
Masih di Indonesia.
Viki tersenyum mengejek melihat kearah Varrel yang seperti anak kecil sedang dipelototi oleh Mamanya. Rasanya ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak menertawakan sahabatnya itu tapi nyali Viki menciut begitu saja. Apalagi saat tatapannya beradu dengan Bi Jumi, seakan ia ingin pingsan saat itu juga.
"Sudah Bi. Varrel sudah menghabiskan semuanya." ujarnya memperlihatkan mangkok yang sudah kosong kehadapan Bi Jumi.
Seulas senyum mengembang diikuti dengan anggukan kecil. Bi Jumi langsung mengambil mangkok kosong itu dan menggantinya dengan obat yang di berikan dokter tadi.
"Bi, Varrel tidak suka minum obat."
"Kalau Tuan tidak bisa minum obat berarti Tuan juga tidak bisa pergi kemana-mana." sahut Bi Jumi cepat.
"Tapi---"
"Ya sudah berati Tuan enggak boleh pergi." potong Bi Jumi.
"Iya, iya. Varrel akan meminumnya. Tapi hanya sekali saja setelah itu Bibi tidak boleh memaksa Varrel lagi."
"Baiklah." Diiringi dengan anggukan.
Varrel langsung menciut wajahnya tak kala ia membolak-balikkan beberapa obat yang sudah di buka oleh Bi Jumi. Semua obat itu ada empat jenis macam salah satu dari empat ada yang paling besar. Varrel menelan ludahnya saat melihat obat besar itu, rasanya lidahnya kaku meminum obat sebesar itu.
"Ayo cepat Tuan di minum tinggal satu lagi." ucap Bi Jumi menyodorkan obat yang masih tersisa.
"Iya, cepat Rel. Katanya kangen sama istri Lo." sahut Viki dengan nada mengejek.
"Kau.." Varrel merapatkan giginya.
"Tuan"
"Baiklah." Varrel memejamkan matanya rapat-rapat lalu secara perlahan-lahan ia meminum obat besar itu.
Glukkk.
__ADS_1
"Aakkkhhhh pahit. Khekkk." Varrel dengan cepat menghabiskan semua air putih dalam gelas tersebut. Tapi tetap saja rasa kepahitannya masih tersisa hingga membuat wajahnya menggeliat tak menentu.
"Hahaha..." Tawa Viki pun pecah dia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi apalagi melihat ekspresi Varrel seperti itu.
*****
Di dalam mobil, dalam perjalanan menuju bandara internasional Jakarta Viki masih saja tidak menghentikan tawanya. Kejadian lucu tadi masih sangat jelas terbayang dalam memory ingatannya.
"Apa kau sudah bosan hidup." tukas Varrel mulai malas dengan ledekan sahabatnya itu.
"Hahaha... Maaf Rel. Tapi gue enggak bisa nahan diri melihat ekspresi Lo yang sangat menggemaskan seperti bayi. Hahaha..."
"Seperti bayi." Varrel langsung melirik dengan tatapan mematikan dan gumpalan tangan yang sudah siap dilayangkan.
"B-bukan." Seketika mulut Viki bungkam tidak bersuara lagi. Bibirnya membeku tidak berani berkutik lagi. tatapannya langsung teralih terfokus kearah jalan. Sesekali kali ia menghentikan menekan pedal gas karena banyaknya lampu merah membuat jalanan macet panjang.
Varrel berdecak kesal rasa kerinduannya semakin meningkat, dia sudah tidak bisa menunggu-nunggu lagi. Rasanya ingin sekali ia menjadi Ironman bisa terbang bebas kemana-mana.
*****
Olif terlihat lelah dan letih ketikan langkah kakinya masuk dalam mobil yang baru saja datang. Laki-laki berparas bule itu sudah tiga hari belakangan ini antar jemput model Grammy award tersebut. Di mengantar kemana pun Olif pergi.
Entah berapa kali sudah Olif memperingatkan Justin untuk tidak menjemputnya lagi, gara-gara antar jemput Olif, Justin tertinggal mata pelajarannya di kampus.
Namun peringatan dan teguran tidak membuat laki-laki berkulit putih itu merespon apa yang dikatakan Olif. Dia tetap saja mengantar jemput Olif. Bagi Justin ini adalah hal yang wajib dia lakukan karena gara-garanya Olif sampai sibuk seperti ini menjadi model pengantin.
Justin menghela nafas beratnya tak kala ia mengingat kembali apa yang di katakan dokter tadi pagi. Bahwa model yang ia tabrak beberapa hari yang lalu masih koma dan dokter tersebut mengatakan kalau dia tidak bisa memastikan kapan model itu akan bangun.
"Justin. Apa kau baik-baik saja...??" tanya Olif yang melihat ekspresi Justin terlihat sangat lesu tidak seperti biasanya. Yang ceria dan cerewet mengoceh tidak jelas. Hingga kadang-kadang membuat Olif geram ingin memukulnya.
"Hem. Tidak apa-apa Justin baik-baik saja kok kak. Hanya saja Justin kepikiran apa yang dikatakan dokter tadi pagi." jawabnya.
Kening Olif sontak berkerut. "Dokter." Olif mengulang kata-kata itu.
__ADS_1
"Iya, setelah mengantar kakak tadi pagi Justin pergi ke rumah sakit melihat kondisi model yang Justin tabrak waktu itu."
"Lalu, dokter itu mengatakan apa?? Apa model itu sudah sembuh??"
"Hahhhh." Justin menarik nafas dalam-dalam sebelum sesaat ia akan menceritakan semuanya kepada wanita yang duduk disampingnya.
"Itulah masalahnya kak. Model itu tidak baik-baik saja. Dia mengalami koma." jelas Justin terlihat semakin lesu.
"Apa, koma." Olif sedikit terkejut. Dia pikir dia akan segera bebas dari kesibukan menjadi model pengantin ini.
"Maafkan Justin kak, seharusnya kakak tidak membantu Justin waktu itu. Jadi kakak tidak akan capek seperti ini."
"Tidak apa-apa. Kalau memang dia belum bangun masih koma Kakak sudah pasrah kok menjadi model, lagian kakak enggak betah juga diam diri di rumah terus-menerus."
"Tapi kak, kalau nanti tiba-tiba suami kakak datang dan menjemput kakak bagaimana. Justi tidak tau harus mencari model mana lagi dan Justin pun tidak bisa menahan kakak tetap menjadi model selamanya juga." tukas Justin entah kenap arah pembicaraannya sampai kesitu.
"Itu tidak akan terjadi." sahut Olif dengan nada kecil tapi masih sangat jelas terdengar di telinga Justin.
"Maksud kakak...??"
"Dia tidak akan menjemput kakak. Dia sudah bahagia dengan wanita pilihannya." jawab Olif dengan nada terdengar sangat berat. kali ini bukan Justin lagi yang terlihat lesu melainkan dirinya.
"M-maaf kak. Justin tidak tau, seharusnya Justin tidak bertanya seperti itu." Justin merasa tidak enak sudah membuat wanita yang membantunya sedih.
"Tidak apa-apa kok. Kakak juga sudah melupakannya." mata Olif berkilauan dengan sendirinya walau jiwanya tegar mengatakan hal itu tapi tetap hatinya rapuh menahannya.
*Aku hanya bisa berdoa agar kamu selalu bahagia disana mas. Semoga saja Seli bisa menjadi istri yang jauh lebih baik dariku.
Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang kamu harapkan. Sebagai seseorang yang pernah singgah di hatimu aku ucapan selamat berbahagia dengan kehidupan barumu.
Aku akan selalu mengingat namamu di hatiku*...
Hari belum bisa lagi berap bisa update, tapi akan author usahakan untuk banyak 😁🤭🥰
__ADS_1