Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Ledekan


__ADS_3

Di dapur Justin terlihat sibuk menyiapkan makanan, makanan satu-satunya yang ia bisa adalah merebus mie. Makanan ringan dan praktis itu-lah yang selalu mengganjal perutnya jika lapar.


Pria berparas bule itu membuat empat porsi mie instan yang sudah siap disajikan, dia langsung membaginya dengan rata.


Viki yang baru keluar dari dalam kamar menaikkan sebelah alisnya, saat ia lihat Justin sedang menuangkan rebusan mie yang dia buat kedalam piring putih.


"Kau bisa memasak rupanya." tutur Viki sembari melangkah, aroma khas dari mie membuat menusuk bulu hidungnya. Tidak di pungkiri Viki sudah sangat lapar sekarang.


"Eh, Om udah bangun." ucap Justin sekilas melirik kearah Viki.


"Jangan selalu memanggilku dengan sebutan Om. Aku ini masih muda belum menikah, lagian umurku belum sampai tiga puluh bagaimana bisa di panggil Om. Panggil aku Kakak saja itu lebih bagus." tukas Viki sembari tangannya menarik meja makan dan mendudukinya.


"Tapi wajah Om sangat pantas dengan sebutan seperti itu."


"Apa kamu bilangan? Aku ini masih muda."


"Iya memang umur masih mudah, tapi wajah Om tidak mendukung hahahaha." ledek Justin terkekeh geli.


"Dasar anak ingusan beraninya kamu mengejek orang tua." Viki langsung menatap tajam.


"Iya' iya. Maaf aku akan memanggil Kakak, Kakak Om." timpal Justin lagi lebih terkekeh.


"Kau..."


"Hahaha."


*


Di kamar Olif merasa geli sendiri saat manik-manik matanya menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin wastafel. Seluruh badannya sekarang bagaikan sisik ikan, banyak sekali tanda merah menghiasi seluruh tubuhnya terutama dileher.

__ADS_1


Olif berusaha menghilangkan tanda merah itu dengan cara menggosoknya tapi bukanya hilang melainkan bertambah merah.


"Aaahhhh, bagaimana ini kenapa bertambah merah sih." guma Olif berdecak kecil. Dia begitu malu kalau sampai Viki dan Justin melihatnya nanti.


"Mas Varrel..." panggil Olif dengan nada sedikit tinggi berhasil membuat Varrel yang kala itu sedang menikmati air panas membasahi tubuhnya tersentak terkejut. Dengan cepat ia menyahut lalu menghampiri istrinya yang hanya berjarak kisaran 4 meter saja.


"Iya sayang ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu??" tanya Varrel cepat.


Bukanya menjawab tapi Olif malah berteriak kencang saat kedua biji bola matanya menatap tubuh Varrel yang polos tanpa penutup kain sehelai pun.


"Mas dimana handuk mu...??" Olif dengan cepat menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Aku lagi mandi sayang bagaimana bisa aku menggunakan handuk." jawab Varrel.


"Sudah cepat sana pergi, tidak jadi."


"Tidak, aku tidak mau pergi. Kamu juga harus ikut mandi denganku."


"Enak saja ayo cepat kita mandi bersama." Varrel merangkul istrinya dan membawanya ke Bathtub yang sudah diisikan air panas.


Tapi bukanya mandi mereka malah bergulat disana. Dan untuk ke-dua kalinya Olif dibuat mendesah hebat oleh Varrel. Kali ini Varrel berhasil membuat Olif terbuai akan permainannya, bukanya menjerit seperti semalam.


Satu jam kemudian.


Olif dan Varrel keluar kamar secara bersamaan, ke-dua nya kini sudah siap dengan setelan mereka masing-masing. Ya, Olif memakai dress hitam selutut yang dia ambilkan dari dalam lemari.


Sempat bertanya-tanya kenapa bisa ada banyak pakaian wanita dalam lemari padahal ia tahu kalau Justin tinggal sendirian dan juga dia tidak punya saudara perempuan. Kening Olif berkerut dalam memikirkannya namun untuk beberapa saat kemudian ia pun tidak mau memikirkannya lagi.


Sedangkan Varrel mengunakan pakain kemaren karena dia tidak punya pakaian lain selain pakaian apa yang ia pakai semalam.

__ADS_1


"Mas mereka kemana?? Apa mereka belum bangun...??" tanya Olif membuat Varrel mengangkat kan kedua bahunya secara bersamaan.


Keduanya langsung melangkah mendekati dapur yang terletak tak jauh dari ruang tamu.


Secara hampir bersamaan Viki dan Justin memasuki apartemen. Mereka mengandeng kan beberapa bungkusan berwarna putih polos.


"Widih pengantin baru, baru bangun rupanya. Sepertinya mereka semalam habis bertempur hebat." tutur Viki dengan nada meledek. berjalan mendekati meja makan dan menaruh apa yang sudah dia beli bersama Justin di atas meja. Mereka baru saja habis membelanjakan cemilan makanan di toko terdekat.


"Maklum." timpal Justin.


"Apaan sih." wajah Olif memerah merona seketika.


"Hahaha." kedua laki-laki itupun tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan Varrel malah biasa-biasa saja dia tidak perduli dengan ledekan apapun.


"Kak Viki lihatlah betapa ganasnya Kak Varrel semalam sampai membuat leher Kak Olivia merah seperti itu kayek saos tomat." ledek Justin tak henti-hentinya ketawa.


Olif yang mendengar itu sangat tidak sabar tangannya langsung menyentuh lehernya. Oh Now. Olif lupa memakaikan syal padahal sudah ia ambil dari dalam lemari, tanpa menunggu lagi Olif berlari kecil menuju kamar rasanya wajahnya ingin meledak karena malu.


"Apa sekarang kalian puas...??" suara Varrel menajam diikuti dengan tatapan membunuh.


tawa mereka seketika menciut tidak berani mengeluarkan suara apapun.


"Siapkan mobilmu kita akan segera pergi ke rumah sakit sekarang." perintah Varrel kepada Justin.


"Iya."


Bersambung....

__ADS_1


Part ini pendek maaf, aku ada keperluan mendesak 🙏


Jangan lupa like komen dan rate 😘


__ADS_2