Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Ojol?


__ADS_3


Sehari setelah Airlangga wisuda, Raden mengajak keluarganya untuk makan siang bersama di sebuah restoran mewah.


"Selamat ya, Bang."


"Makasih, Dek."


"Bunda bangga sama kamu, Bang. Mana keluar langsung dapat kerja. Hebat banget tau."


"Jangan terlalu muji gitu, Bun. Abang jadi malu lah."


"Tapi bener apa kata bunda kamu, papa aja bangga. Tadinya papa mau minta temen papa biar kamu kerja di kantor beliau, ternyata kamu malah dapat kerja di tempat yang lebih bagus. Selamat, ya. Papa bangga sama kamu, Nak."


"Makasih, Pah."


"Oh, iya. Gimana sekolah kamu, put?"


"Biasa aja, Pah."


"Masaaa ...." Akhtia meledek.


"Kakak ih!"


"Puput semangat dong, Pah. Dia udah punya crush di sekolahnya. Mana katanya pinter banget orangnya. Udah gitu --"


Puput membungkam mulut Akhtia.


"Iya, Pah. Dia--". Akhtia masih mencoba berjuang menghindari tangan Puput untuk memberitahukan rahasia Puput.


"Kakak gak lucu!" Puput kesal.


"Ha ha ha. Iya, iya." Akhtia mencolek dagu Puput, gadis itu langsung berpaling. Airlangga kehilangan sedikit kebahagiaannya saat mendengar candaan Puput dan Akhtia. Selera makannya hilang seketika.


Raden dan Hasna sibuk menggoda Puput, pun dengan Akhtia. Mereka mengabaikan Airlangga dan juga ... Dewa.


Dewa hanya tersenyum sinis mendengar jika Puput sudah memiliki crush. Dia memotong-motong steak tanpa sedikitpun memakannya.?


"Abang anter sekolah mulai hari ini."


"Kenapa? Enggak ah, nanti ada yang liat gimana?"


"Kenapa memangnya? Salah kalau ada kakak yang nganter adiknya sekolah?"


"Enggak, bukan itu. Tapi nanti temen-temen jadi tau aku siapa."


"Kita naik motor satpam. Kita pinjem aja dulu, dan bilang sama temen kamu kalau aku ini tukang ojek."


Puput tertawa.


"Akal Abang tuh ada-ada aja ya, aneh."

__ADS_1


"Segitunya bro pengen banget nganter Puput. Emang Lo bisa bawa motor?" tanya Dewa sinis.


"Bisa lah."


"kenapa gak sekalian daftar jadi ojol aja biar penyamarannya sempurna."


"Nah, ide bagus itu. Pah, beliin aku roda dua ya. Gak usah yang mahal-mahal, yang murah aja."


"Eh, Bang. Ojol sekarang motornya bagus-bagus tau. Kenapa nyari yang murah?"


"Ya kalau aku pake motor papa, keliatannya aneh banget kali, Dek."


"Ya bukan motor papa juga, masa iya ojol bawa BMW. Gabut banget. Maksud aku tuh beli motor yang level menengah aja. Hayabusa, atau H2, atau ...,"


"Ngadi-ngadi." Airlangga memotong ucapan adiknya, Akhtia. "Aku minta motor biasa aja, Pah."


"Papa setuju. Papa lebih tenang kalau Puput kamu yang antar jemput ketimbang naik angkutan umum. Nanti sore siang papa beliin motornya."


"Tapi, Bang. Kamu kan mulai kerja, masa mau anter jemput Puput? Kerjaan kamu gimana? Anak sekolah pulangnya siang, sementara kamu kan sore."


"Abang akan usahakan, Bun. Kalau gak bisa, ya mungkin Abang minta jemput yang lain aja."


"Aku pengangguran, lebih baik aku aja gak sih?" Dewa mengajukan diri.


"Lo kan kerja juga."


"Gampang lah, perusahaan sendiri ini."


"Eh, kenapa memangnya?"


"Kalian berdua kenapa sih rebutan pengen nganter Puput? Orang bisa curiga kalian lagi merebutkan gebetan tau gak sih?"


"Enggak!" Airlangga dan Dewa serempak menyangkal ucapan Akhtia.


"Aku sih makin curiga."


Airlangga dan Dewa salah tingkah. Mereka berdua berusaha menenangkan dan mengendalikan diri.


"Tia ... jangan ngomong seperti itu. Gak baik. Lagian kalian itu sodara, mana bisa saling suka sebagai lawan jenis."


"Maaf sebelumnya, tapi kan Puput bukan darah daging papa. Emmm, ini, sih maaf-maaf ya bukan gimana-gimana tapi Puput sama Abang bisa menikah kan?"


"Hukum agama mengizinkan, tapi restu papa tidak! Oke, mumpung lagi dibahas, ini peringatan untuk kalian semua, di rumah tidak akan ada status yang berubah. Kalian semua anak papa, titik."


Akhtia mengangguk meski bibir bawahnya maju beberapa centi.


"Kenapa malah bahas gituan sih. Aku ini masih mau sekolah, mau kuliah, belum mau mikirin pacaran. Oke lah, aku punya temen cowok yang lebih deket dari temen yang lain, tapi apa salahnya? Dia bisa dijadikan teman diskusi yang baik."


"Bunda setuju. Kamu gak apa-apa Nak kalau punya crush di sekolah, pacar pun tak apa. Masa muda kamu harus berwarna tapi ... inget harus ada batasan. Kalau sekedar teman dekat yang bisa membuat kamu jadi lebih baik, why not."


"Cieee yang udah dapet lampu ijo buat pacaran." Akhtia meledek Puput. Mereka bertingkah seperti kucing dan tikus.

__ADS_1


Hasna menyuapkan nasi goreng terkahir nya sambil melirik Airlangga yang sedang mengaduk teh nya, mengabaikan sarapan yang masih setengah porsi tersisa.


"Aku berangkat, ya." Puput pergi lebih dulu karena dia harus naik angkutan umum, waktu yang dia butuhkan untuk sampai ke sekolah jauh lebih lama.


Bertemu dengan sahabat, menyiapkan alat tulis dan sedikit berbincang membahas tugas rumah yang diberikan guru kemarin.


"Selamat pagi anak-anak."


"Pagi, Pak."


"Eh, itu baju Pak Rizal kenapa kucel banget ya. Gak digosok apa gak dicuci?" Imas berbisik.


"Gak dicuci kali."


"Itu baju lama. Makanya lusuh," ucap Puput.


"Masa sih?"


"Sssst, udah. Kita bahas nanti aja, sekarang dengerin dulu aja Pak Rizal ngomong."


"Sejak dulu sekolah ini sering mengadakan acara amal, katanya."q


"Kok katanya, sih, Pak?"


qYa kan saya juga baru di sini, sama seperti kalian."


"Oh, murid baru juga."


Mereka semua tertawa.


"Biasanya amal itu berupa pembagian makanan ke orang-orang yang ada di sekitar kita. Misalnya saja tukang parkir, pemulung, atau yang lainnya. Jadi, nanti kita akan patungan sebesar lima ribu, sisanya akan disubsidi oleh pihak sekolah dan donatur."


"Sekolah ini punya donatur juga, Pak?" tanya Puput.


"Tentu saja, meski negeri tapi biasanya ada saja yang menyumbang. Rezeki ya masa ditolak."


Puput seperti mendapatkan ide cemerlang.


"Pak, pak, saya juga keluarga tidak mampu, Pak."


"Huuuu." Riya suara para siswa.


"Nanti akan ada khusus dari pihak sekolah, kami akan memberikan yang sama untuk mereka yang dianggap layak menerima."


"Eh, katanya seru tau. Kita nanti libur sehari, kita semua akan dilibatkan untuk acara masaknya. Jadi kita di sekolah dari subuh, tapi yang jadi panitia malah nginep loh."


"Masa?" tanya Puput tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya.


"Ih, put. Kamu hidup di dunia mana sih? Sekolah ini emang terkenal tau."


Ya gimana gue tau, orang selama ini tinggal di penjara suci. Gumam Puput dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2