Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Keheningan


__ADS_3

Kedua manik-manik mata Varrel terkejut, sorot matanya seketika berubah menjadi dingin tanpa ekspresi apapun. Pandangannya pun beralih ke sembarang arah.


Sekilas mata Olif melirik kearah suaminya lalu setelah itu kembali teralih kearah wanita cantik dengan rambutnya yang bergelombang sedang terbaring lemas di atas ranjang. Wanita yang itu sedang bersandar di headboard.


Bibirnya yang merah muda terlihat sedikit pucat tapi begitu menggoda. Alisnya yang tipis dan matanya berbinar-binar menata kearah laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suami orang.


"Varrel." ucap wanita itu dengan nada pelan tapi sangat jelas terdengar di telinga semua orang.


Matanya seketika berbinar membendung kan air mata siap terjatuh.


Semua pandangan mata langsung teralih kearah Varrel. laki-laki itu membalikkan badannya cepat diikuti dengan gerakan kaki yang ia layangkan berniat keluar.


"Varrel tunggu." suara wanita itu terdengar begitu parau. Pipi putihnya kini sudah sepenuhnya basah karena rintikan air mata yang sudah tidak bisa berbendung lagi.


Sesaat Varrel berhenti tapi setelah itu kembali melanjutkan langkahnya.


Olif, Viki dan juga Justin dibuat binggun akan hal itu. Pikiran mereka langsung bertanya tanya dengan jalan pikiran masing-masing.


Kenapa dia bisa tau nama mas Varrel, apa mereka berteman??


Kening Olif berkerut untuk sesaat dia terdiam di tempatnya matanya yang kecoklatan menatap kearah Viki.


Viki yang tau akan lirik kan itu segera mengangkat kan kedua bahunya secara bersamaan. Mengisyaratkan kalau dia benar-benar tidak tau.


"Aku pergi keluar sebentar." pamit Olif mendapatkan anggukan cepat dari Viki.


"Varrel hikkk maafkan aku. Aku sungguh menyesal." teriak wanita itu, akhirnya tangisanya pecah dengan sendirinya.


Viki dan Justin saling melemparkan pandangan, ke-dua tidak tau harus berbuat apa.


Dengan penuh percaya diri Viki menghampirinya. "Bagaimana keadaanmu...??"


Tidak ada jawaban ataupun lirikan mata dari wanita itu selain menagis tersedu-sedu. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sementara diluar Olif mempercepat langkah kakinya mengimbangi langkah Varrel yang lebar.


"Mas tunggu." ia akhirnya berhasil menangkap tangan Varrel, menghentikan langkah laki-laki berwajah Asia tersebut.


"Mas kenapa kamu pergi...??" tanya Olif cepat tapi dengan nada mengintimidasi. Kedua biji bola matanya tak berkedip menatap dalam-dalam kearah mata coklat suaminya.


"Ayo kita pulang." ucap Varrel membalikkan tangan Olif, menggenggam erat.

__ADS_1


"Tapi Mas."


"Suuttttt. Biar Viki dan Justin yang akan mengurusnya. Kita kembali pulang saja, bukankah kamu bilang kamu ingin bertemu dengan Kakak mu."


"Iya, tapi kan--" belum selesai Olif berbicara Varrel sudah mencium bibir ranum Olif. Melum** untuk beberapa saat.


"Kita ke rumah kakak mu ya." tutur Varrel.


"Iya." Olif merasa seperti ada yang aneh dengan suaminya itu, tapi dari pada membuat masalah lebih baik menurutinya saja.


***


Ceklek.


Seorang pria bertubuh tinggi dan mengunakan jas putih yang dilengkapi stetoskop bergantung di lehernya. Rambutnya yang pirang nam lurus sedikit tergusur ke depan berhasil membuat pria itu terlihat tampan sempurna.


"Halo." ucap pria itu yang tak lain adalah dokter yang merawat model Grammy award tersebut.


"Dokter." Justin yang tau siapa dokter itu segera tersenyum ramah.


"Selamat siang pak Justin." sapa sang dokter sembari melangkah.


"Siang juga Dok."


Liora yang mendengar suara sang dokter segera mendongkrak kan kepalanya lalu berkata.


"Hik... Dok. Kapan saya bisa sembuh Dok, saya ingin bertemu dengan seseorang Dok. Saya ingin segera sembuh, tolongin saya Dok." ucap Liora mengatupkan kedua tangannya diikuti dengan air mata terus mengalir.


"Tenang Nona Liora. Tenang, anda harus tenang. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan anda." sahut sang dokter.


"Kapan Dok. Kapan saya bisa sembuh, saya ingin segera sembuh Dok hikkkk tolongin saya." Liora meronta ronta menarik jas sang dokter.


Viki dan Justin yang melihat itu segera memisahkan dokter dan Liora.


"Nona, Nona tolong tenang tenanglah Dokter pasti akan melakukan yang terbaik buat Nona." ucap Viki entah dia sadar atau tidak dia sudah memeluk Liora. Membenamkan wajah Liora ke bidang dada bugarnya.


"Hikkkk. Varrel... maafkanlah aku, aku minta maaf hikkkk Varrel." Liora menumpahkan semua kesedihannya hingga membuat baju yang di kenakan Viki basah.


"Dokter apa yang sebenarnya terjadi, kapan Nona Liora sadar dari komanya. Bukankah kemaren dokter memberitahukan Justin kalau Nona Liora koma." ucap Justin setelah sesaat ia membawa dokter yang merawat Liora keluar dari ruangan.


"Sebelum saya minta maaf pak Justin, saya lupa mengabari anda kalau Nona Liora sudah siuman. Tadi malam tepat pukul sembilan Nona Liora sadar dari koma."

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang Dok, kapan Nona Liora bisa sembuh dan menjadi model lagi...??" tanya Justin terdengar mendesak.


"Saya belum bisa memastikannya, untuk sembuh mungkin satu Minggu lagi Nona Liora bisa langsung pulang setelah melakukan cek up rutin. Tapi kalau untuk menjadi model lagi, saya rasa itu butuh waktu setahun." jelas sang dokter berhasil membuat jantung Justin berdetak hebat seketika.


"Satu tahun. M-Maksud Dokter...??"


"Kaki sebelah kanan Nona Liora mengalami keretakan yang cukup parah akibat benturan keras mobil. Sedangkan tangannya yang sebelah kiri mengalami cedera ringan. Maka dari itu sulit bagi Nona Liora untuk bisa kembali menjadi model."


"Apa??"


*****


Di perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi kecuali keheningan yang terus terjadi. Baik Varrel maupun Olif, keduanya berada didalam pikiran mereka masing-masing.


Sesekali Olif melirik kearah Varrel, menatap wajah suaminya itu dari samping. Terlihat jelas sekali kalau Varrel sedang gelisah, tatapan dingin yang ia layangkan ke depan menatap fokus jalan raya.


Sampai akhirnya mereka menghabiskan waktu 34 menit di perjalanan tanpa berbicara apapun, hingga tiba di rumah Yuna.


Yuna yang mendengar suara mobil masuk kedalam rumahnya segera ia berlari kecil mencoba melihat.


Senyuman langsung tersungging begitu saja di bibirnya saat manik-manik matanya menatap sosok wanita yang sudah dari ia tunggu-tunggu sedang keluar dari mobil.


"Olif."


"Kak Yuni."


"Aaaaaaa. Akhirnya kamu datang juga aku sudah tidak sabar menunggumu." Yuni memeluk singkat adik semata wayangnya sembari membisikkan sesuatu.


"Aku ingin melihat bagaimana wajah asli suamimu apakah lebih tampan dari suamiku atau tidak." bisik Yuni menampakkan gigi putihnya.


Tak lama setelah itu Varrel pun keluar dari mobil dia segera melangkah mendekati Yuni dan Olif.


"Selamat siang kakak Ipar." sapa Varrel sembari tersenyum manis.


Untuk sesaat Yuni terdiam, dia terpesona dengan ketampanan Varrel yang begitu luar biasa. Ini pertama kalinya ia melihat laki-laki setampan suami dari adiknya ini.


"Teryata kamu lebib tanpa dari pada di foto." tutur Yuni masih tak berkedip.


"Kakak." Olif yang melihat itu merasa cemburu walaupun yang menatap suaminya itu adalah kakaknya sendiri, tapi rasa cemburu tidak mengenal saudara.


Bersambung.....

__ADS_1


- Menaklukan hati Tuan muda.


Bagi belum berkunjung silangkan, itu novel baru 🤗


__ADS_2