
Lengkap dengan gaun pengantinnya, Akhtia duduk di tepi ranjang. Wajahnya menunjukkan bahwa dia merasa sangat lelah. Berkali-kali dia menghela nafas panjang secara perlahan.
"Belum buka baju?" tanya Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi, memberikan diri dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman. Kolor dan kaos oblong putih.
Mendengar pertanyaan Dewa, Akhtia langsung menutupi dada dengan kedua tangannya.
"Ngapain?" tanya Dewa heran.
"Kakak kenapa nyuruh aku buka baju?" tanya Akhtia masih dengan mata siaga.
"Cailahhhh, emang kamu gak risih tidur pake baju mekar kayak gitu? Gak gatel? Gak gerah? Itu kasur bisa abis sendirian dipake kamu doang kalau pake baju itu tidurnya." Dewa menjelaskan dengan perasaan geregetan.
"Harusnya pertanyaannya diganti, bukan buka baju tapi ... kamu kenapa gak ganti baju. Begitu."
"Pokoknya intinya itu lah. Itu tukang make up masih ada kan? Minta bantu bukain sana. Aku mah gak bisa."
"Kalau bisa pun aku gak mau dibantuin buka baju sama kakak. Weee!"
Akhtia berdiri, dia mengangkat gaun pengantinnya yang super duper berat itu. Dia pergi keluar kamar menuju kamar yang menjadi tempat dia dirias tadi. Gadis itu kembali dengan baju santai.
"Lah, ngapain duduk lagi? Mandi sana."
"Bawel banget sih jadi orang." Akhtia menggerutu meski dibarengi dengan pergi menuju kamar mandi.
"Akur tidur di mana," tanyanya setelah selesai mandi. Dia berdiri di sisi kasur sambil menatap Dewa yang sedang asik main hand phone.
"Ya di sini lah, masa tidur di atas pohon. Owl kamu?"
"Barengan gitu?"
"Terus?"
Akhtia melipat kedua bibirnya, menandakan kalau dia merasa khawatir tidur satu kasur dengan Dewa. Bagaimana pun juga ini pertama kalinya dia tidur dengan orang asing, seorang laki-laki yang menjadi suaminya bahkan tanpa perasaan apa-apa.
"Kamu mau aku tidur di sofa?"
"Gak mau ya?"
"Ya kali. Ogah banget lah. Udah sih, tidur aja apa susahnya. Lagian kalau kita tidur, dijamin seratus persen gak akan terjadi apa-apa."
__ADS_1
"Masaaa?" Ledek Akhtia.
"Ya emang orang merem bisa apa? Beda cerita kalau sama-sama melek. Udahlah, tidur di sini kalau ngantuk, atau kamu aja gih yang tidur di sofa. Aku sih gak mau." Dewa menarik selimut, menutupi tubuhnya hingga bagian dada.
Dengan terpaksa Akhtia pun tidur di kasur yang sama. Dia benar-benar merasa risih dan takut. Berbaring di samping Dewa sambil membelakanginya.
Akhtia berusaha menenangkan diri dengan mencoba mengatur nafasnya. Awalnya memang susah, rasa cemas itu tetap ada. Namun, lama kelamaan Akhtia pun bisa tenang. Dewa pun tidak menunjukkan pergerakan yang mencurigakan. Dia tetap tenang dengan ponselnya.
Tiba-tiba dalam pikiran Akhtia terlintas kejadian siang tadi. Hatinya kembali merasa sakit saat ibunya membuat kekacauan di hari pernikahannya. Akhtia ingat betul bagaimana dulu dia menangis meminta ibunya datang ke acara hari ibu di sekolah.
"Ma, datang ya. Sekali saja Tia mohon."
"Acara apa sih? Hari ibu? Buat apa? Gak penting banget."
"Tapi semua orang datang ke sekolah dengan ibu mereka. Akan ada acara pemberian mahkota dari anak pada ibunya."
"Aduuuh, mahkota apaan? Kamu kalau mau ngasih mama sesuatu, jangan crown murahan apalagi imitasi, kasih aja mama duit yang banyak. Kalau gak bisa, kamu gak usah datang nyari mama apalagi nyuruh mamah ini dan itu."
Pada akhirnya, hanya Akhtia dan dua orang temannya yang tidak didampingi ibunya saat perayaan hari ibu.
"Duuuh, kasian. Anak haram mah gitu, ya. Gak diakui sama orang tuanya sendiri."
"Lahir gak diinginkan, udah gede terpaksa dipelihara."
Meski bukan cuma Akhtia yang tidak didampingi ibunya, teman Akhtia tidak mendapatkan ejekan karena ibu mereka meninggal, bukan meninggalkan dengan sengaja.
Sampai detik ini, Akhtia tidak memiliki teman. Bukan murni tidak memiliki teman, hanya saja dia merasa minder meski ada beberapa yang berusaha mendekati. Akhtia lebih baik menghindar ketimbang menerima kebaikan mereka yang pada akhirnya akan menyakiti juga.
Mengingat semua kejadian di masa lalu membuat Akhtia menangis. Tidak bersuara memang, hanya saja irama nafasnya tetap saja kentara.
Dewa melirik.
"Kenapa?" tanyanya.
Akhtia segera menghapus air matanya. Dia kembali bersikap tenang, dan berpura-pura memejamkan mata.
Dewa tersenyum tipis.
"Kita mungkin tidak bisa menjadi suami istri dalam artian yang sebenarnya, tapi aku bisa kok jadi sahabat buat kamu. Bisa mendengar semua keluh kesah kamu, mau mendengar perasaan sedih ataupun senangnya kamu. Yakin deh, aku ini bisa jaga rahasia. Amanah pokoknya."
__ADS_1
Akhtia masih pura-pura tidur.
"Oke, aku gak akan maksa. Tapi ... kalau kamu mau bercerita, aku siap kapanpun. Kamu inget itu ya."
Tanpa diduga, Akhtia membalikkan badan lalu memeluk tubuh Dewa, dia terkejut hingga ponselnya terjatuh.
Akhtia menangis sejadinya.
"Huaaaaa ... gak apa-apa peluk kan? Udah halal kan? Gak akan ada yang larang kan? Huwaaaa ...."
Antara sedih, terkejut dan ingin tertawa. Dewa hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Dia membiarkan Akhtia memeluknya sambil menangis.
Cukup lama Akhtia menangis, hingga suara itu semakin lama semakin terdengar melemah. Meski begitu, pelukannya belum juga dia lepas.
"Udah belum? Pegel nih. Aku kan cuma bilang kamu boleh bercerita, bukan boleh meluk seenaknya. Mana gak ngasih aba-aba lagi, kaget tau! Itu hp jatuh woiii."
Akhtia tidak memberikan respon apa-apa.
"Heh, betah amat meluk. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan lah."
Akhtia masih tetap diam.
"Tia. Kamu tidur? Ya elaaah, kayak bocil aja sih habis mewek langsung molor. Minggir weee."
Dewa menggerutu sendiri. Mau tidak mau dia melepaskan pelukan Akhtia sendiri. Dengan sangat perlahan, Dewa membenarkan posisi tidur Akhtia. Menaruh kepala Akhtia di atas bantal.
"Aku gak tau hidup kamu di masa lalu seperti apa, tapi apa sesakit itu?" tanyanya pada Akhtia yang tertidur lelap.
Dipandanginya wajah Akhtia yang mungil. Matanya sembab karena menangis cukup lama. Bahkan, dari ujung mata Akhtia ada tetesan air mata yang keluar. Dewa mengusapnya.
Lembut.
Wajah Akhtia sangat lembut saat tangan Dewa menyentuhnya.
Dada gue kenapa woiiii.
Dewa mengusap-usap dadanya yang kembang kempis tidak karuan, dengan irama yang cukup cepat dari biasanya.
Tidak ingin sesuatu terjadi, Dewa segera berpaling. Berusaha memejamkan mata, sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1