Menikah Karena Janji

Menikah Karena Janji
Apa, model


__ADS_3

jangan lupa di rate kasi bintang.


.


.


.


.


.


.


Malam hari, tepatnya di bandara Internasional Australia


pesawat yang ditumpangi Varrel dan juga Viki baru saja landing. Kali ini Varrel


pergi tidak menggunakan pesat pribadi melainkan pesawat internasional, ya


karena pesawat pribadi milik kelurganya sedang di pakai oleh Pak Revan dalam


perjalanan bisnisnya.


Kedua laki-laki berwajah asia itu melayangkan langkah kaki


mereka secara bersamaan, berkeliling mencari jalan keluar dari bandara


Internasional Australia tersebut. Hanya butuh waktu sesaat bagi mereka untuk


keluar dari bandara karena memang Viki yang sudah terbiasa datang ke bandara


yang mereka pijak saat ini, menemani ayahnya bertemu para pebisnis.


“Kita akan menginap di hotel terdekat saja, bagaimana…??”


Tanya Viki meminta pendapat.


“Tidak, aku harus segera menemui istriku. Dia pasti sedang


menungguku sekarang” tolak Varrel.


“Apa udah gila, ini udah larut malam Bro, lagian kita belum


tau dimana istrimu tinggal.”


“Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menunggu sampai


besok,tidak. Aku tidak bisa menunggu lagi Vik.”


“Terserah Lo deh, yang jelas Gue enggak ikut. Gue mau cari


hotel, ngantuk.” Celutus Viki.


“Viki…”


“Udah deh rel, mau Lo nyarik sampai pagi pun enggak bakal


ketemu istri Lo. Mending sekarang Lo ikut Gue kita istirahat menyiapkan tenaga


buat nyariin Olif besok.” Tukas Viki membuat Varrel tidak punya pilihan lain


selain menurutinya.


****


Pagi hari dimana matahari sudah kembali menyinari bumi yang sempat gelap karena perubahan siklus tata Surya. Dan orang-orang kini sudah berlalu lalang di jalan raya menuju arah tujuan mereka masing-masing.


di sisi lain seorang wanita cantik yang berpostur tinggi dan ideal tentunya sudah bersiap-siap untuk berangkat


dalam tugasnya menjadi seorang model ternama. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan

__ADS_1


baginya, karena pemotretan hari ini akan berlangsung sampai malam. Olif


membuang nafas malasnya ternyata menjadi seorang model tidak seenak yang ia


banyangkan. Hembusan nafasnya pun semakin terdengar tak kala diri nya membaca


email masuk dari Leah sang manager.


Leah mengirimkan beberapa perubahan jadwal pemotretan hari


ini, yang mana disitu tertulis kalau Olif harus ikut hadir dalam acara


peresmian produk baru sebagai model utama di perusahan Modeling Grup yang awalnya di rencanakan besok siang.


“Kak Yuni, Olif berangkat dulu.” Pamit Olif yang baru saja melayangkan kakinya di dapur.


“Lah kenapa pagi sekali, Biasanya siang” tukas Yuni, karena memang


sudah beberapa hari ini Olif selalu berangkat siang.


“Hari ini ada banyak pemotretan Jadi harus pergi lebih awal”


sahut Olif sembari mencium gemes Nabila yang kala itu sedang asik memakan roti


lapis yang dibuat oleh mamanya. Mulutnya yang kecil dan roti lapis yang besar


membuat bibir Nabila sedikit kesusahan memakan roti lapis tersebut hingga membuat bibirnya belepotan terkena selai strawberry.


“Tapi bule setengah matang itu belum datang” ujar Yuni lagi,


dirinya masih sibuk mengerjakan pekerjaan dapur yang tak selesai-selesai. Bukan sekali ataupun dia kali sudah Kristian membujuk istrinya ini untuk memperkejakan seorang asisten rumah tangga. Agar Yuni sang istri tidak terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah, tapi semua bujukan itu seakan tidak terdengar di telinga Yuni. Masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri bukankah itu kata-kata yang pantas untuk Yuni yang sangat keras kepala. Kristian saja sampai heran dengan sikap keras kepala istrinya tersebut.


“Namaku Justin kak bukan bule setengah matang, berhentilah


memanggilku dengan sebutan itu.” sahut seseorang yang baru saja datang membuat


semua pandanga mata langsung teralih kepadanya.


“Justin”


izin main nyosor aja kayak makhluk halus.” Celutus Yuni tak habis pikir dengan


sikap adik iparnya yang satu ini selalu saja bertingkah sesuka hatinya yang


kadang-kadang membuat ia geram setengah mati.


“Hehehehe… Habisnya salah kakak ipar sendiri, siapa suruh


tidak mengunci pintu ya Justin masuk saja.” Sahut Justin.


“Wah sepertinya kakak ipar masak enak pagi ini ya.” Sambung


Justin lagi matanya sudah ngiler sendiri melihat sarapan pagi yang sudah siap di atas meja.


“Tentu, kakak ipar mu inikan sangat pandai memasak” timpal


Yuni membanggakan dirinya.


“Hem’em. Kak Yuni, aku dan Justin berangkat dulu” ucap Olif


menyela pembicaraan.


“Eeee… Tidak makan dulu, ini masih terlalu pagi Papa Nabila saja


belum turun.”


“Iya kak, lebih baik kita habiskan makanan ini dulu kan sayang


kalau di lewatkan.” timpal Justin yang mulai menikmati makanan di atas meja,


laki-laki berparas bule itu tidak akan melewatkan kesempatan emas ini memakan

__ADS_1


makana gratis.


“Tapi nanti kalau telat bagaimana...??”


"Tenang saja buat Justin nanti yang akan memberikan alasan"


"Hemmm. Baiklah."


*****


Di hotel, Varrel dan Viki juga sudah siap dengan stelan


mereka masing-masing. Keduanya memakai pakainya yang baru saja dibeli melalui toko


online, ya karena tidak satupun dari mereka berdua yang membawa baju ganti.


Ke-dua laki-laki yang berkaki jenjang itu melangkah menuntun


ke salah satu cafe ternama di hotel yang tempat mereka menginap semalam,


keduanya sama-sama memesan roti panggang untuk menganjal perut mereka.


Tak berlangsung lama pelayan café pun datang membawa apa


saja yang mereka pesankan, roti panggang dan secangkir kopi hangat untuk melengkapi


sarapan pagi.


Di sela-sela makan tiba-tiba saja kening Viki berkerut


dalam, laki-laki blesteran bule itu bahkan semakin mengerutkan keningnya tak kala


dia baru ingat kalau ia belum memberitahukan Varrel kalau sebenarnya Olif telah


menjadi model terkenal dan bahkan masuk nominasi Grammy award. Viki tidak tau


apakah ini kabar bahagia atau atau kabar tidak mengenakan, karena tentu saja


bertemu Olif pasti akan sangat sulit nantinya apalagi dia adalah seorang model


utama di salah satu perusahaan besar.


“Rel.” panggil Viki sebelum sesaat ia akan menyesap kopi


miliknya dan memberitahukan semuanya kepada varrel.


“Hem’em.” Varrel dengan cepat mendongkrakkan kepalanya


menatap lurus kearah sahabatnya itu.


“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepadamu.”


Viki menyesap kembali kopinya hingga membuat air kopi itu tinggal sedikit lagi


dan setelah itu dengan sangat hati-hati ia menaruh kembali cangkir kopi


tersebut di atas meja.


Alis Varrel sontak naik sebelah dirinya seketika di landa


penasaran apalagi melihat ekprsesi yang di tunjukkakn Viki terlihat sangat


serius.


“Sebenarnya istrimu telah menjadi model.” ucap Viki dengan


nada sangat hati-hati.


“Apa, model” sontak saja raut wajah Varrel berubah seketika.


Bersambung….

__ADS_1


Maaf telat update sebagai gantinya besok author akan update


empat bab


__ADS_2