
“Arnes lagi?” tanya Vanessa
“emang kenapa kak? apa kakak tidak suka? kakak sudah janji kan untuk dukung aku?”
“iya Mil,, kakak tahu, kakak sudah janji untuk dukung kamu, tapi kakak takut kamu nanti menyesal seperti kakak, seperti ibu”
“aku tahu dengan pilihanku kok kak. aku tak akan pernah menyesal nantinya”
“dulu kakak juga seperti itu Mil, dan ibumu pun juga sama seperti itu, kami merasa takkan pernah menyesal dengan keputusan kami, dan lihatlah apa yang terjadi sekarang dengan kami”
Mila diam tidak menjawab, wajahnya menunjukkan kemarahan pada Vanessa.
“dek, kakak sayang sama kamu, kakak tidak mau kamu menyesal, itu saja dek, tidak lebih”
Mila kemudian mendengus kesal dan segera masuk ke dalam kamarnya. Melihat sikap Mila, Vanessa melepas nafas panjang dan segera mengikuti langkah Mila.
Mila tengah duduk diatas ranjangnya, matanya berkaca-kaca menahan tangis, Vanessa yang telah masuk ke dalam kamar Mila kemudian mendekat pada adik iparnya itu dengan perasaan bingung. Ia bingung seperti apa cara yang tepat untuk berbicara pada Mila untuk membuatnya mau membuka hati bagi Arya.
Karena bagi Vanessa, Arya jauh lebih baik dari Arnes, membayangkan Arnes membuka cadar Mila telah membuat Vanessa merasa Arnes bukanlah laki-laki yang baik, berbeda dengan Arya yang dilihatnya mampu bersikap sabar dengan sikap dingin Mila.
“kenapa kakak selalu membandingkan hidup kakak dan ibu dengan kehidupanku?, setiap kita memiliki jalan kehidupan yang berbeda kak, aku hanya butuh dukungan kakak"
Vanessa melepas nafas panjang mendengar ucapan Mila,
“Mil, kakak bukannya tidak mendukungmu dengan Arnes, cuma kakak hanya minta untukmu agar belajar menerima kehadiran Arya, coba dulu buka hati untuk Arya, menerima ia hadir dihidupmu, menerima ia sebagai suamimu, jika memang tidak bisa, kamu bisa memilih kehidupanmu sendiri nantinya, dan kakak akan selalu mendukungmu”
“aku nggak bisa membuka hatiku untuk orang lain kak, hatiku hanya untuk bang Arnes, dan selamanya akan seperti itu”
“Bukan kamu yang tidak bisa membuka hatimu Mil, tapi kamu yang masih bertahan dengan egomu untuk tidak menerima kehadiran Arya Mil, cobalah bersikap adil untuk Arya, dia orang baik, beri dia kesempatan untuk mengisi hatimu, jika dia gagal, kakak sendiri yang akan minta dia untuk menceraikanmu”
__ADS_1
*
Motor Arya baru saja memasuki pekarangan rumah Mila, ketika ia selesai memakir mortornya, ia segera masuk melalui pintu di teras samping rumah. Dan seperti hari sebelumnya, ia mendapati Mila tengah makan siang dengan Vanessa yang menemaninya.
Arya tanpa basa basi langsung menghampiri mereka, ia duduk di salah satu kursi di meja makan dan kemudian meneguk segelas air.
“tadi kamu pulang dengan siapa? di jemput kak Vanessa?” tanya Arya dengan nada lembut pada Mila, namun Mila hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan Arya sama sekali.
Arya menahan perasaan marah dihatinya, jika sebelumnya ia hanya akan menerima sikap datar Mila dengan lapang hati, namun tidak untuk saat itu. Ada sesuatu dihatinya yang mendorong ia untuk mengetahui dengan siapa Mila pulang dari sekolah.
“tadi Mila diantar temannya nya Rya” jawab Vanessa yang berbohong, ia sama sekali tidak sampai hati jika harus mengatakan Mila pulang diantar oleh pacarnya.
Ia takut jika Arya tahu Mila diantar oleh pacarnya, itu akan membuat Arya menjadi sakit hati.
Arya membuang nafas panjang, ia coba menahan rasa marahnya,
‘tak ada gunanya aku marah sama dia, dia juga takkan peduli’
“aku mau pulang dengan siapa, itu bukan urusanmu” jawab Mila ketus, yang membuat perasaan Arya kembali merasakan sesuatu yang nyeri.
“ya, itu memang urusanmu, bukan urusanku, aku minta maaf telah mencampuri urusanmu” ucap Arya pelan yang kemudian meninggalkan Mila dan Vanessa di meja makan,
'tak ada gunany terus bicara dengan dia, sikapnya takkan pernah berubah kepadaku.’ sedih Arya dihatinya.
Sementara Vanessa hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat apa yang terjadi, Muncul perasaan kesal terhadap Mila yang sedikitpun tak mau menerima sarannya. Namun ia lebih memilih diam daripada harus berdebat lagi dengan Mila.
Dan begitulah setiap hari terulang, Arya selalu berusaha bersikap baik dan berkata lembut pada Mila sembari berharap Mila akan membuka hati untuknya. Namun Mila masih bersandar pada egonya, bahwa ia takkan membuka hati untuk siapa pun, hatinya hanyalah milik Arnes.
*
__ADS_1
3 bulan telah berlalu, Arya masih tetap menjalani hari yang sama seperti sebelumnya, Mencoba mengajak Mila untuk berbicara setiap hari, walaupun hasilnya tetap sama, Mila hanya diam dan bersikap datar kepadanya.
Namun Arya tidak pantang menyerah, ia selalu mencoba bersikap baik kepada Mila setiap hari, mempertebal rasa sabarnya agar tidak emosi dengan sikap dingin Mila.
Arya baru saja selesai berganti pakaian di kontrakannya, kebiasaan baru yang selalu ia jalani setelah menikah, Ia sama sekali tidak pernah membawa baju kerjanya ke rumah Mila, setiap pagi ia akan berganti pakaian dulu ke kontrakan sebelum pergi ke kantor, dan sorenya sebelum pulang ke rumah, ia akan berganti pakaian dulu di kontrakan.
Arya merasa akan lebih baik jika semua orang di rumah Mila mengenalnya sebagai pengangguran, ia merasa takut dengan posisinya yang saat ini tengah berada di antara 2 perusahaan besar yang sudah lama bertarung meraih popularitas di pasar saham.
Jika salah satu diantara 2 perusahaan itu tahu dengan posisinya sekarang, maka ia akan dihadapkan pada situasi sulit untuk menjatuhkan perusahaan yang lain.
Arya tentu tidak ingin menjatuhkan PT. 3A Sahabat yang ia dirikan bertiga bersama Ari dan Arbi, namun disisi lain, ia juga tidak mau menghancurkan Cipta Rakarsa yang didirikan oleh pak Sarman.
Setelah berganti pakaian, Arya kemudian menghempaskan tubuhnya, ia merebahkan diri ke kasur yang telah lama tidak ditempatinya itu, sejenak ia ingin melepas beban yang ada di hatinya, beban perasaan pada Mila, beban pekerjaan dan juga posisinya diantara 2 perusahaan besar itu yang membuatnya selalu merasa takut jika salah satu diantara mereka ada yang tahu posisinya sekarang.
Ia bisa saja dianggap pengkhianat atau mungkin akan dimanfaatkan untuk saling menjatuhkan.
‘sepertinya aku harus ke gunung, 3 hari di puncak kayaknya cukup untuk menyegarkan pikiran’ batin Arya sembari memejamkan matanya.
baru sejenak ia melepaskan rasa lelah, dering ponselnya terdengar memanggil, ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, Melihat siapa yang menelfon, ia segera bangkit dan langsung menjawabnya,
“assalamualaikum bi”
“walaikumussalam Arya, kamu sehat nak”
“sehat bi, bibi dan paman gimana? sehat-sehat sajakan?”
“iya, kami sehat-sehat saja”
“tumben bibi nelfon, apa ada masalah?”
__ADS_1
“Tomy bilang kamu sudah nikah, betul nak?”
Deg, jantung Arya berdetak kencang, ia tak menyangka Tomy akan memberitahu pernikahannya pada orang tua mereka. Tiba-tiba perasaan bersalah muncul di hatinya,