Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Apa Aku Salah


__ADS_3

“kak” panggil Mila.


“makanlah Mil, kakak sepertinya langsung tidur saja,” ucap Vanessa yang kemudian bangkit, ia melirik Mila dengan wajah sedihnya, dan kemudian meninggalkan Mila seorang diri di kamar itu.


Mila kemudian melihat ke arah Vanessa dengan wajah bersalah, setelah Vanessa pergi, Mila kemudian melihati situasi kamar Arya, dan kamar itu terlihat masih rapi dan bersih, matanya lalu tertuju pada ponsel Arya yang telah hancur di sudut kamar,


Dan tanpa ia sadari perasaan itu kembali datang, perasaan bersalah atas apa yang ia perbuat,


‘apa aku benar-benar kejam, menyakiti hatinya seperti ini’ batinnya.


*


Ari baru saja selesai sholat shubuh, ia hendak kembali melanjutkan tidurnya yang terasa masih kurang, karena memang dari semalam ia menghabiskan banyak waktu untuk menonton bola, pintu kamar yang tidak ia kunci langsung saja terbuka dan seorang pemuda dengan memakai carrier langsung ikut tidur di sebelahnya,


“ma, Ari udah shubuh, Ari masih ngantuk, nanti Ari mandi” ucap Ari yang mengira ibunya yang datang untuk membangunkannya,


“ma,ma,ma, lo pikir gue mama lo” ucap Arya,


Mendengar suara laki-laki di sebelahnya membuat mata Ari membelalak kaget, rasa kantuk yang menyerangnya langsung hilang seketika, ia kemudian duduk dan melihat siapa yang ada di sebelahnya. Ia dapati Arya sedang tiduran di ranjangnya sembari memejamkan mata.


“lo ngapain pagi-pagi di mari, siapa yang bukain lo pintu?” tanya Ari dengan nada kagetnya,


“bi Inah, udah mandi sana, hari ini kita ke Rinjani” ucap Arya santai,


Mata Ari kembali membelalak kaget,


“apa-apan lo, buat planning seenak jidat lo aja, nggak-nggak, gue masih pengen tidur” ucap Ari yang kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


“yakin lo nggak mau ikut?, ya udah, gue pergi sendiri” ucap Arya dengan suara cuek,


‘sial, dia mengancamku dengan cara yang sama, kalau orang udah tahu kelemahan kita, ya repot jadinya’ umpat Ari di dalam hatinya.


ia tahu jika ia tidak ikut, maka Arya akan mengancam untuk pergi sendiri, dan pada akhirnya ia harus mengalah untuk pergi bersama Arya,


“lo kan bisa ajak Tomy” keluh Ari yang masih ingin mengelak dari ajakan Arya,


“lo kan tahu sendiri Tomy udah ngambil cuti untuk acara lamarannya kemarin”


“ah lo ngerepotin aja, awas gue mau tidur lagi” Ari mendorong tubuh Arya agar turun dari ranjangnya.


“ya, udah, gue berangkat sendiri” ucap Arya yang bangkit dan mengambil carriernya, ia kemudian berjalan ke arah pintu, baru setengah pintu kamar Ari terbuka, Ari kembali memanggil Arya,


“Arya,, gue mandi 15 menit, lo tunggu aja di meja makan, nanti kita sarapan bareng” ucap Ari yang telah duduk di sisi ranjangnya. Arya tersenyum merasa menang mendengar ucapan Ari,


*


Mila telah duduk di meja makan, ia melirik ke kamar Arya seraya berharap laki-laki itu akan keluar dari kamarnya, 1 detik, 2 detik, 5 detik, 10 detik, 30 detik, namun orang yang ia harapkan datang tak kunjung muncul. Ia melepas nafas panjang, dadanya serasa sesak, perasaan bersalah kembali menyeruak di dalam hatinya.


Vanessa yang baru turun dari lantai dua melihat ke arah Mila, ia kemudian menoleh ke pintu kamar Arya,


“apa dia tidak pulang?” tanya Vanessa,


Mila hanya diam, jika ia menjawab, itu hanya akan mempertebal rasa bersalahnya.


“kamu sarapan saja dulu, kalau udah mau berangkat, panggil saja kakak ke kamar”

__ADS_1


Vanessa pun kembali melangkah ke lantai 2, melihat Vanessa yang kembali menaiki tangga, Mila kemudian berdiri dari kursinya,


“kak, cukup kak, aku tahu aku salah, tapi jangan perlakukan aku seperti ini, jangan bersikap dingin kepadaku kak, hanya kakak satu-satunya orang yang selalu ada untukku, aku mohon jangan seperti ini kepadaku” Mila mengatakannya dengan penuh emosional dan suara yang gemetar.


“truss kamu ingin kakak gimana Mil, kamu ingin kakak marah-marah dan berbicara dengan kata-kata kotor atas tindakanmu itu?, lebih baik kakak seperti ini Mil, daripada harus memakimu atas tindakanmu itu" Vanessa membalikkan badannya dan menatap sinis kepada Mila,


Melihat tatapan Vanessa itu membuat Mila hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya,


“lihat dirimu, kamu memakai jilbab panjang dan cadar itu, tapi gimana dengan prilakumu, kamu berduaan tanpa merasa berdosa dengan laki-laki lain yang bukan mahrommu, kamu bahkan terang-terangan melakukannya di depan suamimu sendiri tanpa ada rasa bersalah, dimana rasa hormatmu pada suamimu, apa itu yang islam ajarkan untukmu?, kamu bahkan terang-terangan mengatakan kamu mencintai pria lain pada suamimu tanpa memikirkan bagaimana perasaannya,” ucap Vanessa meluapkan emosinya.


Jantung Mila berdetak kencang, apa yang disampaikan Vanessa benar adanya, ia merasa dirinya benar-benar kotor, hatinya terasa munafik, memakai Jilbab dan cadar hanya untuk menutupi dosanya di depan banyak orang.


“maaf kak, aku salah, aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji” ucap Mila pasrah,


“Arya itu orang baik Mil, jika kamu tidak menginginkannya, bicaralah baik-baik padanya, bicaralah kalian bertiga dengan kakek, bercerailah kalian baik-baik tanpa saling menyakiti, biarkan dia pergi mencari kebahagiaannya sendiri, biarkan dia menemukan wanita yang ia cintai dan mencintainya, orang sebaik Arya berhak atas kebahagiaannya sendiri Mil” jelas Vanessa lagi yang semakin membuat hati Mila tidak karuan.


Ada perasaan aneh yang Mila rasakan, perasaan tidak rela ketika Vanessa mengatakan membiarkan Arya pergi mencari kebahagiaannya sendiri dengan wanita lain,


‘apa ini? kenapa aku tidak rela mendengarnya',


“kamu tahu sendiri kan Mil, semenjak kehadiran Arya ke rumah ini, banyak perubahan yang terjadi, kita tak harus lagi merasakan suasana tegang setiap sarapan, kita tak harus lagi merasa takut karena hanya kita berdua di rumah ini, tetapi sudah ada laki-laki yang bisa menjaga kita, sedangkan abangmu sama sekali tidak berubah dari kebiasaan buruknya, seharusnya kamu bisa menilai semuanya, kenapa kamu terlalu egois dengan rencanamu itu” ucap Vanessa dengan nada sedih dan setetes air mata lolos dari matanya,


“sarapanlah, kakak akan segera mengantarmu” Vanessa kemudian naik menuju kamarnya,


Sementara Mila hanya bisa terduduk lemas di kurisnya, ia bahkan tidak bisa memakan apapun yang ada di meja makan, pikirannya tidak karuan, perasaan di hatinya serasa begitu sesak,


‘apa aku salah jika aku bertahan dengan perasaan ku pada bang Arnes, apa aku egois mengejar kebahagiaanku sendiri, tapi kenapa aku begitu tega pada laki-laki itu, aku bahkan menginjak-nginjak perasaannya tanpa peduli dengan beban yang ada di pundak’

__ADS_1


__ADS_2