Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Kebebasan Yang Hilang


__ADS_3

Rona merah langit senja semakin jelas terlihat, Adzan maghrib sudah berkumandang. Lalu lalang sepeda motor tak juga berkurang. Masih banyak yang berkeliaran di jalanan dan tak peduli dengan suara yang berkumandang. Memekikkan jalanan yang ramai dan semakin ramai menjelang malam.


Seorang laki-laki duduk termenung di halaman sebuah masjid, dinding masjid tersebut berwarna putih dengan kubah besar berwarna biru. Adzan maghrib yang telah berkumandang mengundang kedatangan jamaah masjid yang hendak segera menunaikan sholat jamaah.


Beberapa jamaah tidak peduli dengan wajah gusar laki-laki yang duduk di atas motornya di halaman masjid itu. Dan sebagian jamaah ada yang menatapnya dengan wajah heran, kenapa laki-laki ini?, seperti memiliki masalah besar saja.


Mata laki-laki itu tampak sayu, pikirannya melayang jauh tak terbendung, ‘aku harus gimana sekarang?, melihat tangis gadis itu saja sudah membuatku takut melangkah, apa aku sudah menghancurkan hidupnya?, tapi aku juga telah terikat janji dengan bapak itu, ya Allah, aku harus gimana sekarang’ batinnya.


Ketika adzan selesai dan iqomah mulai berkumandang, Arya segera tersadar dari lamunan panjangnya dan segera masuk ke masjid. Ia butuh banyak waktu untuk mengadukan nasibnya pada Allah. Bahkan hingga sholat Isya selesai ia masih berdiam diri di dalam masjid untuk mengadukan semua yang telah ia alami pada Tuhan-nya.


Di tempat lain, Mila masih terduduk di atas sajadahnya di dalam kamar yang cukup luas, setelah sampai di rumah, ia langsung masuk ke kamar dan sholat maghrib, ketika ia berdoa, tangannya hanya sebentar terangkat. Hatinya yang getir tidak mampu membuatnya mengeluar doa dengan kalimat yang jelas.


Batinnya benar-benar terasa sakit dengan keadaan yang harus ia alami, ‘bang Arnes, Mila gagal bang, rencana kita gagal bang, laki-laki itu tidak bergeming sama sekali dengan cadarku’ batin Mila yang mengeluh sedih. Mila bahkan belum sanggup memberitahu Arnes tentang apa yang telah terjadi tadi.


Matanya masih basah, air mata tak mau berhenti menetes, dadanya masih sesak, dan lirih tangisnya masih terdengar. Begitu memprihatinkannya keadaan Mila, ia benar-benar tak sanggup menahan rasa getir di hatinya.


Suara ketukan pintu mengagetkan Mila, ia kemudian mengusap air matanya namun tidak menjawab panggilan yang terdengar dari luar.


“Mil, Mila, keluar dong Mil, kami jangan simpan kesedihanmu sendirian sayang” ucap Vanessa lembut yang terdengar jelas oleh Mila.

__ADS_1


“ayo sayang, kita makan dulu, dan nanti kita berbagi perasaan sedihmu Mil, jangan simpan kesedihanmu sendirian, itu akan menyakitkan” ucap Vanessa yang mencoba membujuk Mila,


Namun tetap tidak ada jawaban dari balik pintu tersebut. Vanessa kemudian melirik ke arah Irman yang berdiri di sampingnya, Ia kemudian mengangkat kedua bahunya menandakan ia menyerah untuk membujuk Mila.


“sudahlah nes, kamu makan duluan, aku mau menenangkan pikiran dulu di luar” ucap Irman yang berlalu pergi meninggalkan Vanessa, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi, meninggalkan Vanessa yang menahan rasa getir di hatinya,


'apa posisiku sebagai istrimu tidak bisa memberikan ketenangan bagimu bang, kenapa kamu selalu lari dariku’ batin Vanessa dengan menahan sesak yang mulai terasa di dadanya.


Vanessa tidak mau menentang apa pun yang diucapkan Irman, ia membiarkan Irman pergi dengan menahan sesak dan rasa getir di hatinya. Ia kemudian menutup pintu dan duduk di meja makan sendirian, ‘aku selalu ingin menjadi istri yang baik bagimu bang, tapi aku selalu gagal, bahkan memberikan ketenangan dari masalahmu pun aku tak bisa’.


Malam sudah mulai larut, Vanessa masih duduk di meja makan, ia bahkan belum makan sama sekali, sementara orang yang ditunggunya tak kunjung datang ‘bang, kamu kemana? koq belum pulang juga’ batin Vanessa gelisah, ia kemudian melihat ke arah ponselnya yang ada di atas meja, bahkan chat yang dikirimnya pada Irman tidak dibaca sama sekali.


Rasa getir yang ia rasakan semakin membuatnya kalut, ‘bang, kamu kemana sih?’ batin Vanessa, ia kemudian bangkit dan menutup semua pintu rumah, ketika Vanessa melewati pintu kamar Mila, ia sejenak berhenti dan melihat ke arah pintu itu, Vanessa sejenak menghirup nafas panjang,


Namun yang dinanti pun tak kunjung datang, bahkan hingga malam itu pun berakhir, dan Vanessa pun terlelap karena kelelahan menunggu Irman pulang. Jadilah 2 wanita di rumah besar nan mewah 2 lantai tersebut sama-sama menahan rasa sakit di hati mereka di malam itu. Terkadang kemewahan yang dimiliki seseorang tidak mampu memberikan rasa bahagia dan ketenangan dalam hidup mereka.


Di tempat lain di sebuah kontrakan kecil, Arya tengah berbaring lelah menghadapi hari yang begitu berat. Malam sebelumnya ia harus menuruni gunung hampir semalaman, langsung berangkat ke Jakarta dan tadi ia bertemu dengan pak Sarman yang memintanya menikahi seorang perempuan yang jelas terpaksa menerimanya.


Kegetiran hatinya hampir sama dengan apa yang dirasakan Mila, kebebasannya terasa terenggut paksa. Jiwa mudanya yang sering bergebu-gebu seakan surut menerima kenyataan.

__ADS_1


‘bagaimana mungkin aku menikahi orang yang jelas-jelas tidak menginginkanku, bahkan tangisnya tadi jelas dia tak menginginkanku, astaga ya Allah, aku benar-benar tak ingin merenggut masa depan gadis itu’ batin Arya yang benar-benar kalut, hatinya begitu tidak menerima ketika harus menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya.


Arya sejenak melihat ponselnya, ‘aku harus gimana sekarang?’ batinnya bingung. Ia kemudian membuka ponselnya untuk men-chat Ari, teman setianya ketika berpetualang di alam bebas.


‘Ri, lusa kita ke semeru’ chat Arya pada Ari ‘lebih baik aku mendaki, ngapain permintaan orang tua itu aku ikuti’ batin Arya yang merasa jengkel, ia sama sekali tidak ingin kebebasan di masa mudanya akan terenggut begitu saja karena pernikahan yang tidak diinginkannya.


Setelah hampir 10 menit menunggu, akhirnya Ari membalas chat Arya.


‘gila lo, baru tadi balik dari Slamet, sekarang malah minta ke Semeru’ Ari,


‘serius gue, lagi banyak masalah nih’ Arya.


‘Gila lo rya, weekend deh, lo kan tahu kantor lagi ada proyek besar’ Ari.


‘kalau lo nggak mau, gue bisa ke Semeru sendiri’ Arya,


‘Woyy, jangan mulai lagi deh, weekend kita ke Semeru, lo fokus aja ke proyek kita dulu’ Ari.


‘kalau lo nggak mau ikut, gue berangkat sendiri!!!!’ balas Arya sembari melempar ponselnya ke arah guling di sebelahnya. Arya kembali menatap langit-langit kontrakannya, batinnya kembali terasa getir.

__ADS_1


Ingatannya kembali pada seorang gadis yang sampai sekarang ia belum mampu menepati janjinya pada gadis itu. Ingatan itu malah semakin menambah getir hatinya. ‘sialan’ batinnya sembari mengacak rambutnya yang sedikit bergelombang. ‘dasar orang tua, sesuka mereka saja membuat keputusan’ kesal Arya.


Arya lalu bangkit dan mengambil sleeping bag-nya, ia kemudian meninggalkan kontrakannya dengan membawa sleeping bag tersebut.


__ADS_2