Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Perasaan Wartono


__ADS_3

Semenjak hari itu Raden tidak pernah datang lagi ke restoran. meski dirinya begitu marah dan jijik pada Raden tapi tetap saja hati kecil Hasna merindukan sosok laki-laki itu.


Hasna merasa kehilangan setelah hampir dua pekan Raden tidak pernah datang ke restoran.


"Tumben ya big boss tidak pernah datang lagi ke sini?" tanya Riya saat mereka beristirahat karena restoran sepi pengunjung. Mereka memanfaatkan waktu untuk mengobrol bersama di belakang.


"Ini tuh semenjak Mbak Hasna dipanggil bukan sih?" tanya Udin.


"Emangnya mbak Hasna kemarin kenapa dipanggi? kayaknya Pak Raden begitu marah deh." Iwan ikut bertanya.


"Jangan berpikiran aneh-aneh dulu siapa tahu Fara dan sibuk di tempat lain. kan dia kerjanya bukan cuma di sini tapi di rumah sakit juga." Ohim yang mencoba membela.


"Minum?" chef Ragil memberikan segelas jus pada Hasna yang terlihat tertekan.


"Makasih chef." Hasna yang menerima gelas itu.


"Eh, ada pelanggan. Ayo, ayo. Udah ... udah ... udah ... pada bubar." Wartono membubarkan teman-temannya yang sedang asyik ngerumpi. Mereka pun membubarkan diri dan pergi ke tempat kerjanya masing-masing.


"Mbak kamu kelihatannya deket ya sama chef Ragil?" tanya Mira.


"Enggak, Mir. kenapa memangnya?"


"Nggak apa-apa sih cuma nanya aja."


"Cieee kamu cemburu ya?" goda Hasna.


"ih amit-amit oga h banget Aku cemburu sama dia."


Hasna tertawa melihat sikap Mira.


Shif pagi mulai pukul 8 hingga pukul 14.30, Hasna dan yang lainnya puan sudah kembali berganti pakaian.


"Sebelum pulang, kita main dulu aja yuk." Mira memberikan ide saat mereka ada di depan restoran.


"Boleh tuh. Kita belum pernah sekalipun pergi bareng cuma buat sekedar ngopi. Yuk, lah." Wartono mengiyakan ide Mira.


"Ikut lah, pusing juga di rumah diomelin istri mulu." Iwan pun menyetujui.


"Aku juga ikut."


"Aku pun."


Riya dan Udin pun setuju. Mau tidak mau, Hasna pun ikut serta.


"Wah, sepertinya ada yang mau hangout, nih. Gak ngajak?"


"Eh, Chef. Ayo, ikut gabung. Kita mau ngopi di cafe Deket sini." Iwan menawarkan.


"Boleh ikut, nih, saya?"


"Boleh dong, Chef."


"Oke, ayo kita pergi. Biar saya yang traktir kalian semua."


Mereka bersorak gembira.


"Yah, tapi kayaknya motornya kurang satu. Motor aku akan cuma buat satu orang doang. Gak ada jok penumpangnya," ucap Wartono.


"Hadeuuuh, lagian punya motor gak ada manfaatnya bagi orang lain. Masa cuma bisa dinaikin sendiri doang." Mira kesal.

__ADS_1


"Ikut mobil saya aja satu, siapa?"


"Aku nebeng Iwan, deh." Mira menghampiri Iwan.


"Aku sama Udin." Riya mengangkat tangan.


Ragil dan Hasna saling menatap.


"Ya udah, sampai ketemu di tempat ya." Ragil berpamitan pada yang lain, Hasna mengikuti dari belakang.


"Maaf, ya, Chef. Saya merepotkan jadinya."


"Gak masalah. Saya seneng kok kamu bisa ikut saya."


"Saya takut ada yang marah, Chef. Nanti saya kena labrak."


"Siapa? Saya gak ada istri atau pacar. Tenang aja, lagian kita akan gak ngapa-ngapain. Cuma jalan dan itupun banyakan."


"Hah? Chef belum nikah? Jomblo juga? Gak percaya saya, Chef."


"Seriusan. Kenapa gak percaya kalau saya ini jomblo?"


"Yaaa, secara nih, ya. Fisik Chef Ragil itu siapa yang bisa menyangkal dengan ketampanan chef. Postur tubu pun atletis. Mapan, baik, apalagi coba?"


"Sayanya yang gak mau, Hasna."


"Loh, kenapa?"


"Gak ada yang srek. Sekalinya suka sama seseorang, rasanya gak mungkin bisa saya dapatkan."


"Wah, wah. Memangnya wanita seperti apa yang bisa membuat chef insecure gitu?"


"Ya?" Hasna menoleh pada Ragil. Ragil tertawa.


"Gak usah tegang gitu. Bercanda kok. Saya suka sama seseorang sejak lama, tapi dia memilih menikah dengan pria lain. Sampai saat ini saya gak bisa move on."


"Uuuuh, so sweet banget sih. Setia ya mencintai dia yang sudah jadi milik orang. Saya malah sebaliknya, suami saya menikah diam-diam dan punya anak. Parahnya lagi saya tau hal itu setelah suami saya mati. Ngenes banget kan?"


Ragil menatap Hasna sekilas.


Mereka pun sampai di tempat tujuan. Iwan dan yang lainnya sudah sampai lebih dulu.


"Ayo cari tempat duduk yang nyaman." Wartono segera masuk diikuti yang lainnya.



Pramusaji pun datang menghampiri, membawa menu.


"Mau pesan apa?" tanya Ragil pada Hasna yang kebetulan duduk bersebelahan.


"Saya es kopi aja, terserah kopi apa."


"Makanannya?"


"Apa aja deh, gak ngerti juga di sini mana yang enak."


"Oh, oke." Ragil memesan dua minuman dan dua cake.


"Ayo, kalian bebas mau pesan apa saja, berapa aja. Jangan sungkan."

__ADS_1


Mereka bersorak gembira. Memesan makanan dan minuman paling mahal. Hasna menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya.


"Saya permisi sebentar," Mira izin ke toilet.


"Maaf, ponsel saya berbunyi. Saya angkat telpon dulu." Ragil berpamitan pada yang lainnya saat ponselnya berdering.


"Mba, kayaknya chef kita kok perhatian banget ya sama Mba Hasna. Curiga dia suka da," ucap Riya.


"Jangan ngaco." Hasna mencubit tangan Riya.


"Iya kan, kan?" tanya Riya pada yang lainnya.


"Sebagai seksama pria, aku juga bisa mengatakan kalau chef memang menyukaimu, Mba." Wartono membenarkan praduga Riya.


"Kalian udah, deh, Wartono gak usah pura-pura mendukung Riya hanya untuk menarik hati Riya," ucap Udin.


"Loh, memangnya kamu suka sama Riya, Din?" tanya Hasna mengalihkan topik.


"Ih, enggak kok. Aku itu cuma ngasih pendapat."


"Halah, gak usah bohong. Aku juga tau, kamu suka diam-diam nyimpen cokelat buat Riya kan?"


"Berarti cokelat itu dari kamu, Mas Tono?" tanya Riya. Wartono kelimpungan.


"Ih, kalau suka kenapa gak bilang aja terus terang?"


"Memangnya kamu mau terima perasaan aku?"


"Iyalah."


Semua yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Riya. Lalu sejenak kemudian mereka tertawa.


"Ceritanya kalian jadian, nih?" tanya Udin.


"Yaaa, tergantung. Dia gak nembak aku, gimana mau jadian." ucap Riya.


"Tono, ayo tembak. Itu udah dikasih lampu hijau botol."


"Din, emang harus ada kata botolnya ya?" tanya Hasna. Mereka pun tertawa.


"Teman-teman, maaf ya. Aku harus segera pulang." Tiba-tiba Mira datang. Dia seperti sedang buru-buru.


"Mau ke mana, Mir?" tanya Ragil yang juga datang.


"Saya permisi pulang duluan, Chef. Maaf ya semuanya." Mira segera pergi bahkan tanpa mendengar yang lainnya bertanya ada apa, kenapa.


"Dia kenapa, sih? Suka tiba-tiba aneh gitu." Tanya Iwan.


"Entahlah."


Mengobrol sambil ngopi bersama teman itu memang sangat menyenangkan. Mereka bahkan lupa waktu. Setelah puas, mereka pun membubarkan diri dan pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Ini udah malam, saya antar kamu saja ya."


"Gak usah, chef. Rumah saya jauh," ucap Hasna.


"Justru karena jauh saya harus antar kamu pulang. Ayo."


Ragil menarik tangan Hasna menuju mobil, mereka pun pulang bersama.

__ADS_1


__ADS_2