweet banget tau, Mba."
"Semoga kamu juga mendapatkan suami yang sweet, ya, Dewi."
"Aamiin."
"Selamat ya, Nak. Tidak disangka, kita yang tadinya mau menjadi menantu dan mertua malah menjadi besan," ucap ibunya Dewa.
"Yang penting kita masih jadi keluarga, Bu."
"Kmu benar. Jangan sungkan ya, Na. Anggap saja kami ini orang tua kamu juga."
"Iya, Bu. Terimakasih."
Setelah saking memeluk dan bersalaman dengan orang tua Dewa, kini giliran Dewa yang memberi selamat pada Hasna.
"Bisa gini ya ceritanya."
"Buktinya terjadi kan?"
Hasna dan Dewa tertawa.
"Jadi aku harus manggil apa? Mba? Atau bunda?"
"Apa aja deh senyamannya kamu. Lagian sekarang kan kamu belum menikah sama Tia. Kalau sudah menikah, kamu wajib manggil bunda."
Dewa menggaruk kepalanya sambil tersenyum.
"Kok sedih ya," ucap Dewa.
"Sedih aja. Emmm, gimana ya jelasinnya. Mungkin karena sebelumnya kita akrab seperti teman, kakak adik, sahabat, atau ya ... intinya kita cukup akrab sebelum ini."
"Kita masih bisa deket, kok. Apa yang menjadi penghalang?"
"Orang itu, tuh." Dewa menunjuk Raden dengan dagunya. Hasna menoleh pada Raden yang sedang menatap tidak suka pada Dewa.
"Abaikan saja," bisik Hasna di telinga Dewa. Melihat hal itu, Raden semakin terlihat tidak suka. Dia menatap tajam pada Dewa.
"Sudahlah. Mau ngucapin selamat gak?" Hasna menarik Dewa. memeluknya erat seperti seorang kakak pada adiknya.
"Selamat, ya, Mba. Aku doakan semoga Mba bahagia. Jangan sering-sering mewek lagi, jangan sedih lagi, jangan selalu diam sendiri menanggung masalah. Mba udah punya suami yang baik dan tulus mencintai Mba. Nanti-nanti berbagai suka dan duka sama dia, ya. Mungkin ke depannya aku tidak akan bisa banyak membantu."
Hasna mengangguk pelan sambil menitikkan air mata.
"Kamu juga harus bahagia ya," ucap Hasna sambil menyeka air mata Dewa setelah dia melepaskan pelukannya. Dewa mengangguk. Dia bergeser untuk memberikan ucapan selamat pada Raden.
Raden masih menatap dewa dengan tatapannya yang tajam tanpa ekspresi.
"Om ...."
"Apa?"
__ADS_1
"Selamat, ya, atas pernikahannya. Tolong jaga Mba Hasna baik-baik," ucap Dewa sambil menundukkan kepala.
"Jaga saja anak saya dengan baik. Biarkan Hasna menjadi urusan saya."
"Iya, Om."
"Jangan terlalu keras, Mas." Hasna berbisik pada Raden.
"Tuh, Akhtia sedang asik berfoto. Kamu bergabung saja ke sana."
Dewa menoleh ke arah Akhtia dan Puput yang sedang asik selfi.
"Hai ...."
"Eh, kak. Baru datang? Sini, aku kenalin sama adik aku." Akhtia mengajak Dewa untuk bergabung.
"Put, kenalin. Ini Kan Dewa."
"Puput."
"Dewa."
"Aku pernah denger ceritanya aja dari bunda dulu. Lucu ya, jalan ceritanya malah jadi kayak gini."
"Bener. Ya mau gimana lagi, aku kan pengen bunda sama papa nikah. Ya udahlah, mungkin caranya memang harus kayak gini kan?"
"Gabung foto dong." Dewa menyelip di antara Puput dan Akhtia. Berfoto dengan berbagai macam pose. Keakraban pun terjadi begitu cepat diantar mereka bertiga. Bahkan Puput pun tidak terlihat canggung berinteraksi dengan Dewa.
Suasana berubah ketika keluarga Angela datang. Keceriaan di wajah Akhtia pun menghilang. Hal itu membuat Puput merasa heran karena dia sama sekali belum tau apa-apa tentang masalah Airlangga.
"Kak, ada apa?" tanya Puput pada Akhtia.
"Jangan tanya-tanya."
Puput semakin heran lagi dengan sikap yang ditunjukkan Akhtia saat ini.
"Sssst. Kamu jangan gitu, Tia. Puput kan gak tau apa-apa." Dewa menasihati Akhtia.
"Lebih baik dia gak tau apa-apa. Jangan tau pokoknya."
"Apa sih?" Puput semakin penasaran.
"Sini, Put." Dewa menarik pundak Puput agar dia makin dekat dengannya. "Kamu lihat perempuan itu?"
Puput mengangguk.
"Dia calon kakak ipar kamu."
"Maksudnya?" tanya Puput sambil menoleh pada Dewa. Spontan Dewa menghindar karena hampir saja hidung mereka bersentuhan. Dewa tertegun karenanya.
"Dia hamil anak Abang, Put."
__ADS_1
Dhuaaaarrr!
Seperti petir di siang hari. Puput yang mendengar ucapan Akhtia hampir saja kehilangan fungsi jantungnya. Untuk sesaat dia merasa tidak bisa bernafas mendengar Airlangga telah menghamili seorang wanita.