Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Rencana


__ADS_3

"Rel, gawat. Ini bisa jadi masalah besar. Semua perkelahiannya tadi sudah tersebar keseluruhan publik. Bokap Gue sampek nelpon gara-gara masalah ini, bagaimana??" tanya Viki dengan nafas terengah-engah karena kelelahannya sudah dari tadi ia mencari Varrel dan juga Olif tidak ketemu-ketemu. Namun tanpa di sengaja dia malah ketemu Varrel dan Olif di depan taman Nasional.


Kening Varrel berkerut sekilas matanya menatap kearah Olif lalu pandangannya teralih kembali kepada Viki. "Terpaksa aku harus meminta bantuan Papa dalam masalah ini." Tuturnya.


"Jangan Rel, itu bisa berdampak buruk bagi perusahaan Lo." tukas Viki berdecak kecil disaat genting seperti ini tidak ada ide satupun yang keluar dari otaknya.


"Biar Olif saja yang akan menyelesaikannya. Olif yang memulainya berarti Olif juga yang akan menyelesaikannya." ucap Olif melirik dua pemuda di depannya secara bergiliran.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu terlibat lagi. Sudah cukup kamu menjadi model pengantin bagi mereka." sahut Varrel cepat.


"Tapi kalau aku tidak mengurus ini semua Justin pasti masuk penjara nantinya." tiba-tiba saja pikiran Olif teringat akan laki-laki bule itu.


"Justin." Varrel menaikkan alisnya sebelumnya ia belum pernah mendengar nama itu.


"Siapa dia...??" tanya Varrel.


"Dia adik ipar kak Yuni. Olif menjadi model pengantin juga karena ingin membantu Justin. Dia telah menabrak model utamanya maka dari itu Olif menjadi model---" jelas Olif menceritakan semuanya kepada Varrel dan juga Viki tak lupa dia menceritakan kalau dia sendiri yang meminta ingin menjadi menjadi model pengantin.


Briiiiittttttt.


Sebuah mobil sport berwarna silver berhenti mendadak tepat didepan mereka bertiga. Yang membuat mereka sedikit terkesiap.


Seorang laki-laki jangkung yang bertubuh tinggi dan rambutnya acak-acakan turun mobil sport itu dengan penuh karisma. Kaca mata hitam yang yang menutupi mata birunya membuat penampilan lebih sempurna, seulas senyuman tersungging begitu saja dibibir laki-laki itu. Laki-laki yang sangat Olif kenal, siapa lagi kalau bukan Justin.


Justin sudah mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Gumpalan itu siap ia layangkan kepada dia pemuda asing baginya yang berada di samping adik ipar kakaknya.


Tenang Kak, Justin akan mengajar pria ini sampai dia kapok tidak akan menganggu kakak lagi.


Batin Justin tanpa menunggu lama lagi dia segera melayangkan pukulan tinjunya.


Seketika itupun wajah Olif menatap tak percaya diiringi dengan matanya yang membulat..Anak bule apa yang telah kamu lakukan, jangan berkelahi.


Viki dengan sigap mengelak dari pukul Justin dia yang tidak mengenal Justin pun ikut menghajarnya. Perkelahiannya pun berlalu.


"Apa yang mereka lakukan, Kak Viki, Justin hentikan." teriak Olif namun tidak membuat dua pemuda itu menghentikan perkelahian mereka, perkelahian mereka sama-sama imbang.


"Ck... Rupanya kau pandai juga ya berkelahi, kalau begitu rasakan pukulan maut ku." tukas Justin kembali melanjutkan perkelahiannya.


"Mas kenap kamu hanya diam saja, cepat hentikan mereka." gerutu Olif melihat suaminya hanya diam saja tidak melakukan apapun.


"Kamu tenang saja sayang dalam perkelahian ini Viki pasti pemenangan." sahut Varrel tersenyum kecil.


"Mas..." Olif mencubit kasar perut sixpack Varrel hingga membuat dia memekik kesakitan.


"Aaauuu..."


"Mas itu Justin, adik ipar kak Yuni laki-laki yang Olif ceritakan barusan."

__ADS_1


"A-Apa." ucap Varrel sontak terkejut.


"Jangan diam lagi cepat hentikan mereka." geram Olif.


"Ok... Ok..."


Brukkk....


"Mas Varrel..."


"Varrel..."


*****


Di apartemen Justin.


"Aaaauuu.... Sakit pelan-pelan sayang." pekik Varrel tak tahan dengan rasa sakit di bibirnya.


"Mas sih, disuruh hentikan bukanya dihentikan malah bertambah gelut." ketus Olif sembari sedikit menekankan kain lap yang ia gunakan untuk menghapus darah dibibir suaminya.


"Auuuuu." Varrel memekik kesekian kalinya.


"Hem'em. Justin minta maaf. Justin enggak tau kalau sebenarnya om-om itu suami kakak." tutur Justin dengan nada pelan merasa tidak enak sudah menambahkan luka dibibir Varrel.


"Om-om, hanya aku suaminya." ketus Varrel tidak terima kalau dia disamakan dengan Viki.


"Justin, kalau kamu yang menabrak model utamanya itu, itu berarti kamu tau kan dimana keberadaan model itu sekarang...??" tanya Viki disela-sela keheningan.


"Iya Om, Justin tau tapi masalahnya model itu koma Om." jawab Justin menampakkan gigi putihnya.


" Apa??"


"Itu berarti dia rumah sakit...??"


"Hemmm." Justin mengangguk dengan cepat.


"Satu-satunya cara agar masalah ini cepat selesai adalah dengan kembalinya model utama itu. Maka setelah itu semuanya akan kembali seperti semula." tutur Viki.


"Om benar, tapi masalahnya bagaimana kita membangunkan model itu...??" tanya Justin.


"Bukan kami, tapi kamu. Kamu yang menabraknya dan kamu juga yang harus menyelesaikan jangan pernah melibatkan istriku lagi." ketua Varrel.


"Mas..."


"Sayang kamu mau membelanya, sudah cukup kamu menolongnya tidak pernah membela lagi, biar dia saja yang akan menyelesaikannya."


"Kalas Mas Varrel tidak mau ya sudah, kalau begitu biar Olif sama Justin saja yang akan menyelesaikannya." balas Olif dengan wajah sedikit ditekuk.

__ADS_1


"Sayang..."


"Udah Rel, sama aja kalau Lo enggak mau bantuin masalah ini Lo juga akan terseret seret dalam masalah ini. Lo lupa apa yang sudah Lo lakukan didepan perusahaan model tadi." potong Viki.


"Tapi---"


"Gak ada tapi-tapian yang terpenting sekarang adalah memikirkan cara bagaimana menyelesaikan masalah ini." timpal Viki lagi.


"Bagaimana kalau kita rumah sakit, kita lihat sendiri perkembangan model utama itu." tutur Olif memberikan solusi.


"Ide bagus, aku setuju dengan begitu kita bisa memikirkan rencana apa yang akan kita buat." ucap Viki.


****


"Halo, Yuni." ucap Ibu Susi dari sebrang sana, dia baru saja menghubungi anak pertamanya di Australia. Sudah dua hari ini dia belum mendapatkan kabar tentang kesehatan putri keduanya. Yang ia tahu kalau Olif telah menjadi model pengantin disalah satu perusahaan besar.


"Iya, Mah. Ada apa??" Sahit Yuni.


"Bagaimana, apa Olif sudah bertemu dengan Varrel...??"


"Yuni tidak tau Mah, Olif belum pulang ke rumah."


"Mama mendapatkan kabar dari Bu Ratna kalau anaknya sekarang berada di Australia."


"Mama Mama itu Aunty." tunjuk Nabila pada televisi yang sedang menyala, memperlihatkan kejadian perkelahian tadi di hotel Modeling.


Yuni yang di panggil oleh Nabila pun menoleh, seketika ia terdiam tidak berbicara sepatah katapun lagi, wajahnya dengan antusias melihat kearah televisi. Yuni meraih remote control memperbesar suaranya, mencoba mendengar dengan jelas.


"Yuni... Apa kamu masih mendengarkan Mama."


"Yuni.." suara Ibu Susi setegas berteriak.


"Mah, sekarang juga Mama cari berita di google Mama lihat sendiri apa yang sudah terjadi siang ini di Australia." tutur Yuni matanya masih terfokus pada berita yang sedang berlangsung.


"Yuni, jangan bikin Mama panik cepat katakan apa yang sedang terjadi..??"


"Mah Olif, Mah. Sepertinya dia sudah bertemu dengan suaminya."


"Kamu jangan bikin Mama penasaran Yuni." tukas Bu Susi sudah dilanda rasa penasaran tingkat akut.


"Makannya Mama dengarkan apa yang Yuni bilang. Cepat Mama cari berita trendi Australia hari ini."


Tuttttt.....


Bersambung....


Maaf telat 🙏

__ADS_1


__ADS_2