Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Gagal ke Semeru


__ADS_3

Adzan subuh telah berkumandang, angin pagi sejuk menyapa setiap orang yang berlalu lalang di waktu itu. Matahari belum menampakkan wajahnya, jalanan hanya disinari lampu jalan yang terang benderang di setiap jalanan ibu kota. Arya yang baru saja keluar dari kamar mandinya tengah bersiap menuju masjid untuk sholat subuh berjamaah.


Jam telah merangsek perlahan bergerak menuju pukul 6, Arya telah mempersiapkan keperluannya selama 3 hari ke depan untuk mendaki ke Semeru, ia melirik ke ponselnya dengan wajah kalut. ‘dia tak akan menelfon ku lagi kan?’ batinnya berharap pak Sarman membatalkan pernikahan yang yang telah direncanakan itu. Dan jika tetap dilanjutkan, ia bisa beralasan sedang mendaki gunung Semeru.


Arya kemudian bangkit, ia mengambil beberapa baju untuk dimasukkan ke dalam carriernya, matanya melirik panjang ke arah ponsel, firasat seolah berkata bahwa pak Sarman akan segera menghubunginya. Arya menarik nafas panjang. Hatinya yang sudah yakin untuk pergi ke Semeru dan membatalkan pernikahan yang tidak masuk akal itu seakan mulai bimbang.


Hatinya dilanda rasa kegamangan dan kegetiran, tangis Mila ketika di rumah sakit menelusup ke pikirannya tanpa diminta.


Arya menarik nafas panjang, ia teringat kembali saat-saat dimana ia berjanji kepada pak Sarman. “apa kau takut berjanji pada orang tua ini Arya?” sebuah kalimat yang memaksanya untuk mengikat janji dengan pak Sarman tanpa ia kehendaki. Namun siapa sangka, kalimat itu juga yang membawanya kepada keadaan yang membuatnya berada di persimpangan jalan seperti saat ini.


Jika ia memilih pergi, berarti ia tak menepati janjinya pada pak Sarman, namun jika ia menerima, sama saja ia menyakiti Mila yang jelas dengan tangisannya tidak terima dengan perjodohan ini.


‘aku mungkin bisa bahagia mendapatkan istri seperti dia, cantik, berjilbab, dan bahkan bercadar, seperti istri yang ku impi-impikan, tapi jelas sekali air matanya kemarin menandakan ia tak ikhlas kepadaku’ Arya mengusap wajahnya dengan kasar.


Hatinya seolah menginginkan pernikahan itu tetap berlangsung, karena mungkin ia tidak mendapatkan perempuan seperti Mila lagi, perempuan yang di matanya terlihat sholeha, tapi akal pikirannya seolah mengkhianati keinginan hatinya. Menjalani pernikahan dengan gadis yang tidak menginginkannya merupakan bencana dimana yang ada bukanlah keharmonisan berumah tangga.


‘apa dia bisa mencintaiku nanti?, huh, mana mungkin, siapa juga yang bisa jatuh cinta pada orang sepertiku’ batin Arya kesal dengan dirinya sendiri.


Sesaat bayangan pikirannya melanda jauh ke masa lalu,


FB


“kamu mau kemana?” ucap seorang gadis kecil yang berumur 4 tahun saat itu,


“aku harus pergi, pergi jauh” jawab Arya yang masih berumur 6 tahun

__ADS_1


“pergi jauh? apa kau mau meninggalkanku dan tidak akan kembali lagi?” tanya gadis kecil dengan wajahnya yang membuat gemes siapa pun yang melihatnya,


“Aku akan kembali untukmu, kau kan princess nya” jawab Arya sembari mencubit pipi tembem gadis kecil itu.


“pangeran harus kembali pada princessnya, aku tunggu kamu kembali, jangan pergi lama-lama ya” ucap gadis kecil itu dengan polos.


FB end


Arya menghirup nafas panjang mengingat kejadian yang telah lama berlalu itu. Namun bayangan itu tak sedikit pun hilang dari ingatannya. Janji yang selalu ia ingat yang tidak bisa ia tepati hingga detik ini. Janji yang selalu membayanginya dan membuatnya takut untuk terikat lagi pada janji dengan orang lain.


‘mungkin hari ini aku harus ingkar janji lagi’ batin Arya. Mungkin itu adalah pilihan terbaik yang ia miliki saat ini. Memaksa Mila untuk menjalani pernikahan yang tidak diinginkannya hanya akan menyiksa dirinya dan Mila sendiri.


Jam sudah bergerak maju menuju pukul setengah 9, Arya langsung menghubungi Ari, ia membuka aplikasi chat di ponselnya.


‘udah siap lo?’  chat Arya terkirim ke ponsel Ari, tak berapa lama Ari membalas chatnya.


‘bentar lagi gue jalan’ Arya.


‘buru-buru amat, gue masih sarapan’ Ari


‘gue ke rumah lo dulu, nanti siap lo sarapan kita langsung jalan, Tomy juga ikut kayak kemarin’ Arya


Ari mendengus kesal membaca chat Arya, ‘kalo Tomy ikut, ngapain juga gue harus ikut, sialan, gue udah siap-siap lagi’ batin Ari merutuki dirinya sendiri sambil menyuap nasi goreng yang ia makan.


‘Semeru nggak akan lari, santai aja, lo mau mendaki minggu depan pun Semeru akan tetap disana’ Ari.

__ADS_1


Arya mendengus kesal membaca chat Ari, anak itu seperti memang belum ikhlas untuk berangkat hari itu. Arya kemudian bangkit mengangkat carrier nya, ia memasukkan ponselnya ke saku kiri celananya. Kemudian mengambil kunci motor bebeknya dan segera berjalan ke luar kontrakannya yang sempit itu.


Baru saja ia mengunci pintu, ponsel di saku celananya berdering, ia kemudian mengangkat telfon tersebut tanpa melihat siapa yang menelfonnya, karena dalam pikirannya hanyalah Ari yang akan menghubunginya,


“iya, ini gue udah mau jalan” ucap Arya santai tanpa beban.


“akadnya jam 10, saya tunggu kamu sekarang” suara serak orang tua terdengar di seberang telfon Arya.


“pak,,pak Sarman” ucap Arya dengan bulu romanya yang mulai berdiri karena kaget.


“iya saya, kamu pikir siapa?, ayo kesini, semua persiapan sudah beres,” ucap pak Sarman dengan suara menekan.


Arya sejenak terdiam, matanya mulai berkaca-kaca, rasa kalut dan getir sudah mulai menyelimuti hatinya. Sejenak dia terdiam merasakan setiap rasa nyeri yang entah timbul dari mana, yang tiba-tiba membuat hatinya begitu kalut. ‘aku harus gimana sekarang?’ batin Arya.


Mulutnya terasa kaku untuk berkata ia akan mendaki ke Semeru, alasan yang telah ia persiapkan untuk menghindari pernikahan itu.


“kamu masih disana kan, ayo kemari, jangan mempermalukan saya dan cucu saya” ucap pak Sarman tegas. Arya masih mencoba menahan rasa nyeri di hatinya, “baik” ucap Arya singkat dengan suara gemetar. “jangan terlambat” ucap pak Sarman sembari menutup telepon.


Setetes air mata lolos dari pelupuk mata kiri Arya, ia kemudian mengusap wajahnya kasar untuk menenangkan dirinya. pintu kontrakan itu kembali ia buka, Arya masuk dan segera membuka lemarinya, ia memilih salah satu jas kerja, kemeja dan dasi di lemari secara acak.


Dalam waktu sebentar saja, pakaian Arya sudah bertukar dengan menggunakan jas biru, kemeja putih dengan dasi warna merah. Ia sejenak berkaca dan merapikan rambutnya dengan minyak rambut.


Arya segera keluar dari kontrakannya, ia sejenak melihat ke ponselnya dan menchat Ari dan Tomy ‘Semeru cancel’ pesan chat singkat Arya pada Tomy dan Ari.


Arya segera menghidupkan motornya dan segera berangkat. Dengan jantung yang masih berdebar kencang, Arya membelah jalanan dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Ari membuka pesan dari Arya “cancel, sialan, gue udah siap-siap dari malam, malah seenaknya di cancel” gumam Ari kesal, ’lo benar-benar ya Rya, sejenak jidat lo aja’ gumam Ari membuang nafas panjang. Ari kemudian menelfon Arya, namun Arya tidak mengangkatnya sama sekali. Ari menelfon lagi dan lagi, namun Arya tetap tidak mengangkatnya sama sekali.


__ADS_2