
Meski terpaksa, dengan kondisi dan situasi yang tidak diharapkan, tapi bagi Raden menghargai orang itu adalah penting.
Seserahan pernikahan tetap diadakan dengan berbagai barang dan hantaran yang tidak kaleng-kaleng. Menghargai pihak keluarga perempuan agar harga diri mereka tidak terluka terlalu dalam.
Kecewa sudah pasti, bagaimana pun juga Airlangga belum lulus kuliah dan belum menjadi pengacara sesuai dengan cita-cita Airlangga. Namun apa boleh buat, takdir dan jalan hidup Airlangga harus seperti sekarang ini.
Hanya ada keluarga Airlangga dan keluarga besar Angela. Itupun keluarga Raden banyak yang tidak mengantar. Selain karena malu, mereka memang tidak mengakui bahwa Airlangga itu adalah keluarga mereka.
Pernikahan hanya dilakukan secara agama, tidak dicatat di catatan sipil. Hanya dilakukan untuk menutupi aib wanita saja.
Seusai perjanjian, Airlangga tetap tinggal di rumah Raden. Itu artinya Angela lah yang akan ikut tinggal bersama Raden dan Hasna.
"Pak, Bu, saya titip anak saya. Mohon maklum jika ada sikap dia yang kurang berkenan. Memang saya dan ibunya yang salah karena terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat mendidik anak semata wayang kami," ucap Pak Harmono, ayah Angela.
"Baik, Pak. Kami akan menjaga putri bapak sebisa kami. Kalau begitu kami permisi dulu."
Setelah akad selesai, Raden dan keluarga langsung pulang membawa serta anggota keluarga baru mereka.
"Selamat datang di rumah kami, Angela." Hasna berusaha bersikap ramah meski dia sendiri tidak menyukai wanita itu.
"Gak sekali disambut pakai drum band, Bun? Atau lengser gitu."
"Tia ...."
Akhtia melirik sinis pada Angela sambil berlalu membawa Nay dan Shaki.
"Kamar kamu dan Airlangga ada di atas. Itu ... Airlangga sepertinya menuju ke sana, kamu ikuti saja ya."
"Oke." Angela membawa dua kopernya sambil berusaha mengikuti langkah kaki Airlangga yang begitu cepat. Saat di depan tangga, Angela begitu kesulitan membawa koper besar itu. Selain karena berat, Angela juga masih memakai kebaya akad nikah.
Dengan sangat terpaksa, Hasna membantu menantunya itu.
"Sini saya bantu."
"Ah, syukur deh ada yang peka."
Hasna hanya bisa menghela nafas dalam mendengar ucapan Angela. Jika saja posisi dia bukan sebagai ibu di rumah itu, mungkin saja Hasna sudah berteriak memaki wanita itu.
"Bu, ibu. Sini biar saya saja." Pengasuh Nay yang kebetulan lewat berlari menghampiri Hasna. Dia mengambil alih koper besar yang berat itu dari tangan Hasna.
"Makasih, Mba."
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Euyyy, yang hamil itu aku. Aku dong yang dibantu, bukan dia."
Hasna tidak mempedulikan ucapan Angela, dia menuruni tangga tanpa menoleh sedikitpun.
"Ada apa dengan orang-orang di rumah ini? apa mereka tidak tahu kalau orang hamil itu tidak boleh membawa barang-barang berat." Angela menggerutu.
"Mba, saya simpan di sini kopernya ya."
"Eh, bawa masuk sekalian."
"Maaf, Mba. Tapi kami dilarang masuk ke kamar Mas Airlangga."
Angela mendengus kesal.
Begitu sampai di depan pintu kamar Airlangga, Angela beristirahat sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ya ampunnn bukannya bantuin malah enak-enak tiduran." Angela kesal saat melihat Airlangga sedang bersantai tidur sambil bermain ponsel.
"Eh, bantuin dong."
Airlangga tidak menggubris.
Airlangga masih diam. Karena kesal, Angela mendekat. Dia memukul kaki Airlangga, lalu menariknya.
"Woiiii!" Airlangga menghentakkan kakinya ke arah Angela. Wanita itu hampir saja terjengkang.
"Denger, ya! Kamu di sini hanya sebagai tamu yang tidak diundang. Kita memang baru saja menikah tapi kamu jangan berharap lebih, jangan menginginkan apa-apa dari aku karena aku tidak akan memberikan apapun sama kamu. Satu hal lagi, jangan pernah menyentuhku walau seujung kuku. Najis tau!"
Angela memejamkan mata saat Airlangga berteriak tepat di depan wajahnya.
Dengan sangat kasar, Airlangga menutup pintu kamar hingga menimbulkan bunyi gaduh.
"Kenapa lagi mereka?" tanya Hasna sambil membersihkan make up di wajahnya. "Baru sehari udah gaduh aja."
"Sayang, apa sebaiknya mereka dipisah kamar saja ya? Nanti saya buat yang baru di bawah. Ada gudang yang gak kepake, kita bongkar dan jadikan kamar untuk Angela. Dia sedang hamil, gak baik juga kalau turun naik tangga."
"Gimana baiknya aja, Mas. Aku sih ngikut kamu aja."
"Ya sudah, nanti saya suruh orang buat bongkar gudangnya. Paling butuh waktu seminggu."
__ADS_1
"Iya, Mas. Mas, itu cctv hilang rekamannya? gak bisa diperbaiki apa gimana gitu?"
"Saya gak tau itu hilang dihapus apa emang sengaja gak direkam alias dimatikan. Kemarin gak cek, cuma liat sekilas doang."
"Mmmm."
"Kamu curiga sama siapa memangnya? Ya, barang kali ada yang kamu pikir dia itu pelakunya."
"Kamu, Mas."
"Eh?"
Hasna tertawa. Dulu dia memang curiga pada Raden hingga dia membenci pria itu.
"Aku penasaran aja sekarang Mira ada di mana. Dia baik-baik aja atau enggak. Yaaa gimana bisa coba, dia keluar kerja tapi tanpa persetujuan kamu, Mas. Aku sih curiga dia disuruh pergi sama pelaku."
"Bisa jadi, sih. Siapa tau pelakunya takut Mira ngadu sama kamu, apalagi setelah mereka akhirnya tau kalau kamu istri pemilik restoran itu," ucap Raden sambil memeriksa email di ponselnya.
"Entahlah. Pusing aku, Mas."
"Sini ... istirahat sebentar. Jangan memikirkan hal-hal yang belum kamu jalani." Raden melambaikan tangannya, meminta Hasna tidur di samping Raden.
"Aku ganti pakaian dulu."
Setelah berganti pakaian, Hasna naik ke atas ranjang. Dia tidur dengan dada Raden sebagai bantalnya.
"Kamu tidur ya. Saya mau memeriksa beberapa pekerjaan dulu."
Hasna mengangguk. Dia ikut melihat dan membaca apa yang ada di layar ponsel Raden, semakin lama matanya terasa semakin berat hingga mata Hasna terpejam. Dia tertidur.
Raden tersenyum kecil saat mengetahui istrinya sudah terlelap. Dikecupnya dengan lembut kening Hasna.
Saat sedang khusyuk memeriksa berkas, ada sebuah chat masuk. Raden memicingkan mata memastikan apa yang dia baca dari chat orang tersebut adalah benar adanya.
Raden terdiam sejenak. Dia ragu harus melakukan apa.
Chat kedua masuk.
Lalu Raden pun membuka M-banking nya dan mengirim sejumlah uang pada si pengirim chat tersebut.
Saya minta maaf karena tidak izin dulu sama kamu, Sayang.
__ADS_1
Raden kembali mencium kepala Hasna.