Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Pulanglah, Aku menunggumu


__ADS_3

Vanessa meletakkan segelas teh hangat yang dibuatnya di depan mertuanya, ia kemudian duduk disamping mertuanya itu. Sementara Mila duduk tepat di depan ibunya di meja makan itu,


“jelaskan!” pintu bu Saniah dengan dingin, sebenarnya ia tidak ingin mencampuri kehidupan anaknya itu, Bahkan dari awal, ia sebenarnya juga tidak setuju dengan pernikahan itu, namun ketika melihat Arya di pemakaman, ia seperti memiliki sebuah harapan besar pada pernikahan Mila dan Arya, harapanya di masa lalu terasa telah tercapai dengan pernikahan itu, sehingga ia sangat kecewa ketika mendapati kehidupan rumah tangga Arya dan Mila tidak baik-baik saja.


“maaf bu” jawab Mila dengan nada bersalah,


“sejak kapan kalian pisah kamar? jawab dengan jujur!” pinta ibunya dengan penuh penekanan,


“sejak awal bu, aku tidak pernah sekamar dengannya” Mila menundukkan kepalanya, ia benar-benar takut jika orang yang melahirkannya itu akan marah besar padanya,


Walaupun ia dibesarkan oleh kakeknya, tetap saja bu Saniah adalah perempuan yang melahirkannya, Apalagi bu Saniaah selalu menunjukkan kasih sayangnya pada Mila walaupun mereka tidak pernah tinggal bersama.


“kenapa kalian tidak sekamar?”


“aku,,, aku belum siap bu” jawabnya tertunduk lesu, sementara Vanessa hanya diam memperhatikan ibu dan anak itu,


“kamu bukan tidak siap, kamu yang tidak mau, sejak kamu menerima permintaan kakek untuk menikah, sejak itu kamu seharusnya sudah siap melayani suamimu, sekarang jelas, alasan kamu tidak sekamar dengannya adalah karena kamu yang tidak mau” suara bu Saniah terdengar emosional,


“bu, aku mencintai bang Arnes” jawab Mila pelan,


"Arnes, siapa dia?" sejak kapan kamu mencintainya?" tanya bu Saniah dengan tegas, ia teringat pada pengakuan Mila pada pak Sarman ketika di rumah sakit, bahwa Mila memiliki calonnya sendiri yang soleh dan baik.


"dia pacarku bu, kami sudah pacaran dari aku kuliah dulu" aku Mila pada ibunya.


"dia dari keluarga mana?, siapa orang tuanya,? biar ibu temui mereka untuk menyelesaikan masalah ini" ucap bu Saniah, namun Mila hanya diam, ia takut untuk menjawab, pikirannya menduga ibunya akan melabrak keluarga Arnes atas hubungannya dengan Arnes.


"jika dia benar baik, maka ibu akan bantu kamu," ucap bu Saniah pasrah, ia sama sekali tidak tega merenggut cinta putrinya itu. 'lagi pula Arya belum tentu orangnya' batin bu Saniah melepas nafas panjang.


Mila tersenyum mendengar ucapan ibunya, ia mendapat dukungan di tengah peliknya hubungannya dengan Arnes, namun Vanessa tentu mendengarnya dengan hati tidak senang.


"Namanya Arnes fitra zainil bu pewaris Adinata group, ia anak Aliando Zainil, CEO Adinata Group," ucap Mila dengan bangga memperkenalkan Arnes pada ibunya.


Mata bu Saniah membelalak kaget pada ucapan Mila, ia tak percaya Mila memiliki hubungan dengan anak dari orang yang telah lama bertentangan dengan ayahnya.


"apa kamu tidak belajar dari perjodohan abangmu dulu?" ucap bu Saniah setengah marah, namun Mila hanya diam menatap ibunya heran, ia tidak paham maksud ibunya.


Bu Saniah memejamkan matanya, ia sadar, Mila tak tahu apa-apa di balik rencana perjodohan Irman yang akhirnya batal itu, Mila hanyalah orang yang mengenal keluarga Aliando dari luar, ia tidak tahu apa-apa masalah yang terjadi di internal Adinata group.


“Jangan pernah berharap ada restu dari ibu dan kakek untukmu dengan laki-laki itu”


deg,,deg,,, ucapan bu Saniah terasa seperti membunuh Mila.


"tapi tadi ibu bilang akan membantuku" suara Mila terdengar kecewa pada ibunya,


"mereka bukan keluarga baik-baik, kakek dan ibu tahu betul seperti apa mereka, kamu masih terlalu naif menganggap keluarga otu keluarga baik-baik" jelas bu Saniah,


deg, deg, ucapan bu Saniah menusuk dalam hati Mila, harapan besar pada orang yang ia cintai seakan terhalang tembok besar, perlahan air matanya jatuh karena ia kecewa, 'bang Arnes orang baik kok,' batin Mila membantah pandangan ibunya.


“3 bulan kalian menikah, dan kalian pisah kamar, apa kamu pikir laki-laki bisa menahan hasrat mereka untuk tidak menyentuh istrinya?, kamu tidak lihat seperti ayah dan abangmu yang suka main perempuan diluar sana, seperti apapun aku dan Vanessa melayani mereka sebagai istri, tetap saja mereka bermain gila dengan perempuan lain diluar sana, dan sekarang kamu malah membuka pintu lebar untuk suamimu mencari perempuan lain” kesal bu Saniaah yang tidak tertahan lagi, pahitnya kehidupan pernikahan yang ia lalui tidak bisa ia tahan ketika memperingati Mila,

__ADS_1


Sementara Vanessa yang mendengar ucapan mertuanya seketika berkaca-kaca, selama ini bukannya ia tidak tahu kelakuan Irman diluar, Ia selalu membuang rasa curiganya jauh-jauh ketika Irman sering pulang dengan baju beraroma parfum perempuan, ia lebih memilih percaya pada suaminya bahwa ia adalah laki-laki yang setia dan selalu berpikir jika suaminya sibuk bekerja karena situasi perusahaan yang sedang kritis,


Tapi sekarang ia mendengar sendiri dari mertuanya bahwa suaminya bermain gila dengan perempuan lain diluar sana. Ia merasa sesak di dadanya, ia belum siap menerima kenyataan jika suaminya telah mengkhianati kepercayaannya.


Sementara Mila merasakan hal yang berbeda, ada ketakutan di dalam hatinya jika Arya sedang bersama perempuan lain diluar sana, apa lagi Arya tidaklah seperti yang ia kira, laki-laki itu ternyata orang yang kaya, bahkan memiliki perusahaan yang jauh lebih besar daripada perusahaan keluarganya, tentu akan banyak perempuan yang antri untuk mendapatkan hatinya,


Perasaan Mila kembali terasa di aduk-aduk oleh keadaan, Hati yang masih mencintai Arnes dan hati yang takut kehilangan Arya.


‘kenapa aku begini, kenapa aku seakan tidak rela jika ia sedang bersama perempuan lain sekarang, tidak, dia tidak mungkin seperti itu, dia hanya mencintaiku’ batinnya mengingat tulisan istri tercinta di ponsel Arya,


“sekarang dimana Arya?” tanya bu Saniah yang membuat Vanessa dan Mila gelagapan tidak tahu harus menjawab apa,


“dia, itu bu, aaa, aaa” jawab Mila bingung,


Bu Saniah melirik tajam ke arah Mila,


"dia ada kerja di luar kota bu, jadi beberapa hari ini Arya tidak dirumah” jawab Mila berbohong,


Bu Saniah melirik Mila dengan penuh selidik, ia kemudian tidak ingin memperpanjang percakapan itu,


“bersihkan semua barang suamimu, pindahkan ke kamarmu, satu hal lagi, jadilah istri yang baik untuknya, jangan pernah buat dia sedikit pun kecewa, dan kakekmu berpesan, ia ingin segera menggendong cucuku” bu Saniah kemudian menuju ruang tamu, ia meninggalkan Mila dan Vanessa yang terdiam membisu,


‘cucu, apa aku benar-benar harus memberikan semuanya pada Arya?, lalu bagaimana dengan bang Arnes, aku tak ingin mengecewakannya’


Sementara Vanessa menahan gejolak tak menentu di dalam dadanya ketika mendengar kata cucu dari mulut bu Saniah. Ia terasa menjadi orang yang tak berguna, atau mungkin ia sama sekali tidak dianggap oleh keluarga Rakarsa, ia bahkan tidak bisa memberikan seorang penerus bagi keluarga Rakarsa.


*


‘kenapa dia bisa memakai jas yang sama dengan yang aku beli?’ batin mila tak habis pikir dengan apa yang telah terjadi,


Mila kemudian duduk di kursi meja rias, ia melihat laptop Arya dan beberapa dokumen kerjanya yang telah disusun rapi,


'Arya, pulanglah, aku kan berbagi kamar ini denganmu, aku akan memberikan semua hakmu sebagai suamiku, dan aku mohon jangan, jangan bermain perempuan diluar sana, sungguh aku tak rela itu terjadi’ Batin Mila,


Mila lalu membuka lacinya dan mengeluarkan 3 amplop berwarna coklat, ia memandang amplop itu dengan dalam,


FB


suara pintu kamar Mila terdengar diketuk seseorang dari luar, Mila yang sedang memeriksa tugas siswanya di meja rias kemudian bangkit dan membuka pintu,


Terlihat sosok Arya yang sedang berdiri di depan pintunya,


“ada apa?” tanya Mila dingin,


“aku mau ngasih ini” Arya lalu menyodorkan sebuah amplop yang isinya cukup padat.


“ini apa?” tanya Mila tetap dengan nada dinginnya,


“aku tahu hubungan ini tidak begitu baik, tapi sebagai suami aku tetap harus menafkahimu”

__ADS_1


“aku punya uang sendiri” ucap Mila masih dengan dingin.


“ambillah, aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai suami, kamu mau pakai atau tidak, itu terserah kamu”


Mila lalu mengambil amplop itu dan menutup pintu kamarnya dengan keras yang membuat Arya setengah jantungan karena terkejut.


FB end


‘dia bahkan tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang suami walaupun aku bersikap buruk kepadanya’,


Mila sama sekali tidak pernah membuka amplop yang diberikan Arya, karena ia ingin mengembalikannya kepada Arya setelah mereka bercerai nanti, tapi entah mengapa sekarang ia begitu takut jika perceraian itu terjadi.


Ia kemudian memasukkan amplop itu lagi ke dalam laci dan merutuki sikap buruknya kepada Arya, ia kemudian menjatuhkan badannya ke atas ranjang, dan mulai merenungi apa yang telah terjadi hari itu,


Sikap sabar Arya pada Mila perlahan membuat Mila terus merasa bersalah dan berdosa atas tindakannya, perasaan bersalah yang tanpa disadari berubah menjadi perasaan simpati yang pada akhirnya perlahan menjadi perasaan sayang dan takut kehilangan.


‘aku tak tahu ini kenapa, tapi aku benar-benar takut jika dia meninggalkanku, Arya pulanglah, aku menunggumu’


*


“oooo, Aryaaaaaaaa, ini indah sekaliiiii” teriak Ari tak henti-hentinya memuji ciptaan Allah yang begitu indah di puncak gunung Slamet,


“ini kali kedua kita melihat sunrise disini, ini benar-benar indah” ucap Arya membalas teriakan Ari,


“kenapa kita kesini lagi, bukankah kau bilang ingin ke rinjani, atau juga kita bisa ke semeru” ucap Ari yang masih menikmati hawa dingin di tengah indahnya sunrise,


“aku tahu Tomy juga ingin kesana, jika kita pergi tanpa dia, nanti dia bakalan kecewa” jawab Arya


Hampir 4 jam Arya dan Ari menikmati indahnya puncak gunung Slamet, hingga mereka memutuskan untuk turun ke camp mereka, Puncak Gunung selalu bisa membuat Arya lebih tenang dan melepas segala bebannya,


Ketika Arya telah turun dari puncak gunung, emosinya akan kembali normal, sehingga ia dapat menyelesaikan setiap masalahnya dengan pikiran yang jernih tanpa rasa emosional, dan teruntuk juga hari itu, walaupun masalahnya tidak akan hilang di puncak gunung, setidaknya dia bisa memiliki pemikiran yang jernih untuk menyelesaikan masalahnya dengan Mila,


Bukan dengan emosi yang akan membuatnya memaki Mila dengan kata-kata kasar atas segala kelakuan Mila yang keterlaluan padanya atau mungkin ia bisa saja memukul Mila karena tidak mampu menahan rasa sakit di hatinya,


‘aku tidak bisa menerima kelakuan Mila, aku tidak bisa menerima istriku mencintai laki-laki lain dan bahkan mereka menjalin ikatan cinta dibelakangku, aku harus bicara baik-baik padanya, jika perpisahan adalah jalannya, aku harus melakukannya dan meminta maaf pada kakek karena tidak bisa menepati janjiku dan juga memenuhi harapannya, huh sungguh aku tak mau jika harus mengingkari janji lagi’


sejenak Arya teringat pada janjinya pada seorang gadis kecil yang sampai saat itu belum bisa ia tepati, atau mungkin tidak akan pernah bisa menepatinya,


FB


“kamu mau kemana” ucap gadis kecil yang berumur 4 tahun itu,


“aku harus pergi, pergi jauh” jawab Arya kecil yang masih berumur 6 tahun


“pergi jauh? apa kau mau meninggalkanku dan tidak akan kembali lagi?” tanya gadis itu dengan wajahnya yang membuat gemes siapa pun yang melihatnya,


“Aku akan kembali untukmu, kau kan princess nya” jawab Arya sembari mencubit pipi tembem gadis kecil itu.


“pangeran harus kembali pada princessnya, aku tunggu kamu kembali, jangan pergi lama-lama ya” ucap gadis itu polos.

__ADS_1


FB end


__ADS_2