Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Maukah kamu membantu ku


__ADS_3

Aaahhhh.... Kedua lutut Olif sudah entah kemana-mana dia buat Varrel. Nafsunya semakin meningkat ketika mendengar suara desahan Olif begitu manja terdengar di telinganya.


Kecepatan goyang pun semakin ia tambah agar kenikmatan itu segera ia rasakan. Kenikmatan yang tiada tara dan sebanding dengan apapun. Sementara Olif, seluruh pipinya sudah dibanjiri oleh air mata yang mengalir menahan rasa sakit bercampur nikmat.


Wanita itu entah keberapa kali sudah ia mencapai puncaknya sementara Varrel masih belum ada tanda-tanda. Entah bagaimana sudah sprei di buat oleh mereka berdua. Yang awalnya tadi rapi sekarang malah di bawah tergusur dengan sendirinya.


Keganasan Varrel sungguh membuat Olif kali ini tidak berdaya. Untuk mendesah lagi serasa sudah tidak kuat. Dia hanya bisa menunggu Varrel mencapai puncaknya yang entah keberapa kalinya.


Aaagggrrr.... Varrel berusaha dengan kuat. Gerakannya semakin ia percepat.


hhhhhhhh.... Nafasnya terengah-engah langsung ambruk di samping Olif. Setelah ia rasa semua laharnya sudah tumpah kedalam lobang dunia.


"Terimakasih, sayang." ucap Varrel masih terengah-engah sembari tersenyum kecil. Tangannya ia gerakkan membawa Olif kedalam dekapannya. Menyandarkan kepala istrinya di bahu.


"Ya" sahut Olif hampir nyaris tidak terdengar sama sekali.


Keduanya pun terlelap dalam keadaan saling berpelukkan.


*


Di rumah sakit.


Setelah selesai mengurus pemberhentian Olif sebagai model, Viki menyempatkan waktunya untuk mampir ke rumah sakit. Menjenguk Liora, Seorang gadis yang ia tahu sudah tidak mempunyai keluarganya lagi.


Rasanya ia tidak tega melihat Liora terbaring sakit sendirinya di rumah sakit. Tentu saja Viki merasa iba mendengarnya apalagi setelah mengetahui dari Justin kalau kedua orang tuan Liora sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.


Ya, Justin menceritakannya semua kisah Liora setau yang ia tau dari informasi dunia permodelan. Termasuk Liora pernah mengalami depresi setelah kehilangan kedua orang tuanya.


Laki-laki berparas bule itu juga merasa iba.


Viki memasuki ruangan Liora setelah sesaat ia mengutuk pintu terlebih dahulu, setelah mendapat izin masuk barulah dia membuka pintu kayu yang di cat silver tersebut.


Kedua bibir Viki mengembang memperlihatkan senyuman manisnya, saat tatapannya beradu dengan Liora. Model itu terlihat duduk di sofa sembari memakan buah anggur.


Liora yang melihat Viki tersenyum juga ikut tersenyum, Wanita cantik itu dengan penuh hormat mempersilahkan Viki untuk duduk.


"Silahkan."

__ADS_1


"Terimakasih, hem. Bagaimana keadaanmu? apa sudah membaik?" tanya Viki sembari mendaratkan tubuhnya di atas sofa tak jauh dari Liora.


"Sudah baik. Kata dokter aku besok sudah boleh pulang." jawab Liora mengerakkan tangan mulusnya mengabil beberapa buah anggur lalu menyodorkannya ke hadapan Viki.


"Tidak, kamu makan saja. Aku sudah kenyang."


"Ini enak, kami yakin enggak mau. Ini buah anggur impor sari Swedia dan rasanya sangat manis sekali. Aku sangat menyukainya." Liora masih bersikeras memaksa Viki untuk mengambil anggur yang ia sodorkan.


"Baiklah kalau kamu memaksa." Viki tersenyum sipu dia juga akhirnya mengabil anggur tersebut dan langsung memakannya.


"Manis, ini sangat manis." puji Viki setelah sesaat ia merasakan kelezatan dari buah anggur yang diberikan Liora. Satu buah anggur saja serasa tidak cukup ia segera memakan menghabiskan anggur yang berada dalam genggamannya.


"Aku minta maaf." ucap Liora di sela-sela keheningan, berhasil membuat Viki menaikkan sebelah alisnya.


"Maaf atas apa?"


"Atas kemaren, aku sudah membuat bajumu basah karena tangisan ku."


"Oh, itu. tidak apa-apa sudah biasa."


"Biasa, berarti semua wanita menagis di pangkuan mu??" kali ini Liora menaikkan alisnya, perkataan Viki terasa membingungkan.


"Hem'em," pandangan Liora seketika meredup menatap kebawah, buah anggur yang sempat ia ambil pun ia taruh ketempat semula. Wajahnya di tekuk setelah mendengar perkataan Viki.


Viki yang melihat Liora seperti itu pun mengarukkan kepalanya tak gatal, dia merasa seperti telah salah berbicara.


"Maaf, aku telah membuat kamu sedih' ucap Viki.


"Apa aku boleh tanya sesuatu...?" tanya Liora sorot matanya mulai berkaca-kaca.


"Tentu, tanya saja. Aku akan menjawabnya dengan cepat."


"Apa Varrel teman mu...?"


"Varrel, ya dia teman ku. Kami sudah berteman sejak dari kecil."


"Lalu, siapa wanita yang mengejarnya waktu Varrel pergi meninggalkan ruangan ku waktu itu...?"

__ADS_1


"Itu, namanya Olivia. Dia yang menjadi model pengantin sewaktu kamu koma." jelas Viki ini sungguh pertanyaan yang membuat Viki binggun bagaimana cara menjawabnya. Memang Viki belum tau persis apa apa hubungan Varrel dan Liora.


Tapi pertanyaan Liora harus membuat Viki berpikir dua kali sebelum menjawabnya.


"Huuufffff syukurlah, aku pikir Varrel mempunyai hubungan dengan wanita itu. Aku sangat takut." Liora menghembuskan nafas lega.


"Kamu tau, aku sangat mencintai Varrel. Begitupun juga dengan dirinya, dia sangat mencintaiku sampai-sampai dulu sewaktu kami di Amerika, dia rela mengerjakan semua deskripsi ku saat aku sakit. Dia begitu perhatian dan juga peduli. Tapi karena kebodohanku aku mencampakkannya, itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku aku sungguh sangat menyesal. Seharusnya aku memilihnya waktu itu. Kalau saja waktu itu aku memilihnya mungkin saja kami pasti sudah hidup bahagia sampai sekarang, di temani dua anak kecil yang lucu-lucu." tutur Liora membayangkan kejadian tiga tahun silam. Sekarang rasanya di tidak bisa kehilangan Varrel walau hanya sesaat. Satu tetesan air mata terjatuh begitu saja di ujung mata Liora.


Dia begitu merindukan saat-saat dimana Varrel selalu perhatian dan menyayanginya layaknya seorang anak kecil yang selalu dimanjakan oleh sang Dedy.


Viki terdiam, dia tidak berani berkata sepatah katapun, cerita Liora membekukan mulutnya, ingin rasanya ia mengatakan kalau Varrel dan Olif sudah menikah.


Tapi niatnya terurung saat perkataan Justin dua hari lalu melintas di benaknya. Mengatakan kalau Liora mudah sekali depresi.


"Ayo makan lagi buah anggurnya katanya manis." tutur Viki mencoba mengalihkan arah pembicaraan.


"Apa aku boleh meminta bantuan mu?" potong Liora menatap sedih kearah Viki.


"Bantuan apa?"


"Tolong bantu aku, pertemukan aku dengan Varrel. Aku sangat-sangat merindukannya."


"Itu-,"


"Aku mohon, kali ini please. Batu aku, aku berjanji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti. Aku tidak ingin penyesalan ini selalu menghantuiku, aku harus segera meminta maaf kepadanya." potong Liora.


*Hahhhhh.... Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Kalau aku membantunya itu akan membuat rumah tangga Varrel dan Olif bertengkar lagi. Tapi kalau tidak, dia pasti akan sedih.


Aaagggrrr.... dokter bilang dia tidak boleh sedih kalau mau cepat sembuh*.


Bersambung....


Please yang udah baca tolong lah like agar bulan depan bisa naik level πŸ€—


Rekomendasi novel baik.


- Terpaksa menikah dengan pembantu

__ADS_1


- Wanted!! sugar Daddy jomblo.


Karya Mommy Ara🍁


__ADS_2