
jangan lupa di rate kasi bintang.
.
.
.
.
.
.
Malam hari, tepatnya di bandara Internasional Australia
pesawat yang ditumpangi Varrel dan juga Viki baru saja landing. Kali ini Varrel
pergi tidak menggunakan pesat pribadi melainkan pesawat internasional, ya
karena pesawat pribadi milik kelurganya sedang di pakai oleh Pak Revan dalam
perjalanan bisnisnya.
Kedua laki-laki berwajah asia itu melayangkan langkah kaki
mereka secara bersamaan, berkeliling mencari jalan keluar dari bandara
Internasional Australia tersebut. Hanya butuh waktu sesaat bagi mereka untuk
keluar dari bandara karena memang Viki yang sudah terbiasa datang ke bandara
yang mereka pijak saat ini, menemani ayahnya bertemu para pebisnis.
“Kita akan menginap di hotel terdekat saja, bagaimana…??”
Tanya Viki meminta pendapat.
“Tidak, aku harus segera menemui istriku. Dia pasti sedang
menungguku sekarang” tolak Varrel.
“Apa udah gila, ini udah larut malam Bro, lagian kita belum
tau dimana istrimu tinggal.”
“Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menunggu sampai
besok,tidak. Aku tidak bisa menunggu lagi Vik.”
“Terserah Lo deh, yang jelas Gue enggak ikut. Gue mau cari
hotel, ngantuk.” Celutus Viki.
“Viki…”
“Udah deh rel, mau Lo nyarik sampai pagi pun enggak bakal
ketemu istri Lo. Mending sekarang Lo ikut Gue kita istirahat menyiapkan tenaga
buat nyariin Olif besok.” Tukas Viki membuat Varrel tidak punya pilihan lain
selain menurutinya.
****
Pagi hari dimana matahari sudah kembali menyinari bumi yang sempat gelap karena perubahan siklus tata Surya. Dan orang-orang kini sudah berlalu lalang di jalan raya menuju arah tujuan mereka masing-masing.
di sisi lain seorang wanita cantik yang berpostur tinggi dan ideal tentunya sudah bersiap-siap untuk berangkat
dalam tugasnya menjadi seorang model ternama. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan
__ADS_1
baginya, karena pemotretan hari ini akan berlangsung sampai malam. Olif
membuang nafas malasnya ternyata menjadi seorang model tidak seenak yang ia
banyangkan. Hembusan nafasnya pun semakin terdengar tak kala diri nya membaca
email masuk dari Leah sang manager.
Leah mengirimkan beberapa perubahan jadwal pemotretan hari
ini, yang mana disitu tertulis kalau Olif harus ikut hadir dalam acara
peresmian produk baru sebagai model utama di perusahan Modeling Grup yang awalnya di rencanakan besok siang.
“Kak Yuni, Olif berangkat dulu.” Pamit Olif yang baru saja melayangkan kakinya di dapur.
“Lah kenapa pagi sekali, Biasanya siang” tukas Yuni, karena memang
sudah beberapa hari ini Olif selalu berangkat siang.
“Hari ini ada banyak pemotretan Jadi harus pergi lebih awal”
sahut Olif sembari mencium gemes Nabila yang kala itu sedang asik memakan roti
lapis yang dibuat oleh mamanya. Mulutnya yang kecil dan roti lapis yang besar
membuat bibir Nabila sedikit kesusahan memakan roti lapis tersebut hingga membuat bibirnya belepotan terkena selai strawberry.
“Tapi bule setengah matang itu belum datang” ujar Yuni lagi,
dirinya masih sibuk mengerjakan pekerjaan dapur yang tak selesai-selesai. Bukan sekali ataupun dia kali sudah Kristian membujuk istrinya ini untuk memperkejakan seorang asisten rumah tangga. Agar Yuni sang istri tidak terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah, tapi semua bujukan itu seakan tidak terdengar di telinga Yuni. Masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri bukankah itu kata-kata yang pantas untuk Yuni yang sangat keras kepala. Kristian saja sampai heran dengan sikap keras kepala istrinya tersebut.
“Namaku Justin kak bukan bule setengah matang, berhentilah
memanggilku dengan sebutan itu.” sahut seseorang yang baru saja datang membuat
semua pandanga mata langsung teralih kepadanya.
“Justin”
izin main nyosor aja kayak makhluk halus.” Celutus Yuni tak habis pikir dengan
sikap adik iparnya yang satu ini selalu saja bertingkah sesuka hatinya yang
kadang-kadang membuat ia geram setengah mati.
“Hehehehe… Habisnya salah kakak ipar sendiri, siapa suruh
tidak mengunci pintu ya Justin masuk saja.” Sahut Justin.
“Wah sepertinya kakak ipar masak enak pagi ini ya.” Sambung
Justin lagi matanya sudah ngiler sendiri melihat sarapan pagi yang sudah siap di atas meja.
“Tentu, kakak ipar mu inikan sangat pandai memasak” timpal
Yuni membanggakan dirinya.
“Hem’em. Kak Yuni, aku dan Justin berangkat dulu” ucap Olif
menyela pembicaraan.
“Eeee… Tidak makan dulu, ini masih terlalu pagi Papa Nabila saja
belum turun.”
“Iya kak, lebih baik kita habiskan makanan ini dulu kan sayang
kalau di lewatkan.” timpal Justin yang mulai menikmati makanan di atas meja,
laki-laki berparas bule itu tidak akan melewatkan kesempatan emas ini memakan
__ADS_1
makana gratis.
“Tapi nanti kalau telat bagaimana...??”
"Tenang saja buat Justin nanti yang akan memberikan alasan"
"Hemmm. Baiklah."
*****
Di hotel, Varrel dan Viki juga sudah siap dengan stelan
mereka masing-masing. Keduanya memakai pakainya yang baru saja dibeli melalui toko
online, ya karena tidak satupun dari mereka berdua yang membawa baju ganti.
Ke-dua laki-laki yang berkaki jenjang itu melangkah menuntun
ke salah satu cafe ternama di hotel yang tempat mereka menginap semalam,
keduanya sama-sama memesan roti panggang untuk menganjal perut mereka.
Tak berlangsung lama pelayan café pun datang membawa apa
saja yang mereka pesankan, roti panggang dan secangkir kopi hangat untuk melengkapi
sarapan pagi.
Di sela-sela makan tiba-tiba saja kening Viki berkerut
dalam, laki-laki blesteran bule itu bahkan semakin mengerutkan keningnya tak kala
dia baru ingat kalau ia belum memberitahukan Varrel kalau sebenarnya Olif telah
menjadi model terkenal dan bahkan masuk nominasi Grammy award. Viki tidak tau
apakah ini kabar bahagia atau atau kabar tidak mengenakan, karena tentu saja
bertemu Olif pasti akan sangat sulit nantinya apalagi dia adalah seorang model
utama di salah satu perusahaan besar.
“Rel.” panggil Viki sebelum sesaat ia akan menyesap kopi
miliknya dan memberitahukan semuanya kepada varrel.
“Hem’em.” Varrel dengan cepat mendongkrakkan kepalanya
menatap lurus kearah sahabatnya itu.
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepadamu.”
Viki menyesap kembali kopinya hingga membuat air kopi itu tinggal sedikit lagi
dan setelah itu dengan sangat hati-hati ia menaruh kembali cangkir kopi
tersebut di atas meja.
Alis Varrel sontak naik sebelah dirinya seketika di landa
penasaran apalagi melihat ekprsesi yang di tunjukkakn Viki terlihat sangat
serius.
“Sebenarnya istrimu telah menjadi model.” ucap Viki dengan
nada sangat hati-hati.
“Apa, model” sontak saja raut wajah Varrel berubah seketika.
Bersambung….
__ADS_1
Maaf telat update sebagai gantinya besok author akan update
empat bab