
Setelah menceritakan kesedihannya, Akhtia mulai tenang. Dia bisa bermain dengan Nay. Hasna menatap wajah Akhtia yang masih menyimpan kesedihan. Matanya bengkak dan hidungnya merah. Sesekali air matanya masih mengalir.
Tiba-tiba Raden datang. Dia berdiri di depan pintu tanpa mengatakan apapun. Hasna menatapnya. Lalu Raden pergi.
"Bunda tinggal sebentar, ya. Kalian main di sini dulu."
Hasna meninggalkan Akhtia dan Nay berdua. Menutup pintunya lalu menyusul Raden ke kamarnya.
"Mas ... maaf saya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar. Tadi Akhtia --"
Belum sempat Hasna menyelesaikan ucapannya, Raden membungkam mulut tipis wanita itu dengan bibirnya.
Hasna terkejut bukan kepalang hingga dia membeku tidak bisa melakukan apa-apa. Membiarkan Raden melakukan apa yang dia mau.
Tanpa merasa bersalah, Raden melepaskan ciumannya. Memeluk tubuh Hasna dengan erat.
"Mas, kamu kenapa sih?" Hasna yang mulai sadar mendorong tubuh pria itu menjauh darinya. Raden hanya mundur selangkah.
"Gak sopan tau, Mas!" Hasna membentak.
Bukannya minta maaf, Raden menarik tubuh Hasna. Kembali memeluknya dengan erat. Sekuat apapun Hasna berusaha melepaskan diri, nyatanya tubuh Raden lebih kuat darinya. Semakin Hasna berontak, semakin kuat Raden memeluk.
Hasna ingin berteriak, tapi dia sadar itu akan menarik perhatian orang rumah.
"Mas, lepas!" Hasna berbisik penuh dengan tekanan.
"Biarkan. Biarkan begini sebentar saja, Na."
Hasna yang sudah mulai lelah, akhirnya pasrah, diam dalam pelukan Raden. Hingga ....
"Pah, aku ta--"
Azalea tiba-tiba masuk. Hasna terkejut dan berusaha melepas pelukannya. Namun, Raden semakin menjadi, dia kembali mencium Hasna di depan Azalea. Mata Hasna membulat sempurna.
"Ma-maaf." Azalea segera menutup pintu.
Dengan sekuat tenaga, Hasna mendorong tubuh Raden hingga dia mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar!" Ucap Hasna marah dalam suara nada suara yang rendah. Dia menitikkan air mata karena merasa direndahkan oleh Raden. Bagaimana bisa dia menciumnya di depan orang lain.
Dia keluar dari kamar Raden, berjalan penuh amarah menuju kamar Akhtia. Wanita yang tadi masuk ke kamar Raden ada di sana. Sedang berdiri memperhatikan Akhtia dan Nay yang sedang bermain dengan kedua tangan menyilang di dada nya.
"Nay, ayo kita pulang."
Nay dan Akhtia menoleh dengan tatapan heran. Pun dengan wanita itu yang menatap Hasna dengan rasa tidak suka.
"Kenapa pulang, Tante? Baru sebentar aja di sini udah mau pulang."
"Shaki sebentar lagi pulang sekolah, Sayang. Tante harus menjemputnya. Nanti Tante jemput kalau mau jenguk Puput, oke."
__ADS_1
Akhtia kembali bersedih mengetahui Hasna akan pulang. Dia seperti kehilangan lentera hidupnya mengetahui Hasna akan pergi.
"Ayo, Nay."
Hasna menggandeng tangan Nay keluar dari kamar. Mereka menuruni tangga, berjalan menuju halaman.
"Bu, sudah mau pulang?" tanya Juriah yang menunjukkan wajah sedih.
"Bi, wanita tadi mama nya tia dan Airlangga bukan?"
Juriah mengangguk.
"Dia tinggal di sini, Bu. Sudah cukup lama dia tinggal di sini. Semenjak Bu Azalea di sini, suasana rumah ini jauh berbeda. Nak Akhtia jarang terlihat jika bukan karena dia ingin makan."
Raden datang, dia berdiri di teras rumah. Menatap Hasna dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
"Wah, hebat ya, Bi. Orang-orang kok bisa tinggal di rumah bersama tanpa ikatan apa-apa. Saya, bahkan saya mendapat peringatan dari warga karena seseorang sering berkunjung, mengajak saya pergi dan pulang malam hari," ucap Hasna sambil menatap tajam Raden penuh dengan amarah.
"Tante ...." Akhtia muncul dari belakang Raden, dia berlari menghampiri Hasna. Memeluknya sekali lagi dengan erat seperti enggan ditinggalkan.
"Nanti Tante ke sini lagi buat jemput kamu. Tia harus kuat, harus sabar. Jangan sering nangis nanti jelek. Kalau Adam melihat, dia pasti gak suka lagi sama Tia."
Hasna mencoba menghibur Akhtia.
"Tia harusnya seneng, ada papa sama mama sekarang. Keluarga kalian sudah sempurna. Tia harus bahagia, ya kan?" ucap Hasna sambil bercucuran air mata.
"Tapi, Tante."
Akhtia menangis melihat Hasna pergi dari rumahnya.
"Ini semua gara-gara papah dan Abang. Tia benci kalian berdua!" Akhtia berteriak pada Raden sebelum dia masuk ke rumah.
"Pak, siapkan mobil."
"Baik, Pak.".
Raden segera menyusul mobil Hasna, dia tidak ingin Hasna mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Mengendarai mobil dalam keadaan hari yang tidak stabil.
Namun, Raden kehilangan jejak Hasna. Dia berusaha menelpon, tapi tidak diangkat.
"Cari dulu pak di sekitar sini, saya takut dia kenapa-kenapa."
"Baik, Pak."
"Hasnaaa, kamu ke mana, sih? Mana bawa Nay pula."
"Di sekitar sini gak ada, Pak. Kita susul ajak ke sekolah anaknya, gimana, Pak?"
"Ya sudah, kita ke sana saja."
__ADS_1
"Kalaupun Bu Hasna ada apa-apa, setidaknya kita bisa menjemput anaknya, Pak."
"Ngomong apa kamu ini?"
"Maaf, Pak. Saya cuma semisalkan."
Raden masih berusaha tenang meski hatinya ketar ketir mengkhawatirkan Hasna. Saat di tengah perjalanan, dia melihat mobil Hasna terparkir di sisi jalan.
"Pak, Pak, kita berhenti di depan mobilnya. Dia kenapa ya tuhan."
Mobil Hasna terparkir di pinggir jalan, berbaris dengan satu mobil lainnya. Raden segera turun karena dia pikir Hasna mengalami insiden. namun, dia begitu terkejut saat melihat sesuatu yang tidak dia sangka sebelumnya.
Hasna menangis sesenggukan sambil duduk di atas jalan, dipeluk seorang laki-laki. Sementara Nay ada di dalam mobilnya.
Raden hanya bisa diam melihat kejadian itu, tidak berani menyapa meski dia ingin. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dia terbakar api cemburu melihat pujaan hatinya berada di pelukan laki-laki lain.
Memukul kaca mobil yang ada di sebelah mobil Hasna ada bentuk pelampiasan Raden. kekuatan orang yang sedang cemburu memang tidak main-main. Kaca mobil itu retak, hingga memulai tangannya sendiri.
Melihat mobilnya dirusak seseorang, Dewa melepaskan pelukan Hasna, dia berdiri sambil berteriak.
"Woiiii!"
Hasna langsung menoleh ke belakang, melihat apa yang membuat Dewa begitu marah.
Hasna tentu saja terkejut.
"Eh, Om. Itu mobil saya kenapa dirusak. Aaah, gimana sih?"
"Beruntung mobil ini tidak saya bakar."
"Apa? Kurang ajar banget, bukannya minta maaf malah kurang ajar. Harus diberi pelajaran rupanya."
Hasna mencegah Dewa yang sudah bersiap mau menghajar Raden dengan cara memeluk tubuh Dewa dari belakang, menahan langkahnya yang akan menghampiri Raden.
"Udah, biarin aja, Dewa."
Dewa? Raden teringat kejadian di rumah sodaranya dokter Sinta . Jadi dia adalah dewa?
Melihat tangan Hasna melingkar di tubuh dewa, membuat Raden tidak kuasa menahan emosi. Dia berteriak sekeras mungkin, membuat semua orang memperhatikannya.
"Dasar orang gila, ngapain teriak-teriak." Dewa bergumam. Dewa sudah tenang, Hasna melepaskan pelukannya. Dia berjalan melewati Dewa dan menghampiri Raden.
Hasna menatap mata Raden yang memerah dan berlinang air mata.
"Mulai saat ini, anggap saja kita tidak pernah saling kenal."
Raden pergi meninggalkan Hasna yang hatinya terasa sakit. Dia kembali menangis mendengar ucapan Raden. Hasna sadar, harinya terluka dan menolak saat Raden mengatakan hal tersebut. Dia tidak ingin kehilangan Raden.
"Mas, tunggu. Mas." Hasna mengejar mobil Raden yang mulai melaju.
__ADS_1
"Mas, tunggu dulu. Kamu salah faham, Mas! Maass ....."
Sadar mobil itu sudah tidak mungkin terkejar dengan langkah kakinya yang kecil, Hasna hanya bisa pasrah melihat Raden pergi. Dia menangis sejadinya di pinggir jalan. Tanpa memperdulikan rasa malunya.