Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Hanya Untukmu


__ADS_3

“lo udah pending rapat 1 jam, dan masih terlambat lagi setengah jam, baru kali ini lo kayak gini,”


“udah lah Bi, mulai aja rapatnya, gue sudah siap presentasi koq” Arya tidak mau membahas lebih panjang lagi masalahnya dengan Arbi.


“eeh tunggu, bibir lo kenapa?” Arbi melirik bibir Arya yang sedikit luka karena pukulan Irman.


“kejedot pintu” jawab Arya asal.


“jelas pintu, masih aja lo jedot” ledek Arbi, namun ia tahu jika temannya itu tidak serius dengan jawaban tersebut.


Rapat pun dimulai, Arya mulai mempresentasikan konsep kawasan industri terpadu yang telah ia buat untuk mengikuti sayembara yang diadakan oleh Bian corporation. Semua anggota rapat adalah tim arsitekturnya dan juga beberapa bagian perusahaan mulai dari marketing hingga tim konstruksi.


Setelah rapat selesai, Arya langsung menuju ruangannya, untuk hari ini ia dapat bekerja dengan tenang karena Ari yang biasa menganggunya tengah survey beberapa proyek di beberapa daerah.


jam sudah menunjukkan pukul 12


Arya kemudian membuka ponselnya, ia hendak menchat Mila karena diminta Vanessa untuk menjemput Mila ketika selesai di sekolah. Vanessa pun juga memberikan kontak Mila pada Arya.


‘hei, ini aku Arya, kamu pulang jam berapa? aku akan menjemputmu,’ Arya.


Sementara itu Mila sedang menikmati jus mangga yang ia pesan sembari memeriksa beberapa tugas siswa di ruang guru, ia segera mengambil ponselnya ketika mendengar notifikasi pesan masuk.


‘dia?, dia dapat kontakku darimana?’ batin Mila heran karena tiba-tiba Arya menchatnya.


‘kamu lupa kesepakatan kita?’ Mila,


‘emang kesepakatan apa yang aku langgar jika aku menjemputmu?’ Arya.


‘jangan mengurus urusan orang lain!!’ Mila.


‘aku hanya menawarimu untuk menjemputmu, bukan ikut campur urusanmu, itu sama sekali tidak melanggar kesepakatan kita’ Arya.


Mila hanya membaca chat Arya tersebut dan tidak mau menanggapinya.


'lebih baik aku minta dijemput bang Arnes daripada dia’ batin Mila mendengus kesal karena Arya.


Arya pun juga sama, mendengus kesal karena Mila tak lagi membalas chatnya,


'apes benar gue dapat istri kayak dia’ ia kemudian bangkit dan keluar dari ruangan kerjanya untuk makan siang.


Ketika berada di lobby kantor, ia bertemu dengan Arbi yang jalan berdua dengan seorang perempuan.


“hai Arya” sapa Rika pacarnya Arbi, Arya hanya tersenyum membalas sapaan Rika.


“mau makan siang juga?” tanya Rika lagi, Arya mengangguk pelan.

__ADS_1


“ya udah, bareng kita aja” ajak Rika, sementara Arbi hanya memasang wajah datar.


“Sorry ka, gue nggak mau jadi obat nyamuk”


“hahaha, makanya cepat cari pacar bro,, jomblo mulu sejak lahir” ledek Arbi pada sahabatnya itu.


“udah lo obati bibir lo?, jika ada masalah, cerita, jangan pendam sendiri, percuma aja kita berteman jika lo nggak mau berbagi beban.” lanjut Arbi


Arya hanya melirik kesal dengan ucapan Arbi, Ia tidak peduli lagi dengan ucapan terakhir Arbi karena terlanjur kesal diledek jomblo, ia kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan Arbi dan Rika,


'sialan, andai saja Mila mau mengakui gue suaminya, gue nggak akan lagi diledek jomblo lagi’ batin Arya yang merutuki dirinya sendiri, Sementara Rika dan Arbi hanya senyum-senyum melihat kepergian Arya.


*


Jam sekolah telah berakhir, Mila tengah berdiri di depan gerbang sekolah menantikan kedatangan seseorang. Ia sesakali mengusap keringat yang mengucur karena cuaca yang begitu panas hari itu.


Seorang rekan kerja Mila sesama guru datang menghampirinya,


“belum datang jemputannya Mil?”


“eeh, kak Syifa, belum kak, bentar lagi datang kok”


“tumben kak Vanessa telat jemput kamu”


“bukan kak Vanessa, lalu siapa yang jemput kamu?”


“ada deh kak” jawab Mila dengan malu-malu,


“oo, aku tahu siapa” goda Syifa karena sikap Mila tersebut.


“gimana dengan teguran kepala sekolah kemarin Mil, kamu masih tetap mau pakai cadar itu?” tanya Syifa sedikit ragu-ragu karena takut menyinggung Mila.


Sejak Mila mengenakan cadar ia memang beberapa kali ditegur kepala sekolah karena dianggap dapat menganggu aktivitas belajar mengajar.


Namun ia lebih memilih diam karena memang setelah rencananya dan Arnes berhasil ia akan kembali membuka cadarnya itu.


“aku udah bicara dengan kepala sekolah kak, aku masih belajar juga memakai cadar ini, jadi kepala sekolah bilang ngasih aku kesempatan dulu untuk mencoba, jika memang menganggu nantinya, aku akan pikirkan ulang gimana jalan terbaik untuk ke depan” jelas Mila.


Mila dan Syifa asyik berbicara hingga bunyi klakson mobil menghentikan perbincangan hangat mereka,


“ciee, udah di jemput calon suami” goda Syifa pada Mila.


Mila tersenyum malu-malu ketika mendengar godaan Syifa “apaan sih kak”.


Arnes kemudian keluar dan membuka pintu untuk Mila dan Mila pun pamit untuk pulang dan meninggalkan Syifa sendiri disana.

__ADS_1


Baru saja Mila masuk ke dalam mobil, ia langsung membuka cadarnya, karena Arnes lebih suka melihat wajah cantiknya ketimbang tertutup cadar. Ketika ia baru selesai memasang seatbell, notifikasi ponselnya berbunyi dan refleks Mila langsung melihatnya.


‘kabari aku kalau udah pulang, nanti aku jemput’ Arya.


Membaca chat Arya membuat Mila merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya, terbesit rasa bersalah dimana ia dengan mudah memperlihatkan wajahnya pada Arnes yang tidak memiliki ikatan apapun dengannya kecuali pacaran ketimbang Arya yang sudah menjadi suaminya, namun sama sekali belum pernah melihat wajahnya.


Perasaan bersalah itu juga semakin bertambah ketika ia berada satu mobil dengan Arnes, hati kecilnya seolah berkata apa yang ia perbuat itu adalah sesuatu yang salah,


“kenapa Mil?” Arnes menyadari wajah Mila yang berekspresi merasa bersalah.


“nggak apa-pa bang” jawab Mila,


'ini koq aku merasa aneh gini sih’ batin Mila.


Arnes kemudian memegang tangan Mila,


“kalau ada masalah cerita aja Mil,”


“pasti bang, aku akan cerita sama abang jika ada masalah” senyum Mila kepada Arnes.


Arnes membalas pandangan Mila dengan perasaan yang dalam, ada suatu gairah di dalam dirinya untuk mencium bibir Mila yang tipis dan menggoda jiwa kelelakiannya.


Ia kemudian menghirup nafas panjang menahan diri, karena ia merasa, jika ia melakukan kesalahan pada Mila, Mila bisa saja membencinya.


‘sampai kapan gue harus bersabar tuk tidak nyentuh nih anak, wajahnya, bibirnya, tubuhnya benar-benar menggoda untuk segera disentuh’ kesal Arnes di dalam batinnya.


“jadi gimana Mil?” apa semua sesuai rencana?”


“iya bang, sesuai yang abang katakan malam itu, kami pisah kamar, dan dia juga belum melihat wajahku koq, aku akan jaga semuanya untuk abang”


Mendengar ucapan Mila itu seolah memberikan Arnes kemenangan, ia tersenyum tipis dan merasa tak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hati Mila.


*


Mila melambaikan tangan pada Arnes yang telah meninggalkannya di halaman rumahnya, Vanessa yang sedari tadi menunggu kedatangan Mila di teras rumah melihat pemandangan itu dengan wajah tidak senang.


‘Arnes, Arnes lagi’ kesalnya sembari masuk ke dalam rumah.


Mila kemudian masuk ke dalam rumah dan mendapati Vanessa tengah duduk disana, dan dengan senyum ramahnya seperti biasa Mila mengucapkan salam, wajahnya berseri bahagia karena dapat jalan berdua dengan Arnes walaupun hanya dari sekolah ke rumahnya, mendengar salam Mila, Vanessa hanya menjawabnya dengan ketus.


“Arnes lagi?” tanya Vanessa


“emang kenapa kak? kakak sudah janji kan untuk dukung aku?”


“iya Mil, kakak cuma takut kamu nanti menyesal seperti kakak, seperti ibu”

__ADS_1


__ADS_2