Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Tatapan jijik Hasna


__ADS_3

Di sebuah kontrakan elit di tengah kota, seseorang sedang berbaring di atas tempat tidurnya yang nyaman. Aroma terapi yang wangi, semakin semerbak saat tertiup AC. Nuansa cokelat dan krem membuat suasana terasa begitu nyaman.


Tubuh seorang pria yang kekar dengan perut bak roti sobek terlihat masih segar setelah dibersihkan di bawah guyuran shower air hangat. Rambutnya masih terlihat setengah kering. Dia berbaring dengan kedua tangan sebagai bantal.


"Sialan!" umpatnya.


"Kenapa Raden harus masuk terlebih dahulu? Apa dia juga ingin mencicipi tubuh sintal janda muda itu? Ck ck ck!"


Dia menatap langit-langit yang sudah dipenuhi oleh bayangan tubuh Hasna, leher jenjang Hasna dan bibir Hasna yang menggoda.


"Aaaah, aku bahkan hanya bisa menikmati bayangannya saja. Mira, Mira, aku bahkan tidak bisa merasa puas memakai kamu sebagai pelampiasan."


Pria itu berdiri, kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk melepaskan hasrat sambil membayangkan Hasna.


Telpon Hasna berdering beberapa kali, tapi diabaikannya begitu saja.


"Bun, itu ponselnya bunyi terus." Nay mengingatkan.


"Biarin aja, Nak. Telpon dari orang gak dikenal. Ayo, sekarang Nay bobo ya."


Hasna memeluk Nay dan Shaki, menemani mereka tidur setelah Hasna pulang bekerja.


Setelah anaknya tertidur pulas karena dibacakan dongen, Hasna kembali menitikkan air mata. Rasa kecewanya pada Raden membuat Hasna menangis diam-diam.


Ada apa denganku? Aku sudah bertekad untuk tidak berurusan dengan dia, tapi kenapa harus dipertemukan lagi? Hasna, bukankah kamu mau meluapkan dia? Kenapa hati kamu masih merasa sakit? Aku kenapa ya Allah?


Hasna segera menghapus air matanya. Mencoba memejamkan mata meski terasa sangat sulit. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar Raden.


Pagi hari tiba, kepala Hasna terasa sakit karena kurang tidur. Dia menyiapkan sarapan untuk Shaki, memandikan anak-anaknya begitu mereka bangun. Menitipkan Shaki pada Yati, istri seorang ustad yang sudah lama tidak memiliki anak. Lalu mengantar Shaki ke sekolah. Setelah sekolah, Shaki akan pulang ke rumah Yati. Wanita itu sangat senang jika Shaki dan Nay berada di rumahnya.


Hasna menaiki sebuah mobil elf, berhenti di terminal, lalu meneruskan perjalanan dengan angkutan kota. Barulah dia sampai di tempat kerja.


Setelah membayar ongkos, Hasna segera berjalan menuju restoran. Di saat yang sama sebuah mobil putih datang. Ragil. Hasna menunggu Ragil turun untuk memberikan sapu tangan.


"Selamat pagi, Mba."


"Pagi, chef. Chef ini saya mau mengembalikan ini." Hasna memberikan sapu tangan milik chef Ragil.


"Oh, iya. Makasih ya."


"Justru saya yang harus berterimakasih."


"Rumah kamu jauh dari sini? Tadi naik angkot?"

__ADS_1


"Lumayan, chef. Ya sekitar 45 menit."


"Lumayan jauh, ya. Kenapa gak kos atau ngontrak di sekitar sini aja?"


"Nanti gak ada yang jagain anak saya, chef. Terus juga sekolahnya harus pindah, kasian dia baru pindah sekolah masa harus pindah lagi."


"Aaah, iya. Oke, kalau gitu saya duluan ya."


"Iya, Chef."


Ragil pergi masuk mendahului Hasna.


"Mba!" Langkah Hasna terhenti saat mendengar suara Mira.


"Hai." Hasna melambaikan tangan pada Mira yang baru datang.


Mereka pun masuk bersama. Mira dan Hasna pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, memakai seragam restoran.


"Semoga hari ini pelanggan tidak banyak yang datang, ya. Aku agak lelah, Mba. Tanganku sakit cuci piring terus."


"Sama."


Mereka tertawa. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama saat mereka sampai di luar dan ada Raden sedang berdiri.


"Kamu ikut ke kantor saya," ucap Raden menatap Hasna.


"Baik, Pak."


Hasna mengikuti Raden ke kantornya.


"Aduuuh, jangan-jangan Mba Hasna akan dimarahi gara-gara ucapan kami tadi. Lagian ini mulut aku kenapa sih? Masa berharap rumah makan ini sepi, itu artinya pendapatnya juga ilang, kalau bangkrut aku dan yang lainnya bisa dipecat dong." Mira berbicara sendiri sambil memukul mulutnya sesekali.


Hasna berdiri dengan kedua tangan saking bertautan di depan. Sementara Raden duduk di kursinya, menatap kesal pada Hasna.


Dinding kaca kantor Raden bahkan tidak tertutup, semua orang bisa melihat dari luar.


"Ada apa itu? Kenapa pagi-pagi Pak Raden sudah ke sini?"


"Gak tau. Itu kenapa Hasna? Apa dia melakukan kesalahan?"


"Ngeri ya ngeliat Pak Raden marah begitu."


Para karyawan yang melihat sibuk berdiskusi dengan pendapat dan pertanyaan masing-masing tentang apa yang tejadi pada Hasna.

__ADS_1


"Mungkin Mba Hasna kena marah gara-gara ucapan kami di toilet. Aku dan Mba Hasna berharap hari ini tidak banyak pelanggan, dan didengar oleh Pak Raden."


"Pantas saja."


Semua orang membubarkan diri karena jam terus aja berjalan. Mereka harus mempersiapkan segalanya sebelum ada pelanggan yang datang.


"Ada apa? Kamu menghindari saya lagi?"


Hasna bungkam.


"Apa saya membuat kesalahan? Katakan, apa salah saya?"


Hasna masih diam.


"Hasna, katakan. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak angkat telpon saya? Kenapa pesan saya pun tidak ada yang kamu balas? Kamu tau semalam saya tidak bisa tidur memikirkan ini semua!"


Raden meninggikan suaranya.


Hasna masih diam. Dia menundukkan kepalanya, tidak ingin melihat wajah Raden yang sudah telanjur dia curigai.


"Lihat saya!"


Hasna tidak peduli.


"Kalau saya punya salah ... tolong katakan. Kamu jangan diam begini karena saya tidak akan mengerti sama sekali kesalahan saya di mana?"


"Maaf, Pak."


"Saya bukan ingin mendengar kata maaf, kamu katakan saja apa salah saya sampai kamu mengabaikan panggilan saya."


"Maaf, Pak."


"Hasnaaa ...." Raden meremas kepalanya kasar.


"Saya permisi, Pak."


Raden menekan tombol agar kacanya tertutup, segera berlari menghampiri Hasna. Memeluk Hasna dari belakang dengan erat.


Hasna merasa jijik karena dipeluk oleh Raden yang dia anggap telah melakukan tindakan tidak senonoh pada karyawati di sini.


"Ada apa?" tanya Raden melihat sikap aneh Hasna. "Kenapa kamu terlihat jijik pada saya?"


Hasna hanya diam. Dia tidak peduli pada Raden dan pergi berlalu begitu saja. Melihat sikap Hasna, Raden merasa dirinya begitu hina. Melihat tatapan jijik dari mata Hasna, Raden merasa dirinya sangat kotor dan rendah.

__ADS_1


Dia marah, lalu meninggalkan restoran begitu saja.


__ADS_2