
Matahari masih malu menampakkan rupanya pagi itu, padahal jam sudah menunjukkan setengah delapan. Para pencari nafkah sudah tumpah ruah di jalanan, panas mentari pagi tidak begitu terasa, karena awan masih setia melindungi orang-orang di jalanan dengan menutupi teriknya sinar matahari.
Salah satu dari ribuan orang yang berada di jalanan itu, terdapat Irman yang sedang mengendarai mobilnya, ia sesekali memukul stir mobilnya karena kesal dengan macet yang membuatnya takut terlambat ke kantor, apalagi ia harus pulang dan mengganti baju dulu di rumahnya.
Tepat berselisih jalan dengan mobil Irman, seorang pemuda mengendarai motor bebek berwarna merah dengan helm hitam standar keselamatan tengah santai mengendarai motornya. Ia dengan lincah mendahului mobil-mobil yang hanya bisa berjalan pelan karena kemacetan.
Hampir 30 menit pemuda itu mengendarai motor bebeknya, hingga ia masuk ke dalam sebuah pekarangan area perkantoran. PT. A3 Sahabat, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan arsitektur. Itulah tempat tujuan pemuda itu, pemuda itu segera memarkir motornya dan melepas helm. wajahnya memperlihatkan semangat, walaupun dihatinya masih ada rasa getir terhadap nasibnya.
Arya memasuki area tempat ia bekerja, ia segera menuju ruangannya yang terletak di lantai 4 gedung perusahaan tersebut. Ia dengan ramah menyapa setiap orang yang ia temui di lobi perusahaan sebelum memasuki lift. Ketika telah sampai di lantai 4, Arya segera masuk ke ruangannya dengan menyapa orang-orang yang ia temui di lantai tersebut.
Laptop kerjanya telah menyala, beberapa dokumen telah ada di meja itu, beberapa rancangan karya arsitektur terkenal juga telah terbuka untuk siap ia pelajari. Arya sebagai seorang arsitektur selalu belajar dengan berbagai macam hasil karya orang lain. Selain menambah wawasannya, juga sebagai sarana untuk mencari ide-ide kreatif bagi rancangannya. Sebuah ketukan pintu sedikit mengganggu Arya yang sudah serius dengan apa yang ia kerjakan.
“masuk” ucap Arya.
Seorang perempuan dengan memakai baju kerja putih dengan jas hitam serta rok selutut masuk ke dalam ruangan Arya.
“misi pak, ini ada 3 klien baru pak, semuanya minta rancangan rumah untuk 1 minggu ini” ucap perempuan itu pada Arya.
“3 klien baru” ucap Arya, ‘sepertinya libur 3 hari untuk ke Slamet meninggalkan banyak pekerjaan’ batin Arya sembari menghirup nafas panjang.
“iya pak, konsepnya sama semua, rumah minimalis dengan konsep modern serta lingkungan hijau” ucap perempuan itu lagi.
“Taruh di meja dokumennya ta, nanti akan segera aku selesaikan” ucap Arya yang kembali fokus dengan bacaannya.
“oh ya pak, klien kita yang minta rancangan hotel kemarin udah nagih desainnya pak, ia minta dikirim siang ini” ucap perempuan itu lagi, ‘kalau Arya tidak ke Slamet, pasti udah selesai semuanya, kan aku tidak perlu mendengar ocehan orang itu’ hatinya kesal karena sempat di ceramahi oleh klien tersebut kemarin.
__ADS_1
“siang ini? kan deadline lusa siang ta, koq mendadak gini?” tanya Arya.
“nggak tahu juga aku pak, tiba-tiba mereka menelfon dan minta dikirim siang ini” jawab perempuan itu dengan menundukkan kepala. Ia takut pria yang ada di depannya akan marah mendengar sikap kesewenang-wenangan klien tersebut.
Arya menghirup nafas panjang “dasar, pengen cepat, tapi bayar tetap aja nyicil” umpat Arya kesal.
Arya selalu sering mendapat desakan mendesain seperti itu, padahal untuk bisa menghadirkan karya yang bagus, ia butuh waktu untuk belajar dan mengeluarkan kreatifitasnya, namun kebanyakan kliennya selalu menuntut pekerjaan cepat selesai, bahkan lebih cepat dari waktu yang disepakati seperti klien yang satu ini.
“keluarlah, nanti siang saya kirim file ke kamu” ucap Arya tanpa menoleh ke arah Rita, perempuan yang telah lama menjadi sekretarisnya itu.
Arya kemudian membuka ponselnya dan membuat di group khusus tim arsiteknya
‘setengah jam lagi kita rapat di lantai 4’ perintah Arya pada bawahannya.
Di tempat lain, Irman baru saja sampai di rumahnya, ia masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal. Kemacetan membuatnya terlambat pulang, ia segera mengganti baju santai dengan baju kerja di kamarnya yang berada di lantai 2 rumah tersebut.
“nggak makan dulu bang?” tanya Vanessa yang melihat Irman bergegas hendak pergi,
“aku sudah telat,” ia sejenak melirik ke arah Vanessa, “Gimana Mila?” tanyanya dengan suara dingin.
Vanessa kemudian mengangkat kedua bahunya dengan lemah “dia belum mau keluar kamar” jawabnya pelan.
Irman kemudian pergi tak menghiraukan Vanessa. Hatinya masih terasa kesal akibat kejadian semalam. Kesal terhadap keluarganya, terutama kakeknya yang egois terhadap Mila, dan kesal terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa membela adiknya.
‘sial, aku terlambat kerja lagi, padahal kerjaan lagi banyak, dan Mila, huh, dasar, ini benar-benar menyusahkan’ batin Irman yang kesal dengan keadaan yang harus dihadapi.
__ADS_1
Irman kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah. Sementara Vanessa hanya bisa melihat mobil itu meninggalkan rumah dengan wajah tak senang dari pintu teras samping rumah.
“tidur diluar lagi bang Irman kak?” tanya Mila yang membuat Vanessa kaget.
“iya Mil, kamu sudah keluar kamar, Gimana keadaanmu? sudah baikan?” tanya Vanessa dengan wajah khawatir.
“aku sudah mendingan kak” ucap Mila dengan suara berat, matanya masih bengkak karena air matanya tak mau berhenti keluar dari malam. Mila kemudian melangkah menuju meja makan.
“Mil, jika kamu mau menenangkan diri dulu hari ini, istirahat saja di kamar. biar kakak persiapan untuk keperluan akad esok” ucap Vanessa yang mengiringi langkah Mila menuju meja makan.
“nggak kak, aku akan mempersiapkan diri untuk esok dengan baik, aku tidak mau mengecewakan kakek kak, cukup aku saja yang kecewa dan tersakiti disini” ucap Mila dengan nada sendu, dan matanya kembali berkaca-kaca.
‘ntah lah Mil, mungkin saja pilihan kakek benar dan pilihanmu salah, lagi pula laki-laki itu terlihat seperti orang baik, jika saja dulu aku tak mengikuti bang Irman untuk menentang kakek, mungkin hidupku akan jauh lebih baik dari sekarang’ batin Vanessa
*
Arya baru saja menyelesaikan rapat dadakannya untuk finalisasi desain hotel dari salah satu jaringan hotel terkenal di Ibukota. Ia juga sudah memberikan tugas bawahannya untuk merancang 3 rumah untuk 3 klien barunya yang harus selesai minggu ini.
Sekarang ia sudah dapat sedikit merasa lega, dan percaya kepada bawahannya bahwa mereka akan bekerja sebaik mungkin dengan hasil yang tidak akan mengecewakan Arya.
Arya baru saja membuka pintu ruangannya, ia dikagetkan dengan kehadiran Ari dan Arbi disana.
“ngapain kalian disini?” tanya Arya pada Ari dan Arbi.
“wah wah waahh, arsitektur kita sudah semangat datang ke kantor pagi-pagi, bahkan baru saja selesai meeting” ledek Ari pada Arya.
__ADS_1
“kenapa lo? mau tanya soal semeru?” ucap Arya dengan tatapan sinis pada Ari.
“projek kita cukup banyak minggu ini Rya, jadi undur aja dulu semerunya” ucap Arbi dengan suara santai pada Arya.