Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Mas Varrel...?


__ADS_3

Di lain sisi Varrel dan Viki baru saja melayangkan langkah kaki mereka keluar dari hotel tempat mereka menghabiskan malam beberapa waktu yang lalu. keduanya menaiki taksi dan langsung menembus padanya jalan raya di ibukota Canberra, Dalam tujuan ke perusahaan Modeling Grup. Ya, itu adalah satu-satunya tujuan mereka saat ini, karena menurut informasi yang mereka dapatkan Olif berkerja sebagai model di perusahaan tersebut, perusahaan model terbesar di benua Australia.


Perjalanan pun menempuh waktu 35 menit dari tempat mereka menaiki taksi tadi. Mobil langsung di hentikan tepat di depan gedung pencakar langit tersebut.


Kedua sorot mata laki-laki itu dengan sangat teliti memerhatikan suasana diluar gedung melalui kaca mobil, Sebelum sesaat mereka akan turun dan melayangkan langkah kaki mereka.


Setelah membayar taksi yang mereka tumpangi tadi keduanya langsung saja melayangkan kaki jenjang mereka dengan penuh karisma berjalan hendak masuk kedalam kantor.


Dua bodyguard yang memang senantiasa berdiri di depan pintu utama guna untuk menjaga keamanan dan ketertiban kantor langsung saja menghentikan langkah kaki dua pemuda berwajah Asia tersebut. Karena menurutnya sedikit mencurigakan apa lagi mereka belum melihat wajah kedua pemuda itu sebelumnya..


"Maaf Tuan, Tunggu sebentar." tutur salah satu bodyguard yang berpostur tubuh lebih tinggi dari pada yang satunya lagi. Laki-laki berkumis tipis tersebut mencoba hendak memeriksa.


"Tidak perlu, kami tidak membawa senjata atau benda tajam." Ucap Viki menolak membiarkan bodyguard itu menyentuhnya.


"Bagaimana saya bisa mempercayai anda Tuan...??" tanya bodyguard tersebut dengan cepat, sorot matanya dengan sangat lekat memperlihatkan Varrel dan Viki dari bawah hingga atas.


"Kalau saya membawa benda semacam itu sudah pasti terlihat bukan, anda bisa lihat sendiri pakaian apa yang kami pakai. Kami hanya memakaikan kemeja polos dan celana hitam. Jadi sangat tidak mungkin jika kami membawa benda semacam itu." jelas Viki dengan penuh karisma sembari sedikit mengangkat kan kedua tangannya memperlihatkan kalau dia dan Varrel memang tidak membawa pistol atau benda tajam.


"Hem'em. Baiklah kali ini saya percaya." ucap bodyguard tersebut kini mereka yakin kalau dua pemuda berwajah Asia tersebut tidak membawa benda terlarang.


"Tapi tunggu Tuan." lagi-lagi bodyguard itu mengehentikan langkah kaki Varrel dan Viki.


"Iya."


"Kalau saya boleh tau anda kesini mau bertemu siapa...??" tanyanya.


"Oh, ini begini. Kami kesini ingin mengajak bekerjasama dengan perusahaan ini, saya mendapat kabar kalau perusahaan ini memiliki banyak model terbaik. Jadi kebetulan kami mempunyai beberapa produk yang ingin kami promosikan." jelas Viki yang sekilas melirik kearah Varrel lalu pandangannya langsung kembali teralih kearah bodyguard tersebut.


"Oh sekarang saya paham. Tuan-Tuan kesini pasti ingin mencari seorang model bukan...??"

__ADS_1


"Tepat sekali."


"Hehehe, Boleh saya sarankan...??"


"Tentu."


"Kebetulan sekali Tuan, perusahaan kami memiliki seorang model yang begitu sempurna, saya yakin Tuan pasti akan kesemsem setelah melihatnya. Dia adalah model baru di perusahaan kami." ujar bodyguard tersebut dengan senyam-senyum.


"Bodynya aduh, jangan di ditanya Tuan. Atas bawah Ohhh." mengajukan jempol diikuti dengan sebelah matanya terpejam.


"Benarkah, kebetulan sekali saya lagi mencari model yang seperti itu." balas Viki. "Kalau saya boleh tau siapa namanya...??"


"Siapa ya namanya, kalau enggak salah Olivia, ya benar, Nona Olivia. Dia adalah model tercantik sekaligus terseksi. Aaahhhh saya bahkan tidak bisa tidur nyenyak membayangkan tubuhnya yang indah." ucap bodyguard tersebut sambil membayangkan pikiran kotornya.


"Apa kau bilang." Varrel yang tau maksud siapa wanita yang di bilang barusa pun seketika mengeraskan rahangnya dengan sangat kuat diikuti dengan gumpalan tangan begitu keras. "Bajingan."


"Varrel, Varrel tunggu Rel. Lo janga gegabah Bro. Ingat tujuan kita kesini mau ngapain." Viki yang melihat ekspresi Varrel memanas pun dengan gerak cepat menahan sahabatnya.


"Iya, Iya Gue dengar kok apa yang dia bilang barusan. Tapi Lo harus lihat juga kondisi saat ini. Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat rusuh. Kalau Lo tetap memaksa maka jangan harap kita bakal bisa bertemu dengan istri Lo" Bisik Viki dengan nada pelan mencoba menenangkan emosi Varrel yang memucat secara tiba-tiba, tangannya dengan sangat erat menahan gumpalan tangan Varrel yang kian mengeras.


"Tuan, ada yang bisa kami bantu...??" tanya bodyguard itu yang menaikkan alisnya ketika melihat ekspresi Varrel.


"Tidak, Kami tidak apa-apa, Teman saya ini memang seperti ini kadang-kadang, kalau begitu kami masuk dulu." pamit Viki sedikit menundukkan kepadanya lalu dengan sigap merangkul tangan Varrel membawa sahabatnya segera masuk kedalam.


"Kamu kenapa sih belain dia." geram Varrel berdecak kesal dengan apa yang dilakukan Viki.


"Masih ada banyak waktu untuk membalasnya tapi tidak sekarang." tukas Viki.


***

__ADS_1


"Permisi Nona, saya Ingin bertemu dengan Model utama perusahaan ini, apa boleh...??" tanya Viki kepada salah satu resepsionis wanita yang memakai jas hitam dan dilengkapi kemeja putih didalamnya.


Wanita itu tersenyum ramah sembari mengatupkan kedua tangannya pertanda hormatnya menyambut kedatangan tamu. "Iya Tuan ada yang bisa saya bantu..??" tanyanya balik.


"Saya ingin bertemu dengan Model yang bernama Nona Olivia Wilde apa beliau ada...??"


"Maaf sebelumnya apa anda sudah membuat janji...??"


"Saya suaminya." desih Varrel semakin geram ia merasa sangat terbelit-belit bertemu dengan istrinya sendiri.


"Ahhhhh... Tolong jangan dengarkan dia, maaf tapi saya belum membuat janji dengan Nona Olivia. Tapi saya mohon tolong anda usahakan pertemukan kami karena ini sangatlah penting." sahut Viki yang berhasil mendapatkan tatapan mematikan dari Varrel.


"Kalau begitu sebentar saya telepon Ibu Lea dulu karena beliau adalah manager Nona Olivia." ucap resepsionis itu setelah itu tangganya yang putih dan juga lentik segera ia layangkan untuk menggenggam telpon yang tempatnya tak jauh dari jangkauan tangan, memencet beberapa tombol lalu menyatukan telepon tersebut di daerah daun telinganya.


"Kenapa harus meminta izin segala?? Memangnya dia itu siapa, aku ini suaminya. Lebih baik kita masuk saja dan segera bertemu dengan Olif." gerutu Varrel yang sudah sangat tidak sabar.


"Varrel, apak Lo sudah tidak waras. Ini bukan Global Grup tapi ini Modeling Grup. Tidak sembarang orang bisa masuk dan bertemu seenaknya, ada peraturannya masing-masing. Lagian siapa disini yang percaya kalau kamu istri Olif hah. Mereka melihat kamu saja tidak pernah apalagi mempercayainya." Jelas Viki.


"Maaf Tuan, hari ini jadwal Nona Olivia padat tidak bisa diganggu." ucap resepsionis itu sesaat setelah ia menaruh kembali telepon genggam tersebut ke tempat semula.


"Ohhh begitu ya. Hem, apa boleh saya tau dimana Nona Olivia sekarang. Maksud saya agar saya bisa memberitahukan bos saya nantinya."


ucap Viki sedikit menampakkan gigi putihnya.


"Nona Olivia sedang berada di perusahaan--- menghadiri acara peresmian produk baru."


"Oh, beliau tidak disini ya. Kalau begitu saya ucapkan terimakasih banyak, kami permisi dulu." pamit Viki.


"Sama-sama."

__ADS_1


Bersambung...


Maaf dua bab hari ini enggak bisa 4 bab. Ada halangan mendadak 🙏😘


__ADS_2