
"Ada apa? Kenapa wajah kamu kusut banget? Mikirin apaan sih?"
"Entahlah, kenapa hidupku sepertinya tidak pernah jauh dari masalah."
"Namanya juga hidup, pasti ada masalah. Orang mati aja punya masalah."
"Gimana bisa?"
"Masalah dengan malaikat Munkar dan nankir. Urusan amal."
Raden kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Sin, bisa tolong cek rekam medis Azalea gak? Lihat juga siapa yang memeriksanya."
"Azalea? Emang dia pernah berobat di sini? loh bukannya istrimu itu anti berobat di Indonesia. Wong meriang aja minta berobat ke Paris, shoping."
"Mantan."
"Iya, itu maksudnya."
"Dia datang pagi ini ke rumah, membawa hasil pemeriksaan yang menyatakan kalau dia kanker. Diperiksa di rumah sakit ini."
"Hah? Serius?"
"Masalahnya bukan dia sakit atau enggak, tapi karena dia minta tinggal di rumah, yaaa alasannya ingin menghabiskan waktu sama anak-anak."
"Duh, berasa liat sinteron ya."
"Akhtia menolak keras, melihat Azalea di rumah saja dia marah."
"Iyalah! Bayangin aja, Akhtia nih, ya, datang ke rumah ibunya setelah lama gak ketemu. Oke, mungkin kamu dan keluarga menyembunyikan fakta yang sebenarnya, tapi Azalea sendiri menunjukkan sikap anti sama putrinya sendiri. Ya gimana gak sakit coba itu anak. Ya aku juga pasti gak akan suka."
"Tau lah, pusing pala."
"Ya kalau sendi yang sakit namanya asam urat."
"Ck!"
Santi tertawa.
"Tar aku cari tahu deh ya. Kanker apa emangnya?"
"Entahlah, aku gak teliti liat hasilnya. Males juga."
"Terus keputusan kamu gimana? Ngizinin Azalea tinggal?"
"Tergantung anak-anak. Kalau mereka menerima kehadiran ibunya, it's oke. Gak masalah."
"Kalau mereka akhirnya mengizinkan, kamu sendiri?"
__ADS_1
"Yaaa, no problem."
"Kok bisa? Di dalam kasus ini, kamu loh yang paling sakit karena di khianati istri. Masa fine fine aja gitu nerima dia tinggal di rumah?"
"Semua demi anak-anak. Setidaknya mereka harus punya waktu bersama ibunya."
"Anak-anak? Kenapa gak anak-anak aja yang menemani ibunya di rumah Azalea sendiri. Kenapa harus Azalea yang di rumah kamu? Yaaa kecuali ...."
Raden melirik tajam.
Santi menyeringai seperti kuda.
Entahlah, kenapa aku merasa tidak berdaya melihat Azalea.
Pukul empat sore, Raden tiba di rumah. Begitu masuk tercium aroma yang sangat lezat menyeruak ke seluruh rongga hidungnya.
Namun, dia merasa heran saat melihat Bi Juriah sedang membersihkan lemari kaca.
"Bi? Loh, kenapa ada di sini? Saya kira bibi sedang masak."
"Anu, Pak. Itu ...."
"Eh, Pah. Udah pulang?" tanya Azalea dengan senyum sumringah. Dia menghampiri Raden, mengambil tas kerjanya, lalu berjalan ke atas menuju kamar Raden. Tidak lama dia kembali dan mengajak Raden ke meja makan. Persisi seperti yang selalu dia lakukan dulu.
"Stop!" Raden menarik tangannya.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau semua tergantung anak-anak. Airlangga mengizinkan."
"Apa?" tanya Raden tidak percaya.
"Airlangga mengizinkan aku tinggal di sini, Paaah."
"Mana dia sekarang?"
"Di kamarnya kayaknya, sih."
Raden setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Airlangga.
"Airlangga ... Airlangga." Raden berteriak bahkan saat dia masih berada jauh dari kamar putranya.
Brakkk.
Pintu terbuka.
Airlangga sedang duduk termenung di hadapan layar laptopnya.
"Airlangga ...."
"Aku yang mengizinkan dia tinggal di rumah kita. Ya, itu aku."
__ADS_1
"Why?"
"Apa salahnya, Pah? Hanya sebentar saja kok. Kita bahkan tidak tahu waktu yang dia miliki sebanyak apa? Seminggu kah? Sebulan kah? Setahu kah? Atau besok?"
"Nak, bukan itu maksud papa."
"Aku ngerti. Papa mikirin perasaan aku kan? I'am fine. Aku mohon biarkan dia tinggal di sini menghabiskan sisa waktunya, oke, Pah?"
"Bagaimana dengan Akhtia?"
"Aku akan bicara sama dia. Akhtia pasti mengerti kok."
Raden mengangguk-angguk, lalu pergi.
Anak, ya itulah anak. Raden membenci ibunya karena pergi meninggalkan mereka, itu yang dia tau. Namun, ikatan batin seorang ibu dan anak tidak bisa dihilangkan begitu saja. Melihat wajahnya yang memelas, Airlangga tidak bisa menolak. Juga ... karena dia merindukan sosok seorang ibu. Dia ingin merasakan bagaimana hidup bersama keluarga yang utuh.
Luka, ya, dia memang terluka, tapi bagi Airlangga memaafkan bukanlah soal melupakan tapi agar dia sendiri merasa lebih baik. Membenci itu merupakan hal yang membuat batin kita sakit.
"Aku akan mengizinkan kamu tinggi di rumah ini, tapi jangan pernah masuk ke kamarku sejengkal pun. Ngerti? Kamu tinggal di kamar tamu. Ingat, kita bukan lagi suami istri, ada batasan yang harus kamu patuhi."
"Iya, Pah."
"Satu hal lagi, jangan bersikap baik dan perhatian padaku. Aku tidak butuh itu semua."
Raden meninggalkan Azalea begitu saja dan pergi keluar rumah untuk sekedar mencari angin. Duduk sambil menikmati secangkir kopi dari pedagang keliling. Menikmati udara yang sama sekali tidak segar. Melihat kendaraan berlalu lalang, dan kesibukan orang di malam hari.
Raden ingat dia telah melupakan sesuatu. Akhtia.
"Airlangga, adikmu sudah pulang belum?"
"Ada. Dia mengunci diri di kamar."
"Biarkan saja. Dia juga butuh waktu untuk berpikir."
"Iya, Pah. Papah di mana sekarang?"
"Lagi minum kopi di alun-alun. Mau ke sini?"
"Enggak, aku mau istirahat."
"Oke, good night, Boy."
"Bye, Pah."
Raden mengucek kedua matanya dengan satu tangan. Mengusap wajahnya kasar, lalu berbaring di atas bangku taman.
"Bahkan langit pun tahu bagaimana perasaanku saat ini."
Raden menikmati tetesan air yang semula lembut berjatuhan di wajahnya. Semakin lama semakin deras hingga tubuhnya basah kuyup.
__ADS_1