
Di kamar yang di tempatin Varrel, ya. Karena kamar yang di tempati Varrel sekarang bukanlah kamarnya melainkan kamar tamu. Sementara kamarnya berada di lantai atas.
Dikarenakan tadi Varrel pingsan duluan sebelum laki-laki itu menuntut ke kamarnya, Viki yang berada di sampingnya pun dengan sigap merangkul tubuh Varrel lalu membawanya ke kamar terdekat. Kamar itu bersebelahan dengan kamar Bi Jumi.
Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Olif, Viki dengan gerak cepat mencari informasi sedetail mungkin agar pikirannya tidak terganggu lagi dengan kebenaran Olif yang tiba-tiba saja menjadi model Grammy award. Rasa penasarannya semakin memucat.
Viki meminjamkan laptop Varrel, dia memintanya kepada Bi Jumi. Setelah di berikan makan dengan sangat tidak sabar Viki membukakan apk Googling. Tangannya yang sangat lincah dalam menekan keyboard laptop membuat Viki dengan sangat mudah mendapatkan informasi tentang Olif.
Semua artikel yang terkait dengan Olif tidak luput dari manik-manik mata Viki. laki-laki blesteran bule itu tidak melewatkan apapun mengenai istri sahabatnya itu. Baik semua foto, biodata dan bahkan Video fashion show.
Semua itu dibuka oleh Viki secara bergiliran. Keningnya berkerut tak kala membaca artikel yang paling bawah. Yang mengatakan kalau Olif adalah model pengantin Grammy award.
Model pengantin, itu berarti Olif hanya sementara saja menjadi model.
Khukkk..... Suara seseorang terbatuk membuat Viki segera mengalihkan pandangannya dari laptop menatap ke sumber suara.
"Varrel." ucap Viki sembari beranjak bangkit sofa yang tak jauh dari ranjang.
"Vik, Kamu di sini...??" tanya Varrel diikuti dengan alisnya meninggi sebelah. Merasa heran dengan keberadaan sahabatnya.
"Apa badanmu masih terasa lemah..??" tanya balik Viki sembari duduk dipinggiran ranjang agar dia bisa dengan mudah memeriksa kesehatan sahabatnya, apakah Varrel demam atau tidak.
"Iya, kepalaku juga sangat pusing." jawab Varrel singkat.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Bi Jumi untuk membawakan makanan untukmu. Kau sudah tiga hari belum makan." Viki langsung bangkit memanggil Bi Jumi, tak berlangsung lama dia pun kembali dengan membawakan segelas air putih dan obat vitamin yang di berikan dokter tadi.
__ADS_1
"Minumlah vitamin ini. Agar tubuhmu bertenaga." tutur Viki sembari meletakkan gelas dan vitamin itu di atas nakas dekat Varrel. lalu setelah itu dengan sangat hati-hati Viki membantu Varrel bersandar di headboard yang berlapis kapas putih.
"Vik. Kau tau, aku sangat menyesal karena tidak mempercayai mu dan Olif waktu itu. Seharusnya aku mempercayai kalian bukannya Seli. aku benar-benar bodoh, aku laki-laki bodoh yang pernah ada. Padahal Olif sudah memperingatkan ku sewaktu di Paris untuk mempercayainya tapi apa, aku malah ke-makan omongan Seli." celutus Varrel dengan nada lesu dirinya sudah sangat putus asa sekarang.
"Hemmm. Rel, sebenarnya itu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu. Kalau aku berada di posisimu mungkin aku pasti akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang kamu lakukan atau bahkan lebih dari itu. Suami mana yang tidak marah ketika melihat istrinya sendiri tidur seranjang dengan pria lain. Kalau aku jadi mu mungkin aku sudah membunuh pria yang tidur dengan istriku." sahut Viki.
"Tapi ini beda Vik."
"Aku tidak bisa hidup tanpa Olif. Dia satu-satunya wanita yang aku Cintai di dunia ini. Kalau dia tidak ada untuk apa aku hidup." timpal Varrel lagi.
"Hey, apa yang kau bicarakan. Istrimu baik-baik saja. Aku sudah menemukan dimana keberadaan istrimu. Kita akan menemuinya."
"Apa??, sungguh. Kau menemukan dimana istriku??." Varrel langsung sontak menatap berbinar kearah sahabatnya itu. Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja ketika mendengar keberadaan istrinya yang sangat ia rindukan.
"Dimana. Dimana istriku?? katakan, aku harus segera menemuinya." Varrel dengan tergesa-gesa bangkit dari ranjang.
"Siapa bilang gue enggak kuat, enak aja. Gue adalah cowok perkasa. Mau lihat." ucap Varrel yang langsung push up memperlihatkan kalau dirinya sehat walafiat.
"Tuan muda..." Bi Jumi yang baru saja masuk pun langsung terkejut bukan main saat melihat Varrel sedang melakukan push up di lantai.
"Bi Jumi."
"Aduh Tuan, apa yang anda lakukan. Jangan buat jantung Bibik berhenti, Tuan masih sakit kenapa melakukan itu." protes Bi Jumi dengan gerak cepat meletakkan apa yang sudah ia bawa dari dapur. Ya, Bi Jumi membawakan sup ayam yang baru saja ia buat. Ia meletakkan sup itu di atas nakas samping Varrel.
Varrel tersenyum kecil, dia tidak menjawab melainkan melanjutkan aksinya.
__ADS_1
"Ok.. Ok.. Gue yakin sekarang kalau loe udah sehat. Jadi tidak perlu melakukan hal gila itu lagi."
"Kalau begitu cepat katakan dimana keberadaan istriku..??" tanya Varrel yang sudah sangat tidak sabar sembari mengehentikan aktifitasnya.
"Dia ada di Australia---"
"Australia." kening Varrel sedikit berkerut namun beberapa saat kemudian ekspresinya kembali seperti biasa.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang juga. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Gue sudah hampir mati merindukan Olif." sambung Varrel lagi, ia hendak melangkah tapi baru selangkah dirinya sudah dihentikan oleh Bi Jumi. Wanita tuan itu berdiri tepat didepan majikannya.
"Mau kemana hah, sebelum makanan itu habis Taun muda enggak boleh kemana-mana. Kalau Tuan masih memaksa untuk pergi maka Tuan harus melangkahi mayat Bi Jumi terlebih dahulu. Kalau tidak maka jangan harap kalau Bibi akan membiarkan Tuan pergi dari rumah ini." tegas Bi Jumi mengacak kan pinggangnya.
Kedua biji mata laki-laki tampan itu sontak melengot bukan main. Diiringi dengan keterkejutan. Bagaimana tidak, seorang asisten rumah tangga berkata seperti itu, apalagi asisten tersebut merupakan asisten yang baru bekerja.Varrel dan Viki saling menatap.
"Bi Jumi." Ucap Viki sembari menelan salivanya kasar diikuti dengan ajukan jempol.
Bravo...
"Tidak bisa Bi, Varrel harus segera menemui Olif. Emang Bibi tidak mau melihat Olif kembali pulang ke rumah ini." ucap Varrel berusaha meluluhkan Bi Jumi. Sebenarnya dia sangat malas memakan makanan apapun sekarang, awalnya sih lapar namun setelah mendengar keberadaan Olif Varrel tiba-tiba saja sebuh seketika. Rasa kangennya memulihkan kondisi tubuhnya.
"Tuan Pilih makan atau tidak keluar sama sekali." Bi Jumi tetap pada pendiriannya.
"Hahhhh... Baiklah. Varrel akan menghabiskan makanan yang Bibi bawa." Varrel sudah tidak punya pilihan lain sekarang dari pada dia harus melawan wanita tua yang berstatus asisten rumah tangganya.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf telat 🙏 soalnya bab ini susah kali. banyak kali yang perlu diperbaiki. 😁 yang penting jangan lupa tinggalkan like dan komen dan berdiri hadiah agar author semangat 🥰🥰🥰