
"Mba Hasna, tolong bantuin di sini ya soalnya Riya' izin gak masuk, sakit katanya."
"Iya, Mas."
Hasna membantu Udin membuat minuman. Dia juga belajar bagaimana cara membuat jus yang enak, minuman bersoda dan lain sebagainya.
"Heh, kamu kenapa gak cuci piring. Itu di belakang banyak piring kotor." Ohim tiba-tiba datang dan memarahi Hasna.
"Saya gak ada temen, Pak. Keteteran kalau gak dibantuin Mba Hasna." Udin mencoba membela.
"Timbang bikin minuman aja masa kewalahan. Daripada nanti pelanggan gak ada piring buat makan, kamu mau kasih mereka kertas nasi bungkus? Jangan membantah, kamu ke belakang sana." Ohim bersikukuh menyuruh Hasna kembali ke belakang untuk mencuci piring kotor.
"Maaf ya, Mas Udin. Saya harus ke belakang."
"Iya, gak apa-apa."
Hasna segera ke belakang untuk membantu Iwan mencuci piring.
"Lho, ngapain ke sini? Katanya Udin gak ada temennya buat bikin minuman?" tanya Iwan.
"Sssttttt." Hasna meletakkan telunjuknya di bibir dia agar Iwan tidak banyak bicara dan fokus saja bekerja.
"Mira mana?" tanya Hasna.
"Tadi dipanggil Pak Ohim tapi belum balik lagi. Dia disuruh ambil barang ke gudang belakang."
"Oh."
Iwan dan Hasna kembali bekerja membersihkan alat makan. Tidak lama kemudian Mira datang. Dia tidak langsung membantu Iwan dan Hasna mencuci piring, tapi duduk di atas kursi sambil memegang perut bagian bawah.
"Mir, kenapa? Kamu sakit?" tanya Hasna. Mira mengangguk pelan. Wajahnya pucat dan berkeringat.
"Aku ambil minum dulu ya." Hasna segera berjalan cepat menuju dapur, mengambil minum hangat untuk dia berikan pada Mira.
"Ini, Mir." Hasna memberikan gelas itu pada Mira.
"Tadi perasaan baik-baik aja, kenapa sekarang kamu tiba-tiba sakit?" tanya Iwan. Mira yang sedang minum langsung berhenti. Dia melempar gekas itu dan pecah hingga menimbulkan suara keributan.
"Mira, kamu kenapa?" tanya Hasna. Mira terlihat marah tapi dia juga terlihat bersedih.
"Kenapa memangnya? Kamu pikir aku pura-pura agar tidak bantuin kamu kerja?" tanya Mira dengan nada suara yang tinggi.
"Ada apa sih? Kenapa berisik banget di belakang?" asisten chef datang, yang lain pun ikut menghampiri. Mereka terkejut melihat pecahan gelas yang sedang dibersihkan Iwan.
"Maaf, chef. Sepertinya Mira sedang sakit." Hasna menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau sakit istirahat saja di belakang, kan ada ruangan di sana, ada kasur juga. Jangan membuat keributan di sini, takut kedengaran ke depan, malu sama pelanggan."
"Iya, Chef. Nanti saya anter Mira ke sana buat istirahat."
"Jangan! Aku mohon jangan, Mba." Mira tiba-tiba memohon sambil ketakutan. Hasna jelas merasa aneh dengan sikap Mira.
"Chef, saya gak apa-apa. Tadi saya cuma sedikit kram perut. Saya bisa bekerja lagi kok. Saya akan mencuci piring atau membantu di dapur mencuci bahan makanan."
"Terserah kamu aja kalau gitu, asal jangan buat keributan lagi."
"Kamu istirahat saja, daripada bikin onar lagi." Ohim membentak. Mira mencoba berlindung di balik tubuh Hasna.
"Ada apa, Mira?" tanya Hasna. Bukannya menjawab, Mira malah menangis histeris. Dia duduk di atas lantai.
"Eh, Mir?" Hasna dan yang lainnya segera. menghampiri, dan mencoba menenangkan Mira yang entah kenapa.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Raden datang. Mereka semua membungkuk sopan.
"Dia kenapa?" tanya Raden sambil menatap Hasna.
"Gak tau, Pak. Tadi pagi dia masih baik-baik saja, tapi entah kenapa dia menjadi seperti ini."
"Kamu sakit? Ayo saya antar kamu ke rumah sakit buat berobat."
"Tidak usah, kamu awasi aja karyawan di sini. Hasna, ayo bawa dia ke mobil saya, kita antar dia ke rumah sakit."
Hasna mengangguk. Dia memapah Mira dibantu yang lainnya menuju mobil Raden. Di perjalanan, Mira tidak henti-hentinya menangis di dala pelukan Hasna. Raden membawanya ke rumah sakit milik keluarga dia.
"Tolong tangani dengan benar, Dok.".
"Baik, Pak."
Mira dibawa masuk ke ruang UGD, ditemani Hasna. Sementara Raden menunggu di luar. Tidak lama kemudian Hasna menghampiri.
"Udah? Apa kata dokter?"
Hasna terlihat malu-malu saat menjelaskan apa yang terjadi pada Mira.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Raden sambil mengelus kepala Hasna.
"Gak apa-apa, Mas. Dia cuma keram karena yaaa ... begitulah."
Raden menatap Hasna heran.
"Ih, jangan ngeliatin aku kayak gitu. Kamu kenapa sih?" tanya Hasna.
__ADS_1
"Justru kamu yang kenapa? Ditanya kok malah senyam-senyum gak jelas."
"Bukan apa-apa. Ayo, kita kembali ke restoran. Nanti akan ada keluarga Mira yang ke sini katanya."
"Lebih baik jangan ke restoran, kita ke rumah saya saja."
"Ih, ngapain?" tanya Hasna kaget dan terlihat aneh.
Raden memicingkan kedua matanya melihat gerak-gerik Hasna yang sejak tadi aneh itu.
"Kamu pikir mau apa?" tanya Raden dengan nada menggoda.
"Ngadi-ngadi kamu, Mas." Hasna memukul dada Raden sambil berlalu.
"Astaga, dia kenapa sih?" Gumam Raden. Bukan Raden tidak mengerti, dia tau apa yang sedang dipikirkan Hasna.
Akhirnya mereka kembali menuju restoran.
"Mas, kenapa lambat banget sih? Ini mah cepetan jalan kaki ketimbang naik mobil."
"Sengaja. Habisnya kalau di tempat kerja kamu menganggap aku bos, kamu juga memberi jarak yang sangat jauh sama saya."
Hasna menggelengkan kepala. Mereka saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Raden yang sibuk memikirkan Hasna, sementara Hasna memikirkan Mira.
Jika memang Mira melakukan hubungan dengan suaminya sebelum kerja, kenapa waktu pagi dia masih terlihat sehat?
Hasna bergumam sendiri dalam hati.
Wanita terkejut saat Raden meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat.
"Biarkan seperti ini sampai kita tiba di restoran."
Hasna hanya diam membiarkan Raden menggenggam tangannya. Dia kembali memikirkan keadaan Mira.
Sebelum ke gudang, dia baik-baik saja. Kenapa sepulang dari sana dia menjadi histeris seperti itu? Hasna kembali bertanya dalam hati.
Apa jangan-jangan? Ah, aku tidak boleh suuzon. Ayolah Hasna, jangan berpikir negatif.
"Sayang, kamu mikirin apa sih? Saya seperti sedang memegang tangan manekin saja."
"Eh, kenapa, Mas?" tanya Hasna yang tidak mendengar apa yang diucapkan Raden.
"I Love you."
Hasna tersenyum sekilas.
__ADS_1