Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Semuanya Memang Harus Berakhir


__ADS_3

“Mil, kamu ada kegiatan nanti sore, aku mau mengajakmu menemui kakek”


Mila melihat heran kepada Arya, ‘kenapa dia tiba-tiba mengajakku menemui kakek?’


“nggak, aku nggak ada kegiatan nanti sore, emang ada apa kamu ingin mengajakku menemui kakek?”


“untuk menyelesaikan semuanya, kita memulainya dengan cara yang baik, jadi kita juga harus mengakhirinya dengan cara yang baik pula” ucap Arya yang membuat Mila dan Vanessa sama-sama membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka dengar dari mulut Arya.


deg,,deg,, jantung Mila berdetak berkali-kali lebih cepat, ia terdiam, lidahnya kelu, ia kemudian menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca,


‘mungkin aku salah pernah berniat membuka hati untuknya, jika dia memang mau pergi, nggak apa-apa, emang ini yang aku inginkan dari awal, masih ada bang Arnes yang setia menungguku’ batin Mila mencoba menguatkan hatinya,


“maksudmu apa Arya?” tanya Vanessa penuh penekanan, ia tidak percaya bahwa kalimat tersebut akan keluar dari mulut Arya,


“aku tak ingin merebut kebahagiaan orang lain kak” ucap Arya pelan, sejatinya ia juga berat jika harus kehilangan Mila, 3 bulan sudah lebih dari cukup baginya untuknya membangun rasa cinta untuk Mila, namun apa daya, hatinya begitu sakit ketika mendapati Mila berduaan dengan laki-laki lain, dan bahkan istrinya itu mengatakan mencintai orang lain tanpa sedikit pun memikirkan perasaannya,


‘jika bertahan akan terus membuat kami luka, lebih baik berpisah, lukanya hanya sesaat, setelahnya kami bisa mencari kebahagiaan kami masing-masing.’ batin Arya.


Mila mengeluarkan ponselnya dan kemudian ia mengeluarkan simcard Arya,


“ini simcardmu, nanti sore kita bicarakan semuanya dengan kakek” ucap Mila yang berusaha sedatar mungkin, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju kamarnya tanpa melirik Arya.


Sementara Arya melihat bingung dengan sikap Mila,


'kenapa dia seperti ini, bukankah seharusnya dia antusias dan semangat, aku bahkan telah membuka jalan untuknya bersama dengan laki-laki itu, dan itu simcardku, kenapa ada sama dia? apa dia telah melihat nama kontak itu?’ batin Arya yang bingung.


“jangan gegabah mengambil keputusan Arya, jangan sampai karena emosi sesaat, kamu memutuskan sesuatu yang akan menghancurkan kalian berdua” ucap Vanessa dengan nada kecewa.


“memang ini yang diinginkan Mila dari awal kak, aku saja yang terlalu egois mengekangnya dalam hubungan ini, seharusnya aku sadar bahwa dia memang tidak menginginkanku dari awal” ucap Arya, ia kemudian bangkit dan meninggalkan Vanessa sendirian disana,

__ADS_1


‘huh, mereka yang bermasalah, malah aku yang ditinggal sendiri’ kesal Vanessa karena ia sekarang hanya seorang diri disana.


Setelah Arya pergi, Vanessa kemudian bangkit menuju kamar Mila, ia kemudian masuk tanpa mengetuk pintu kamar itu, dan ia mendapati Mila yang terisak sesegukan terduduk lemah di tepi ranjangnya.


“Mil, kamu kenapa sayang?” ucap Vanessa lembut sembari duduk di samping Mila.


Mila yang mendengar suara Vanessa segera menghapus air matanya, wajahnya yang sedih segera ia ubah sedatar mungkin.


“nggak apa-apa kak, aku hanya senang karena apa yang aku inginkan akan segera terwujud”


“kakak tahu kamu bohong, ia sekarang masih milikmu, pertahankan apa yang seharusnya kamu pertahankan sayang, dan lepaskan apa yang seharusnya kamu lepaskan” ucap Vanessa sembari mengelus lembut bahu Mila,


“aku harus melepasnya kak, kebahagiaanku bersama bang Arnes tengah menanti kami,” jawab Mila sendu, dan air mata itu tak bisa lagi ia tahan, perasaan takut kehilangan itu kembali merasuk dalam menusuk hatinya. Ia segera memeluk Vanessa dan menyembunyikan wajahnya di dada Vanessa,


“Mil, semuanya menginginkanmu bersama Arya, kalian saling menyayangi satu sama lain, kalian hanya perlu terbuka dengan perasaan kalian masing-masing”


“nggak kak, semua memang harus berakhir, aku dan bang Arnes seharusnya dari awal berjuang mendapatkan restu kakek kak, dan semuanya pasti tidak akan seperti ini sekarang"


*


Arya berjalan keluar dari lift menuju ruangannya, ia berjalan santai sembari menyapa pegawai kantornya yang ia temui, ketika masuk ruangannya, ia segera duduk di kursi kerjanya dan segera membuka laptop,


Ia kemudian melihat beberapa bangunan rumah modern, karena ia ingin merancang rumah khusus dan unik untuk seseorang,


Ketika sedang asyik membaca beberapa artikel dan melihat beberapa gambar bangunan rumah, pintu ruangannya terbuka, Ari dan Arbi masuk ke dalam ruangan itu dan langsung duduk di sofa,


“Arya, kesini” ucap Ari dengan nada dingin pada Arya, namun seperti biasa Arya hanya diam tidak menanggapinya,


“lo nggak dengar gue bilang apa?” ucap Ari dengan nada dingin yang penuh penekanan.

__ADS_1


untuk sejenak Arya melihat ke arah Ari dan Arbi,


‘dia kenapa? apa ada masalah besar?’


Arya kemudian bangkit, ia segera berjalan menuju Ari dan Arbi, sebagai sahabat, ia telah mengenal sikap Ari, jika Ari telah berbicara dengan nada dingin yang penuh penekanan, berarti ada masalah serius yang harus segera di selesaikan, jika diabaikan, maka masalah akan menjadi lebih runyam.


“ada apa?” ucap Arya yang duduk di sofa seberang Arbi, Ari kemudian berdiri di sisi Arya, dan kemudian ia menjatuhkan beberapa foto di meja sofa itu,


“lo harus jelaskan ini semua” ucap Ari masih dengan nada dingin,


Arya kemudian mengambil beberapa foto yang dilempar Ari di atas meja sofanya, dan deg,, deg,,, matanya melotot tajam melihat foto-foto itu,


“gue udah tahu semuanya, sekarang lo jelaskan semuanya tanpa ada kebohongan sedikit pun” ucap Ari masih dengan penuh penekanan,


Arya melepas nafas kasar, ia sejenak melihat ke arah Arbi yang duduk di depannya, tampaklah olehnya wajah Arbi yang dingin menatap tajam kepadanya,


‘orang Ari benar-benar bekerja sempurna, aku bahkan tidak menyadari kehadiran mereka selama ini’ batin Arya.


Kemudian Arya pun mulai bercerita tentang pak Sarman yang pertama kali menghubunginya saat mendaki di gunung Slamet, semuanya di ceritakan oleh Arya tanpa berbohong sedikitpun, namun ia tetap menyembunyikan permasalahan pernikahannya dengan Mila.


“nice, kamu benar-benar menyembunyikannya dari kami dengan sempurna” ucap Arbi sinis pada Arya,


“Apa lo ingin menghancurkan perusahaan ini?, sekarang lo ada pihak mana, pihak kita atau mereka?” tanya Ari dingin, ia takut jika kehadiran Arya akan menjadi boomerang bagi perusahaannya yang sedang bersaing dengan Cipta Rakarsa, perusahaan keluarga Mila.


“Mana mungkin aku menghancurkan apa yang kita bangun bersama, mereka nggak tahu sama sekali aku di perusahaan ini,” jawab Arya,


“lo yakin” tanya Arbi dengan nada dingin


“yakin, gue sudah pastikan itu” jawab Arya mantap.

__ADS_1


“kalau begitu, lo sendiri yang harus menghancurkan perusahaan itu, buktikan pada kami kalau lo tidak berkhianat disini”


__ADS_2