
Mobil yang dibawa Arya telah sampai di halaman rumah, Arya mematikan mobilnya dan melirik sejenak ke arah Mila yang tertidur pulas di sampingnya. Ia melihat raut wajah kelelahan di wajah istrinya.
‘hari ini benar-benar melelahkan’ batin Arya yang menatap sendu wajah istrinya itu,
‘aku juga takut kehilangan mu Mil, tapi mau gimana lagi, aku juga tidak bisa menerima kenyataan kalau kamu mencintai orang lain, lebih baik sakit melepasmu, dari pada tersakiti oleh keadaan ini terus menerus’ batinnya lagi dengan dadanya yang terasa sesak.
Vanessa keluar dari mobil itu terlebih dahulu, ia kemudian membuka pintu mobil disisi Mila untuk membangunkannya, Arya yang melihat Vanessa hendak membangunkan Mila langsung melarangnnya,
“jangan kak, biar aku yang angkat dia ke kamar”
Vanessa lalu mengangguk dan pergi ke dalam rumah, ia benar-benar lelah hari itu, walaupun yang bermasalah adalah Arya dan Mila, namun tetap saja ia merasa lelah karena ikut bergulat dengan perasaannya sendiri melihat Mila dan Arya.
Arya lalu menggendong Mila, dan membawanya ke kamar, ia kemudian membaringkan Mila dan menyelimutinya. ia menatap dalam mata Mila yang terpejam, deru nafas Mila terdengar beraturan di telinga Arya.
‘aku tak tahu harus gimana sekarang Mil, apa harus bertahan? atau kita harus pisah?’ batinnya bingung,
Arya kemudian bangkit dan hendak masuk ke kamar mandi, ia mencuci wajahnya dan memperbaiki rambutnya yang tampak kusut, ia melirik dalam dirinya yang tampak kacau di pantulan cermin wastafel.
Arya kemudian ingat bahwa ia belum sholat isya, ia kemudian berwudhu’ dan kemudian sholat,
Setelah selesai sholat, Arya kemudian melangkah ke arah Mila yang masih terlelap dalam tidurnya, ia hendak membangunkan Mila agar sholat terlebih dahulu, ada rasa iba dihatinya ketika melihat raut wajah Mila yang tampak begitu lelah, ia kemudian mendekatkan tubuhnya pada Mila dan menggoyang-goyangkan bahu Mila agar bangun.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Mila bangun, ketika Mila membuka mata, tatapan mereka kembali bertemu, mereka saling menatap satu dengan yang lain dengan perasaan mendalam, namun sayang mereka tidak dapat menyadari bahwa dalam pandangan itu ada cinta yang telah terbalaskan, yang mereka tahu orang yang ada di depan mereka tidak memiliki perasaan apa-apa untuk mereka.
“sholatlah dulu, nanti kamu bisa kembali tidur” ucap Arya dingin dan menyadarkan kembali mereka dengan keadaan. Arya lalu bangkit dan keluar dari kamar.
“Mila lalu duduk di ranjangnya, ia mengusap matanya dan berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.
'apa dia mengendongku lagi?' batinnya kesal, ia merasa hanya menjadi beban bagi Arya, ia kemudian bangkit dan segera menunaikan sholat isya.
Setelah selesai sholat, Mila kemudian mengunci pintu kamarnya dan menukar bajunya dengan piyama tidur, Ketika ia hendak kembali ke ranjang, pikirannya kembali kepada Arya, ‘apa dia tidur di sofa lagi?’
Mila kemudian mengurungkan niatnya dan kemudian keluar dari kamarnya, ketika membuka pintu kamar, ia mendapati Arya tengah memasak di dapur,
__ADS_1
'apa dia bisa masak? masa sih? aku saja sampai sekarang tidak pernah memasak, masa dia yang laki-laki bisa memasak’ gumamnya menyesali dirinya sendiri,
Mila kemudian melangkah ke dapur untuk menghampiri Arya,
“Arya, kalau kamu mau tidur, tidurlah di kamar” ucap Mila pelan, ia berharap kondisi hati Arya sudah kembali normal, tidak seperti di bukit tadi.
Arya yang mendengar suara Mila kemudian melihat ke arah Mila, ia mendapati istrinya yang begitu tampil menarik dengan wajah cantik tanpa balutan cadar dan juga pakaian tidur yang membuatnya tampak seksi dan menggoda,
Arya kemudian segera mengalihkan pandangannya karena takut tergoda, karena sebagai laki-laki, akan sangat sulit baginya untuk menahan nafsu pada wanita yang berpenampilan menggoda seperti Mila saat itu,
“kamu lapar?, kalau kamu tidak keberatan, duduklah sebentar, sebentar lagi aku selesai memasak” ucap Arya masih dengan nada dingin.
Mila hanya diam tidak menjawab, jika menolak, ia takut akan membuat Arya tidak senang karena menolak menyicipi masakan Arya, lagi pula ia memang lapar karena belum makan malam, ia kemudian duduk tanpa suara, ia tidak tahu harus bicara apa pada Arya,
5 menit kemudian, Arya telah menghidangkan sepiring nasi goreng di hadapan Mila, dan sepiring lagi ia taruh di dekat kursinya biasa,
“makanlah, semoga kamu suka masakanku” ucap Arya pelan, ia kemudian duduk dan mengambil 2 gelas air, satu untuknya dan satu lagi untuk Mila,
“aku biasanya hanya masak untuk diriku sendiri, orang lain yang pernah mencoba masakanku mungkin cuma Tomy, dan kamu adalah orang kedua yang akan mencobanya, nilailah dengan objektif gimana rasanya” ucap Arya yang mengubah nada suaranya dari dingin menjadi lembut, ia kemudian menyuap nasi goreng ke mulutnya,
Mila kemudian ikut menyuap nasi ke mulutnya, ‘enak juga, kenapa dia pintar masak kayak gini sih? tuh kan, aku benar-benar jadi istri yang tidak berguna baginya, masak saja aku tidak bisa, dan dia malah jago kayak gini’ Mila menggerutui dirinya sendiri.
“gimana rasanya Mil?” tanya Arya tanpa melihat pada Mila,
“enak, kamu jago sekali masaknya” jawab Mila dengan nada yang sama dengan Arya,,
“aku dulu belajar masak biar bisa gantian masak sama istriku” jawab Arya santai,
deg,,deg,, jantung Mila berdetak kencang, ‘tuh kan, aku bukan istri yang baik untuknya, aku bahkan bukan tipe dia sama sekali’ batin Mila menahan rasa sedih yang kembali muncul di hatinya.
Arya dan Mila menghabiskan nasi goreng itu tanpa bersisa sedikitpun, Mila benar-benar dibuat takjub oleh Arya.
'udah rajin sholat, bangunin tahajud, pintar masak lagi, dia benar-benar sempurna menjadi seorang suami’ batinnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Arya langsung mengambil piringnya dan piring Mila, namun melihat itu Mila langsung memegang tangan Arya,
“biar aku yang nyuci piringnya, kamu kan tadi udah masak” ucap Mila menatap wajah Arya,
Arya tersenyum pada Mila,
“nggak papa, aku sudah biasa kayak gini kok”
Arya lalu mencuci piring mereka, sementara Mila berdiri disamping Arya sembari memperhatikan suaminya itu mencuci piring,
“Arya, kamu mau kan memulai semuanya lagi dari awal” ucap Mila pelan dengan nada takut. Ia takut pertanyaan itu akan membuat hubungan mereka akan memburuk,
Namun Arya hanya diam tidak menjawab, ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya, dan kemudian ia kembali ke meja makan untuk meneguk segelas air,
“apa kamu tidak mau tidur?, kenapa masih diam disitu?” ucap Arya yang heran melihat Mila masih berdiri di tempat mencuci piring, Sementara Mila masih kaku oleh perasaan takutnya sendiri,
“kamu belum menjawab pertanyaanku”
“Tidurlah Mil, besok kamu harus ke sekolahkan”
“jangan tidur di luar lagi, tidurlah denganku di kamar” ucap Mila dengan gugup,
‘aku benar-benar seperti wanita penggoda, bagaimana bisa aku memintanya tidur denganku’
“kamu kembalilah ke kamar, aku bisa tidur di sofa”
“kalau begitu aku akan menemanimu tidur disana” ucap Mila lagi,
'jangan menolak lagi Arya, aku telah merendahkan diriku dihadapanmu seperti ini, jangan menolak lagi’
”kamu tidurlah sendiri di kamar, jangan tidur di luar, nanti kamu sakit”
Mila hanya bisa diam, ia tak tahu harus membujuk Arya gimana lagi agar mau menerimanya, yang ada di pikirannya hanyalah perpisahan yang seperti ada di depan mata.
__ADS_1
Arya kemudian meninggalkan Mila yang masih membatu disana, ia kemudian berjalan ke arah ruang tamu dan membaringkan tubuhnya di sofa, sementara Mila setelah beberapa saat membatu, kemudian masuk kedalam kamarnya dengan perasaan terluka.