Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Terlalu Naif


__ADS_3

“bu, bukankah ibu dulu menentang kakek karena perasaan cinta, apa aku salah jika melakukan hal yang sama sekarang?” tanya Mila, ia berusaha mendapatkan dukungan bu Saniah.


“bukankah kamu tahu kalau ibu menyesali semuanya sekarang”


“Ibu tidak bisa menyamakan bang Arnes dengan ayah bu,”


Bu Saniah melepas nafas panjang untuk membuatnya sedikit lebih tenang, ia tidak ingin terbawa emosi ketika harus menghadapi Mila yang membahas tentang masa lalunya.


“ini bukan tentang perasaan mu sekarang Mil, tapi keadaanmu 3 tahun lagi, 10 tahun lagi 20 tahun lagi, Arya adalah orang yang tepat untuk mendampingimu, pemikirannya sudah dewasa, orangnya tenang, tidak mudah tersulut emosi, orangnya juga baik, dan kata-katanya tidak pernah menyakiti orang lain” jelas bu Saniah mengutarakan pandangannya tentang sosok Arya.


‘dia memang baik bu, tapi dia telah mencampakkanku, bahkan setelah aku memohon kepadanya’ batin Mila menahan sesak.


“satu lagi Mil, jangan pernah sebut nama laki-laki itu lagi di depan ibu atau pun kakekmu,” pinta bu Saniah dengan nada tegasnya.


“kenapa bu? ibu bahkan belum pernah melihatnya”


“Ibu tahu siapa keluarganya dan bagaimana keluarganya Mil, mereka bukan orang baik-baik”


“ibu belum pernah bertemu dengannya, apalagi berbicara dengannya, tapi ibu sudah menghakiminya seperti ini”


“jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Arya, dia suamimu, dan jika kamu melakukan itu, maka jangan pernah menganggap kami keluargamu lagi” ucap Bu Saniah dengan emosional yang membuat dada Mila terasa sesak mendengarnya


“bagaimana kalau dia yang membuangku bu?, apa ibu juga tidak akan menganggap aku sebagai anak lagi?” tanya Mila dengan mata yang berkaca-kaca,


“Mil, ada hutang ibu di masa lalu yang harus kamu bayar, dan bayarannya adalah pernikahanmu dengan Arya, jika Arya bukan orang baik, maka tak masalah bagi ibu jika kamu meninggalkannya, tapi kenyataannya dia adalah laki-laki yang sangat baik”


“apa aku hanya sebagai barang untuk membayar hutang kakek dan hutang ibu?, sehingga dengan mudahnya kalian menikahkanku dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali”


“Mil, ini hutang ibu, bukan hutang kakek, lupakan laki-laki itu dan cintailah Arya, ibu yakin kamu akan bahagia nanti” ucap bu Saniah lemah. Harapannya tentang siapa Arya sebenarnya, masih membumbung tinggi di hatinya, walaupun itu semua masih dugaan, tapi ia tetap yakin dengan dugaannya itu.


*

__ADS_1


Sepanjang hari Mila hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, ia masih bertarung keras dengan keadaan dan hatinya sendiri, ia sudah ingin memilih Arnes dan menghadapi segala resikonya, tapi tetap saja, Sikap baik Arya membayang-bayangi pikirannya.


Ketika jam makan malam, bu Saniah, Vanessa dan Mila telah duduk di meja makan, bu Saniah mengambil makanan dan memasukkan ke dalam piringnya. Ia kemudian melihat ke arah Mila yang terlihat lesu,


“mana suamimu, kenapa belum pulang?” tanya bu Saniah, Mila yang mendengarnya dibuat bingung,


‘seperti apa aku harus menjelaskannya pada ibu?’


Suara laki-laki terdengar dari arah pintu samping yang membuat ketiga perempuan di meja makan itu menoleh ke arah sumber suara, Vanessa kemudian tersenyum lega melihat kedatangan Arya.


Arya kemudian masuk dan langsung memberi hormat pada ibu mertuanya yang telah menantikan kedatangannya,


“akhirnya kamu pulang juga, duduk lah nak” ucap bu Saniah dengan perasaan senang,


“baik bu,” jawab Arya singkat,


Mila yang melihat kedatangan Arya dibuat pias, jantungnya berdegup kencang tak karuan,


'astaga, kok dia bisa disini sih?, apa ini karena kak Vanessa?’ batin Mila.


“terima kasih kak” ucap Arya pelan,


“kamu sibuk sekali Arya, hingga pulang malam seperti ini” ucap bu Saniah yang membuka pembicaraan.


“tadi lumayan banyak kerjaan bu, kata kak Vanessa ibu mau bicara denganku?" tanya Arya sembari mengambil sambal yang terhidang di meja makan.


“ya, ibu hanya ingin memastikan hubunganmu dan Mila baik-baik saja”


Arya dan Mila yang mendengar itu dibuat langsung pias, mereka berdua tampak canggung setelah kejadian semalam,


“kami baik-baik saja kok bu, iya akan Arya?” suara Mila terdengar tenang, ia mencoba menunjukkan pada ibunya bahwa hubungannya dengan Arya baik-baik saja.

__ADS_1


Arya yang mendengar suara Mila hanya diam, ia lebih memilih melanjutkan makan malamnya. Sikap Arya tersebut sudah cukup bagi bu Saniah untuk menilai bahwa Mila sedang berusaha menyembunyikan masalah rumah tangga mereka.


“Arya, aku dulu juga dijodohkan oleh kakek Mila, tapi aku menolaknya, dan akhirnya aku mendapatkan kehidupan yang tidak menyenangkan seumur hidupku” cerita bu Saniah yang mulai menjalankan rencananya.


Arya hanya diam dan mendengarkan, ia tidak mau bersuara karena takut setiap kata yang ia ucapkan bisa menjadi boomerang untuk dia dan Mila nantinya.


“kamu tahu siapa yang dulu dijodohkan denganku?” tanya bu Saniah pada Arya,


‘kenapa dia bertanya padaku?, mana mungkin aku tahu dia di jodohkan dengan siapa, aku bahkan belum lahir saat itu’ batin Arya bingung dengan arah pembicaraan bu Saniah.


Arya hanya menggeleng, ia kemudian mencoba bersikap santai mendengarkan cerita bu Saniah, sementara Vanessa dan Mila melihat bu Saniah dengan wajah serius.


“Gibran Adinata, kamu pasti tahu orangnya” suara bu Saniah terdengar penuh penekanan, ia mencoba melirik wajah Arya untuk melihat ekspresi Arya ketika mendengar nama Gibran Adinata disebutnya.


Namun sayangnya ia hanya mendapatkan kekecewaan karena Arya hanya berwajah datar mendengarnya.


‘aku tidak akan salah menduga, dia pasti orangnya, tapi kenapa dia bisa bersikap santai seperti ini?, apa dia benar-benar sudah terlatih bersikap santai ketika mendengar nama Gibran adinata?’ batin bu Saniah penuh selidik dengan melihat Arya.


“jadi ibu dijodohkan oleh kakek sama psikopat itu” ucap Mila setengah berteriak, yang membuat semua orang yang mendengarnya kaget.


Arya yang mendengar itu langsung menatap Mila dengan wajah tak percaya sembari menahan rahangnya yang mengeras karena marah dengan ucapan Mila.


Bu Saniah yang melihat ekspresi Arya kemudian tersenyum, ‘akhirnya ia menunjukkan jati dirinya’ batin bu Saniah,


“psikopat?, bagaimana bisa kamu menuduh bang Gibran psikopat?” tanya bu Saniah dengan dingin pada Mila, ia mencoba bersikap tenang walau sejatinya ia tak terima atas tuduhan Mila pada Gibran.


“Aku tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka bu, Gibran adinata itu telah membunuh istri dan anaknya, bahkan jasad anaknya tidak pernah ditemukan sampai sekarang, aku sudah tahu kekejaman orang itu” jawab Mila penuh emosional.


“kamu hanya mencerna pemberitaan media mentah-mentah Mil, jika kamu mengenal siapa sosok bang Gibran yang sesungguhnya, kamu tidak akan pernah percaya dengan kata media yang dibayar oleh para pengkhianat itu” lirih bu Saniah tak kalah emosional,


“jadi ibu menuduh keluarga bang Arnes pengkhianat?, karena sekarang mereka yang menguasai Adinata Group?”

__ADS_1


“Bukankah ibu sudah pernah bilang jika kamu tidak tahu apa-apa tentang mereka, kamu sudah dewasa, tapi pemikiranmu terlalu naïf memandang mereka adalah orang baik”


“kenapa ibu dulu menolak orang yang bernama Gibran adinata?” tanya Arya yang berusaha menengahi perdebatan bu Saniah dan Mila yang tampak semakin memburuk.


__ADS_2