Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Cuma Mau Semalam


__ADS_3

Mila menghisap susu yang menjadi menu sarapan rutinnya setiap pagi, disana Vanessa juga ikut sarapan, jika biasanya Vanessa hanya minum teh hangat, untuk hari itu ia ikut menikmati nasi goreng yang ia masak sendiri, itu dilakukannya untuk menghormati mertuanya yang juga sarapan saat itu,


Bu Saniah mulai melahap nasi goreng yang telah dihidangkan untuknya,


“Apa Irman tidak pulang semalam?” tanya bu Saniah yang memecah keheningan pagi itu,


“tidak bu, sepertinya dia lagi sibuk, ibu kan tahu sendiri perusahaan lagi kritis sekarang” jawab Vanessa lemah,


“dia sama seperti ayahnya, tidak becus mengurus apa-apa, kalau saja kakek kalian tidak sakit, dia tak akan pernah memberikan perusahaan pada Irman,” ucap bu Saniah,


Mila dan Vanessa hanya diam mendengarnya,


“dia juga suka tidur diluar meninggalkan istrinya, bermain dengan perempuan lain, sama seperti ayahnya, bahkan ayahnya yang sudah tua seperti itu masih senang bermain gila dengan perempuan seumuran anaknya” ucap bu Saniah berdecak kesal akan tingkah suaminya.


“ibu” ucap Mila pelan, ia merasa tidak sanggup mendengar kelakuan bejat ayahnya itu,


“seharusnya laki-laki seumurannya tenang di rumah, dan memperhatikan kehidupan anak-anaknya, tapi lihat apa yang ia lakukan” lanjut bu Saniah yang berusaha menahan emosinya.


Vanessa tidak tahu harus bicara apa lagi di depan mertuanya, yang ia rasakan hanya perasaan sakit dihatinya ketika harus mendengar kelakuan suaminya tak ubahnya dengan kelakuan ayah mertuanya,


“maaf bu, seharusnya aku tidak memaksakan hubungan kami dulu, mungkin sekarang bang Irman akan betah di rumah ini, dan akan banyak terdengar suara anak-anak jika dia menikah dengan perempuan itu, bukan denganku” ucap Vanessa dengan mata berkaca-kaca.


“tidak nak, setiap kita memiliki pilihan untuk hidup kita masing-masing, kau telah menunjukkan sikapmu sebagai istri yang baik, putraku saja yang tidak tahu bagaimana cara mensyukuri istri sebaik dirimu”


Satu hal lagi yang membuat Vanessa bertahan disana bukan hanya karena rasa cintanya pada Irman, tetapi juga sikap baik bu Saniah, pak Sarman dan juga Mila kepadanya. Walaupun awal kehadirannya tidak diinginkan keluarga itu, tetapi setelah beberapa bulan ia dan Irman menikah, Pak Sarman, bu Saniah dan Mila mau menerimanya sebagai keluarga, bahkan memperlakukannya tanpa ada rasa benci sedikitpun.


Terkadang ia merasa benar-benar berdosa mendapatkan perlakuan demikian, karena diawal kehadirannya, ia telah merusak rencana perjodohan yang telah disiapkan keluarga itu untuk Irman.


“Mil, kapan suamimu akan pulang, aku sangat ingin sekali berbicara dengannya” tanya bu saniah pada Mila untuk mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau membuat Vanessa sedih jika terus membahas tentang Irman.


deg,,,deg, jantung Mila berdetak kencang, ia bingung harus jawab apa,


“apa dia masih lama diluar kota?, memangnya apa pekerjaannya sekarang sampai harus ke luar kota?” tanya bu Saniah lagi,

__ADS_1


Mila dan Vanessa sama-sama melirik heran pada bu Saniah, ‘apa ibu dan kakek tidak tahu pekerjaan Arya sama sekali?’


“bu, apa ibu dan kakek tidak tahu pekerjaan Arya sama sekali?” selidik Mila,


“kakekmu bilang dia hanya pengangguran, makanya kakek menyuruhnya kerja di perusahaan setelah kalian menikah, tapi dia menolaknya kan” jawab bu Saniah,


Vanessa dan Mila kembali teringat ketika Vanessa meminta Arya bekerja di perusahaan, namun ketika itu Arya menolak dan mengatakan lebih memilih menjadi pengangguran saat itu,


Vanessa dan Mila lebih memilih diam dan tidak mengatakan apapun tentang pekerjaan Arya pada bu Saniah,


‘mungkin dia punya alasan untuk merahasiakan pekerjaannya’ batin Vanessa,


Sebelum bu Saniah pergi, ia kembali mengingatkan Mila agar menghubunginya ketika Arya pulang, ia juga mengingatkan Mila agar tidur sekamar dengan Arya dan memikirkan untuk segera memiliki anak seperti keinginan pak Sarman.


Mila duduk diam di dalam mobil ketika Vanessa mengantarnya ke sekolah, pikirannya tak henti berjalan memikirkan Arya, ada rasa takut yang selalu ia rasakan, takut untuk membuka hatinya untuk Arya dan meninggalkan Arnes, dan di sisi lain ia juga takut Arya pergi dan meninggalkannya,


‘aku terlalu egois dengan semua ini’ batinnya,


“Apa rencanamu hari ini Mil?, apa kamu ingin kembali mencari Arya?” tanya Vanessa membuyarkan lamunan Mila,


“lalu gimana?”


“apa aku tunggu Arya pulang aja ya kak, tapi gimana kalau dia tidak pulang lagi ke rumah kak?” ucap Mila dengan perasaan takut jika Arya tidak lagi kembali kepadanya,


Vanessa melirik sejenak ke arah Mila, ia memperhatikan sejenak wajah adiknya yang terlihat tidak seceria biasanya,


‘apa dia benar-benar kehilangan Arya, atau dia takut kakek akan tahu apa yang terjadi?’


“Mil, boleh kakak tahu seperti apa perasaanmu kepada Arya saat ini?” tanya Vanessa pelan,


Mila sejenak bingung dengan pertanyaan kakak iparnya itu, ia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang, yang ia rasakan hanya takut Arya benar-benar pergi darinya, apakah itu tulus dari hatinya, atau semata takut jika ibu dan kakeknya tahu,


“ntahlah kak, aku sendiri tidak tahu, aku hanya ingin dia kembali dan memperbaiki semuanya”

__ADS_1


“apa kamu membencinya Mil?”


“aku ingin sekali membencinya kak, tapi sampai sekarang aku tidak punya alasan untuk itu, aku rasa aku terlalu egois kepada diriku sendiri” jawab Mila, wajahnya menunjukkan kesenduan hatinya,


“apa kamu mau membuka hatimu untuknya?”


“apa menurut kakak aku harus melakukan itu?”


“kakak hanya merasa kamu akan sangat menyesal jika benar-benar kehilangannya nanti”


Ucapan Vanessa itu seakan menusuk hati Mila, ‘bahkan sekarang pun aku merasa tidak rela dia pergi seperti ini, apalagi nanti jika ia benar-benar pergi dan menceraikanku, padahal dari awal aku sudah sangat ingin bercerai dengannya, tapi kenapa sekarang hati ini tidak rela?’ batinnya


*


Irman sedang asyik menyeruput jus jeruk yang telah ia pesan, begitu juga dengan Arnes yang ada dihadapannya sekarang, ia sedang menikmati kopi hitam kesukaannya,


“Gue benar-benar butuh bantuanmu Nes, perusahaan gue benar-benar kritis” Ucap Irman berharap pada Arnes,


“lo tahukan perusahaan gue juga sulit man,”


“gue benar-benar butuh bantuan Nes, Cuma lo sekarang yang bisa bantu gue”


“lo butuh dana besar buat memperbaiki perusahaan lo,, gue bisa minta bantu agar ayah gue ngasih lo dana” ucap Arnes yang membuat Irman tersenyum senang,


“Tapi ada gantinya, gue nggak mau rugi” lanjut Arnes,


“apa?, lo mau apa dari gue, akan gue kasih semua” jawab Irman mantap,


“Mila, gue mau adik lo”


“lo mau gue pisahkan Mila dengan suaminya, akan gue lakuin, gue juga akan pastikan lo bakal nikah dengan adik gue” Irman menjawab tanpa ada nada ragu di suaranya,


ia begitu yakin bisa melakukan hal itu, karena memang ia tahu bahwa Mila sangat mencintai Arnes, tentu tidak akan sulit mewujudkan itu,

__ADS_1


“hahaha, Irman, gue nggak bakalan nikah sama adik lo, gue udah macarin adik lo 6 tahun, tapi gue belum bisa nikmatin tubuhnya, gue nggak sanggup lagi sabar menunggu, gue benar-benar pengen nikmatin tubuh adik lo itu, gue Cuma mau dengan dia semalam, itu aja, simpelkan” jawab Arnes,


__ADS_2